Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 IZIN TIRAKAT UNTUK HARUMA
Alhamdulillah, hari Minggu ini dijalani oleh keluargaku dengan bahagia.
Aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Haruma-Harumi di rumah, bermain-main dengan anak-anak desa yang lainnya.
Dan Harumi juga sampai dijemput oleh ibu angkatnya untuk pulang ke kontrakan mereka. Saking lamanya Harumi sudah menginap dan bermain bersama Haruma di rumahku ini.
Sedangkan bapakku (kakek Haruma) lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersantai dan mengobrol dengan para tetangga.
Ya...
Memang seperti inilah biasanya hari Minggu yang keluargaku jalani.
.....
.....
🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Malam harinya...
Tepat jam 20.00 WIB...
Selepas aku sholat Isya berjama'ah di rumah bersama Haruma, dan bapak yang juga telah sholat berjama'ah di musholla, kami bertiga ingin menikmati suasana malam yang tenang ini, dengan mengobrol santai di teras rumah.
Kebetulan juga Haruma sedang tak ada PR dari sekolah untuk hari Senin besok. Sehingga anakku itu bisa bersantai penuh malam ini bersamaku dan kakeknya.
Aku pun ke dapur, hendak membuatkan dua gelas teh manis hangat untukku dan Haruma, tak lupa juga dengan segelas kopi hitam pahit kesukaan bapakku.
Terdengar dari arah dapur, hangatnya obrolan antara sang cucu dan sang kakek di teras rumah kami.
Mereka berdua sesekali tertawa pelan, sesekali serius, dan sesekali juga saling meledek.
Sambil menunggu air mendidih di atas kompor, aku kembali teringat dengan pertemuanku bersama tiga sosok perewangan (penjaga ghoib) kemarin malam.
Dayang Putri, Sekar Mayang, dan Sekar Arum.
Kembali teringat jelas dengan permintaan mereka agar aku mengajarkan TIRAKAT-ku kepada Haruma.
Dan, ketika air sudah mendidih, segera kutuangkan ke dalam tiga gelas yang sudah kusiapkan.
Dan segera ku berjalan santai menuju ke teras rumah.
"Naaah... Ini teh sama kopinya..." ucapku sambil meletakkan gelas-gelas itu di atas meja.
"Waaah... Masya Alloh, nikmat mana lagi yang kita dustakan!" ucap bapak spontan.
"Kakek barusan ngomong apa? Kok bagus banget kedengerannya?" tanya Haruma dengan polosnya.
"Hehehe... Barusan Kakek baca arti dari ayat di Al-Qur'an, Cu." jawabnya.
"Surat apa, Kek?" tanya Haruma lagi.
"Surat Ar-Rohman." jawab bapak.
"Oooh..." respon Haruma.
Lantas bapak mengambil gelas kopinya, meniupnya sebentar, lalu menikmatinya.
"Bismillah, ssslllrrrppp... Eeemmmhhh, mantaaap!" suara bapak menyeruput kopi hitam pahitnya yang masih mengepul panas.
"Haruma, diminum dulu tehnya, tuh!" kataku.
"Iya, Bu." jawab Haruma, dan langsung secara perlahan, ia ambil gelas tehnya.
"Bismillah, ssslllrrrppp... Eeemmmhhh... Enaknyaaa..." kata Haruma, meniru gaya minum kakeknya barusan.
Aku yang melihatnya begitu, jadi mencolek pelan pipi Harumaku.
"Halaaah... Kamu tuh, sok tua, Nak! Hahaha..." kataku.
"Hehehe, biarin! Kan biar mirip sama Kakek!" jawab Haruma.
"Hehehehe... Dasar, cucu Kakek, udah makin pinter aja!" respon kakeknya juga.
Sejenak, kami pun mengobrol santai saja. Sambil ditemani suara jangkrik yang mulai ramai di sekitar rumah. Ditemani pula dengan semilir angin malam yang sejuk.
Dan juga, dengan pemandangan sangat indah di atas langit sana.
Bintang-bintang yang sudah mulai ramai, menemani bulan yang semakin hampir purnama sempurna.
Juga, masih ada beberapa warga desa yang lewat di jalan tepat di seberang halaman rumah. Mereka menyapa kami dengan hangat.
Menambah syahdu suasana malam ini.
Membuat ikatan batin keluargaku semakin kuat dan erat.
"Haruma, gimana kamu di sekolah?" tanya kakeknya dengan suara parau namun sangat tenang.
"Gimana apanya, Kek? Pelajarannya? Temen-temen aku? Atau apanya, nih?" Haruma malah balik bertanya.
"Ya pelajaranmu, dong..." kata kakeknya.
"Bagus kok, Kek! Malah aku sekarang bisa dapetin nilai yang bagus-bagus juga, loh!" jawab Haruma.
Bapakku lalu menatap kedua mata Haruma yang buta putih itu.
"Alhamdulillah kalo begitu, bagus-bagus!" katanya, sambil mengacungkan dua jempol kepada Haruma. Seolah-olah, bapakku itu menganggap cucunya bisa melihat.
"Malah pas lagi ujian kenaikan kelas kemarin, Harumi juga bantuin aku loh, Kek!" tambah Haruma.
"Bantuin gimana?" tanyaku.
"Ya bantuin aku ngerjain soalnya, Bu!" jawabnya.
Sejenak aku pun berpikir. Dan langsung paham apa maksudnya.
"Loh? Berarti kamu gak ngerjain jujur dong, Nak? Itu sih namanya kamu nyontek jawaban!" tanyaku.
"Ehehehehe..." anakku itu malah cengengesan.
"Dasar, kalo nyontek jawaban itu, ya gak bagus, dong..." tambahku menasihatinya.
"Hehehehe... Ya kan, cuma sedikiiit..." kata Haruma, sambil dua jari tangannya disatukan.
"Ya walau pun cuma sedikit, tapi tetep aja gak boleh, Haruma." balasku.
"Kamu gak boleh ya nyontek lagi. Nanti Ibu marah, loh!" tambahku.
"Hehehehe... Iya-iyaaa..." jawab anakku itu.
"Hahahaha... Anakmu ini sama persis kayak kamu loh, Nis!" kata bapakku.
"Hah? Sama persis gimana, Pak?" tanyaku.
"Ya dulu pas kamu juga masih sekolah, suka nyontek! Malah Bapak sampe dipanggil sama gurumu, karena saking seringnya kamu nyontek, tuh!" jelas bapakku.
Sontak, aku jadi sedikit malu.
"Wah? Ibu juga suka nyontek ya, Kek?" tanya Haruma.
"Lah, iya! Hahaha..." jawab kakeknya itu.
"Wah! Ahahahaha..." tawa anakku.
Semakin membuatku malu, sudah dibongkar kejelekanku semasa sekolah dulu. Sampai aku cubit pelan tangan bapakku itu.
Dan, obrolan kami bertiga pun berlanjut dengan santai.
Membahas tentang sekolah Haruma.
Membahas tentang Harumi juga.
Dan sedikit membahas tentang pekerjaanku, serta lingkungan kerjaku.
Tak terasa, sudah hampir jam 22.00 malam. Dan Haruma juga terlihat beberapa kali sudah menguap, merasakan kantuk di kedua matanya yang buta putih itu.
Aku pun menemani Haruma masuk ke dalam kamar, dan memintanya untuk segera tidur supaya besok pagi tak bangun kesiangan.
.....
.....
Setelah menemani sebentar Haruma sampai tertidur, aku kembali keluar kamar.
Aku pun ke teras rumah lagi, karena belum mengantuk. Begitu juga dengan bapakku, yang masih menikmati kopinya.
"Ssshhh... Huuufff..." suara bapak yang sekarang sudah menyalakan rokok kreteknya. Karena sedari tadi mengobrol bersama cucunya itu, ia sama sekali tak menyalakan rokok.
"Ssslllrrrppp, aaah... Nis..." panggil bapakku, setelah menyeruput kopinya yang tinggal setengah gelas itu.
"Hem?" sahutku, sambil meminum teh.
"Gimana TIRAKAT-mu selama ini? Masih aman, kan?" tanyanya padaku.
"Insya Alloh, selalu aman kok, Pak." jawabku dengan tenang.
"Alhamdulillah..." responnya, sambil kembali mengepul asap rokoknya ke udara.
Beberapa saat, kami terdiam. Sama-sama menikmati suasana malam yang semakin terasa dingin. Menikmati suasan alam yang begitu syahdu.
"Nisa, Bapak mau tanya..." katanya.
"Hem? Apa, Pak?" sahutku, sambil menatap wajah bapak yang disinari lampu teras berwarna kuning.
"Kamu dapet wangsit, gak?"
"Emmm... Wangsit tentang apa, Pak?" tanyaku.
.....
((Sedikit informasi bagi kalian para pembaca: WANGSIT adalah istilah untuk menyebutkan sebuah "pesan" atau "pertanda" secara batin atau ghoib. WANGSIT itu bisa muncul atau didapatkan melalui mimpi, atau kejadian secara nyata. Namun, sifatnya terasa sakral oleh orang-orang tertentu yang punya kepekaan batin yang kuat.))
.....
"Ya wangsit soal TIRAKAT-mu ke depannya, harus gimana, atau harus apa..." kata bapakku melanjutkan.
Sontak, aku jadi kembali teringat dengan pesan yang disampaikan oleh tiga perewanganku kemarin malam.
Bapak yang mulai menatap wajahku lebih serius, sepertinya memahami bahwa aku sudah mendapatkan "wangsit" itu.
"Udah dapet kamu, ya?" tanya bapakku.
Dan, aku pun mengangguk pelan. Sebagai jawaban "Iya".
"Apa wangsitnya, Nis?"
"Emmm... Maaf ya, Pak. Aku baru cerita soal itu sama Bapak sekarang." kataku.
"Iya, gak apa-apa..."
"Sebenernya, sih... Kemarin malem, baru aja kemarin malem, Pak."
"Apa, tuh?" tanya bapak, sambil lebih penasaran menatapku.
"Nisa... Ngobrol sama Dayang Putri dan Sekar Mayang, Pak..."
Sengaja aku hanya menyebutkan dua nama perewanganku saja, tanpa menyebutkan nama Sekar Arum. Karena bapakku sendiri belum mengetahui tentang hadirnya Sekar Arum yang mulai "menjaga" cucunya itu.
"Apa? Ngobrolin apa, Nis?" tanyanya.
"Dayang Putri sama Sekar Mayang, minta supaya aku ngajarin TIRAKAT itu ke Haruma, Pak." jawabku dengan jujur, apa adanya.
Bapak pun mengangguk pelan, sambil menghisap lagi rokok kretek di tangannya.
Dan wajahnya kini memandang ke arah langit di atas teras rumah.
"Tapi..." kataku kemudian.
"Aku... Kayak belom siap Pak, buat ngajarin Haruma TIRAKAT itu." tambahku.
"Soalnya kan, umur Haruma masih terlalu muda, Pak." tambahku lagi.
Bapak hanya mengangguk pelan lagi. Sambil terus mengepul asap rokok kreteknya itu.
"Gimana menurut Bapak?" akhirnya ku bertanya padanya.
Bapak tampak berpikir sejenak. Terlihat raut wajahnya seperti sedang menerawang jauh ke masa lalu.
"Ssshhh... Huuufff... Kalau menurut Bapak, Nis," katanya.
"Haruma udah bisa kamu ajarin TIRAKAT itu." tambahnya.
"Loh? Apa gak kasian, Pak? Nanti kalo sampe jiwanya terbebani, gimana?" tanyaku lagi.
"Kan dia udah punya kamu, Nis." jawabnya tenang.
"Maksudnya, Pak?"
"Kan ada kamu yang mengajarkan, membimbing, dan kamu pasti gak akan lepas begitu aja Haruma."
"Emmm, iya sih, Pak..." responku.
"Kenapa? Kamu ragu, ya?"
Aku pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Hemmm... Gituuu... Ya wajar sih kalo kamu masih ragu, Nis..."
"Iya, Pak. Aku sebenernya ragu, tapi Dayang Putri sama Sekar Mayang meyakinkan aku, Pak."
"Meyakinkan gimana?"
"Mereka bilang, kalo masa depan Haruma akan lebih berat jalannya dari pada aku."
"Oooh, begitu... Ya udah, kamu coba ikutin aja apa yang diminta sama perewanganmu itu, Nis."
Mendengar ucapan bapak seperti itu, aku merasa bahwa ucapannya itu adalah sebuah "izin" secara langsung.
"Soalnya, bangsa lelembut atau perewangan ghoib itu, kadang mata batinnya jauh lebih halus dan peka dari pada kita sebagai bangsa manusia." jelas bapakku, menambahkan.
"Tapi, Pak..."
"Apa?"
"Aku gantian mau nanya, boleh?"
"Ya boleh, dong... Masa gak boleh, sih?"
"Kalau Haruma aku ajarin TIRAKAT itu, nanti akan ada hambatannya gak, sih?"
"Hambatan gimana maksudnya, Nis?"
"Haruma kan bukan anak kandungku, Pak..."
Saat mendengar ucapanku itu, bapak seperti langsung memahami arah pertanyaanku.
Bapak pun menjelaskan...
"Oooh, itu... Iya, Bapak paham maksud pertanyaanmu, Nis... Jadi gini, memang, kalo di dunia spiritual kayak di keluarga kita ini, hubungan darah atau garis keturunan itu penting banget. Itu yang bikin kamu bisa dengan gampang mempelajari dan menguasai TIRAKAT milik almarhumah Ibumu dahulu. Tapi Nisa, TIRAKAT yang diwariskan sama almarhumah Ibu waktu dulu itu, masih sifatnya umum, kok..."
"Maksudnya? Sifatnya umum gimana, Pak?"
"Iya... TIRAKAT PUASA MUTIH itu sifatnya umum, dan itu kan yang mau kamu ajarin ke Haruma?"
"Iya, Pak..."
"Nah, jadi... Garis keturunan atau garis darah kalau buat TIRAKAT itu, gak terlalu jadi syarat utama, Nis. Yang penting, Haruma kan punya kamu, dia akan kamu bimbing sampai selesai."
"Oooh gituuu..." jawabku sambil mengangguk-angguk pelan.
"Lagian juga, Bapak bisa ngerasain, kok..."
"Ngerasain apa, Pak?"
"Energi dan mata batin Haruma juga kuat kayak kamu, Nis. Jadi, kamu jangan ragu buat ajarkan dia TIRAKAT-mu itu."
"Hmmm... Iya deh, Pak." jawabku.
Aku pun semakin yakin untuk mengajarkan TIRAKAT itu pada Haruma. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari bapakku.
"Tapi, Nisa... Bapak mau pesen satu hal sama kamu, sebelum kamu ngajarin anakmu itu."
"Apa?"
"Kamu harus terus mengawasi dan waspada ya, Nis."
"Dari apa, Pak?"
"Dari semua jenis bangsa ghoib atau lelembut yang bisa mengganggu, atau bisa mencelakai jiwa anakmu itu."
Mendengar pesan seserius itu, aku jadi menatap wajah bapak dengan lebih dalam. Terlihat di wajahnya, masih tersimpan kenangan tentang masa lalu hidup Harumaku, saat ia masih hidup bersama almarhum Pak Diki dan almarhumah Bu Fitri, di Cirebon.
Karena, bapakku juga sudah mengetahui semua kisah perjalanan hidup cucunya itu, semenjak aku memutuskan untuk mengadopsinya tiga tahun yang lalu.
Dan tentu, aku pun sangat paham untuk hal itu. Karena, dulu, ketika aku baru pertama kali diwariskan dan menjalankan TIRAKAT almarhumah ibuku sendiri, semua itu juga telah ku rasakan dan ku lalui.
"Dan satu lagi pesen Bapak..." lanjut bapakku.
Tapi, ia menyalakan lagi sebatang rokok yang baru, sebelum melanjutkan. Dan menyeruput lagi kopi hitam pahitnya juga.
"Ssshhh... Huuufff..." mengepul asap rokoknya ke udara.
"Kamu harus mulai ajarin Haruma tepat di tanggal kelahirannya, sesuai sama hari pasarannya, jangan gegabah juga! Itu penting!"
"Iya, Pak. Aku tau, kok." jawabku.
"Haruma, lahir di hari Kamis Kliwon, Pak..." tambahku.
"Iya, hari Kamis Kliwon itu, punya energi ghoib yang paling kuat dari pada hari-hari lainnya. Kamis Kliwon itu salah satu hari lahir TULANG WANGI. Sama kayak kamu, yang lahir di hari Sabtu Wage." penjelasan bapak, menambahkan.
"Dan, kamu juga udah tau, kan? Apa resikonya kalau seseorang yang lahir sebagai TULANG WANGI itu?"
"Iya, Pak... Aku paham banget." jawabku.
.....
((Tambahan informasi lagi untuk para pembaca: TULANG WANGI itu adalah sebuah istilah yang diberikan kepada seseorang, yang lahir pada hari-hari dengan pasaran Jawa (Kalender Jawa/Kejawen) tertentu. Dimana hari-hari dengan pasaran Jawa tertentu itu, sangat disukai dan dengan mudah menarik perhatian bangsa lelembut/makhluk halus/ghoib, disebabkan "energi ghoib" di dalam diri seseorang itu sangat terbuka dan "terasa harum/nikmat" bagi bangsa lelembut/makhluk halus/ghoib.))