Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damar Priambodo Wibisono
Lelaki tampan dengan tinggi 183 centimeter berjalan dengan gagah di antara para pengunjung coffeeshop, banyak pasang mata mengarah kepadanya.
Bersama asistennya Vano, lelaki itu mendekati meja yang sudah di reservasi untuk pertemuan dengan kliennya.
Lelaki tampan dengan aura mengintimidasi menyalami kliennya yang baru datang ke coffeeshop di mana tempat gadis yang bernama Diandra juga ada di sana.
Pertemuan antara lelaki tampan yang di panggil Damar tersebut dengan gadis cantik di pelataran coffeeshop membuat dirinya sedikit tersenyum dengan kejadian tadi pagi.
Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun, pria tampan dengan lesung pipi membuat wanita yang melihat dirinya bisa menjadi salah tingkah sendiri.
Pria peranakan Jawa-Belanda tersebut merupakan pewaris kerajaan bisnis Wibisono Grup. Ibunya keturunan Belanda sedangkan ayahnya asli Jawa, wajah tampannya perpaduan antara Ibu dan Ayahnya yang mantan seorang pebisnis.
Damar memiliki 2 orang adik, dibawahnya laki-laki dan si bungsu perempuan keduanya sudah menikah dan memiliki anak. Hanya dirinya saja yang sampai sekarang belum menikah.
Damar bukan tidak ingin menikah tetapi baginya menikah itu hanya sekali untuk seumur hidup. Damar merasakan patah hati yang dalam sejak mendapatkan kekasih yang di cintainya berselingkuh dengan pimpinannya.
Pimpinan kekasihnya Clara merupakan rekan bisnis Damar yang baru saja bekerjasama dengan perusahaannya pada saat itu.
Damar kala itu masih berusia 28 tahun dan baru menjalankan bisnis setelah ayahnya memintanya untuk menggantikan posisinya. Dirinya sebagai anak pertama dan pilihan orangtuanya tentu saja tidak bisa menolaknya.
Sebelumnya Damar hanya seorang manager IT di perusahaan ayahnya. Hanya segelintir orang saja yang tahu bahwa Damar merupakan anak pemilik perusahaan.
Pagi ini Damar bersama Vano bertemu di coffeeshop "Santai" untuk membicarakan kerjasama bisnis dengan Mr. Gery.
Damar tampan tampak sedang melamun saat kolega bisnis menyapanya.
"Pak, Pak Damar," bisik Vano pelan.
Damar tersadar dan segera menyapa Mr. Gery yang heran dengan rekan bisnisnya ini. Tidak bisanya rekan bisnisnya ini melamun.
"Mr. Gery bisa kita langsung saja pembicaraan kita pagi ini, maaf jika tadi saya sedikit melamun,"
"Baik Tuan Damar,"
Pembicaraan bisnis keduanya di laksanakan dengan lancar tanpa ada kendala. Keduanya puas dengan kerjasama yang akan mereka lakukan.
Damar, seorang lelaki dewasa yang belum mau mencari pasangan hidupnya dikarenakan dirinya masih merasa trauma dengan kejadian Clara mantan kekasihnya sedang bermesraan saat berada di kantor rekan bisnisnya tersebut.
Clara merupakan sekretaris dari pimpinannya yang bernama Davis.
Damar datang ke kantor Davis pada saat itu karena ada hal yang urgent yang harus di bicarakan. Bersama asisten Davis pada saat itu dirinya memergoki kedua orang berlainan jenis tersebut sedang bermesraan di sofa ruangan kantor Davis.
Tentu saja amarah Damar langsung ke ubun-ubun, rahangnya mengerat wajahnya seketika merah padam dan tangannya mengepal.
Damar merasa jijik dengan penampakan di depan matanya. Kekasih yang sudah bersamanya selama 2 tahun ternyata bukan wanita baik-baik. Damar yang setia dan tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas.
Meski Clara selalu memancingnya dengan bahasa tubuhnya. Seorang Damar tidak terpengaruh. Reputasi dirinya di jaganya Damar pria cerdas dengan perhitungan konsekuensinya jika melakukan hal-hal yang di luar batas dari hubungan antara pria dan wanita dewasa.
Bagi Damar dengan statusnya sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarganya membuatnya selalu berhati-hati dalam bertindak.
Pembicaraan bisnis antara Damar dengan Mr. Gery berlangsung satu jam.
Saat Damar akan berdiri dari duduknya tanpa sengaja tatapan matanya bersirobok dengan tatapan gadis yang tadi ada di kursi coffeeshop di pelataran depan.
Ternyata gadis cantik berambut lurus sebahu tersebut sudah pindah duduknya. Dan gadis tersebut duduk bersama pria yang tadi disebut namanya Berry.
Gadis tersebut segera mengalihkan pandangannya ke samping tiba-tiba saja dirinya merasa wajahnya memanas saat di tatap sangat lembut dari laki-laki yang sudah mengambil ciuman pertamanya meski hanya di pipi.
Damar si pria tampan tersebut menarik sedikit ujung bibirnya dan segera beranjak dari tempatnya.
"Andra, kenapa dengan wajahmu, Kamu sakit? tapi tadi Kamu tidak kenapa-kenapa kok kenapa sekarang wajahmu merah begitu Ndra?"
"Berry, Aku tidak apa-apa, Aku baik-baik saja kok Ber, Kamu kenapa mencari Aku, Ber? Aku bukan anak kecil lagi yang harus Kamu khawatirkan,"
"Bukan begitu Ndra, aku tidak akan membiarkan Kamu kenapa-kenapa di kota ini, Mama Kamu, Tante Mikha yang selalu khawatir dengan anak gadisnya yang cantik ini,"
"Sudah jangan menggoda Aku, Ber, Kamu taukan Aku ke kota ini karena pingin cari suasana baru, di sini Aku bisa hidup mandiri tanpa perlu dilayani oleh siapa saja, seperti saat aku masih di rumah Papa dan Mama, aku ingin mandiri Ber tanpa perlu di bayangi dengan nama besar Papa dan Mama,"
"Oke, oke aku paham Ndra, tapi jangan selalu menghindari Aku, biarkan Aku menjagamu di kota ini Diandra Paramita Maheswari Sadewa,"
Diandra yang mendengar perkataan Berry adik sepupunya anak Om Rain hanya merotasikan kedua bola matanya.
Tiba-tiba saja terdengar suara bariton yang tadi pagi di dengarnya. Diandra kaget dan menatap pria tampan di depannya dengan mata tidak berkedip.
"Nona, urusan kita belum selesai, ingat itu," pria tersebut menarik ujungnya tipis dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan Diandra yang masih bengong.
"Ndra, urusan apa sama laki-laki itu? Kamu ada urusan apa sama Dia, bukannya Dia pengusaha terkenal di kota ini ya, kamu kenal darimana Ndra, hati-hati Ndra, Aku tidak ingin Kamu kenapa-kenapa di kota ini," ucap Berry dengan kekhawatiran ke Diandra yang lebih tua usianya 2 tahun dari dirinya.
Diandra kembali merotasikan kedua bola matanya.
"Sudah deh, Ber, Aku gak kenapa-kenapa, aku baik-baik saja, Aku tidak kebak dengan pria itu Ber, Kamu jangan macam-macam mengadu sama Ganendra, Papa dan Mama, awas aja Kamu ya,"
Berry mengerucutkan bibirnya, "Aku akan kadukan pada mereka, kalau Kamu ada sesuatu dengan pria pengusaha tadi, jangan bohong sama Aku, Ndra,"
"Barry, awas saja kalau sampai Aku di telpon mereka ya,"
"Aku janji tidak akan ngadu dengan Om, Tante dan Ganendra asal Kamu mau angkat telpon Aku kalau Aku telpon dan jangan Kamu kucing-kucingan dengan Aku, Diandra,"
"Sudah-sudah Aku mau balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku kerjakan," Diandra segera bergerak beranjak dari duduknya.
"Kamu mau ikut Aku ke kantor? Biar Kamu tidak kehilangan Aku?" Diandra bicara sambil berjalan cepat, berharap Berry, adik sepupunya anak dari Om Rain tidak mengikutinya ke kantor.
"Apa Aku boleh ikut ke kantor Kamu, Diandra Sadewa,"
Diandra tidak menjawab pertanyaan Berry, dirinya berjalan cepat ingin segera menjauh dari Berry adik sepupunya itu yang tak kalah tampannya dengan laki-laki tadi yang sudah mencium pipinya.
Kalau mengingat hal itu Diandra jadi tersenyum sendiri meski hatinya masih kesal dengan pria tinggi dan tampan tersebut.
"Diandra, aku akan balik ke kantor," ucap Berry yang memiliki showroom mobil di kota tersebut yang sudah menyusul Diandra berjalan sejajar di samping Diandra.
"Hmm,"
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤