Rili, seorang gadis remaja yang mempunyai precognitive dream atau mimpi yang selalu jadi nyata. Dia seorang gadis yang kuat dan tangguh tapi dia menjadi seorang gadis yang lemah saat dia harus berhadapan dengan mimpi-mimpi buruk itu.
Kehidupannya berubah setelah dia memakai cincin, dia bisa melihat penampakan dan cincin itu tidak bisa lepas dari jarinya. Bagaimana cara melepas cincin itu?
Dan mengapa hantu itu muncul lagi setelah sekian lama menghilang. Apa karena cincin yang dipakai oleh Rili?
Kisah cinta anak SMA yang uwu-uwu dengan bumbu misterinya.
Jangan lupa jadikan favorit ya... 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Sore itu, Rili masih saja merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia merasa lelah setelah beraktifitas seharian ini. Walau isi dari aktifitas seharian ini lebih banyak bertengkar dengan Alvin. Ternyata bertengkar dengan Alvin membutuhkan tenaga ekstra.
Rili memeluk gulingnya. Dia mengosongkan pikirannya. Ingin dia terbang ke alam mimpi tapi tiba-tiba Rasya datang tanpa permisi.
"Rili. Rili bangun!!" Rasya menggoyang pundak Rili.
"Kak Rasya, jangan masuk kamar aku sembarangan!" Rili kini langsung duduk di sisi ranjangnya.
"Iya, maaf. Tadi aku panggil kamu gak jawab-jawab, gak taunya tidur."
"Ada apa?" tanya Rili sambil mengucek matanya yang terasa berat.
"Udah nyiapin buat camping besok?"
"Belum. Nanti aja."
"Rili, nanti kapan? Kamu kan masih sore biasanya udah molor. Cepat siapin."
Rili kini beralih duduk di depan meja belajarnya. Memang kecerewetan Kakaknya ini lebih dahsyat dari pada Papinya. "Kak Rasya bawel banget sih." Rili kini meraih tasnya dan melihat perlengkapan apa saja yang akan dibawa besok.
"Jangan lupa jaketnya pake yang tebal. Bawa syal aja juga. Di sana dingin banget kalau malam."
"Iya." Rili sebenarnya malas banget bergerak saat itu. Sejujurnya dia masih ingin rebahan. Tempat tidur seolah-olah memanggil dirinya untuk tertidur.
"Dek, dengar gak?"
Rili hanya melirik Rasya tanpa menjawab. "Kak, di sana ada binatang buas gak?" tanya Rili yang malah keluar dari tema.
"Di hutan ya jelas ada. Tapi kan masih buasan kamu. Binatangnya pasti takut sama kamu."
"Kak Rasya." Rili memukul tangan Rasya.
"Tuh, kan buas banget." Rasya tertawa sambil keluar dari kamar Rili yang dikejar oleh Rili.
"Kak, awas ya." Rili mengejar Rasya.
Kini Rasya justru bersembunyi dibalik punggung Maminya.
"Kalian ngapain kejar-kejaran kayak gini. Masih kayak anak kecil."
"Itu Mi, Kak Rasya rese' banget." Rili memanyunkan bibirnya sambil melipat tangannya.
"Lagian kamu disuruh nyiapin barang buat besok mager banget." Rasya kini duduk di sofa sambil menyalakan televisi lalu mengambil cemilan yang ada di meja.
"Masih ngantuk, Kak. Capek. Kak Rasya lupa, tadi aku suruh lari putar lapangan basket." Kini Rili justru ikut duduk di sebelah Rasya sambil meraih cemilan yang ada di tangan Rasya.
Rasya tidak bisa menahan cemilannya saat diambil alih oleh Rili. "Ya, kamu sih. Kartu pengenal pake hilang segala.
Lisa kini ikut duduk di samping putrinya. "Kamu tadi dihukum sama Rasya?"
"Rasya hukum dikit, Ma."
"Kak Rasya sebenarnya kartu pengenal aku itu gak hilang tapi di sembunyiin sama Alvin."
"Alvin? Kenapa kamu gak bilang?"
Lisa tersenyum mendengar obrolan mereka. Dia jadi teringat awal pertemuannya dengan suaminya waktu itu.
"Emang Alvin itu nyebelin banget. Ngapain juga dia jadi senior pembimbing di kelas aku."
"Alvin di kelas kamu? Harusnya bukan Alvin loh yang ada di kelas kamu." Rasya nampak berpikir sejenak. Dia curiga dengan motif Alvin. Apa Alvin sengaja ingin mendekati Rili?
"Mi, Rili pinjam syalnya dong?"
"Ya udah, kamu ambil aja sayang di laci meja nakas."
"Iya, Mi." Rili mengembalikan cemilannya ke tangan Rasya lalu berdiri dan berjalan menuju kamar Maminya.
Rili masuk ke dalam kamar utama. Dia berjalan menuju nakas yang ada di sisi ranjang. Dia jongkok lalu membuka laci. "Dimana sih?" Rili mencari dengan sedikit mengacak isi laci itu. Tiba-tiba ada yang menggelinding keluar dari laci.
Rili meraih benda kecil itu. "Cincin? Cantiknya. Pasti punya Mami waktu masih muda dulu." Rili tersenyum sambil melihat cincin emas dengan berlian putih di atasnya. Sangat cantik hingga membuat Rili ingin mencobanya.
Rili memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Sangat pas. Dia memandangnya sambil berkhayal sesaat seandainya suatu saat nanti sudah ada yang menyematkan cincin di jari manisnya. Siapa ya?
Berpindah dari khayalan, Rili kini ingin melepas cincin itu tapi tak berhasil. Mencoba melepasnya lagi dengan kuat, tapi tetap tak berhasil. "Perasaan gak kekecilan tapi kok gak bisa dilepas." Rili berusaha melepasnya berkali-kali tapi gagal.
"Rili, udah ketemu syalnya?" Lisa masuk ke dalam kamar dan melihat wajah Rili yang sedikit panik sambil mengenggam jarinya. "Rili kenapa?" tanya Lisa sambil mendekat.
"Rili gak sengaja nemuin cincin Mami. Terus Rili coba tapi gak bisa dilepas." Rili menunjukkan jarinya.
Lisa sangat terkejut. Ini kan cincin dari Bu Maya. Lisa berusaha membantu Rili untuk melepas cincin itu tapi tetap gagal. Cincin itu seolah menempel di jari Rili. "Nanti sambil mandi coba kamu lepas ya. Gak papa sekarang kamu pakai aja dulu." Lisa berusaha menenangkan diri. Walau sebenarnya dia takut terjadi hal buruk pada Rili.
Lalu Lisa berjongkok dan mengambil syal yang berada di laci nomor 2. "Di sini syalnya." Lisa memberikannya pada Rili. "Dicek betul-betul barang bawaannya besok jangan sampai ada yang tertinggal. Sini Mami bantu kemas ya.." Lisa merangkul putrinya berjalan keluar kamar.
...***...
Lisa, Ibu kasih cincin ini buat kamu. Sebenarnya cincin ini akan menjadi milik Dewi saat dia mau menikah. Tapi Dewi sudah tidak ada, jadi Ibu serahkan cincin ini sama kamu.
Satu kecupan di pipi Lisa berhasil membuyarkan lamunannya yang melambung ke beberapa tahun lalu saat Bu Maya memberikan cincin itu untuknya. Kini dia beralih menatap suaminya yang sudah duduk di sebelahnya dengan sebelah tangan merangkulnya.
"Ngelamunin apa?"
"Rili gak sengaja nemuin cincin dari Bu Maya lalu dia pakai."
Rizal teringat lagi dengan cincin itu. "Cincin itu masih kamu simpan?"
Lisa mengangguk pelan. "Aku lupa. Dan setelah dipakai cincin itu gak bisa dilepas, Pi. Aku jadi khawatir."
"Mungkin aja cincinnya kekecilan. Ya udah nanti kalau masih gak bisa dilepas juga kita potong aja cincinnya ke tukang emas."
Lisa mengangguk pelan lagi.
"Jangan terlalu dipikirin. Gak akan terjadi apa-apa."
Lisa kini menyandarkan dirinya di bahu Rizal. Walau telah bertahun-tahun menikah tapi kemesraan itu akan tetap terjalin.
"Waktu berlalu begitu cepat ya. Kedua anak kita sekarang udah remaja. Ini tantangan baru kita. Mungkin mereka akan sering membantah kalau dilarang. Apalagi kalau sudah mengenal soal cinta." Rizal sedikit tertawa. "Aku jadi ingat waktu kita pacaran dulu."
"Ya, semoga anak-anak kita gak niru kita."
Lisa mendongakkan wajahnya sambil menatap wajah Rizal yang masih saja tetap terlihat tampan walau sudah berumur 40 tahun. "Kak Rizal..." Lisa tersenyum menggodanya.
"Kalau kamu panggil aku kayak gitu, aku berasa muda lagi loh."
Mereka saling menatap dalam. Terhanyut oleh gelora cinta yang masih tetap sama besar. Dalam detik berikutnya mereka sudah terbuai dalam pelukan hangat.
💞💞💞
Aku tuh masih belum bisa move on dari Kak Rizal ku..