Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deru Knalpot di Batas Sore
"Bukan urusan lo, Amel. Jangan sok pengen tahu jadwal gue," sahut Aleyna blak-blakan dengan nada suara seraknya yang khas. Dia melangkah lebar menerobos lajur meja tanpa menunggu respons dari teman sebangkunya itu.
Di barisan depan, Azrint Breynerlanz masih merapikan beberapa berkas majalah mode internasional ke dalam tas jinjing mahalnya. Gerakan jemari lentiknya yang dipulas warna merah marun pekat tampak sedikit melambat. Pikirannya tanpa sadar masih terusik oleh sentuhan berani di puncak kepalanya yang dilakukan oleh Gava Ernando pada jam istirahat kedua tadi siang. Keangkuhan berandalan kelas dua itu benar-benar menjadi retakan pertama yang mengganggu ketenangan topeng normalnya hari ini.
"Azrint, lo mau barengan ke lobi depan? Sopir gue udah nunggu di tempat penjemputan biasa nih," ajak Nadine sembari membetulkan posisi jepitan rambut berlian buatannya yang berkilat.
"Gak usah, Nadine. Gue mau jalan lewat jalur taman samping aja, agak pusing dengar suara bising di koridor utama," jawab Azrint singkat dengan nada manjanya yang berjarak. Dia menyampirkan tas mahalnya ke pundak, lalu melangkah keluar kelas secara mandiri, mengabaikan tatapan mata biru jernih milik Miya Fynezayn dan pandangan dingin Eriza Tryanaz yang masih bertahan di kursi mereka masing-masing.
Ketika Azrint melangkah keluar dari area lobi barat menuju jalur luar pagar pembatas, telinganya yang terlatih langsung menangkap suara deru knalpot racing yang sangat memekakkan telinga dari arah jalan arteri luar. Suara raungan mesin berkapasitas besar itu saling bersahutan, menandakan ada puluhan atau bahkan ratusan motor sport yang sedang berkumpul di satu titik yang sama.
Benar saja, tepat di balik pintu gerbang samping yang membatasi wilayah sekolah dengan jalan raya, barisan ratusan motor sport hitam metalik milik geng The Iron Phantoms sudah berjejer rapi membentuk formasi semi-barikade. Di tengah barisan tersebut, Gava Ernando duduk tegak di atas takhta motornya dengan jaket kulit hitam berlogo tengkorak besi yang berkibar diterpa angin sore. Helm full-face hitamnya diletakkan di atas tangki bensin, menampilkan wajah tampannya dengan garis rahang kaku dan sepasang mata elang yang liar.
Beberapa murid perempuan dunia atas yang baru keluar dari gerbang tampak berbisik-bisik heboh, kagum sekaligus takut melihat keliaran massa motor jalanan yang dikendalikan oleh anak donatur utama sekolah mereka itu. Namun, Gava sama sekali tidak melirik ke arah mereka. Pandangan matanya langsung terkunci rapat pada sosok Azrint yang baru saja muncul dari balik pilar taman.
"Gue bilang juga apa, Bimo. Peri kecil gue gak bakal betah berlama-lama di dalam sangkar emas itu," gumam Gava dengan suara baritonnya yang serak rendah, seulas seringai liar langsung muncul di sudut bibirnya yang kaku saat melihat bando mutiara putih Azrint berkilat diterpa cahaya sore.
Bimo yang berada di atas motor sport merah di sampingnya hanya tertawa terkekeh. "Gila lo, Bos. Beneran ditungguin sampai jam pulang sekolah. Gak takut dilaporin sama komite pamong?"
"Hukum sekolah gak berlaku di bawah roda motor gue, Bimo," sahut Gava angkuh, jemarinya yang dipenuhi jajaran cincin perak kaku bergerak menghidupkan starter mesin motornya hingga memicu suara raungan yang menggelegar membelah kesunyian sore.
Azrint menghentikan langkah kakinya tepat tiga meter di depan gerbang samping. Matanya yang sewarna karamel tua menyipit tajam, memancarkan jarak proteksi yang sangat kaku saat menatap langsung ke arah Gava yang kini perlahan memajukan motornya hingga memotong lajur jalan kakinya. Darah mafianya bergetar samar antara rasa kesal karena privasinya diusik dan naluri waspada melihat ratusan anak buah Gava yang tampak tunduk patuh pada satu perintah pemuda kelas dua tersebut.
"Mau apa lagi lo, Gava? Gue rasa ucapan gue di kelas tadi siang udah cukup jelas buat orang yang punya otak," ucap Azrint dengan nada suara manjanya yang berubah menjadi sebeku es di kutub, tangannya mencencang tali tas mahalnya dengan erat.
Gava menghentikan motornya tepat di depan Azrint, jarak mereka begitu dekat hingga aroma maskulin berbau kayu cendana yang bercampur dengan bau bensin dari tubuh berandalannya langsung menerpa indra penciuman Azrint kembali. Gava membungkuk sedikit di atas kemudi motornya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata karamel gadis di depannya.
"Gue cuma mau memastikan lo aman sampai masuk ke dalam mobil jemputan lo, Azrint," balas Gava dengan nada suara yang sarat akan janji obsesi yang gelap, tatapan matanya menguliti setiap detail ekspresi wajah pucat bersih milik putri mafia tersebut. "Jalanan Jakarta sore ini lagi agak liar buat seorang peri yang sombong kayak lo."
"Gue gak butuh pengawalan dari gerombolan anak motor yang kurang kerjaan kayak kalian," seru Azrint blak-blakan tanpa ada rasa gentar sedikit pun terhadap intimidasi massa di sekelilingnya. "Minggir dari jalan gue sekarang."
Gava justru tertawa kering, suara tawa yang sarat akan dominasi seorang pemimpin dunia atas jalanan. Dia menepuk jok belakang motor sport hitam metaliknya dengan satu gerakan tangan yang malas. "Gimana kalau sore ini lo balik bareng gue aja? Buang sedan hitam kaku lo itu, gue bakal tunjukin gimana rasanya membelah angin jalanan yang sesungguhnya."
"Gak sudi," jawab Azrint tegas, berbalik arah dengan keanggunan seorang ratu kecil untuk menuju ke arah lobi utama tempat mobil antipeluru ayahnya sudah menunggu dengan penjagaan ketat. Dia menolak untuk terlibat lebih jauh dalam permainan fiksi remaja yang konyol ini, meskipun di dalam hatinya dia tahu bahwa serigala jalanan bernama Gava Ernando ini telah resmi mengunci target buruannya untuk hari-hari berikutnya di SMA Garuda Bangsa.