Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Hitam di Atas Putih
"Sialan!" teriak Profesor Eliza sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ancaman Adrian jelas bukan gertakan sambal. Rekaman di tangan pria itu benar-benar bisa menghancurkan reputasi akademis yang telah ia bangun dengan susah payah selama puluhan tahun.
"Kamu menang untuk kali ini, Adrian. Aku tidak akan menggugat cerai. Tapi, aku punya satu syarat jika kamu ingin rahasia ini tetap aman."
Adrian mengangkat sebelah alisnya, tampak tertarik. "Katakan."
"Aku tahu kamu tergila-gila pada jalang kecil itu," desis Eliza. "Aku izinkan kamu menikahinya. Jadikan dia istri keduamu secara sah. Tapi, aku tidak sudi lagi berbagi ranjang dengan parasit sepertimu. Jadi, biarkan dia yang mengurus kebutuhan biologismu."
Adrian tertegun lalu bertanya, "Dan apa kompensasinya untukmu, Eliza?"
"Nama baik dan privasiku," jawab Eliza tegas. "Pernikahan kalian harus dilakukan secara siri. Sembunyikan keberadaan Rina dari publik. Di mata senat universitas dan kolega dosenku, kamu harus tetap menjadi suamiku yang setia. Jika sampai ada satu orang saja di kampus yang tahu bahwa mahasiswaku adalah maduku... aku sendiri yang akan menghancurkan kalian berdua, tidak peduli jika aku harus ikut hancur."
Adrian menyeringai puas. "Sepakat."
Dengan dasar kesepakatan itu, Rina akhirnya menikah dengan Adrian. Seperti permintaan Eliza, pernikahan tersebut digelar secara sembunyi-sembunyi.
Tidak ada yang tau bahkan ibunya.
Di satu sisi, Rina merasa menang karena berhasil mendapatkan "ATM berjalan" yang begitu royal kepadanya. Namun di sisi lain, permintaan Eliza untuk menutupi pernikahan ini lama-lama terasa sangat mengganggunya.
Rina tetap tidak bisa berjalan berdampingan dengan Adrian di acara terpenting dalam hidupnya seperti wisuda sarjananya yang digelar beberapa bulan setelah pernikahannya karena di hari itu suami sirinya harus mendampingi Profesor Eliza yang merupakan orang penting di universitas.
Selain acara wisuda, Eliza juga melarang Rina tampil berdua dengan Adrian di tempat keramaian seperti bioskop, pameran, bahkan acara sebesar Jakarta Fair serta saat Rina menjenguk ibunya di rumah sakit.
Rina juga dilarang keras mengunggah foto kebersamaannya dengan Adrian di media sosial manapun untuk menghindari pergunjingan khalayak umum.
Keadaan inilah yang lama-kelamaan membuat Rina merasa jengah.
Di satu kesempatan Rina merajuk kepada Adrian. "Yank, kesel deh. Aku tuh pingin nonton konser."
"Iya, aku tahu kamu kesal. Tapi kan emang perjanjiannya kayak gitu," jelas Adrian.
"Hah, kesal! Kalau begini terus sama aja kayak kita enggak ada hubungan dong!"
"Sabar, Sayang. Pasti akan ada masanya kita bisa keluar bersama layaknya sepasang suami istri."
"Bullshit, Om! Kamu tuh cuma belain istri profesormu itu!" kesal Rina sambil memukul dada bidang Adrian.
"Jangan gitu, Sayang. Kita kan bisa kayak gini setelah dapat izin dari Eliza. Sudah syukur kamu bisa aku nikahi dan nafkah. Daripada kita harus sembunyi-sembunyi dari Eliza, itu bakal lebih sulit lagi buat aku."
"Ah, sebel!" Rina mulai menangis, dan Adrian hanya bisa terdiam mendengar tangisan gadis cantiknya itu.
Karena Adrian hanya diam akhirnya tangisan Rina pecah.
Dia mulai merasa bosan mendengar alasan demi alasan yang semakin lama semakin sering diucapkan suaminya itu.
Melihat istrinya mulai menangis tentu Adrian tidak diam saja. Dia mulai mengecup bibir Rina untuk menghentikan tangisannya berharap senjatanya ini bisa meredam amarah gadis cantiknya.
"Udah, ya. Kalau kamu mau, kita liburan ke luar negeri aja. Nonton konser di luar negeri pasti lebih aman daripada di Indonesia."
"Luar negeri?" kening Rina berkerut. "Ah, kenapa ngak kepikiran dari dulu, ya. Kalau di luar negeri pasti kita bisa lebih aman?"
"Bener. Kalau di luar negeri kita bisa lebih aman. Jadi gimana?"
"Ok, deh. Kalau gitu aku mau kita liburan ke luar negeri!" seru Rina sambil memeluk tubuh Adrian yang hangat.
"Ok, siap. Biar Om siapin dulu liburannya. Kamu sabar, ya!"
"Yey! Liburan!" riang Rina yang tidak menduga ini justru akan jadi mimpi buruk baginya.