Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada Tiwi hari ini!" seru Garra
Ia langsung menyerang Bram yang berdiri tak jauh darinya.
Bramantyo segera menghindari serangan Garra, Lelaki itu menggunakan keris saktinya untuk melawan Garra.
"Kau pikir bisa mengalahkan aku Garra!" Bramantyo mengarahkan cincin saktinya kepada pemuda itu.
*Jraaashh!!
Tiba-tiba dari cincin itu muncul sembilan Jin yang langsung berjalan mendekati Garra.
"Habisi dia!" seru Bram
"Kau Ingkar Janji Bram, kau bilang tidak akan menyakiti Garra, tapi sekarang kau malah akan membunuhnya dengan menggunakan sembilan Jin dari Timur Tengah," tukas Ki Darno
"Aku tidak akan membunuhnya jika dia bisa diajak kerjasama, tapi sayangnya Garra lebih memilih melawanku daripada menjadi sekutu ku," sahut Bram
"Aku tidak akan tinggal diam Bram, aku akan menghentikan ritual ini jika kau mencoba membunuh Garra," ancam Ki Darno
"Lakukan saja jika kau bisa Aki," sahut Bram tersenyum sinis padanya
Lelaki itu menjentikkan jarinya dan tidak lama muncullah sosok Buto ijo di hadapannya.
"Sangkala!" pekik Ki Darno
"Halo Aki," sapa mahluk itu menyeringai licik
"Lama tak bertemu, sepertinya ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir," imbuh Sangkala
"Habisi dia Sangkala!" seru Bram
"Baik Tuan," sahut Sangkala
"Dasar Brengsek!" seru Ki Darno berusaha mencabut semua jarum yang tertusuk di boneka santet Ratu Iblis untuk menghentikan ritualnya.
Akan tetapi Sangkala langsung menyerang Ki Darno, hingga ia belum sempat mencabut semuanya.
Sementara itu Garra terus melancarkan serangannya menghadapi Sembilan Jin dari Timur Tengah.
Ia melepaskan tendangan keras kearah mereka dan menyayat leher para Jin itu dengan menggunakan kuku tajamnya hingga satu persatu Jin itu berjatuhan dan musnah di depannya.
Melihat Sangkala mencoba membunuh Ku Darno membuat Garra langsung menghampiri mereka, ia segera melepaskan tinjunya ke arah mahluk itu hingga ia berhasil melepaskan Ki Darno.
"Cepat hentikan ritualnya Aki!" seru Garra
"Baik Garra," Ki Jarot segera kembali ke altar persembahan untuk menghentikan ritualnya namun Bram langsung menghadang lelaki itu.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku Aki," seru Bram
"Kau mengancam ku anak muda!" sahut Ki Darno
"Tentu saja Aku, kau tahu aku bukan?. Bram akan melakukan apapun demi untuk mendapatkan semua yang ia inginkan termasuk menikahi mahluk gaib, jadi tidak masalah bagiku jika harus membunuh mu juga Aki," bisik lelaki itu
"Dasar Brengsek!" Aku Darno bergerak maju menyerang Bramantyo,
Lelaki itu hanya menyeringai dan dengan tenang menyambut serangan Ki Darno.
"Selamat tinggal Aki!" Bram langsung menusukkan belati beracun kepada Ki Darno ketika lelaki itu akan melepaskan pukulan kearahnya.
"Semoga kau mati dengan tenang Aki," imbuhnya sambil menarik belati itu.
"Aarrrggghhh!!" Ki Darno langsung ambruk ke tanah.
"Satu benalu sudah aku singkirkan, sekarang tinggal satu lagi," Bram berjalan menghampiri Tiwi yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Sekarang saatnya aku akan menghabisi mu gadis kecil!" Bram langsung berusaha menghujamkan belati beracunnya kearah Tiwi namun sebuah cahaya putih menghalanginya.
"Ternyata kau bukan gadis biasa rupanya, pantas saja Tongkat sakti itu memilih bersemayam di tubuhmu," imbuhnya
Lelaki itu tidak menyerah ia kemudian menggerakkan tangannya kearah cahaya putih yang memagari tubuh Tiwi, hingga seketika cahaya putih itu memudar dan menghilang.
Ia tersenyum simpul menatap gadis di depannya.
"Sekarang saatnya aku harus mengeluarkan tongkat sakti itu dari tubuhmu," Bram kembali mendekati gadis itu dan mengarahkan belati ke jantungnya, namun Garra dengan cepat melesatkan tendangan kearahnya hingga lelaki itu terhempas menjauh dari Tiwi.
Garra segera mengambil belati yang terlepas dari tangannya,
"Kau sudah berani menyentuh milikku yang berharga, sekarang rasakan akibatnya!" seru Garra melesat mengarahkan belati itu kearah Bramantyo.
Sementara itu melihat majikannya dalam bahaya, Sangkala segera melesat kearah Garra untuk menghalau serangannya.
Namun sebuah selendang pelangi menjerat kakinya hingga mahluk itu jatuh terjerembab ke tanah.
"Jangan pernah ikut campur dalam urusan mereka jika kau masih mau hidup!" seru seorang wanita cantik menghampirinya
Sangkala mengerang dan segera melepaskan selendang itu dari kakinya.
"Lepaskanlah jika kau bisa mahluk jelek!" imbuh wanita itu
Sangkala semakin geram karena tidak bisa melepaskan diri dari jerat selendang pelangi itu kemudian melepaskan kilatan ungu kearah wanita itu, beruntung ia segera menghindarinya .
"Sepertinya kau harus di kurung agar tidak bisa menggangu pertunjukan ku!" hardik wanita itu
Wanita itu meniupkan sesuatu kearah Sangkala hingga mahluk itu langsung membeku seketika.
Setelah memastikan Sangkala sudah tidak bis bergerak lagi, wanita itu kemudian berjalan menghampiri Tiwi yang masih belum sadarkan diri.
"Sekarang saatnya kau kembali putri kecilku," wanita itu mengusap wajah Tiwi.
"Bangunlah sayang dan bunuh mereka berdua yang sudah membunuh kedua orang tua mu," bisik wanita itu.
Tidak lama kemudian Tiwi mulai membuka matanya, dan menatap lekat wanita cantik di depannya.
"Siapa kau?" tanya Tiwi tercengang melihatnya
"Kau tidak perlu tahu siapa aku yang jelas, aku hanya ingin memberitahukan padamu siapa pembunuh kedua orang tua mu," jawab wanita itu tersenyum simpul kearahnya
"Katakan siapa orangnya yang sudah membuat ku kehilangan kedua orang tua ku sebelum aku bisa melihat keduanya?" tanya Tiwi
Wanita itu tersenyum dan mengusap lembut rambutnya, ia kemudian menunjuk kearah Garra dan Bram yang sedang bertarung tak jauh darinya.
"Mereka lah yang sudah membunuh orang tuamu, jadi balaskan dendam mu sekarang. Gunakan tongkat sakti yang ada di tubuhmu untuk membunuh mereka, seperti pesan dari ayahmu," jelas wanita itu.
Tiwi begitu terkejut mendengar ucapan wanita itu, apalagi ketika tahu jika Garra adalah salah satu orang yang sudah membunuh ke dua orang tuanya.
Tangis gadis itupun pecah bercampur rasa nyeri yang menyerang dadanya. Ia terus memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Kenapa aku harus jatuh cinta dengan orang yang sudah membunuh orang tuaku, kenapa aku baru mengetahuinya setelah aku begitu mencintainya, bagaimana bisa aku membunuh lelaki yang begitu aku cintai, hiks, hiks...." ucap Tiwi pilu.
"Aarrrggghhh!!" tiba-tiba tubuh gadis itu berguling-guling ketika ia merasakan dadanya begitu nyeri yang begitu hebat.
Apakah ini karma dari orang tuaku karena aku mencintaimu Garra, karena aku mencintai lelaki yang sudah membunuh ke dua orang tuaku,
Gadis itu terus menggelinjang menahan sakit yang begitu menderanya.
Sebentar lagi tongkat sakti itu akan keluar, dan kalian akan segera mati di tangannya.
Jingga menatap sinis kearah Bram dan Garra yang masih beradu hantam di depannya.
Sekarang saatnya kalian akan mendapatkan balasan karena sudah membunuh lelaki yang ku cintai.
"Tiwi!" seru Garra ketika melihat gadis itu berguling-guling kesakitan.
Ia segera melepaskan tendangan-tendangannya kearah Bram hingga lelaki itu jatuh tersungkur dan berlari menghampiri Tiwi.
Sementara itu Jingga langsung menghilang ketika Garra semakin mendekat kearahnya.
Siapa wanita itu??.
Garra mengambil sebuah selendang yang tertinggal dan menghampiri Tiwi.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Garra memeluk gadis itu.
"Lepaskan aku, jangan pernah mendekati ku!" seru Tiwi mendorong tubuh pemuda itu
"Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan sendirian, jika aku bisa menggantikan dirimu, aku ingin Tuhan memindah rasa sakit mu padaku, supaya aku saja yang merasakan sakitnya. Aku tidak bisa melihatmu tersiksa seperti ini," ucap lelaki itu kembali memeluk erat gadis itu