Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan dan Sumpah
Langkah-langkah sepatu lars Baskara berderak pelan di atas lantai marmer ruang pengawasan kediaman keluarga Al-Maktoum. Setelah meloloskan diri dari sisa-sisa eksekutor di jalan tol, tim bantuan akhirnya tiba untuk memperketat barikade keamanan di sekeliling area kediaman utama. Bangunan megah bergaya Timur Tengah yang berdiri kokoh di kawasan perkebunan privat itu kini dijaga rapat oleh personel bersenjata ringkas.
Di dekat meja kayu tebal, Aran berdiri mematung sembari memandangi monitor pengawas. Pria itu sudah membasuh wajahnya dari debu jalanan, namun ruam merah dan memar tebal di punggung tangan kanannya, akibat hantaman lingkar kemudi saat mengeksekusi manuver taktis di tol, tampak mulai membiru.
"Rute peninjauan proyek itu hanya diketahui oleh lingkaran terbatas," ujar Baskara seraya meletakkan laporan rekaman kamera pengawas di meja. "Musuh tidak sekadar membuntuti, Aran. Mereka tahu pengalihan rute tol sebelum kita sendiri memutuskannya. Ada orang dalam yang membocorkan pergerakan kita."
Aran menyipitkan mata, menatap barisan data di layar. "Bukan sekadar orang dalam biasa. Seseorang yang tahu persis jadwal dan jalur yang disetujui pihak keluarga. Dan orang itu punya akses langsung untuk berkomunikasi dengan faksi penyerang."
"Syukurlah Pak Rasyid menyerahkan perlindungan Shanum sepenuhnya padamu atas rekomendasi Kyai Syahuri," bisik Baskara pelan, menyebut nama ulama kharismatik yang tak lain adalah ayah dari Gus Azhar dan Ning Layla. "Jika bukan atas petunjuk Kyai Syahuri dan kepercayaan Pak Rasyid, kita mungkin tidak akan pernah memiliki pengawal dengan ketangkasan sepertimu di sini."
Aran mengangguk samar. Nama Kyai Syahuri selalu membawa kedamaian tersendiri di dadanya, seorang ulama sepuh yang pertama kali melihat secercah harapan di dalam diri mantan pembunuh bayaran yang kelam ini, lalu mempercayakannya untuk menjadi benteng bagi putri tunggal Rasyid Al-Maktoum.
Satu jam kemudian, suasana kediaman keluarga Al-Maktoum berangsur tenang. Di teras dalam yang menghadap ke taman air mancur, angin malam berhembus lembut membawa aroma melati. Shanum berjalan perlahan melintasi lorong, membawa sebuah kotak kayu P3K di tangannya.
Ia menghentikan langkah saat melihat Aran duduk menyendiri di bangku kayu dekat pilar utama. Pria itu tampak tenang, namun tatapannya tetap siaga memindai setiap sudut halaman. Shanum memperhatikan jari-jari tangan kanan Aran yang memar dan sedikit berdarah di bagian buku jari.
"Aran," panggil Shanum halus.
Aran seketika berdiri tegap, menundukkan pandangannya secara refleks sebagai bentuk penghormatan. "Mbak Shanum. Ada yang Anda perlukan? Mengapa belum beristirahat di dalam?"
"Saya yang seharusnya menanyakan itu padamu," sahut Shanum lembut. Ia melangkah mendekat, berhenti dalam jarak yang tak terlalu jauh, namun tak terlalu dekat hingga melanggar batas bukan mahram. Shanum menunjuk pelan tangan kanan Aran. "Tanganmu luka. Mengapa tidak minta tim medis memeriksa?"
Aran melirik tangannya sebentar, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang sangat jarang terlihat di wajah kaku sang mantan eksekutor. "Hanya memar kecil, Mbak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Bagi kamu mungkin kecil, tapi bagi saya itu cedera saat melindungiku," potong Shanum dengan nada tegas namun sarat kepedulian. Ia duduk di ujung bangku kayu, lalu meletakkan kotak P3K di antara mereka. "Duduklah. Biar saya bantu bersihkan."
Aran ragu sejenak. "Mbak Shanum, ini tidak perlu—"
"Duduklah, Aran. Ini perintah," usik Shanum tegas, sarat akan kemauan yang harus dituruti disertai binar kehangatan di matanya yang tak bisa disembunyikan.
Aran akhirnya menurut. Ia duduk di sisi lain bangku kayu, menjaga jarak yang sangat santun. Shanum mengambil kapas, cairan antiseptik, dan sepasang pinset steril. Dengan gerakan yang sangat cermat dan hati-hati, Shanum menjepit kapas beralkohol, mengarahkannya ke punggung tangan Aran tanpa menyentuh kulit pria itu secara langsung.
Saat rasa perih cairan antiseptik menyentuh lukanya, Aran sama sekali tidak meringis. Matanya justru tertuju pada jemari lentik Shanum yang bergerak begitu lembut dan penuh kehati-hatian di atas tangannya. Shanum menunduk fokus mengobati, jilbab pastelnya terurai halus mengimbangi hembusan angin malam.
Di tengah keheningan teras yang hanya dihiasi suara gemericik air mancur, dada Aran berdesir hangat. Rasa asing yang dulu tak pernah ia kenal kini mekar dengan sangat nyata. Ia menyadari bahwa dorongan untuk melindungi wanita ini bukan lagi sekadar instruksi taktis atau utang budi pada Kyai Syahuri dan Pak Rasyid. Ada rasa kasih, rasa hormat, dan ketertarikan batin yang tulus yang mulai mengakar di dalam jiwanya.
Shanum yang mendadak merasa diperhatikan, perlahan mengangkat pandangannya. Matanya beradu lurus dengan manik mata Aran. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti di antara mereka. Tidak ada kata yang terucap, tidak ada rayuan berlebihan, hanya tatapan mata yang menyalurkan getaran emosional yang amat kuat, sebuah kehangatan romantis yang tumbuh dari rasa percaya dan saling menjaga di tengah badai ancaman.
Shanum dengan canggung mengalihkan pandangannya, pipinya merona tipis di bawah remang lampu teras. "Kamu... selalu bertaruh nyawa seperti tadi?" bisik Shanum pelan, memecah kecanggungan seraya merapikan kapas.
"Dulu, saya bertaruh nyawa tanpa tahu untuk apa saya hidup," jawab Aran jujur, suaranya rendah dan dalam. Ia menatap ke arah taman air mancur sebelum kembali menatap Shanum. "Tapi sekarang lain. Setiap kali saya berdiri di depan Anda, saya tahu persis apa alasan saya bernapas."
Shanum menahan napasnya sejenak. Kalimat singkat Aran menghantam kedalaman hatinya lebih keras daripada rayuan mana pun yang pernah ia dengar dari pria-pria berpendidikan tinggi yang datang kepadanya. Di balik sikap dingin dan latar belakang kelam yang dimiliki Aran, ada kejujuran murni yang membuat Shanum merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita.
"Ayahku memilihmu bukan tanpa alasan," ujar Shanum lembut, menyebut nama Rasyid Al-Maktoum. "Ketika Kyai Syahuri merekomendasikan namamu pada Ayah, beliau bilang bahwa kamu adalah pria yang paling jujur pada jiwamu sendiri. Dan malam ini, saya melihatnya sendiri."
"Pak Rasyid terlalu baik pada saya, Mbak. Begitu pula Kyai Syahuri," sahut Aran rendah.
"Mereka tidak salah," tegas Shanum. Ia menutup kotak P3K, lalu menatap Aran dengan pendar keteguhan di matanya. "Apapun yang terjadi esok hari... entah ancaman dari luar atau tekanan dari orang-orang yang mengaku kerabat, saya ingin kamu tahu satu hal, Aran. Saya mempercayaimu. Sepenuhnya."
Aran merasakan hangat yang membakar dadanya. Di tengah kepungan intrik musuh, pengakuan dan kepercayaan Shanum adalah perisai terkuat bagi jiwanya.
Keheningan teras itu terpecah ketika langkah kaki tegap Rasyid Al-Maktoum terdengar mendekati area taman. Pria paruh baya bernyawa wibawa tinggi itu memegang sebuah gawai di tangannya.Beliau tiba dari Timur Tengah karena mendapat kabar dari Baskar dan khawatir akan keselamatan putri semata wayangnya.
"Shanum, Aran," panggil Rasyid dengan suara beratnya yang menenangkan.
Aran seketika berdiri tegak dan membungkuk santun. "Pak Rasyid."
Rasyid menatap Aran, melirik sebentar pada balutan perban rapi di tangan kanan pengawal kepercayaan itu. Anggukan penuh apresiasi diberikan Rasyid pada Aran. "Terima kasih atas keberanianmu di tol tadi, Aran. Baskara sudah menceritakan semuanya. Kamu sekali lagi membuktikan bahwa rekomendasi Kyai Syahuri tidak pernah meleset."
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Mbak Shanum, Pak," balas Aran lugas.
Rasyid menghembuskan napas panjang, raut wajahnya berubah serius. "Baru saja Azhar menghubungi saya."
Nama Gus Azhar membuat udara di teras itu mendadak mendingin. Shanum menegakkan posisinya, menatap sang ayah dengan alis bertaut. "Gus Azhar? Ada apa, Ayah?"
"Dia menelepon atas nama perhatian keluarga," tutur Rasyid dingin. "Azhar meminta izin untuk menggelar rapat keluarga besar di kediaman kita esok malam. Dia berargumen bahwa insiden penyerangan di jalan tol adalah bukti bahwa sistem pengawalan mandiri yang kita terapkan telah gagal membentengimu. Dia ingin membawa keputusan rapat untuk mengambil alih jalur pengamanan Al-Maktoum Group."
Shanum mengepalkan tangannya di samping gaunnya. "Gus Azhar tidak punya hak atas sistem pengamanan kita, Ayah! Dia menggunakan insiden ini untuk menekan kita!"
"Ayah tahu," jawab Rasyid tenang. "Azhar memanfaatkan posisinya sebagai putra Kyai Syahuri dan kerabat dekat untuk memengaruhi para tetua keluarga yang lain. Namun, Ayah sudah menyetujui rapat itu esok malam."
"Mengapa Ayah menyetujuinya?" tanya Shanum tak paham.
Rasyid menatap Aran penuh arti, lalu kembali menatap putrinya. "Karena jika kita terus menolak, mereka akan terus menyerang dari balik bayangan. Lebih baik kita biarkan mereka membawa permainannya ke rumah ini, di mana kita bisa melihat dengan jelas siapa yang kawan dan siapa yang lawan."
Aran melangkah satu cangkul maju, berdiri tegak di samping Shanum dan Rasyid. Mata tajam sang mantan eksekutor berkilat penuh kesiapan.
"Biarkan mereka datang, Pak Rasyid," ujar Aran dingin dan tenang. "Apapun skenario yang disiapkan Gus Azhar esok malam, saya akan memastikan tidak ada satu pun jebakan yang sanggup menyentuh Mbak Shanum."
Shanum menoleh, menatap sisi wajah Aran yang dipenuhi garis keteguhan. Di tengah kepungan jebakan keluarga dan intrik politik yang kian memuncak, Shanum tahu bahwa selama pria ini berdiri di sisinya, ia tidak akan pernah berjalan sendirian.
saling support sabi kali thor🤭