NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.13

Jantung  serasa terhenti  seperkian detik 

Ternyata...

Penantian hanyalah jalan tanpa ujung 

Ku tak mampu melawan dunia

Aku bagaikan pion diantara mereka

Mengejar cahaya yang hanyalah bayangan semu...

" Hari ini Alvaro datang untuk melamar Elizabets, putri bungsu Yusi." Suara lantang Denis, ayah Alvaro, terdengar jelas di hadapan banyak orang.

"Duaarrr...,"wajah Anna seketika membeku, seolah otaknya butuh waktu mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Tenggorokannya kering, ia ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata tersangkut dan tak mau keluar. Matanya mulai berkaca-kaca, berusaha menahan agar air mata itu agar tidak tumpah di tempat yang menyisakan luka. Hatinya terbakar, sakit, ingin memberontak, tapi adakah yang siap membelanya? Kekasihnya, Alvaro, hanya diam, memejamkan mata dan pasrah menerima keadaan. Anna berpikir, mungkin Alvaro juga setuju. Ia tak tahu pergulatan batin yang dialami Alvaro dan kejadian sebelum mereka berangkat dari kediamannya.

“Apa-apaan ini, Om? Aku bukan boneka yang bisa dipermainkan seenaknya. Bukankah seharusnya aku yang dilamar oleh Alvaro, bukan Eliz?” Anna tak bisa menahan diri. Akhirnya dengan sekuat tenaga memberanikan diri menyangga ucapan Tuan Denis. Kalimat itu bagai badai yang menghantam seluruh dunianya.

" Maaf, Anna. Ini permintaan ibumu sendiri, agar Alvaro bisa merawat adikmu dengan leluasa supaya sakitnya cepat sembuh." Jawab Denis mengatakan yang sebenarnya.

"Tapi, kenapa aku yang harus dikorbankan, Om?"Anna dengan suara bergemuruh hebat.

"Anna, Tuan Denis sudah memutuskan dan itu tidak boleh dibantah, Nak. Kamu harus menurut," kata Yusi.

Dia yang sebelumnya duduk santai di dekat Eliz, kini perlahan mendekati Anna, mencoba menenangkan wanita cantik itu yang tubuhnya gemetar karena amarah.

"Ma, aku dan Alvaro saling mencintai. Kami sudah lama menjalin hubungan. Aku juga berhak bahagia."

" Aku sudah memutuskan, Alvaro akan segera menikah dengan Elizabeth. Ini adalah keputusan terakhirku," tegas Denis, membuat suasana di ruangan itu menjadi tegang. Orang-orang yang hadir saling berpandangan dan berbisik-bisik, suara mereka terdengar jelas oleh Elizabet.

"Ternyata, bukan hanya terjadi di film-film, ya. Di dunia nyata pun ada, seorang adik yang merebut kekasih kakaknya."

Sementara itu, Anna masih berharap keputusan itu bisa diubah dengan ketegasan Alvaro. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Alvaro hanya diam membisu, seolah tak punya keberanian untuk membantah ucapan ayahnya.

" Nak Anna, terimalah keputusan ini demi mama. Kasihanilah adikmu, Eliz. Jika mereka tidak menikah, Eliz akan sulit sembuh dan mungkin tak bisa berjalan lagi. Alvaro adalah satu-satunya harapan untuk merawatnya agar bisa pulih secara permanen.

Anna hanya terdiam membeku, tatapannya kosong, senyum di bibirnya perlahan menghilang, dadanya terasa sesak dan suara di sekitarnya seperti memudar.

Tatapan Anna mengarah ke Alvaro, namun pria itu tak berani menatap matanya. Bukan karena tak ingin, melainkan tak tega melihat Anna, kekasihnya.

"Sekejam itukah mereka mempermainkanku?" batin Anna.

Melihat sikap Alvaro yang tak menentang keputusan ayahnya, ia yakin pria itu setuju dan sudah menerima Eliz hidup di sisinya.

"Mama janji akan menyayangimu lebih dari kasih sayangku pada Eliz, tapi mama mohon...!" Yusi mengatupkan kedua tangan, memohon belas kasihan padanya.

"Sandiwara apalagi ini, Ma?" Anna tak mampu mengerti cara berpikir ibunya.

" Berhenti membantah, Anna! Kamu tidak kasihan sama adikmu sendiri, haaah!"

Bentakkan itu membuat Alvaro tak dapat menahan diri. Kenapa Anna selalu yang disalahkan. Sedangkan Anna kini mampu tertunduk menahan sesak dalam dada.

"Tante, Pa, walaupun aku dan Eliz tidak menikah, aku tetap bersedia merawat Eliz sampai sembuh. Jangan biarkan sakitnya Eliz menjadi penghalang cinta kami." Kata Alvaro.

Semua mata tertuju padanya, namun, ucapan Alvaro membuat Denis menatapnya dengan tajam.

" Kamu sudah berani menentang keputusan ayah, Al? Kamu merasa hebat sampai berani melawan ayah? Apakah kamu sudah memikirkan dampak semuanya sebelum mengambil keputusan?" Suara tegas Denis kembali memecah keheningan.

Anna menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, merelakan semuanya. Perlahan, ia mulai memahami kondisi yang sedang terjadi saat itu.

"Aku siap mundur, Om. Apa pun keputusan kalian, itulah yang terbaik untuk kami. Semoga Dokter Alvaro dan adikku Elizabeth hidup bahagia." Setelah mengucapkan kalimat itu, Anna meninggalkan ruangannya sejak tadi ia yang menjadi saksi atas segala kejadian hari itu. Keputusan yang sulit diambil, namun tak bisa dibantah.

Lidya hanya pasrah dengan keadaan yang terjadi, ia pun tak dapat melawan suaminya jika sudah mengambil keputusan. Entah apa yang terjadi sehingga Denis bersikeras tidak merestui hubungan Anna dan Alvaro. Lidya pun masih bertanya-tanya sampai keputusan itu resmi disepakati.

\*\*\*

Begitu pintu kamar tertutup, pertahanan Anna runtuh. Isak tangisnya yang sejak tadi ia tahan, kini pecah tanpa ampun. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai, lemas seakan seluruh kekuatannya direnggut dalam sekejap. Menatap langit-langit kamar dengan perasaan hampa. Semuanya terasa tak berarti ketika pernikahan yang dinantikan kini direnggut oleh adiknya sendiri.

" Bukan salah Eliz, melainkan mama yang mengatur semuanya. Aku tak boleh menyalahkan Eliz," ucapnya dalam hati.

"Tapi kenapa Eliz tak pernah menolak? Apakah dia memang menyukai Alvaro?" Anna merenungi semua yang baru saja terjadi. Tak ada yang bisa menolongnya selain keikhlasan  dalam dirinya sendiri. Ia berusaha tegar, meski tangannya terus menghapus jejak-jejak air mata yang tak henti membasahi pipinya.

"Apa salahku, Ma? Kenapa mama tega merenggut milikku demi Eliz?" lirih Anna seorang diri.

Anna merebahkan diri sejenak di lantai tanpa alas. Beberapa orang bergantian memanggil namanya dan mengetuk pintu, tapi semuanya diabaikannya. Telinga Anna seolah tertutup rapat oleh kepedihan yang mendalam. Harapannya untuk menikah dengan sang kekasih sirna diterpa badai. Begitu banyak pertanyaan menggelayut di benaknya, tapi kepada siapa dia harus bertanya? Dia hanya mampu mengadu kepada Tuhan, menjerit dalam setiap sujudnya, meluapkan semua emosi yang terpendam.

"Jika takdirku bukan bersamanya, aku akan belajar mengikhlaskan. Buatlah mereka bahagia, Tuhan. Aku akan pergi jauh dari kehidupan mereka."

"Untuk mama yang tersayang, buatlah mama mencintaiku tanpa membedakan aku dengan siapa pun," bisik Anna dalam doa.

Anna masih terdiam di dalam kamar, membuat Yusi tampak khawatir. Ia mengetuk pintu, namun teriakannya diabaikan.

"Mama ingin bicara, Anna. Mama akan jelaskan semuanya." Anna hanya mampu menatap pintu itu dengan tatapan yang sulit dimengerti. Tak seorang pun tahu apa yang sedang dirasakan Anna.

"Tidak perlu dijelaskan, Ma. Aku tahu mama hanya peduli pada Eliza. Mungkin aku memang bukan anak kandung mama," ucapnya lirih. "Tidak ada gunanya aku berada di tengah keluarga ini. Baik mama maupun Alvaro, tak ada yang benar-benar menginginkanku. Aku melihat Alvaro tidak berjuang untuk cintanya. Cinta yang dulu sering diucapkan palsu. Dia telah menghancurkan harapanku."

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!