NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 5 Calon Menantu Dadakan

Rania Azarina berdiri di depan pintu apartemennya sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil dekat rak sepatu.

Blazer krem.

Celana bahan hitam.

Rambut dikuncir rapi.

Ekspresi tegang seperti orang yang hendak menghadiri sidang pidana.

Dan, kalau dipikir-pikir, situasinya memang tidak jauh berbeda.

Hari ini ia akan pulang ke rumah orang tuanya.

Bersama Gavin.

Untuk mengumumkan bahwa mereka akan menikah.

Besok.

Ia masih tidak percaya kalimat itu nyata.

Bel apartemen berbunyi.

Rania menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu membuka pintu.

Gavin berdiri di depan dengan kemeja biru gelap yang digulung sampai siku dan ekspresi terlalu santai untuk seseorang yang akan menemui calon mertua dalam rangka menjelaskan pernikahan kilat.

Di tangannya ada dua kantong belanja besar.

Rania menyipit.

“Apa itu?”

“Oleh-oleh.”

“Kenapa banyak sekali?”

Gavin mengangkat salah satu kantong.

“Buah premium.”

Yang lain.

“Brownies artis.”

Dan kantong terakhir.

“Teh herbal impor.”

Rania menatapnya datar.

“Kamu mau melamar saya atau buka hampers Lebaran?”

Gavin masuk sambil tersenyum tipis.

“Saya sedang membangun citra calon menantu ideal.”

“Kamu terlalu serius.”

“Kamu terlalu meremehkan kekuatan ibu-ibu Indonesia.”

Rania terdiam.

Lalu mengangguk.

“Oke. Itu valid.”

Perjalanan menuju rumah orang tua Rania dipenuhi keheningan yang canggung.

Rania menyetir.

Gavin duduk di kursi penumpang sambil sesekali mengecek ponselnya.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, pria itu terlihat sedikit gelisah.

Jarinya mengetuk paha dengan ritme cepat.

Rania melirik sekilas.

“Kamu gugup?”

“Tidak.”

“Kaki kamu gemetar.”

“Itu refleks biologis.”

Rania menahan senyum.

Menarik.

Ternyata Gavin Mahendra, si manusia super tenang, bisa gugup juga.

“Tenang saja,” katanya santai. “Mama saya tidak menggigit.”

“Yang saya takutkan justru kalau beliau terlalu ramah.”

Rania terkekeh.

“Kamu belum kenal Mama saya.”

“Oh?”

“Kalau beliau sudah suka sama seseorang, dia akan langsung merencanakan masa depan orang itu sampai punya tiga anak.”

Wajah Gavin menegang.

“Kamu bercanda?”

“Doakan saja iya.”

Rumah keluarga Rania berada di kawasan perumahan asri yang tenang.

Begitu mobil berhenti di depan pagar putih, Gavin mengembuskan napas pelan.

“Masih bisa kabur?” tanyanya.

“Sudah terlambat sadar.”

“Sekarang kamu pakai kalimat saya?”

“Terinspirasi dari kegilaanmu.”

Mereka turun dari mobil.

Baru dua langkah menuju pintu, suara teriakan sudah terdengar dari dalam rumah.

“RANIA DATANG!”

Pintu terbuka lebar.

Ratna Mawarni berdiri di ambang pintu dengan celemek bunga-bunga dan ekspresi berbinar seperti baru memenangkan undian nasional.

Begitu matanya melihat Gavin di samping putrinya, wajahnya langsung berubah.

Dari senang.

Menjadi sangat, sangat senang.

“Ya Allah!”

Beliau menepuk kedua pipinya.

“Jadi benar cowok jas abu-abu itu!”

Rania langsung memejamkan mata.

Bencana dimulai.

“Mama,” katanya pelan, “boleh jangan teriak?”

Ratna sama sekali tidak mendengar.

Ia justru menarik tangan Gavin dengan antusias.

“Masuk, Nak! Cepat masuk!”

Gavin sempat melirik Rania.

Tatapannya jelas bertanya: Ini normal?

Rania membalas tatapan itu dengan ekspresi datar yang artinya: Selamat datang di neraka.

Ruang tamu mendadak berubah seperti sesi wawancara kerja paling intens.

Gavin duduk tegak di sofa.

Ratna duduk tepat di depannya dengan senyum investigatif.

Sementara Rania duduk di sisi lain, berharap bisa menghilang lewat celah sofa.

“Jadi namanya Gavin Mahendra?”

“Iya, Tante.”

“Umur?”

“Tiga puluh.”

“Agama?”

“Islam.”

“Pekerjaan?”

“Manager Creative Campaign di kantor yang sama dengan Rania.”

Ratna mengangguk puas.

“Gaji?”

Rania tersedak teh.

“MAMA!”

Ratna menoleh.

“Apa? Ini data penting.”

Gavin, yang entah kenapa tetap tenang, menjawab dengan sopan.

“Cukup untuk hidup layak, Tante.”

Ratna menyipit.

Diplomatis.

Ia suka.

“Punya tabungan?”

“Mama!”

“Rania, diam dulu. Mama sedang screening.”

Gavin menahan senyum.

“Ada, Tante.”

Ratna makin puas.

Lalu ia mencondongkan tubuh.

“Niat kamu sama anak saya serius?”

Sunyi.

Ini dia.

Momen inti.

Rania menegakkan punggung.

Gavin menoleh sekilas padanya.

Tatapan mereka bertemu.

Dan tanpa ragu, Gavin menjawab,

“Sangat serius, Tante.”

Untuk persekian detik, otak Rania kosong. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang jelas-jelas kebohongan.

Tapi cara Gavin mengatakannya terdengar terlalu meyakinkan.

Ratna menutup mulutnya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Oh, Tuhan…”

“Mama, jangan nangis dulu,” kata Rania panik.

“Bukan nangis,” jawab Ratna sambil mengusap sudut mata. “Mama cuma terharu akhirnya ada laki-laki waras yang mau sama kamu.”

“Terima kasih atas dukungannya.”

Belum sempat suasana tenang, suara berat terdengar dari arah tangga.

“Ada apa ribut-ribut?”

Semua menoleh.

Arman Azhar, ayah Rania, turun dengan ekspresi serius khas mantan dosen teknik yang terbiasa mengintimidasi mahasiswa hanya dengan tatapan.

Begitu melihat Gavin, alisnya terangkat.

“Ini siapa?”

Ratna berdiri antusias.

“Pak, ini calon suami Rania!”

Hening.

Pak Arman menatap Gavin.

Lalu menatap Rania.

Lalu kembali ke Gavin.

Ekspresinya datar.

“Duduk.”

Satu kata.

Tegas.

Aura interogasi langsung memenuhi ruangan.

Gavin, yang biasanya santai, tampak menelan ludah.

Rania hampir iba.

Hampir.

“Jadi,” kata Pak Arman sambil duduk di kursi seberang, “kamu mau menikahi anak saya?”

“Iya, Om.”

“Kenapa?”

Pertanyaan sederhana.

Tapi mematikan.

Rania langsung menegang.

Mereka tidak menyiapkan jawaban untuk ini.

Ia melirik Gavin.

Pria itu terdiam sepersekian detik.

Lalu menjawab,

“Karena saya sudah lama mengagumi Rania.”

Rania membeku.

Apa?

Ratna terpekik kecil.

Pak Arman menyipit.

“Sejak kapan?”

“Dua tahun.”

Rania nyaris tersedak udara.

Dua tahun?!

Gavin menatap lurus ayahnya.

“Awalnya saya kagum karena kompetensinya. Setelah mengenalnya lebih jauh, saya sadar saya ingin membangun masa depan dengan dia.”

Kalau bukan karena situasi genting, Rania mungkin sudah melempar bantal ke wajahnya.

Sejak kapan pria ini jago improvisasi?

Dan kenapa kalimatnya terdengar sangat... tulus?

Pak Arman menatapnya dengan serius.

"Kalau kamu menyakiti anak saya?"

"Om tidak perlu khawatir. Saya lebih takut pada Rania daripada sebaliknya," jawab Gavin tegas.

Pak Arman terdiam lama.

Lalu akhirnya mengangguk pelan.

“Jawaban bagus.”

Rania ingin protes.

Itu terlalu mudah.

Namun sebelum sempat bicara, Ratna tiba-tiba berdiri.

“Kalau begitu kita harus mulai persiapan!”

“Maksud Mama?”

“Pernikahan besok!”

Sunyi.

“Besok?” ulang Pak Arman.

Rania menelan ludah.

Nah.

Bagian ini.

Pak Arman menatap Gavin cukup lama.

“Kamu yakin ini bukan keputusan impulsif?”

Suasana langsung berubah lebih serius.

“Pernikahan bukan sebuah proyek bulanan,” lanjutnya tegas.

“Kalau kamu hanya datang karena sedang terburu-buru, lebih baik berhenti sekarang.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Gavin terdiam cukup lama.

Lalu Gavin menjawab serius.

"Saya sangat yakin Om," ucapnya sungguh-sungguh.

Arman kembali menatapnya.

Mungkin untuk menilai apakah Gavin berkata jujur atau tidak.

Namun yang ia lihat hanya lah keyakinan.

Melihat situasi semakin tegang.

Rania mencoba untuk mencairkan suasana.

“Mama, Papa...” katanya hati-hati. “Kami memang mau kasih tahu kalau akadnya hari Sabtu.”

Ratna menjerit kecil.

Gavin untuk pertama kalinya terlihat benar-benar panik.

“Sabtu ini?” tanya Ratna.

“Iya.”

“Lusa?”

“Iya.”

Ratna menatap langit-langit.

Seolah sedang menghitung daftar pekerjaan.

Lalu tiba-tiba berteriak,

“PAK! TELEPON TANTE LILIS! KITA HARUS GERAK CEPAT!”

“Mama, jangan heboh—”

“TIDAK ADA WAKTU!”

Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, rumah itu berubah seperti pusat komando darurat nasional.

Ratna sibuk menelepon katering.

Pak Arman membuka daftar kontak penghulu.

Dan Rania hanya bisa duduk diam, menatap kosong ke depan.

Di sebelahnya, Gavin berbisik pelan,

“Sekarang saya paham kenapa tadi kamu bilang saya harus takut.”

Rania menoleh.

Tatapannya datar.

“Selamat datang di keluarga saya.”

Dan saat Mama Rania mulai membahas warna seragam keluarga besar, Gavin akhirnya terlihat pucat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gavin Mahendra menyadari satu hal.

Negosiasi dengan direksi perusahaan ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi calon mertuanya.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!