NovelToon NovelToon
Dipaksa Tapi Tidak Terpaksa

Dipaksa Tapi Tidak Terpaksa

Status: tamat
Genre:Romantis / Suami Tak Berguna / Janda / Duda / Tamat
Popularitas:608.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: El Nurcahyani

Diperbarui 27 September 2020
_______________________________

Perjodohan dengan lancar tidak ada kebencian. Eliana dipaksa namun dengan rela hati menerima, sebab kesabaran Arsya merubah status mereka dari adik kakak menjadi sejoli penuh cinta.

Ujian menimpa selalu pada Arsya, sejak awal sabar dengan hubungannya, kemudian takdir membawanya pada penyakit yang tidak disangka.

Eliana tidak menyesali dengan kehidupan barunya. Gadis yang semula manja, menjadi sangat tegar, sebab ujian yang menimpa Arsya --suaminya-- menuntut dia untuk menerimanya juga dan seakan menjadi single parent.

Pesan moral dari cerita ini = tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai keinginan kita, jika pun itu ada, ujian akan tetap ada untuk mengingatkan pada kita bahwa dalam hidup itu selalu ada dua sisi -- Hitam & Putih, Sedih & Bahagia, Ujian & Kedewasaan, DLL--

Selamat menikmati untuk teman-teman yang sudah mampir pada novel ini. Terima kasih sebelumnya. 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Nurcahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arsya Mengutarakan Isi Hatinya.

Arsya so cool di depan El, dia mengendalikan dirinya agar tidak terlihat terkejut. Sesungguhnya Arsya begitu rindu pada sahabat kecil itu. Andai kejadian malam itu tidak membuat marah Eliana, mungkin saat ini Arsya bisa memeluknya.

"Halo ... apa kabarmu Eliana?" Arsya menggoyangkan tangannya didepan wajah El.

"E- iya, aku baik, Kak Arsya sendiri bagaimana?" El yang mematung, terperanjat.

"Seperti yang kamu lihat, sehat, segar bugar, hehe ...." Arsya mencoba menetralisir suasana.

"Arsya, mana air minumnya ...?" bu Winda memanggil dari ruang tengah.

"Iya Bu, segera ...." Sahut Arsya.

Arsya pergi meninggalkan El tanpa mengajaknya, dia gugup dan tergesa-gesa karena panggilan ibunya.

"Nak Arsya, kamu bertemu El di belakang?" tanya Bu Ratna.

"Oh, ya ampun ..., kenapa aku lupa. Iya Tante tadi bertemu, cuma lupa saya ajak kemari, soalnya saya buru-buru bawa minuman ini, hehe ... itu orangnya datang."

Baru saja Arsya berbicara seperti itu, El datang dengan muka di tekuk karena masih sebal kepada adiknya. Dia ikut bergabung dengan keluarga yang lainya. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan kembali.

Arsya seringkali curi pandang kepada El, dia benar-benar ingin melepas rindunya. Apalagi El sekarang terlihat lebih dewasa, semakin manis dan lebih menarik pokoknya. Tak sedikitpun mereka menyinggung tentang  hubungan Eliana dan Arsya. Mereka mencari waktu yang tepat dan benar-benar tenang untuk membahasnya.

"Nak, kamu dari tadi diam saja, kenapa?" Tanya ayahnya Arsya pada Eliana.

"Nggak apa-apa Om, saya hanya bingung mau ikut bicara apa, hehe ...." El mencari alasan yang tepat, di iringi senyuman kecil. Padahal dia sedang mengatur keadaan hatinya, antara malu, malas, atau rindu bertemu kembali dengan Arsya.

"Arsya, ajak Eliana ke taman belakang. Mungkin disana suasananya lebih nyaman, bukankan sudah lama juga kalian tidak bertemu, kenapa pada membisu seperti ini, sih? seperti tidak pernah kenal saja?"  Pak Sanjaya mengerti akan situasi mereka berdua.

Tanpa menunggu lama lagi, Arsya mengajak El untuk mengobrol berdua saja di taman belakang rumah. Sebenarnya El enggan, dia masih belum bisa menjadi El yang dulu, yang ceria, yang suka manja, suka bercanda tanpa canggung dengan Arsya. Tapi kali ini perasaannya tidak karuan, tapi El sendiri tidak bisa mengartikan perasaanya itu. Apakah benci, malu, atau apa ...?

***

Arsya dan El sudah berada di taman belakang, di sana ada gazebo dengan tempat duduk model lesehan. Tapi Arsya memilih duduk di teras dekat pintu keluar saja, dia tak ingin suasana yang terlalu privat malah membuat ketegangan pada Eliana.

Mereka duduk di kursi rotan berwarna putih gading. Di sana terdapat 4 kursi yang posisinya melingkar dan satu meja di tengahnya. El duduk bersebrangan dengan tempat duduk Arsya. Bunga-bunga yang terawat di sekitar taman membuat suasana lebih nyaman dan santai. Meski cuaca sedang panas terik, tapi di tempat itu sangatlah teduh dan sejuk dikarenakan banyak pepohonan dan rumput yang hijau.

"Ehem ...." Arsya memecah keheningan.

Hampir 10 menit mereka duduk di sana tak ada satupun obrolan yang mereka bahas. Eliana terkadang membuka ponselnya atau sesekali membuka-buka majalah yang ada di bawah meja. Tapi tidak dengan Arsya, dia selama itu juga menikmati pemandangan yang berada di hadapannya, yaitu Eliana. Meski kadang sesekali mengalihkan pandangan ke tempat lain, jika terlihat Eliana bergerak karena merasa dirinya sedang diperhatikan.

"De, tunggu sebentar ya! Kakak ambilkan minuman dan beberapa cemilan." Arsya pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman kesukaan Eliana.

Huft, kenapa sih situasi ini terjadi. Tau akan seperti ini, aku lebih memilih duduk bersama yang lainya, atau nggaka ikut sekalian. Eliana

El membuka ponselnya dan chatting bersama temannya, mungkin hanya itu yang bisa menghibur untuk saat ini.

Tak begitu lama Arsya membawa satu gelas air jeruk hangat dengan sedikit gula. Itu adalah minuman kesukaan El, dan cemilan keripik kentang. Arsya menyimpanya tepat didepan Eliana.

El melihat hidangan yang dibawa Arsya dengan sudut matanya.

Haduh ..., jeruk hangat dan keripik kentang kesukaanku. Kenapa Kak Arsya membawa hidangan ini sih, segar sekali kayaknya kalau panas-panas begini minum jeruk hangat. Mana dari tadi aku belum minum sejak ketiduran di mobil. Eliana

"Mungkin kamu lebih suka sibuk dengan ponselmu, daripada ngobrol denganku?" Arsya membuka pembicaraan.

El, bingung mau menjawab apa, dia benar-benar tak bisa seakrab dulu. Tapi kemudian dia mengembangkan sedikit senyumya, agar tidak terlalu tegang.

"Makasih makanannya Kak, sebenarnya aku tidak begitu haus kok. Nggaka usah repot-repot." Perkataan Eliana begitu kaku.

"Hihi, kamu ini lucu ya. Bicaramu itu loh, formal banget, kaya bicara sama siapa aja."

"Terus aku mau bilang apa? memang aku tidak haus kok." El masih mengendalikan rasa canggungnya.

"Ya sudah, haus atau enggak yang penting udah ada minuman. Bisa diminum kapan saja ...."

Akhirnya dari situ pembicaraan mulai bisa berjalan, Arsya memulai basa-basi tentang sekolah Eliana, teman-teman di tempat barunya, sampai bagaimana setelah nanti Eliana lulus kuliah. Apakah akan membantu mengelola percetakan milik ayahnya atau mempunyai cita-cita sendiri.

Eliana pun menanggapi dengan semestinya, meskipun belum sepenuhnya pembicaraan ini ringan dan akrab seperti dulu.

"Oya De, boleh Kakak bertanya sesuatu?" dengan ragu Arsya mengatakannya.

"Apa?"

"Sebelum pada pertanyaan itu, Kakak harap Ade bisa menyikapi pembicaraan ini dengan tenang dan dewasa. Kakak pikir kita bukan anak kecil lagi seperti waktu itu, sikap kita harus bisa menghadapi dengan pikiran jernih dan tenang, meskipun diri kita merasa keberatan. Yang mengganjal di hatiku selama ini adalah ... apa Ade benar-benar marah karena kejadian waktu itu, dan sebegitu bencinya sama Kakak? bahkan mencoba menghubungi pun tidak, atau hadir dalam kegiatan sekolah untuk alumni ...? Kakak berharap sekali kamu hadir waktu itu. Tapi jika Ade memang marah, kenapa tidak menolak perjodohan ini?"

Eliana bingung akan menjawab apa, tidak mungkin dia menjawab sekenanya. Terlebih Arsya sudah memberi tahu, bahwa mereka itu sudah sama-sama dewasa. Mereka harus dapat menyelesaikan masalah yang serius dan menyikapi dengan bijak. Begitu pun Eliana, saat ini dia sedang menimbang jawaban seperti apa yang tepat.

"Aku ... em, sebenarnya tidak menginginkan perjodohan ini. Tapi tidak ada alasan untukku menolak. Kalau soal kejadian itu, mungkin Kak Arsya lebih bisa menilai dari reaksi aku selama ini."

"Huft ... baiklah, meski Kakak tidak puas dengan jawaban ini. Diamnya Ade malah bisa Kakak artikan baik-baik saja dan tidak marah kepada Kakak. Kamu menjaga jarak dan memilih menutup komunikasi, hanya karena malu iya, kan?" Arsya tersenyum merasa mendapatkan kalimat yang tepat untuk membuka lebih jelas isi hati Eliana.

Benar saja, Elina semakin dibuat serba salah. Dia merasa terjebak dengan jawabannya sendiri.

"Tapi, maksudku bukan seperti itu." El panik, tidak ingin Arsya kegeeran.

H*aduh, pede banget sih Kak Arsya ini. Kalau aku bilang marah, tapi kenapa sekarang aku disini, nggak mungkin alasan drama hanya karena patuh sama orang tua, aku ikut kemari. *Eliana

"Jadi menurut kamu bagaimana?" Arsya semakin suka, El terjebak ucapannya sendiri.

"Ya ... aku ... Em, sudahlah aku nggak mau bahas itu lagi. Kak Arsya bilang kita ini sudah dewasa, jadi harus bersikap dewasa. Nggak usah bahas yang sudah berlalu, nggak penting."

Arsya tersenyum penuh kemenangan, Eliana perlahan tidak begitu kaku seperti ketika baru datang.

"Sekarang, aku mau membahas lebih serius lagi." lanjut Arsya.

"Apa lagi? Kakak membuatku tegang nih, banyak sekali pertanyaan dan bahasan serius. Kita ngobrol ringan saja."

"Mumpung kita bertemu, mungkin saja setelah ini kamu diam lagi, menutup diri lagi, bingung malah hehe ...."

"Oke ... oke. Kakak mau bahas apa?"

"Ehem, begini ...." Arsya bangkit dari tempat duduknya dan duduk kembali tepat di samping Eliana.

El bingung dan gerogi. Bahkan ketika Arsya mau menyentuh tangannya, dia memundurkan tangan dan pura-pura mengambil air jeruk di hadapannya.

"Ok, maaf jika aku mulai membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud kurang ajar." Arsya menarik nafas.

"Begini ... sejujurnya aku senang sekali dengan kedatangan kamu Eliana. Mungkin kalau bukan karena kejadian waktu itu, Aku tak bisa menahan rasa rindu ini dan memeluk kamu, bercanda lagi seperti waktu dulu. Tapi Aku akui semua salahku tak bisa mengontrol perasaan. Tapi De Eliana patut mengetahui perasaan ini, maafkan Kak Arsyamu ini telah memiliki perasaan yang mungkin terlalu berlebihan. Semenjak Kakak kelas 2 SMA sebenarnya sudah merasakan perbedaan rasa ini, yang dari awal hanya sebagai teman dan saudara. Tapi waktu itu Kakak bisa menahan dan menyembunyikanya, mungkin saja perasaan Kakak salah. Tapi semakin waktu berlalu, Kakak yakin ... perasaan ini adalah perasaan suka. Aku jatuh cinta sama kamu, Eliana ..."

Eliana terkejut dan menoleh pada Arsya, tapi kemudian berpaling lagi menyesuaikan posisi seperti semula. Dia tak menyangka, baru pertama kali bertemu sejak perpisahan yang lama, Arsya mengungkapkan isi hatinya dengan tiba-tiba.

Aku bingung harus jawab apa, atau merespon seperti apa? Ya Tuhan, bantu aku ... benar-benar bingung ini, Aku tak bisa berpikir. Eliana

1
Shifa Burhan
jangan kau pesan2 moral kalau novel masih jadi pemuja dan baperan lelaki lain (pebinor) dan selalu membenarkan kelakuan pemeran utama wanita (sudut pandangmu)
dimana letak moral novelmu jika tindakan2 tidak bermoral kau bela dan kau benarkan
ini tindakan2 tidak bermoral yang kau benarkan
*genta selalu sok baik dan mencari perhatian pada istri sahabatnya sendiri,
*eliana seorang istri yang selalu terbuka dan menerima kehadiran genta
*interaksi genta dan eliana, kontak fisik, perhatian, curhat, suap suapan, papah, bahkan ada yang pakai perasaan kau benarkan

dimana letak moralmu saat kelakuan pebinor dan istri yang mudah menerima kebaikan lelaki kau benarkan

miris sekali
Shifa Burhan
bawa2 pesan moral

*apakah interaksi eliana dan genta masih wajar thor

gini aja thor jika ada wanita lain kayak genta yang baik pada suamiku kayak kebaikan dan perhatian genta pada eliana, apakah kau anggap wanita itu wanita baik2

thor adil lihat pelakir dan pebinor

jangan pelakor kau laknat tapi pebinor dan sok baik pada istri orang kau muliakan

egois yang terkesan munafik
Laela Fathinah
Luar biasa
Indah Ponsel
penasaran 😍
Say Yang ,sama2
El KLO gak MW di jodohin ,,,aku siap kok jadi gantinya,,hehehehe,,,,canda el
Yuni Rahma
apa eliana hamil thor, kalo hamil Arsyad bener bener T.. O.. P
Yuni Rahma
Arsya terlalu baik sm cewek, jd pada baperan.
Yuni Rahma
kenapa g d omongin k arsya, jd berfikir yang tidak tidak.
mizuki
ini ceritanya apa sih gak jelas banget....
Rini Haryati
bagus
sukses
semangat
mksh
Myars
walau baca maraton,tapi boleh ya ka elnur komen😁😁"sebenarnya aku penasaran siapa wanita misterius itu?dan untuk puput ko aku kurang enak ya!,untuk eliana entah lah😴😴😴sampai baca d sini aku udah mulai kebawa emosi ini😤😤😤
El Nurcahyani: Boleh kok komentar, silakan. Terimakasih malah, sudah mau menyimak karya saya. 😊

Ini karya pertama saya yang tidak tahu pasaran di MT, seringnya CEO, Boss dan si miskin, perjodohan paksa, benci cinta. Jadi maaf, ini begitu sederhana banget. hanya sedang belajar, menulis sesuai kaidah, jadi serba masih seadanya. 😁
total 1 replies
Myars
jujur aku kenal sama ka elnur itu d novel LAS karya lasheira,yg isi suara nya,pertama aku suka aja pembawaan nya kalem,dan ini aku cap cus baca karya nya,walau telat tapi gak papa ya kak🤭
El Nurcahyani: Waah, thx ya sudah mau mampir di karya sederhana saya 😊🙏
total 1 replies
👑☘ɴͪᴏͦᴠᷤɪͭᴛͤᴀᷝ💣
aduh... pedihnya
👑☘ɴͪᴏͦᴠᷤɪͭᴛͤᴀᷝ💣
aduh elisa kpn dewasanya😚
👑☘ɴͪᴏͦᴠᷤɪͭᴛͤᴀᷝ💣
ya ampyun.. ini keren bgt, kak El.

Buat tmn2 yg baru/mau belajar nulis kudu bgt baca tulisannya kaka Author ini deh❤
👑☘ɴͪᴏͦᴠᷤɪͭᴛͤᴀᷝ💣: hihihi... CEO tsundre yahh, lmyn klo lg butuh yg manis2 🤭

btw, tulisannya kak El rapih. seneng bacanya 👍🏻
total 2 replies
ᴷᶜ Riska Febriani MangaTo͜on
semangat kk
El Nurcahyani: thx 🥳🥳
total 1 replies
Azzahra Putri
oxio
Lin Suarjana
kak El.. yang mau di jodohkan itu aku.. 🤫🙈🤭😁😅
maaf baru sempat mulai baca..
edisi, suka baca yg sudah the end biar ga pinisirin.. Tetap semangat berkarya 😘
El Nurcahyani: Eh, ada mbaknya 😅
thx udah mampir
total 1 replies
Si dhini
halo kak el... 👋👍👍👍
El Nurcahyani: Hehe iya, makasih ya sudah mau mampir. makasih juga supportnyanya 🥰🥳
total 3 replies
dewi
emaknya arsya gak di racun aja thor🤣🤣🤣
dewi: perlu bantuan gak thor🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!