Pernikahan yang dilakukan Oleh Vino Syahputra Pratama dengan Sisilia Eka Dwiyatno adalah pernikahan berdasarkan perjanjian dan juga penawaran yang diajukan oleh Vino kepada Sisil untuk menghindari perjodohan yang direncanakan oleh papanya itu.
Sisil yang sangat Frustasi dengan apa yang telah dilakukan oleh papanya itu. Dia mengaku sangat tidak menyukai dengan apa yang telah direncanakan oleh papanya itu.
Sisil menjadi sangat bingung, karena disisi lain dia masih memiliki seorang kekasih yang masih sangat disayanginya.
Akan tetapi, karena sesuatu hal Kekasihnya yang bernama Dito itu melarikan diri. Dia tidak berani bertemu dengan kedua orang tua Sisil. Sebagai syarat dari papanya, perjodohan akan dibatalkan apabila Sisil membawa pacar atau calon suami kerumah untuk diperkenalkan kepada mereka.
Sisil yang sedang melamun dirumah sahabatnya itu. Tiba - Tiba saja datang seseorang yang menghampirinya. Dia tahu semua permasalahan yang sedang dihadapi oleh sahabat adiknya tersebut.
Maka dari itu, Vino mencoba membuat penawaran kepadanya. Melalui perjanjian pernikahan dengan syarat dan ketentuan yang telah dia buat.
Akankah Sisil menerima penawaran itu?
Atau dia menerima perjodohan yang direncanakan oleh papanya itu?
Dan akankah Dito kekasihnya itu kembali kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windu Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Danu
Setibanya Vino dan Virza di bandara kota J. Mereka dijemput oleh anak buah Vino yang sudah bersiap di pintu kedatangan bandara.
"Selamat malam bos...!" sapa salah satu anak buah Vino.
"Selamat malam!"
"Bagaimana? Apakah kamu sudah melihat kondisi di TKP?" Tanya Vino kepada salah satu anak buahnya.
"Sudah bos! seperti yang dikatakan bos tadi, Tuan Pieter mengurangi beberapa anak buahnya disana. Mereka hanya berjaga berdua saja." Lapor anak buahnya kepada Vino dan membukakan pintu untuknya dan Virza. Mobil yang dikendarai mereka langsung melaju menuju TKP.
Terdapat dua mobil yang mengiringi mereka. Mobil depan dan belakang yang masing - masing terdapat empat orang.
Sedangkan mobil yang dikendarai oleh Vino hanya satu anak buah dan juga supir.
Salah satu anak buahnya memberikan sebuah ipad yang terlihat dilayar kondisi TKP saat ini. Mereka sengaja menempelkan kamera pengintai pada saat pengecekan tempat itu.
Anak buah Vino memang sangat profesional. Mereka sudah terlatih. Vino dan Virza yang berada dimobil, melihat dengan cermat layar ipad tersebut. Mereka langsung mengatur strategi untuk bisa membawa Danu tanpa melukai anak buah tuan Pieter. Karena tuan Pieter sendiri sudah memperingatkan kepadanya. Agar tidak melukai anak buahnya itu.
Mau bagaimana caranya itu diserahkan kepada Vino dan Virza. Yang jelas tuan Pieter tidak ingin ada laporan mengenai kedua anak buahnya yang sedang berjaga.
Vino sudah menyiapkan sebuah alat suntik yang berisi obat bius. Virza juga sudah menyiapkan obat tidur yang dia semprotkan di sapu tangan.
Mereka akan menyuruh kepada anak buahnya untuk melumpuhkan terlebih dahulu anak buah tuan Pieter.
Ketika mulai memasuki pintu gerbang yang menjulang tinggi itu. Mereka semua mulai bersiap. Tempat untuk menyekap Danu memang disebuah gudang ikan yang terdapat dipinggiran kota J.
Sebelum masuk kedalam gudang mereka harus melalui perjalanan yang curam. Dengan disisi kanan terdapat jurang yang sangat dalam. Dan jalanan dengan tanah yang becek dan hanya bisa untuk satu mobil saja.
Vino sudah memberikan alat suntik kepada anak buahnya yang ada disamping kemudi. Sebelumnya dia sudah memberitahukan agar bisa cepat untuk melumpuhkan kedua penjaga itu.
Agar dia juga bisa dengan cepat bertemu dengan Danu, dan menyelesaikan masalah ini untuk mengetahui siapa dalang dibalik semua permasalahan ini?
"Ingat!! kamu tidak boleh melukai penjaga itu!" Vino mengingatkan kembali kepada anak buahnya ketika mobil sudah berhenti dan anak buahnya akan turun dari mobil.
"Baik bos!" Ucap anak buah Vino.
Lalu mereka keluar dan masuk kedalam dengan sangat hati - hati.
Sedangkan Vino dan Virza menyiapkan Pistol mereka yang tadi diberikan oleh anak buahnya. Masing - masing memegang satu dengan jenis berbeda. Setelah itu mereka berdua turun dari mobil dan berjalan mengendapkan masuk kedalam gudang ikan itu.
Anak buah Vino yang lainnya berjaga didepan. Virza sudah menyiapkan sapu tangannya yang sudah disemprotkan obat tidur.
Mereka berdua berpisah, Vino masuk dari arah kiri dengan dua anak buahnya tadi. Sedangkan Virza masuk dari arah kanan dengan satu anak buah Vino yang mengikuti dari belakang.
Sebelum mereka masuk, Vino melihat kearah Virza dan memberikan kode untuk masuk secara bersamaan.
Setelah Pintu mereka buka, terlihat hanya ada Danu dikursi dan sudah tidak sadarkan diri.
Vino dan Virza merasa bingung. Lalu, mereka menyuruh anak buahnya untuk memeriksa gudang tersebut.
Kemudian Vino melihat kondisi Danu yang sudah babak belur. Rupanya sudah ada orang yang datang sebelum mereka. Akan tetapi, mereka tidak melihat anak buah Pieter disana.
"Siapa yang sudah mendahului kita!!" Teriak Vino dengan frustasi. Karena dia sudah janji kepada Pieter kalau dirinya dan juga anak buahnya tidak akan melukai anak buahnya.
"Sabar dulu bang? Lebih baik kita membawa Danu terlebih dahulu! baru kita mencari anak buah tuan Pieter! Atau kita hubungi tuan Pieter terlebih dahulu agar kita bisa memberitahukan kepadanya. Kalau sudah ada orang yang mendahului mereka." Virza berusaha menenangkan Vino yang terlihat sangat frustasi.
Dia juga melihat Danu yang sudah tidak berdaya. Pada Akhirnya, mereka segera bergegas keluar dari gudang ikan itu. Salah satu anak buah Vino menggendong Danu. Mereka berencana membawa Danu terlebih dahulu kerumah sakit.
Karena mengingat banyaknya darah yang dikeluarkan oleh Danu.
Didalam mobil, Vino mencoba menghubungi tuan Pieter untuk memberitahu keadaan gudang ikan tersebut.
"Selamat malam tuan Pieter...."
"Selamat malam, maaf saya dengan asisten tuan Pieter. Karena saat ini tuan Pieter sedang ada tamu penting." Jawab sang asisten.
"Kalau begitu nanti saja, saya menghubungi tuan Pieter kembali." Ucap Vino lalu menutup teleponnya.
Dia juga menyuruh Virza untuk mencoba menghubungi Alexa. Agar Alexa bisa membantunya melacak siapa orang yang sudah mendahului mereka itu.
Di mobil lain, Danu nampak sedikit merintih. Dia sedikit merancau tidak jelas. Tapi, salah satu anak buahnya mencoba untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh laki - laki itu.
'Ka- lian ha-rus see-lamatkan orang tua si...' Danu berusaha memberitahukan sesuatu kepada anak buah Vino. Sebelum akhirnya dia tidak sadarkan kembali.
Salah satu anak buah Vino yang mendengarkan lalu, memberitahukan kepada bos nya itu.
Dia menelepon Vino yang berada dimobil belakang.
"Ada apa?"
"Maaf bos, saya hanya mau info! tadi Danu sempat sadarkan diri. Dia merintih, lalu sedikit berbicara walau terbata."
"Apa yang dia katakan??" Tanya Vino penasaran.
"Dia berbicara, kalau kita harus selamatkan orang tua si...? dan terputus. Dia tidak sadarkan diri lagi." Ucap sang anak buah.
"Ya sudah kalau begitu? tetap awasi dia sampai kerumah sakit!" Ucap Vino lalu menutup panggilan teleponnya.
Vino mencoba mencerna, apa yang tadi diberitahukan anak buahnya tadi. Dia berpikir dan mengusap rambutnya kasar.
"Damn!!!" Teriak Vino.
"Ada apa sih bang?" Virza terkejut mendengar teriakan abangnya itu. Dengan mengusap dadanya karena kaget abangnya yang berterima dengan kencang.
Vino tidak menjawab pertanyaan Virza. Dia terlihat pucat dan sibuk dengan ponselnya.
Laki - laki itu mencoba menghubungi istrinya. Dia baru sadar, kalau yang diucapkan Danu adalah mengenai orang tua Sisil. Dia juga baru ingat kalau malam ini, kedua orang tua Sisil akan pergi keluar kota untuk perjalanan bisnis.
Vino langsung menghubungi papa Sisil. Akan tetapi, teleponnya tidak aktif. Lalu, dia mencoba menghubungi istrinya itu. Sampai pada deringan kedua barulah Sisil mengangkatnya.
"Halo sayang?"
"Iya sayang, ada apa?" ucap Sisil lembut ketika menerima telepon dari suaminya itu.
"Sayang, aku mau meminta tolong. Coba kamu hubungi nomor rumah kamu? tanyakan kepada pelayan, apakah mama dan papa sudah berangkat atau belum?" Ucap Vino dengan sedikit khawatir dan cemas.
"Sabar sayang...Memangnya ada apa? tadi mama sempat menelepon aku sebelum berangkat untuk pamit ke luar kota." Ucap Sisil dengan tenang.
"Jadi, mama dan papa sudah berangkat!!"
"Iya sayang?? Memangnya ada apa sih? kamu sepertinya sangat khawatir sekali?" Tanya Sisil bingung. Karena tidak biasa suaminya itu khawatir seperti itu.
"Ya sudah kalau begitu sayang...aku hanya meminta kamu, untuk tidak keluar rumah selama aku belum pulang!!" Perintah Vino.
"Iya sayang..aku akan dirumah menunggu kamu kembali dari perjalanan dinas ini." Ucap Sisil dengan lembut.
"Kamu istirahat ya? aku masih ada meeting dengan klien." Bohong Vino. Agar istrinya tidak khawatir.
Lalu mereka mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya. Virza yang sedari tadi melihat abangnya sangat gelisah. Dia mencoba menanyakan sebenarnya apa yang terjadi.
"Kenapa sih bang!! lo dari tadi gue lihat gelisah banget?? Memangnya apa yang di ucapkan oleh Danu tadi?" Tanya Virza bingung.
"Gue lagi khawatir dengan kedua orang tua Sisil. Karena yang diucapkan oleh Danu tadi, kita harus selamatkan kedua orang tua Sisil..!" Virza langsung melotot terkejut dan mengingat kembali, kalau malam ini kedua orang tua Sisil melakukan perjalanan dinas keluar kota dengan mobilnya.
"Bang kalau begitu kita harus hubungi Alexa dan meminta anak buahnya untuk mengikuti kedua orang tua Sisil?"
"Iya....gue juga sudah menghubungi Alexa dan juga anak buah gue disana." Ucap Vino dengan lemah.
Dia sangat takut kalau terjadi sesuatu kepada kedua orang tua Sisil. Karena Sisil akan sangat sedih kalau sampai terjadi sesuatu kepada kedua orang tuanya.
Mereka masih terus melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Semoga saja Danu bisa terselamatkan. Karena mengingat banyaknya luka ditubuhnya dan darah yang terus saja keluar dari tubuhnya.
Danu merupakan kunci untuk mengetahui siapa dalang sebenarnya! Vino berharap dia bisa menyelamatkan nyawanya.
*Happy Reading*