NovelToon NovelToon
Adinda

Adinda

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: AzieraHill

COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.

"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.

Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.


PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur

Dinda POV

Melirik ke arah kalender yang berada di atas nakasku. Ada beberapa tanda silang berwarna merah yang berati aku kosong untuk beberapa minggu ini. Aku baru sadar kalau jadwal bulananku tak teratur.

Hp-ku berdering. Sebuah telepon dari Fika dan aku segera mengangkatnya.

"Halo," di sebrang sana hanya mampu mengumpat dan aku tertawa.

"Iya..., aku ada di kamar kau masuk saja," ungkapku pada Fika yang ternyata dia bilang sudah ada di depan rumah dan tak mendapatiku di teras. Seharusnya aku menunggunnya di teras, tapi Ayah tak memperbolehkanku karena aku sedang tak enak badan. Itulah sebabnya Fika ngotot ingin datang ke rumahku.

Untuk kurun waktu 4 minggu sudah berlalu, aku tak mau mengingat kejadian seorang Daniel yang mencampakkanku. Fika benar, aku seharusnya menghukumnya dengan berpacaran dengan Gilang. Namun entah kenapa perasaanku tak tega jika menyakiti Daniel. Aku memang terluka, tapi aku tak mau melukai orang yang kusayangi. Lagi pula aku tidak mungkin memberi harapan pada Gilang. Dia keponakan Daniel, kalau saja aku memanfaatkannya. Aku bukan saja melukai Daniel, tapi aku juga melukai Gilang.

"Ahhh di luar hujan. Kau seharusnya menjemputku di depan jalan sana," kata Fika menceberutkan wajahnya ke arahku. Aku pun mempersilakannya duduk di atas ranjangku. Aku lihat dia sedang membuka mantelnya lalu menaruhnya ke pinggiran ranjangku.

"Kau sudah baikan?" tanyanya menyentuh keningku lalu menangkupkan tangannya di pipiku.

"Kau sudah  berobat?" tanyanya lagi yang aku tanggapi dengan senyuman yang ku tahan.

Dia yang terbaik, pikirku. Setidaknya ada orang yang sangat menyayangiku setelah Ayah.

"Mmmm aku hanya merasa mual dan uek..., uekk..," aku berlari ke arah kamar mandi. Kemudian ke arah wastafel untuk memuntahkan sesuatu yang sedari kemarin keluar begitu saja.

"Dinda apa kau baik-baik saja?" kudengar Ayah yang muncul bersamaan dengan Fika di ambang pintu.

Aku mencuci mulutku di wastafel dan tersenyum ke arah mereka. "Ini hanya masuk angin. Ini kan musim hujan," kataku dan Ayah menaruh sebuah teh hangat untukku dan Fika.

"Kau harus banyak istirahat, Sayang," kata Ayah lalu berlalu meninggalkan aku dan Fika yang tengah memperhatikan kalender di atas nakasku. Aku mengambil posisi duduk di sampingnya. Kuseruput teh hangat buatan Ayah. Ini pasti dia buat dengan jutaan rasa rindu yang sudah dia tumbuhkan di London.

"Apa kau sudah memeriksanya?" tanya Fika padaku dan aku menggelengkan kepalaku. "Ini hanya masuk angin, aku rasa karena kemarin kita pulang dari kampus tanpa pa-"

"Bukan!" Fika memotong kata-kataku dan menghadapkan tubuhnya ke arahku. Dia memegang kalender yang penuh coretan berwarna merah.

"Apa kau sudah memeriksa kapan terakhir kali kau datang bulan?" aku mengernyitkan alisku dan menganggukkan kepalaku.

"Aku telat hampir 2 minggu," kataku dan dia menutup mulutnya dan memelukku. Kudengar isak tangisnya. Dia membasahi bahuku dan mendadak jantungku berdetak lebih cepat. Aku menjauhkan tubuhnya. Cepat aku ke arah kamar mandi dan mencari sesuatu di atas etalase kamar mandiku.

Ini tidak mungkin. Aku yakin ini tidak akan terjadi padaku. Percayalah Dinda itu hanya telat datang bulan dan ini hanya sakit ringan.

"Dinda...," kudengar Fika menggedor pintu kamar mandiku. Aku mungkin harus memeriksanya. Sesuatu yang aku cari sudah kutemukan. Cepat aku mencoba mengeluarkan benda itu dari bungkusnya.

"Dinda...," Fika terdengar tengah menangis dan aku ikut tak karuan. Hatiku terasa menjerit dan terasa di remas dalam waktu yang bersamaan. Tidak mungkin aku ha...,

Positif dua garis berwarna merah dan aku positif hamil.

"Dinda...," kini yang kudengar suara Ayah. Aku menangis dengan perasaan yang hancur. Seharusnya aku tahu aku sedang mengandung anak dari laki-laki brengsek itu. Seharusnya aku sadar kalau ternyata kata-kata Daniel itu menghancurkan masa mudaku. Dia bahkan tak akan mau bertanggung jawab atas anak yang aku kandung, karena kata-katanya yang kemarin hanyalah dusta.

"Dinda..., buk..., bukkk...,"Ayah ingin menggebrak pintu kamar mandi tapi aku malah menangis. Apa yang harus katakan pada Ayah. Apa mungkin Ayah akan marah denganku. Apa aku tidak akan dianggap lagi sebagai anak dengan Ayahku.

"Dinda..., buka pintunya!" kudengar teriakan Ayah dan saat itulah aku memberanikan diri untuk membuka pintu yang menampilkan wajah Ayah yang marah dan raut wajah Fika yang menangis sendu.

"Kau membuatku khawatir," Ayah memelukku dan aku menangis begitu saja di atas dada Ayahku. Seandainya waktu itu berputar kembali apa mungkin aku tidak akan mabuk bersama Daniel.

Seharusnya aku tahu bahwa hari ini akan datang dan seharusnya aku tahu bahwa ucapan laki-laki itu tak bisa di pegang dengan mudahnya. Seharusnya aku tahu!.

"Apa yang kau pegang?" kudengar Ayah bertanya. Dia menarik benda pipih itu, air wajahnya berubah sedikit demi sedikit. Dia marah padaku. Dia marah padaku!

"Siapa yang melakukannya Dinda?!"

Aku tak menjawab. Aku hanya menangis dan Ayah mengoyangkan bahuku. Suara tangisku bergema dengan suara hujan di luar. Begitu pun dengan Fika yang menahan tangisnya untuk tidak lebih keras dariku.

"Siapa yang melakukannya?!" teriak Ayah. Aku menundukkan wajahku. Apa mungkin aku Ayah akan segera mengusirku. Menyatakan bahwa aku bukan anak biologisnya.

"Siapa Din?!"

"Daniel," kataku.

Prak.., Ayah menamparku dan tepat saat itu suara petir menggelegarkan seakan menyambar hatiku yang kini tengah hancur.

"Kenapa kau tak mencegahnya. Kenapa kau malah diam saja!" Ayah ikut menangis. Air matanya berjatuhan begitu saja. Matanya mengeluarkan urat-urat merah yang aku tahu bahwa dirinya amat sangat kecewa pada anak semata wayangnya.

"Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tak ada yang tahu Ayah mengapa ini bisa terjadi, tapi aku..., a-aku mencintainya."

"Apa?"

"Aku mencintainya,"

Ya aku mencintainya dan dia tak mencintaiku hingga dia bermain dengan perempuan lain di belakangku setelah mengucapkan janjinya.

[...]

 

Btw, ini kan alurnya maju mundur, memang kalau yang asing, ini akan susah dimengerti. Nanti kalau udah selesai, kalian bisa baca lagi ulang. Kalau dibaca langsung habis, aku rasa kalian akan lebih paham^^ 

1
Praditta
Seruuu
Reni Rachmawati
keren
lee ailee
trauma dan.kesakitan apa yg sudag Daniel torehkan kepada Dinda sampai ingatan 5 tahunnya hiang....kok aku mulai nyesek ya sama nasib Dinda
lee ailee
banyak pertanyaan dibenakku thor baca novel ini tapi aku menikmati alurnya tidak membosankan so enjoy aja
lee ailee
ayahnya kok bisa nitipin anak gadis sama laki.laki singel khan bahaya ini mah
Winda Nurmayani
ya kecewa..ceritanya pendek skl..padahal ceritanya bagus
Heni Ratna
jadi penasaran😊
Wish Me luck
aku baru baca thor, tp menurutku ini memang bagus..alurnya mengalir aja, ngga yg terlalu dipaksakan, pemilihan kata sama bahasanya jg ringan, mudah dipahami. karya yg kayak gini yg aku suka. tata bahasa mu jg bagus thor, jd pembaca jg bisa menyelami jln ceritanya, ngga yg lu gue gt tp ringan. ini kalo dibuat film bagus sih, kita hrs mikir tp ngga yg terlalu berat. dr jalan ceritanya jg nguras emosi, aku dr awal yakin dia bakal happy end..tp cerita happy end nya itu lho, ngalir dan ngga maksain cerita..soft bgt..salut aku thor
Herni Kurnianingsih
kok panggilan nya august,kaya nama cowok🤔.jadi nya kaya manggil nya agus🤭🤭
Seathy Diman
keren lah... butuh kekhusuan untuk mencermati dan memahami isi dan alur ceritanya.. relax tenang santai.. jgn terburu2 untuk mendapatkan feel nya..
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Seathy Diman
jadi mantan nya tuh sepupu ya..?... 🤔🤔🤔🤔🤔
Nofriyanti Vivi
novel ini,sungguh mmbuat ku deg2 ser,setiap bait kata sampai akhir cerita ini💕,mmbcnya penuh dg ketelitian sehingga endingnya happy,the best untuk mu thor😘.💕💕.
pink magenta
jujur pas baca sinopsis aku gemes. ini cerita apa coba bikin penasaran. alur yang maju mundur syantiiiiikkk dibuat apik banget karrna penulisan yang rapi juga no typo huhuu aku terharu. ga berasa terus dibuat tertarik buat baca lagi dan lagi buat mecahin rasa penasaran ini yang mana bagian yang mana maju terus mundur terus sekarang. aaahhhh kamu hebat thor..pokonya vote like buat kamu.
Rita Zhu
aduh Thor...jgnlh berendam air panas...seger kagak...melepuh Iya..😀..
Jenni Manullang
👍👍👍👍👍👍👍
Wiko Wiko
🤦🏻‍♀🤦🏻‍♀🤦🏻‍♀🤦🏻‍♀dinda... kirain kamu gadis baik2, ternyata segampang itu jatuh kepelukan pak tua...!!!
Angrani
kpan lnjut lgi thor
Silvana Maria Supit
crita ini apa maju mundur terus sampai tamat khaa,,?
suci lestari
lnjt
suci lestari
mmpir dl
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!