Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"Pak Abbas, ini calon istri Anda?" Pak Burhan bertanya tersenyum.
"Iya, dan ini putra saya Reno." memperkenalkan pada Pak Burhan.
Kami memberikan formulir pendaftaran pada Pak Burhan, "sudah lengkap semua persyaratannya," mengecek semua syarat masuk, "bulan depan sudah bisa masuk bersama peserta murid baru," tambahnya menaruh map yang berisi berkas formulir.
"Terimakasih banyak Pak Burhan!" ucap Tuan Abbas tersenyum padanya.
"Sama-sama, Pak Abbas. Saya juga berterima kasih tanpa Anda, saya tidak bisa mendirikan sekolah ini hingga besar." sahutnya membalas keramahan Tuan Abbas.
"Sudah seharusnya saya membantu orang lain." ujarnya dengan rendah hati.
"Oh ya, saya harus memanggil istri anda dengan sebutan apa?" tanya Pak Burhan menatap ramah padaku.
"Panggil saja Clara Annesa..." sebut Tuan Abbas menoleh tersenyum pada Clara.
"Ha-ha-ha," tawa pelan Pak Burhan, "Anda sangat menyukai calon istri anda dengan baik ya..." sindir Pak Burhan padanya.
Menyukai dengan baik katanya.
Memangnya dia tidak pernah menyukai seseorang selain diriku.
Batin ku seraya tersenyum lebar.
"Bu Clara, anda bisa melihat gedung sekolah dengan asisten saya." titah Pak Burhan seraya memanggil asistennya.
Aku menatap Tuan Abbas dan dia mengangguk memperbolehkan, "iya, Pak Burhan," ucapku, "saya pamit untuk melihat sekitar gedung sekolah," aku dengan Reno beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan mereka berdua.
**Flash Back orang tua Clara.
Setelah mereka semua pergi Ibu Husna dan suaminya Pak Umar masuk kedalam rumah.
"Pak, kita sebagai orang tua sungguh merasa bersalah pada Clara." ucapan Ibu Husna membuat Pak Umar mengingat kala hari itu**.
"Clara... Jangan menikah karena harus menebus hutang bapak." larangan Pak Umar tak di gubris oleh Clara karena jalan satu-satunya hanyalah menikah dengan Riko Hilman.
"Aku tidak apa-apa, Pak. Dengan jalan ini Bapak dan Ibu bebas dari hutang." sahut Clara menenangkan hati orang tuanya.
"Ibu minta dan mohon jangan lakukan hal seperti ini..." sambung Ibu Husna meratapi kepedihan yang akan datang di kehidupan Clara setelah menikah dengan Riko Hilman.
"Pak, Bu... Clara hanya ingin berterimakasih telah membesarkan ku dan mendidik ku dengan baik..." lirihnya menahan air mata yang penuh di bawah kelopak mata agar tidak jatuh dan tidak membuat orang tuanya sedih.
"Lebih sakit ketika Bapak dan Ibu dihina dan dimaki olehnya." tambah Clara menatap kedua orang tuanya.
Clara menahan getir pahit yang pernah terucap dari mulut Riko Hilman. Mengolok kedua orang tuanya dengan kasar.
"Aku tahu, Bapak memiliki sebuah bisnis kecil dan saham di dua perusahaan. Salah satunya di perusahaan yang di kelola oleh Riko Hilman. Namun aku berpura-pura tidak tahu..." jelasnya pada orang tuanya.
"Maafkan Bapak, Nak... Telah menyembunyikan ini semua. Bapak ingin anak bapak bisa meneruskan bisnis kecil bapak. Tapi, bapak tak bisa karena terlilit hutang dan bermain saham yang bapak saja tak begitu mengerti..." pecah tangis Pak Usman menyesal karena kesalahannya.
"Sudah, Pak... Tak perlu di sesali, buatlah ini pelajaran bagi kita untuk berhati-hati lagi. Yang penting bagaimana caranya kita menolak pernikahan ini..." terang Ibu Husna mengelus pundak Pak Usman seraya mengusap air matanya yang jatuh.
"Iya, Bu.... Biar bapak saja yang mengurungkan pernikahan ini dan mengambil saham di perusahaan satunya untuk menebus hutang ini." kata Pak Usman dengan percaya diri.
"Jangan, Pak. Nama baik bapak dan ibu akan buruk." sahutnya bersikeras menolak pengambilan saham demi nama baik orang tuanya.
"**Benar, Bu. Seharusnya bapak menentang pernikahan mereka dulu." Pak Usman menyesali perbuatannya.
"Dan sekarang imbas buruknya pada Clara," ujarnya, "dasar Riko Hilman tak tahu diri," kepalan Pak Usman mendarat di meja dengan keras.
"Sudah, sudah, Pak." ucap Bu Husna menenangkan.
"Lebih baik bapak beristirahat dulu dan kita bicarakan lagi nanti..." suruh Bu Husna mengantar Pak Usman beristirahat di kamarnya.
Flash Back Off**.
Sudah pasti ini sekolah paling mahal di negara ini. Bangunan yang terlihat indah seperti lukisan di kanvas dengan panorama yang epik.
Dengan rasa antusias ku, aku bertanya pada Asisten Pak Burhan, "Pak, sekolah di sini sungguh lengkap?" ucapku, "aku berjalan dari ruang kepala sekolah begitu banyak kelas dari ruangan sekolah dasar hingga menengah ke atas." seraya tersenyum kagum dengan gedung sekolah yang terbilang berkelas dan terbaik.
"Iya, Bu. Gedung sekolah ini di bangun mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Menengah ke Atas." di iringi tawa pelannya.
"Semua tersedia sangat lengkap dan komplit hingga guru pengajarnya juga. Semua di pilih dengan baik dan sesuai uji tes yang bagus." tambahnya menjelaskan dan kami berhenti di sebuah taman yang luas dan di sana banyak sekali anak-anak sekolah yang beristirahat di jamnya.
"Oh iya, Pak. Bagaimana sekolah ini di bangun dengan baik dan terbilang sekolah ini paling favorit di kalangan anak pengusaha besar dan berkelas?" tanya ku sembari duduk di sana bersama Reno menikmati keindahan dan angin sepoi-sepoi.
Tawa pelan Asisten Pak Burhan dengan pelan berkata, "asal usul sekolah ini dulu hanya sekolah dasar saja, setelah Pak Burhan mengenal Pak Abbas mulailah dia memberikan bantuan dan dana untuk membangun sekolah ini hingga sebesar ini," ceritanya menghayati, "seandainya Pak Burhan tak mengenalnya mungkin sekolah ini sudah tidak ada, Nyonya." menatap ku dengan tersenyum.
Oh... Jadi sekolah ini di danai oleh Mas Abbas....
Aku baru tahu kalau dia memang punya hati yang baik. Pantas saja dia merekomendasikan sekolah ini padaku ketika ia ingin menyekolahkan Reno. Sejak itu aku tak pernah percaya dengan kebaikan seorang pria manapun, entah saat ini aku mulai tersentuh setelah menggali beberapa pribadi Mas Abbas yang tertutup.
Mungkin aku bisa menyukainya dengan perlahan...
Semoga aku bisa melupakan yang buruk dan menjalani kehidupan baru dengan baik.
batin ku melamunkan dirinya.
"Bu... Bu Clara..." panggil Asisten Pak Burhan menyadarkan ku saat diam melamun.
"Eh... Iya, Pak." menoleh ke arahnya dengan setengah tersadar.
"Apa anda tidak enak badan, Bu?" sontak menanyakan kondisi ku.
"Wajah anda terlihat pucat... Mari saya antar kembali ke ruang Pak Burhan..." ajaknya meminta untuk kembali ke dalam.
"Saya tidak apa-apa, Pak..." sambung ku namun tubuh ku terasa sedikit hangat.
"Mama... Tangan mama hangat sekali..." ucap Reno menggenggam telapak tangan ku.
"Benarkah..." ku iringi tawa pelan, "baiklah kita kembali saja." beranjak dari tempat duduk kami.
Saat hendak kembali dan berhenti di tengah-tengah lorong yang hampir sampai aku merasa pusing dan berkunang-kunang, "berhenti dulu sejenak..." lirih ku menyentuh kening dan memejamkan mata sejenak serta terasa tak kuat menahan rasa pusing di iringi mual.
"Anda baik-baik saja, Bu..." Asisten Pak Burhan menggiringku untuk bersandar di dinding yang memang di sana tidak terdapat bangku sama sekali.