NovelToon NovelToon
Mama Tiriku Canduku

Mama Tiriku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.

Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-5 Tekanan

Veyra menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, tapi pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang Zavier. Berusaha mengalihkan pikirannya, ia menatap Ardian yang tampak lebih tenang setelah sarapan.

"Mas, hari ini tetap ke kantor?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja.

Ardian mengangguk sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu. "Ya, ada beberapa meeting penting yang harus aku hadiri. Apalagi Zavier belum muncul, jadi aku harus memastikan semuanya tetap berjalan lancar."

Veyra mengangguk paham. Ada sedikit kelegaan karena itu berarti ia akan punya waktu untuk sendiri, merenungkan semua yang terjadi.

Tapi kemudian, Ardian menambahkan sesuatu yang membuatnya tertegun.

"Lusa, kita berangkat bulan madu."

Veyra terdiam, jantungnya mencelos. "Bulan madu?" ulangnya pelan.

Ardian tersenyum, mengusap punggung tangannya. "Iya, aku sudah menyiapkan semuanya. Ini kejutan untukmu."

Veyra berusaha tersenyum, tapi di dalam hatinya, ia tidak yakin bagaimana harus merespons. Bulan madu? Dengan Ardian? Bagaimana dengan Zavier?

Ia menggenggam erat sendoknya, berusaha menahan gejolak di dalam dadanya.

Begitu Ardian berangkat ke kantor, Veyra duduk di sofa dengan gelisah. Tangannya menggenggam ponsel erat, pikirannya penuh dengan kebimbangan. Haruskah aku meneleponnya?

Namun, sebelum pikirannya berubah, ia sudah menekan nomor Zavier.

Di apartemennya, Zavier baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah, dan ia mengenakan kaus serta celana santai. Saat melihat nama Veyra muncul di layar ponselnya, jantungnya berdegup lebih kencang.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima panggilan itu.

"Halo," suaranya terdengar serak.

Veyra terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "Aku ingin bertemu."

Zavier mengerutkan kening. Setelah apa yang terjadi, dia masih ingin bertemu denganku?

Ia menyandarkan tubuh ke sofa, menatap kosong ke arah jendela apartemennya yang mengarah ke kota. "Datang ke apartemenku," katanya datar.

Veyra menggigit bibirnya, pikirannya kembali kacau. Tapi, tanpa banyak berpikir lagi, ia menjawab, "Baik, aku akan ke sana."

Panggilan berakhir.

Zavier menarik napas panjang. Ia tahu ini bukan keputusan yang bijak, tapi hatinya terlalu lelah untuk memikirkan konsekuensi.

Sementara itu, Veyra menggenggam ponselnya erat. Ia tahu ini berbahaya, tapi ada sesuatu yang harus ia tanyakan langsung pada Zavier.

Veyra duduk di dalam taksi dengan gelisah, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Setelah Zavier mengirimkan alamat apartemennya, ia tidak berpikir dua kali untuk pergi ke sana.

Matanya menatap bayangan dirinya di kaca mobil. Gaun midi krem yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, rambut panjangnya tergerai rapi, dan wajahnya tampak semakin memesona dengan riasan ringan.

Tak butuh waktu lama, taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah. Apartemen Zavier.

Dengan langkah hati-hati, Veyra melangkah masuk. Tangannya sedikit gemetar saat menekan bel unit yang sesuai dengan alamat yang diberikan Zavier.

Pintu terbuka.

Zavier berdiri di sana, mengenakan kaus hitam dan celana kasual, rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Namun, matanya langsung terpaku pada sosok yang berdiri di hadapannya.

Cantik. Begitu cantik hingga dadanya terasa sesak.

Seakan ada sesuatu yang menghantamnya dari dalam, membuatnya menyesali semua yang telah terjadi.

"Masuklah," suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Veyra melangkah masuk, hatinya berdebar kencang. Ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah pernikahan itu terjadi.

Dan kini, mereka hanya berdua.

Begitu pintu tertutup, Veyra langsung berbalik, menatap Zavier dengan tajam. Tanpa basa-basi, ia bertanya,

"Kenapa kamu bohong soal statusmu selama ini, Zavier?"

Zavier menghela napas panjang. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul, tapi tetap saja hatinya terasa berat.

Ia berjalan ke dapur, menuangkan segelas air, lalu meneguknya sebelum menjawab, "Aku tidak berbohong. Aku hanya tidak memberitahumu."

Veyra mendengus. "Itu sama saja!"

Zavier menatapnya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara lebih pelan, "Aku ingin dicintai bukan karena nama keluargaku atau kekayaan yang kumiliki. Aku sudah melihat terlalu banyak orang mendekatiku hanya karena mereka tahu aku anak Ardian Anantaka."

Ia meletakkan gelasnya dan menatap Veyra dengan sorot mata yang penuh luka.

"Aku ingin seseorang yang mencintaiku karena aku, bukan karena aku pewaris bisnis Papaku."

Veyra terdiam. Kata-kata itu membuatnya sedikit terhenyak, tapi ia tidak ingin kalah begitu saja. "Tapi tetap saja, aku pantas tahu, Zavier. Aku pantas tahu siapa kamu sebenarnya!"

Zavier tersenyum tipis, getir. "Kalau aku bilang sejak awal, apa kamu masih akan mencintaiku dengan cara yang sama?"

Veyra terdiam, tidak bisa langsung menjawab.

Zavier melanjutkan, "Aku ingin merasakan hidup sebagai pria biasa. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berjuang tanpa embel-embel nama keluarga. Aku ingin tahu apakah aku bisa dicintai sebagai Zavier, bukan sebagai pewaris Anantaka."

Veyra menggigit bibirnya, hatinya terasa berkonflik. Sebagian dari dirinya bisa memahami alasan itu, tapi sebagian lainnya merasa dikhianati.

"Dan kamu memilih merahasiakannya sampai akhir? Bahkan sampai aku menjadi istri papamu?" suaranya melemah.

Zavier menutup matanya sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak pernah menyangka semua ini akan berakhir seperti ini, Veyra. Kamu juga tidak, kan?"

Hening mengisi ruangan. Hanya ada dua hati yang sama-sama terluka, saling menatap dengan ribuan emosi yang tak terucapkan.

Veyra menarik napas dalam, mencoba menenangkan hatinya yang terasa sesak. "Kamu tidak pernah menyangka? Aku juga tidak pernah menyangka, Zavier!" suaranya bergetar menahan emosi.

Zavier menatapnya lekat-lekat, rahangnya mengatup. "Aku tidak berniat menyakitimu, Ve."

Veyra tertawa kecil, tapi tanpa kebahagiaan. "Kamu tidak berniat? Kamu menyembunyikan siapa kamu sebenarnya, membuatku percaya kalau kita sama-sama berjuang dari bawah. Nyatanya, kamu hidup dalam kemewahan, sedangkan aku benar-benar berjuang untuk bertahan!"

Zavier mengepalkan tangan. "Aku hanya ingin tahu rasanya hidup tanpa bayang-bayang nama Papa! Aku muak melihat orang berpura-pura baik hanya karena aku anak Ardian Anantaka!"

Veyra menatapnya dengan mata memerah. "Lalu, aku ini apa? Kamu pikir aku juga seperti mereka? Kamu pikir aku akan berubah kalau tahu siapa kamu?"

Zavier mengusap wajahnya dengan kasar. "Bukan begitu, Ve. Aku cuma takut kehilangan seseorang yang benar-benar mencintaiku tanpa melihat siapa aku."

Veyra tersenyum pahit. "Lucu, ya. Pada akhirnya, kamu tetap kehilangan aku."

Hening.

Zavier tidak bisa menyangkal itu. Karena bagaimanapun, Veyra bukan lagi miliknya.

Matanya menatap dalam ke arah Veyra, membaca segala luka di sana. "Kalau aku bilang aku masih mencintaimu, kamu percaya?"

Veyra terdiam. Napasnya tercekat.

Zavier melangkah lebih dekat. "Aku masih mencintaimu, Ve."

Veyra menggeleng lemah. "Jangan, Zavier. Jangan membuat semuanya semakin sulit."

Zavier menelan ludah, mencoba menahan semua emosi yang berkecamuk di dadanya. "Apa aku boleh tahu satu hal?"

Veyra menatapnya. "Apa?"

Zavier menarik napas panjang sebelum bertanya, "Kamu bahagia sekarang?"

Seketika, mata Veyra berkaca-kaca. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

Bahagia?

Ia tidak tahu. Yang pasti, hatinya terasa begitu hampa.

Veyra menelan ludah, detak jantungnya berdegup tak karuan saat Zavier melangkah lebih dekat. Mata mereka bertemu, saling menelanjangi luka yang tersembunyi di balik kepura-puraan mereka.

"Apa yang kamu rasakan waktu malam pertama?" suara Zavier serak, nyaris berbisik.

Veyra terkejut. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Zavier menatapnya lebih dalam, dan sebelum Veyra sempat menjawab, air mata pertama jatuh dari matanya. "Kamu tahu, Vey? Aku sudah berencana mengenalkanmu ke Papa setelah aku kembali. Aku ingin kamu jadi masa depanku."

Veyra mengepalkan tangannya erat. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menghimpitnya.

"Aku juga ingin tahu satu hal," lanjut Zavier, suaranya bergetar. "Sejak kapan? Sejak kapan kamu dan Papa dekat?"

Veyra memejamkan mata. Ia tidak ingin menjawab. Ia tidak ingin mengingatnya. Tapi tatapan Zavier begitu tajam, seolah menuntutnya untuk bicara.

"Apa kalian sudah bersama saat kita masih..." Zavier tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat.

1
Han
zavier hanya mau menikah dengan istri muda mu, tuan
Han
anda salah tuan, anakmu ada hubungan dengan istri mu
Han
dia itu ayahmu lohh
Han
lahhhhh si zavier nekat banget
Han
cantik sih, tapi istri papa🤭
Han
capek kan, vey? selalu berpura-pura 😅
Han
waktu yang dibutuhkan zavier akan lebih lama dari waktu kalian bersama, vey
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅
andai kau tau ardian kekasih anak mu yg kau maksud itu adalah istri mu yg baru saja kau nikahi
Han
menjauh lebih baik, dari pada makin sakit hati
Han
kekasih zavier sudah kau nikahi pak tua
Han
Ardian sedang mengalami puber ke sekian, za. jadi, maklumi saja😅
Han
do'akan saja, za.
Han
veyra masih bimbang, antara anak sama ayah. padahal sudah nikah ma ayah kekasih
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅
baru mampir lagi ke karya kak duduk ailee. komen ke 2 aku 🤣
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅: sama sama kak dydy
total 2 replies
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
komen pertama like pertama,
awal nya bagus, lanjut thor
Dydy Ailee: makasih kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!