"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian
Sejak kepergian James tadi, Kayna terus mundar-mandir di dalam kamar tidur utamanya yang terisolasi. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menghantam tulang rusuknya.
Setiap kali ia mencoba mendekati pintu utama lorong, kenop tebal itu sama sekali tidak bisa diputar. Ketika ia berjalan mendekati jendela kaca tebal, selot pengaman terpasang rapat. Sementara di luar sana, di bawah sorotan lampu taman yang temaram, beberapa pria bertubuh tegap berpakaian serba hitam dan yang pastinya menyembunyikan senjata api di balik pakaiannya itu terus berpatroli tanpa celah.
"Aku harus keluar dari sini..." bisik Kayna pada dirinya sendiri, tangannya yang gemetar meremas piyama tipisnya. Bisikan Dokter Isabela tentang obat penenang, manipulasi ingatan, dan keposesifan gila Dama terus bergema di kepalanya.
Jika ia tidak memanfaatkan kondisi lengah ini untuk melarikan diri malam ini, ia mungkin akan terperangkap dalam kepalsuan dan ilusi ini selamanya.
Setiap detik dan menit berlalu bagaikan siksaan yang lambat. Jam dinding menunjukkan angka yang terus merambat naik. Hingga akhirnya, tepat pukul sembilan malam, keheningan mencekik di dalam vila mendadak pecah oleh raungan suara derum mesin mobil berkecepatan tinggi yang berhenti di pelataran depan.
Derap langkah kaki berat bergemuruh melintasi lorong utama. Kayna langsung menempelkan telinganya ke celah kayu pintu, menahan napasnya rapat-rapat.
"Bawakan kain kasa dan antiseptik ke ruang tengah!" suara bariton tegas Carlos terdengar menggema di luar lorong.
"Bagaimana dengan sisa-sisa anak buah Martin di garis pantai?" sahut suara James yang terdengar terengah-engah dan tegang.
"Kami sudah melenyapkan mereka semua. Untuk Martin, biar Djavier yang menanganinya." jawab Carlos.
Kayna menyibak sedikit celah pintu penghubung lorong internal untuk mengintip situasi. Di ruang tengah, tampak Damara melangkah masuk bersama James dan Carlos. Kemeja hitam yang dikenakan Mara tampak robek di bagian lengan kanan, bersimbah noda darah segar. Namun kali ini, raut wajah pria itu tidak menunjukkan kepanikan melainkan kilatan amarah memancar dari sepasang mata abu-abunya.
"Duduklah di sofa, Tuan Mara. Luka gores peluru ini harus segera dibersihkan sebelum terkena infeksi," kata Carlos seraya membentangkan perlengkapan medis di atas meja kaca.
Ternyata, Pria itu kembali mendapatkan luka. Meskipun luka itu tidak menembus lengannya, namun garis merah melintang yang robek cukup lebar membuat darah terus menetes melintasi lengan kekarnya.
Mara duduk di sofa kulit tanpa meringis sedikit pun saat Carlos menuangkan cairan antiseptik keras di atas lukanya. "Luka gores ini bukan masalah, Carlos. Yang jadi masalah adalah bagaimana bajingan Martin bisa mendeteksi pergerakan kita di Uluwatu," desis Mara dingin.
"Pasti ada jalur komunikasi bawah tanah yang diretas," timpal James tegang sembari memeriksa senjata api miliknya. "Saya akan memerintahkan tim penjaga untuk memperketat patroli di luar."
"Lakukan," perintah Mara singkat, mata abu-abunya menyipit penuh tajam. "Dan pastikan Kayna tidak terganggu. Jangan biarkan dia terbangun dalam keadaan takut."
Di balik dinding penyekat, dada Kayna berdesir hebat. Ini adalah kesempatan emas yang telah ia tunggu-tunggu sepanjang malam. Perhatian Mara, Carlos, dan James kini sepenuhnya terpusat pada pengobatan luka gores di lengan Mara serta penataan ulang strategi keamanan vila. Konsentrasi para pengawal pasti sedang terpecah.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kayna melangkah mundur perlahan tanpa bersuara. Jantungnya bergemuruh hebat. Ia menyelinap melewati lorong samping yang remang-remang, memanfaatkan celah di antara pilar-pilar marmer yang diselimuti bayangan malam.
Namun, ketika Kayna hampir mencapai pintu samping yang menjadi satu-satunya celah menuju area perbukitan luar vila, sesosok tubuh tegap tiba-tiba muncul dari balik sudut koridor. Seorang pengawal berotot kekar berpakaian serba hitam berdiri tepat tiga langkah di hadapannya.
Pengawal itu tertegun, matanya membelalak kaget melihat keberadaan sang nona muda di area terlarang. "Nona Kayna? Mengapa Anda berada di sini? Pintu samping ini—"
"Ssst!" potong Kayna dengan cepat dan tegas. Wajahnya dipasang raut panik nan meyakinkan, menekan rasa takut yang nyaris meremukkan dadanya. "Kau pengawal bagian lorong barat, kan?"
Pengawal itu mengangguk ragu. "I-iya, Nona, tapi—"
"Tuan Mara baru saja kembali dan dia sangat murka!" bentak Kayna dengan nada berbisik yang sarat ancaman dan ketegasan sempurna. "Tangan kanannya tertembak dan dia memanggil seluruh pengawal di lorong samping untuk segera menghadap ke ruang tengah sekarang juga! Carlos dan James sedang mencari anak buah yang lalai, dan jika kau tidak hadir dalam sepuluh detik, Tuan Mara sendiri yang akan mengeksekusimu!"
Mendengar nama Damara disebutkan dengan nada ancaman mati seperti itu, raut wajah pengawal tersebut seketika berubah pucat pasi.
"B-baik, Nona! Saya akan segera ke ruang tengah!" seru pengawal itu gugup. Tanpa meragukan kata-kata istri bosnya, pria bersenjata itu berbalik dan berlari tergesa-gesa menuju ruang utama untuk menghadap Mara.
Begitu bayangan pengawal itu menghilang di tikungan koridor, Kayna mengembuskan napas panjang yang tertahan. Tangannya yang gemetar langsung menekan tuas pintu samping.
KLIK!
Pintu tersebut terbuka. sebuah pintu yang tidak terkunci secara biometrik.
Angjn dingin malam menyergap wajah Kayna seketika saat pintu terbuka lebar.
Kayna melangkah keluar, melompati ambang pintu dan menyusup masuk ke dalam kegelapan malam Uluwatu.
Di luar, angin laut berhembus sangat kencang, membawa aroma garam dan gemuruh ombak dahsyat yang menghantam tebing karang ratusan meter di bawahnya. Malam itu begitu gelap, hanya sinar bulan sabit yang samar-samar memberikan sedikit pencahayaan di antara gumpalan awan hitam.
Kayna memeluk tubuhnya sendiri. Ia bahkan masih mengenakan piyama satin tipis dan sandal slop rumahan berkain lembut, sama sekali bukan pakaian yang cocok untuk melintasi medan buas perbukitan karang. Namun, rasa takut akan jeruji emas Mara jauh lebih membakar semangatnya daripada rasa dingin yang menusuk tulang.
"Aku harus terus berlari..." bisik Kayna pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam oleh deru angin malam.
Dengan langkah terengah-engah dan hati membara, Kayna melompati jalan setapak berkerikil tajam. Sandal slop rumahan yang ia kenakan berkali-kali tergelincir di atas tanah licin dan batu karang yang mencuat tajam.
Rasa sakit menusuk telapak kakinya setiap kali batuan keras menembus sol sandal yang tipis, namun Kayna mengabaikannya. Batang-batang semak berduri menggores piyama satin mulusnya, merobek kain halus itu dan meninggalkan garis luka di kulit lengannya.
Ia menerobos semak-semak lebat, menelusuri jalan setapak liar di tepi tebing karang Uluwatu yang sangat curam. Di bawah sana, jurang dalam dengan lautan lepas yang mengamuk siap menelannya jika ia salah melangkah satu inci saja. Tapi pikiran tentang tatapan posesif Mara yang penuh manipulasi membuatnya terus mendorong fisiknya hingga batas maksimal.
Ia tidak menoleh. Sama sekali tidak menoleh ke belakang menuju vila megah yang lampunya samar-samar masih berpendar di puncak tebing.
"Aku tidak akan pernah kembali..." ringis Kayna dengan derai air mata yang menyatu bersama terpaan angin malam. "Aku tidak akan pernah menjadi bonekamu lagi, Damara!"
Setiap langkahnya adalah jeritan kebebasan, meninggalkan jejak ketakutan di atas tanah karang Uluwatu yang membisu, menuju kegelapan malam yang tak tentu arah.
...●Bersambung●...