Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuma Bahan Taruhan?
Di Novel ini nggak ada yang hot-hot pop ya:-) Tetapi tetap bijak menyikapi bacaan.
🌹🌹🌹
Malam pertama yang mereka lalui telah mengukir sejarah baru yang akan selalu dikenang untuk seumur hidup. Aisha yang memang sebelumnya tidak pernah disentuh laki-laki manapun tampak malu-malu ketika Aarick menguasai tubuhnya. Begitu juga dengan Aarick, meskipun selama ini ia hidup bebas di luar negri, tetapi tidak pernah sekalipun menyentuh wanita yang tidak halal untuknya.
Aisha menggeliat dengan mata yang masih terpejam, tangannya meraba seperti mencari sesuatu di sampingnya, namun ia tidak mendapatkan sandarannya, ketika ia membuka mata, Aarick tidak ada di sampingnya. Aisha menjadi panik, ia mengedarkan pandanganya kesetiap sudut ruangan, mencari sosok suami, ada di mana suaminya itu?
Suara gemercik air dari kamar mandi membuat Aisha lega, sudah pasti suaminya kini tengah membersihkan diri akibat percintaan mereka malam tadi, Aisha menyingkap selimut yang masih membalut tubuh polosnya, tetapi rasa sakit ini membuat ia tidak bisa turun dari tempat tidur.
Disaat yang bersamaan pintu kamar mandi sudah terbuka, Aarick keluar dengan hanya memakai handuk putih yang melilit pinggangnya, bagian bidang dadanya terekspose jelas membuat wajah Aisha bertambah memerah, gerakan Aarick yang mengeringkan rambut terlihat sangat sexy membuat ia betah memandangnya.
"Sudah bangun?" Wajah Aarick sudah lebih segar, aroma wangi dari shampo yang ia pakai pun seakan mengisi kamar yang menjadi saksi cinta mereka. Aarick melemparkan handuk kecil itu di atas meja rias istrinya, lalu melangkah mendekati tempat tidur.
"Pagi, istriku." Aarick mengecup kening Aisha, lalu membelai halus pipinya. "Sudah aku siapkan air hangat untuk kamu mandi, atau kamu masih mau tidur lagi?"
Aisha menggeleng. "Mau mandi sekarang, biar nyiapkin sarapan juga untuk kakak sebelum ke kantor," jawab Aisha.
Tadi malam papa Ariel mengirim pesan supaya Aarick menemui papa di kantor.
"Kamu istrahat aja. Apa masih terasa sakit?" Aisha mengangguk, sakit karena Aarick sudah merobek selaput lendirnya. "Maaf ya, sakit karena perbuatanku."
Padahal Aarick sudah berusaha melakukannya dengan hati-hati, tetapi tetap saja membuat istrinya kesakitan dan hampir histeris, beruntung saat itu ia berinisiatif mencium bibir istrinya.
"Nggak perlu minta maaf, kak. Udah kewajiban istri melayani suaminya."
Siapa yang nggak senang dibawa terbang ke nirwana yang menggelora sana. Bahkan mau lagi dan lagi.
"Ya sudah, biar aku gendong, ya!" Aarick menghempempaskan selimut putih yang sudah ternoda bercak merah itu, dan ia puas melihat hasil karya yang ia buat di sebagian tubuh Aisha.
"Nggak usah, aku bisa sendiri." Aisha masih malu-malu, kalau tidak sakit sudah pasti ia akan lari ke kamar mandi.
"Aku nggak terima penolakan." Aarick tetap menggendong Aisha dan menurunkan istrinya di dalam buthup berisi air hangat, sebelumnya Aarick memang sudah mandi terlebih dulu, tetapi melihat istrinya berendam membuat sesuatu di bawah sana kembali menuntut, jadilah pagi itu mereka mandi berdua dan melakukannya lagi, dan lagi.
***
"Kamu nggak keberatan kalau aku tinggal ke kantor?" tanya Aarick ketika Aisha membantunya memakai dasi.
Sebenarnya berat meninggalkan Aisha, tetapi urusan pekerjaan yang satu ini memang tidak bisa diabaikan, berhubung papa Ariel akan menyerahkan jabatan dan tanggung jawab untuknya.
"Jangan cemas, kak. Aku juga rencananya mau ke kampus untuk melengkapi berkas-berkas yang kemarin belum rampung semuanya."
"Aku bisa nggak tenang kalau kamu di sana tanpa pengawasanku. Apa perlu aku utus bodyguard untuk menjaga kamu?" Aarick menarik pinggang istrinya sampai tubuh mereka menempel satu sama lain.
"Memangnya suamiku ini bisa liat laki-kaki lain ada di sampingku seharian?"
Arick mencium sekilas bibir Aisha. "Bayangkannya aja udah bikin aku naik darah, apalagi kenyataannya? Aku habisi siapapun yang coba deketin kamu!"
"Nggak lucu! Aku nggak mau ya kakak bertindak sesukahati!"
"Aku serius, Aisha! Aku nggak suka kamu deket sama laki-laki kain. Aku takut nggak bisa mengontrol emosiku, jadi jangan sekalipun kamu buat aku cemburu!"
Aarick menekankan semua kalimat yang ia ucapkan, ini merupakan peringatan yang harus diingat Aisha baik-baik, jadi ia tidak mau istrinya melakukan kesalahan.
Aisha tidak berani lagi bersuara, melihat wajah suaminya sudah berubah warna karena marah, membuat ia berinisiatif meredakan amarahnya dengan mencium bibir Aarick.
Aarick sesaat tertegun ia tidak mengira istrinya yang malu-malu ini sudah mulai berani menggodanya dan sentuhan itu membuat ia luluh dan terbuai, Aarick semakin menarik cengkuk leher Aisha agar ia lebih leluasa mengeksplore bagian yang kenyal tersebut.
"Sudah ... nanti kakak terlambat."
"Kalau terlambatpun nggak ada yang berani marahin aku, aku kan bosnya!"
Usai mengantar Aisha ke kampus, mobil Aarick kembali melesat menuju kantornya. Meskipun usianya masih muda, tetapi Aarick sudah mahir menjalankan bisnis perusahaan, bermain saham sudah menjadi keahliannya, hingga Ariel memercayakan perusahaan di tangannya.
Aarick masih terkurung di ruang rapat, banyak berkas-berkas yang harus ia tandatangani, bahkan tidak punya waktu menghubungi istrinya.
Sore itu langit dihiasi awan gelap, sepertinya hujan akan turun, tetapi Aisha masih terjebak di depan minimarket, sudah berulang kali ia menghubungi ponsel Aarick tetapi tidak ada satu panggilanpun yang dijawab. Bahkan sampai ponselnya kehabisan daya.
"Aisha, ya?" Tadi, Boni baru menepikan mobilnya di minimarket, dari dalam mobil ia tersenyum melihat Aisha.
"Kak, Boni? Di sini juga? Bukannya ada di luar negri?"
"Aku udah lama di sini, semenjak Elang dan Aarick bermusuhan, aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia."
"Musuhan? Kak Elang sama suamiku?" sejak kapan, bahkan dua laki-laki itu tidak pernah bicara apapun, bukannya mereka sahabat dari kecil? Kenapa bisa bermusuhan?
Diam-diam Boni tersenyum licik. Dia tau kalau Aisha masih sepolos dulu, baiklah ia harus bermain-main dengannya.
"Aarick udah jadi suamimu? Wah akhirnya dia menang taruhan juga ya? Nggak nyangka dia bisa menang dari Elang."
"Taruhan? Maksudnya apa sih?" Aisha seperti orang bodoh.
"Sebenarnya Aarick cum---
Boni tidak bisa melanjutkan ucapannya karena kerah bajunya tiba-tiba ditarik dari belakang, di saat itu juga tubuhnya menyandar di batang pohon.
"Jangan cari masalah,Boni! Urusan kita sudah selesai." Aarick hampir mencekik leher Boni, matanya memerah melihat Boni bicara dengan istrinya. Boni terbatuk-batuk sampai Aisha datang menarik tangan suaminya.
"Ini kak Boni, loh! Sahabat kamu sama kak Elang, kalian kenapa sih?" tanya Aisha penasaran.
Aarick tidak menghiraukan Aisha. "Jangan pernah dekati istriku, Boni!" Aarick menekankan peringatan sembari menunjuk dada Boni, lalu meraih tangan Aisha dan membawanya pergi.
"Buka matamu, Aisha!" teriak Boni masih mencoba memprofokasi Aisha.
Baru nikah udah konflik:-)