NovelToon NovelToon
Pear

Pear

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Biru Vanila

[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.

***

"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.

"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 (2)

Hilman melirik putranya saat membuka pintu mobil. "Rafa, kamu bawa motor aja supaya bisa antar Vallen ke rumahnya."

"Iya, Yah."

Rafa tersenyum palsu, tapi tetap berlari ke garasi untuk mengambil motor. Beberapa lama kemudian ia sampai di depan Vallen yang sudah menunggunya.

"Nyusahin, padahal gue lagi males bawa motor, " kata Rafa pelan sembari menyodorkan helm.

"Oh, kepaksa nganter gue?"

"Iya."

Vallen diam, walau begitu ia masih mau naik ke motor.

"Rafa berangkat duluan. Assalamualaikum," pamitnya pada yang lain. Cowok itu kemudian melajukan motor dengan kecepatan sedang.

***

Vallen menyangkutkan helm di spion motor Rafa tanpa berkata apapun. Ia lalu merapikan rambut dengan sela-sela jarinya.

Cowok yang masih duduk di motornya sendiri itu kini menatap Vallen dengan heran. Tak biasanya Vallen sediam itu. "Tumben."

Sekilas, Vallen menatapnya, sebelum akhirnya terlihat tidak peduli lagi.

"Lo marah?" tanya Rafa.

Vallen bungkam.

Mencoba mengajaknya bicara, Rafa pun menyentuh bahu Vallen dnegan telunjuknya, tapi dengan segera gadis itu menggerakkan pundaknya agar tangan Rafa menyingkir.

"Val lo marah?"

Wajah Vallen yang tadinya masam beringsut menampakkan wajah ramahnya saat Ayah, Tante Nisa, dan Om Tito datang.

"Ayo," ajak Hilman.

Mereka kemudian mulai berjalan ke area pemakaman. Dan saat ini, Rafa sedang membangun kembali benteng kekuatannya. Langkahnya ia tetapkan. Rasa gundah dan lemas yang sudah mengalahkannya tadi malam tak boleh bertandang lagi. Sekarang, Rafa harus menang melawan kesedihan, lelaki itu percaya bundanya akan bahagia jika ia pun bahagia.

***

"Turun, Val."

Vallen turun sambil mengedarkan pandangan, lalu ia menatap Rafa dengan jengah. "Kenapa gak turunin gue dari awal aja?" tanya Vallen muak karena tahu ini bukan berhenti di rumahnya bahkan area komplek rumahnya pun bukan.

"Apaan sih."

"Lo males kan bawa gue? Gue jadi beban lo kan?" Vallen mengembalikan helm Rafa dan berjalan menjauh.

Rafa yang kebingungan segera menyusul Vallen menggunakan motor.

"Lo pikir gue tega nurunin lo tengah jalan?! Kita mampir beli kalung dulu, Val!" ucap Rafa agak keras.

Langkah Vallen terhenti. Ia cukup malu dengan kelakuannya tadi, tapi hari ini emosinya memang sedang tidak dapat dikontrol, mungkin karena lagi halangan juga. Ditambah Rafa yang memang menyebalkan, coba ia bilang dari awal, kan Vallen tidak akan kesal duluan. "Kalung buat apa?"

"Gantungin cincin." Rafa memarkirkan motornya di depan ruko yang bukan toko emas, lagian sih ada acara mengejar Vallen segala, ribet lagi kalau putar balik, lebih baik mereka berjalan sedikit saja.

Vallen mengekori Rafa berjalan. Sesampainya di toko, Rafa menyarankan agar kalung perak saja. Gadis itu pun langsung memilih kalung yang terlihat cantik di matanya.

"Makasih," ucap Vallen pada mbak-mbak di sana saat menerima barang yang sudah dibungkus tersebut.

Selanjutnya Vallen dan Rafa tidak lagi bicara, bahkan sampai motor kembali dilajukan. Setelah sampai di gerbang komplek, barulah Rafa bertanya ke mana arah rumah gadis itu, dan untungnya Vallen jawab.

Beberapa lama kemudian, motor Rafa pun berhenti di rumah bertingkat warna krem.

Vallen turun dan segera membuka gerbang tanpa mengucapkan apapun pada Rafa.

"Val!" panggil Rafa yang duduk menyamping di motor dengan tangan kanan bertumpu pada stangnya.

Vallen berbalik.

"Lo ngambek gara-gara gue bilang keberatan nganter lo?"

"Ya lo pikir aja sendiri," jawab Vallen ketus.

"Dih, jadi kebo baperan amat."

"Ga lucu."

"Gue gak ngelawak. Salam buat orangtua lo, gue balik sekarang."

Vallen tidak menjawab, hanya menutup gerbang, lalu masuk ke dalam rumahnya.

***

Satu mobil sampai di depan rumah Rafa, kemudian dari sana muncul anak-anak seumur Rafa yang beralih masuk ke rumahnya sembari mengucap salam. Namun, ada dua orang yang tetap di depan, mereka adalah Chela dan Nasya--sahabat Vallen yang masih berusaha menelepon gadis tersebut.

Tut ... Tut ...

Halo?

"Val, lo di mana?" tanya Chela.

Ruang tamu.

"Oh, udah di dalem?" Dua gadis yang masih di ambang pintu itu lantas melihat ke area dalam rumah.

Hah? Ruang tamu rumah gue maksudnya. Lo pada udah sampe di rumah Rafa?

"Udah nih, malah yang belom sampe tinggal gengnya Rafa plus elo."

Gak tau nih si Devan lama. (Tin!) Oh itu, gue otw sekarang!

Tut ...

Sambungan telepon pun dimatikan.

Chela mengangguk pada Nasya, isyarat bahwa mereka masuk sekarang saja.

***

Vallen yang mendengar klakson mobil lantas menjauhkan dirinya yang semula menyender pada bahu Aya.

"Mah, Vallen berangkat sekarang yah." Cewek itu memakai lagi tas selendangnya, lalu beranjak ke luar rumah ditemani mamahnya sampai pintu utama.

Saat menginjak keset bertuliskan 'welcome', Vallen berhenti sejenak. Menatap mobil Devan dengan rasa tak enak. Hari ini ia harus menyelesaikan urusannya dengan cowok itu, karena Vallen sudah tak boleh melanjutkan ini semua.

Kaca mobil turun. Tiga orang cowok di dalamnya mengangguk pada Aya sambil tersenyum. "Tante!"

Aya membalasnya dengan senyuman pula.

Vallen menyalami mamahnya, kemudian berjalan ke mobil Devan. Pandangannya mendapati bahwa yang kosong adalah bangku depan. Wajar sih mereka memberi tempat itu untuk Vallen.

Seusai Vallen memakai seatbelt. Devan tersenyum sambil sekilas melihat padanya. "Udah berapa hari ya Val kita gak ketemu?"

Vallen balik tersenyum, hanya untuk menyeimbangkan reaksi Devan. "Sepuluh hari mungkin ...."

"Kangen gue sama lo, Val."

Setelah mendengar itu, senyum Vallen perlahan memudar, dirinya menatap ke sebelah kiri, sengaja membuang pandangan dari Devan yang meliriknya padahal sedang menyetir.

🍐 Bersambung ....

...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...

...Makasih ✨...

1
nickname
udah ijab kabul kok masih tunangan?
Widhi astuti
ceritanya kerennn bikin baper....
Widhi astuti
ceritanya keren bikin baper trus bikin hati campur aduk..
Senja 🌹
mulai baca semoga seru cerita nya 😘
Sity Fatmaladewi
kok tunangan sih bukannya udah sah ya 🤭😌
Galaxy_713
Knp g lnjut d wp sih?
NIF:)
gue baca, yang kedua. kangen soalnya (๑・ω-)~♥”
🇧 🇮
huwaaaaaaa othoorrr jahat,,,, np bang devannya dibuat pergi,, 😭😭.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.
Dewiamsyhar Julianti
biadab
Putri Salju
Statusnya istri apa tunangan yah? Di bab awalan kan udah ijab qabul, lah sekarang ganti tunangan
Aprilia Amanda
tadi suami sekarang tunangan
Aprilia Amanda
sd tadinya mesra😂 sekarang ga mesra lg gitu thor??🤣🤣
Aprilia Amanda
devan sm meisha aja udah. kasian tau🥺
Aprilia Amanda
awalnya nikah. trs tunangan. awalnya sholat maghrib ini gereja. bingung dah ah😴
Aprilia Amanda
masih tanya knpa?? gw colok juga tuh matanya si rafa😒
Aprilia Amanda
rafa ogeb😒
Aprilia Amanda
kok gw jadi gedeg ya sm rafa
Aprilia Amanda
sama aku aja yuk van🤣
Aprilia Amanda
dorong pintu yang ada tulisan tarik?? kek gw lu val🤣
Fa Rel
tunangan apa nikah sih tunangan kok tinggl. satu kamar aneh bgt hmmm authorr. jelasin napa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!