NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Badai Petir

Raja sudah melompat dalam selimut listrik biru.

Surya belum sempat menurunkan pistol.

Tiga orang bersenjata di belakangnya mengangkat laras ke arah Raja, tetapi petir bergerak lebih cepat daripada jari manusia. Tubuh hitam itu menghantam tanah di depan mereka, ekornya menyapu udara.

Badai Petir.

Listrik menyebar dari bulu Raja seperti akar biru yang hidup. Tiga orang bersenjata tersentak bersamaan. Pistol pertama terlempar. Pistol kedua meletus ke langit. Orang ketiga jatuh dengan tangan kejang, napasnya putus-putus, tetapi masih hidup.

Surya mundur satu langkah.

Parang dingin menyentuh lehernya dari belakang.

Hendry muncul di sana tanpa suara.

"Jangan bergerak."

Surya membeku.

Semua orangnya ikut membeku.

Di sisi kiri, Awan menekan telapak tangan ke aspal. Lapisan es tipis menyebar cepat di bawah kaki rombongan Surya. Mereka yang mencoba maju langsung terpeleset. Dua orang jatuh menabrak kap mobil. Satu pria dengan senapan angin mengangkat senjata, tetapi Melati sudah melempar bola api kecil ke depan larasnya.

Api tidak mengenai tangan.

Tapi cukup untuk membuatnya menjerit dan melepas senjata.

Bagus masuk seperti dinding bergerak. Satu pukulan menghantam batang besi di tangan musuh sampai bengkok. Pukulan kedua menjatuhkan pria lain ke tanah.

"Jangan bikin gue kerja terlalu banyak!" teriak Bagus. "Gue baru makan sore!"

Fajar dari pos atas memberi perintah singkat lewat HT. "Kiri aman. Dua orang lari ke pickup."

Hendry tidak menoleh. "Awan."

Es naik dari tanah, menutup roda depan pickup. Mesin meraung, tetapi mobil itu tidak bergerak.

Raja menggonggong sekali.

Listrik di tubuhnya meledak lagi, lebih kecil tetapi lebih terarah. Orang-orang Surya yang masih memegang senjata menjatuhkannya satu per satu.

Pertempuran itu tidak sampai dua menit.

Saat semuanya selesai, Surya Permadi berlutut di aspal dengan parang Hendry masih menyentuh lehernya. Kemeja linen bersihnya kotor oleh debu. Jam mahal di pergelangan tangannya retak. Wajahnya tidak lagi seperti tuan tanah.

Ia terlihat seperti orang yang baru sadar bahwa dunia tidak lagi mengenali gelarnya.

"Mas Hendry," katanya cepat. "Kita bisa bicara. Saya salah paham. Saya datang bukan untuk perang."

Bagus tertawa pendek. "Pistol lu tadi mungkin cuma mau silaturahmi."

Surya menelan ludah. "Saya bisa bayar."

"Memang," kata Hendry.

Surya mengangkat wajah sedikit. Ada harapan di matanya.

"Semua senjata kalian. Semua amunisi. Setengah stok makanan dan obat yang kalian punya. Besok pagi dikirim ke gerbang luar. Fajar akan hitung."

Wajah Surya memucat. "Setengah?"

"Lu datang minta setengah stok gue. Gue anggap itu standar negosiasi lu."

Melati tersenyum dingin.

Surya mencoba bicara lagi. "Anak buah saya bisa kelaparan."

"Mereka bisa kerja untuk makan. Sama seperti orang di sini."

"Kalau saya menolak?"

Hendry menurunkan parang sedikit sampai kulit leher Surya tergores tipis.

"Kalau lu menolak, gue bunuh semua kemampuan tawar lu sekarang. Bukan semua orang lu. Kemampuan tawar lu."

Surya mengerti.

Mobil, senjata, stok, wibawa, rasa takut yang selama ini ia pakai. Semua itu bisa diambil dalam satu sore.

"Saya setuju," katanya serak.

Hendry menarik parang.

"Bagus, kumpulkan senjata. Fajar, catat nama yang pegang pistol. Awan, lepas es kalau mereka sudah turun dari kendaraan. Melati, kalau ada yang angkat senjata lagi, bakar bannya."

"Dengan senang hati."

Raja berjalan mendekati Surya. Anjing hitam itu bersin keras.

Pletak.

Percikan listrik menyambar aspal di depan lutut Surya.

Surya mundur dengan posisi berlutut.

Orang-orangnya ikut mundur.

Bagus tidak tahan. "Wakil Komandan memberi tanda tangan."

Tidak ada yang tertawa dari pihak Surya.

Tapi dari balik gerbang, beberapa anggota basis Hendry menahan senyum. Ketegangan berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat daripada lega: keyakinan.

Hendry melangkah ke depan gerbang luar. Suaranya tidak keras, tetapi semua orang mendengar.

"Mulai hari ini, radius lima kilometer dari Cluster Pondok Indah berada di bawah perlindungan gue. Orang boleh lewat kalau patuh aturan. Orang boleh minta makan kalau mau kerja. Tapi siapa pun yang datang dengan senjata untuk merampas..."

Ia menunjuk Raja.

"Tanya dulu pada Raja."

Raja mengangkat kepala.

Listrik biru menyala di sekitar tubuhnya.

Satu percikan menyentuh pagar.

Klang!

Semua orang Surya mundur satu langkah.

Surya menunduk. "Saya mengerti."

"Tidak. Lu baru takut. Mengerti itu besok, saat lu kirim stok."

Surya tidak membantah.

Mereka pergi dengan tiga mobil yang sekarang terasa jauh lebih kecil. Dua pistol, satu revolver tua, beberapa senapan angin, amunisi campuran, dan senjata tajam tertinggal di meja pemeriksaan gerbang. Fajar mencatat semuanya dengan wajah datar. Yanto, yang baru keluar setelah aman, melihat tumpukan senjata lalu bersiul rendah.

"Bos, sore ini hasil panennya lumayan."

"Panen yang datang sendiri," kata Bagus.

Melati mematikan api di tangannya. "Lebih hemat tenaga."

Di dalam basis, moral naik seperti air banjir.

Orang-orang yang kemarin masih ragu melihat sendiri: kelompok bersenjata datang meminta setengah stok, lalu pulang tanpa senjata dan harus menyerahkan setengah stok mereka sendiri. Tidak ada ceramah tentang kepemimpinan yang bisa mengalahkan pemandangan seperti itu.

Dewi malam itu membuat nasi goreng lebih banyak dari biasa. Bukan pesta besar, tetapi cukup untuk membuat orang merasa menang. Raja mendapat daging sapi tambahan. Kali ini tidak ada yang protes.

Rian, orang yang kemarin mengeluh soal daging Raja, bahkan menunduk saat melewati mangkuk anjing itu.

"Maaf, Wakil Komandan," gumamnya.

Raja pura-pura tidak mendengar, tetapi ekornya bergerak sekali.

Larut malam, ketika tawa mulai turun dan shift malam berjalan, Mawar mencari Hendry di ruang kerja.

"Hen..."

Hendry sedang memeriksa daftar senjata sitaan. Ia mengangkat kepala.

Nada Mawar berbeda.

Lebih pelan.

Lebih pribadi.

Untuk sesaat, sesuatu di dada Hendry bergerak terlalu cepat. Di kehidupan sebelumnya, ada banyak kata yang terlambat ia dengar. Banyak juga yang tidak sempat ia jawab.

"Gue mau ngomong sesuatu sama lu," kata Mawar.

Hendry meletakkan daftar. "Apa?"

Mawar menutup pintu setengah, lalu menunjukkan telapak tangannya. Cahaya emas tipis masih tersisa di sana, tetapi warnanya tidak biasa. Ada bayangan abu gelap di tengahnya.

"Tadi waktu aku bantu salah satu anak buah Surya yang kena listrik Raja, aku merasakan sesuatu di tubuhnya."

Hendry berdiri.

"Luka dalam?"

"Bukan. Seperti... kristal. Tapi bukan di dahi. Di dalam dada. Rasanya hitam. Dingin, tapi bukan seperti es Awan. Lebih seperti sesuatu yang menempel dan menghisap."

Hendry menyipitkan mata.

"Orangnya masih hidup?"

"Masih. Fajar menahan dia di pos luar karena lukanya parah."

Di luar jendela, suara malam Jakarta bergerak pelan: angin, generator kecil, langkah patroli.

Kemenangan sore tadi belum selesai berubah menjadi ancaman baru.

Mawar menatapnya. "Hen, dia bukan manusia biasa."

Hendry mengambil parang dari meja.

"Bawa aku ke sana."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!