Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Buru Yang Tak Terduga
Pintu kamar hotel tertutup perlahan, Roy meletakkan kartu akses di atas meja kecil dekat pintu. Kamar itu cukup luas, dengan satu sofa, sebuah meja kerja, dan ranjang besar di tengah ruangan.
Suasana menjadi canggung selama beberapa detik. Alvania berdiri di dekat jendela sambil memandang lampu kota yang berkelap-kelip di luar sementara Roy mengambil nafas panjang.
"Aku akan tidur di sofa," ucap Roy santai.
Alvania menoleh.
"Kamu tidak perlu begitu. Aku akan melayanimu karena kamu sudah berani membayar banyak untuk ku..."
"Al, gue bayar lo bukan buat hal seperti itu. Gue cuma mau lo gak lagi disentuh oleh tangan-tangan kotor dan gue janji kedepannya cuma gue yang boleh booking lo..."
Roy tersenyum tipis. Ia pun melanjutkan ucapannya.
"Gue memang bawa lo keluar dari club itu malam ini. Tapi bukan berarti gue pengen memanfaatkan keadaan..."
Alvania terdiam sudah lama sekali tidak ada pria yang berbicara seperti itu kepadanya. Selama ini hampir semua orang hanya melihat penampilannya, bukan dirinya, bukan perasaannya, bukan luka yang ia sembunyikan.
"Aneh..." gumam Alvania pelan.
Roy mengangkat alis.
"Apa?"
"Kamu terlalu baik..."
Roy tertawa kecil.
"Hahaha...Ini pertama kalinya ada yang bilang begitu?"
Untuk sesaat, Alvania ikut tersenyum. Malam ini mereka tidak banyak berbicara lagi, Roy memilih beristirahat di sofa sambil memainkan ponselnya.
Sedangkan Alvania duduk di dekat jendela lebih lama dari biasanya. Entah kenapa setelah bertahun-tahun, baru kali ini ia merasa aman.
...****************...
Pagi datang lebih cepat dari yang mereka kira, sinar mentari masuk melalui celah tirai. Roy terbangun lebih awal.
Ketika membuka mata, ia mendapati Alvania tertidur di kursi dekat jendela. Kepalanya bersandar pada kaca seolah semalaman ia tidak benar-benar bisa memejamkan mata.
Roy berdiri perlahan kemudian mengambil selimut tipis dan menyampirkannya ke bahu wanita itu. Alvania langsung terbangun tatapan mereka bertemu sesaat.
"Lo bisa lanjut tidur lagi..."
Alvania menggeleng pelan.
"Gue udah terbiasa begini..."
Roy tidak bertanya lebih jauh karena terkadang ada luka yang tidak perlu dipaksa untuk diceritakan.
Di sisi lain kota, alarm ponsel berbunyi nyaring memenuhi kamar Viona, ia pun membuka mata perlahan. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar apartemennya lalu senyuman kecil muncul di wajahnya.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja perasaan gugup dan bersemangat bercampur menjadi satu. Setelah bersiap, Viona mengenakan pakaian kerja yang telah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Ia berdiri di depan cermin sembari menarik nafas panjang.
"Aku pasti bisa!"
Kalimat sederhana itu ia ucapkan untuk dirinya sendiri karena hari ini adalah awal dari kehidupan baru yang ingin ia perjuangkan.
Sementara itu di ruang makan rumah keluarga Wijaya. Seorang wanita elegan sedang sibuk mengatur menu sarapan tidak lain adalah mama Bryan.
"Tuan muda pasti datang malam ini, Nyonya?" tanya salah satu pelayan.
Wanita itu tersenyum penuh arti.
"Dia harus datang."
"Lalu kalau tidak?"
"Saya yang akan datang sendiri ke kantornya."
Para pelayan saling berpandangan mereka tahu, dari semua orang yang ditakuti di dunia bisnis hanya ada satu orang yang benar-benar bisa membuat Bryan tidak berkutik yaitu ibunya sendiri.
Beberapa jam kemudian mobil merah milik Bryan berhenti di depan gedung utama Briliant Wijaya Group. Bryan turun lebih dulu sementara Arlian mengikuti dari belakang sambil membawa beberapa dokumen.
"Tuan..."
"Hm?"
"Calon sekretaris baru akan datang pagi ini..."
Bryan mengangguk singkat namun entah kenapa langkahnya berhenti sesaat karena tanpa sadar ia teringat seseorang. Arlian yang melihat perubahan kecil itu hanya menahan senyum.
"Tuan terlihat menunggu seseorang..."
Bryan menatapnya datar.
"Saya sedang memikirkan pekerjaan, Lian. Jangan mulai lagi."
"Tentu saja..."
Arlian mengangguk cepat.
"Tidak mungkin memikirkan orang lain. Mana mungkin seorang Bryan memikirkan orang lain, ups..."
Bryan menyipitkan mata, Arlian langsung melangkah lebih cepat menuju lift. Ia masih ingin menerima bonus akhir tahun.
Dan pagi ini, tanpa diketahui siapa pun, takdir mereka perlahan mulai bergerak menuju pertemuan yang akan mengubah banyak hal.
Hari Pertama lift berhenti di lantai utama kantor Briliant Wijaya Group pintu terbuka perlahan. Para karyawan mulai berdatangan satu persatu, suasana pagi terlihat sibuk seperti biasa.
Di sisi lain gedung, Viona baru saja turun dari taksi online. Ia berdiri beberapa detik di depan gedung pencakar langit itu, matanya sedikit membulat.
"Besarnya..."
Gedung utama Briliant Wijaya Group jauh lebih megah dibanding yang ia bayangkan. Viona menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar ke udara dan melangkah masuk.
Hari ini adalah langkah pertamanya, ia menepis rasa gugupnya. Di lobby utama, beberapa karyawan berlalu-lalang sambil membawa dokumen dan laptop, Viona menghampiri meja resepsionis.
"Selamat pagi..."
"Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Viona Anindika Prasetya. Hari ini saya sudah mulai bisa bekerja?"
Resepsionis itu langsung tersenyum ramah.
"Ah, ok baik. Silakan tunggu sebentar. Akan saya cek kembali data anda..."
Beberapa menit kemudian, seorang staf HR datang menjemputnya.
"Selamat datang di Briliant Wijaya Group, Nona Viona..."
"Terima kasih Pak..."
Viona mengikuti staf tersebut menuju ruang orientasi karyawan baru. Meski berusaha tenang, jantungnya tetap berdegup lebih cepat dari biasanya.
Di lantai atas Bryan sedang mengikuti rapat bersama beberapa direktur. Presentasi berjalan lancar, laporan demi laporan dibahas dengan cepat.
Namun ketika salah satu direktur sedang menjelaskan data penjualan, ponsel Bryan bergetar pelan, sebuah pesan masuk dari HRD.
"[Nona Viona Anindika Prasetya sudah hadir dan sedang menjalani orientasi Pak...]"
Tatapan Bryan berhenti beberapa detik pada layar, hanya beberapa detik namun Arlian yang duduk di sampingnya berhasil menangkapnya.
Sudut bibir Arlian hampir terangkat untung saja ia masih ingat ancaman bonus akhir tahun. Bryan segera menyimpan ponselnya kembali.
"Silakan lanjutkan..."
Suara dinginnya kembali terdengar profesional seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara itu Viona sedang diajak berkeliling kantor oleh rekannya.
Ia diperkenalkan pada beberapa divisi, beberapa karyawan menyambutnya dengan ramah, namun ada pula yang terlihat penasaran karena cukup jarang ada karyawan baru yang langsung ditempatkan dekat jajaran pimpinan.
"Ini ruang kerja Direktur Operasional..."
"Ini ruang rapat utama..."
"Dan di ujung sana adalah area eksekutif..."
Viona mengangguk sambil memperhatikan sampai akhirnya langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam, Staf HRD pun tersenyum.
"Dan ini..."
Viona menatap papan nama di pintu itu yang bertuliskan CEO Bryan Anggara Wijaya. Entah kenapa jantungnya kembali berdebar secara tiba-tiba.
Padahal ia sudah pernah bertemu Bryan sebelumnya. Namun melihat namanya terpampang besar di pintu kantor tetap terasa berbeda.
"Untuk sementara Anda akan banyak berkoordinasi dengan tim eksekutif..."
"Baik..."
...****************...
Di waktu yang hampir bersamaan, Roy sedang membuka coffee shop miliknya. Namun pikirannya terus kembali pada seseorang.
Alvania...
Ia bahkan tidak menyangka masih memikirkan wanita itu sejak pagi. Saat sedang menyusun stok bahan, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal muncul, Roy pun mengangkatnya.
"Halo?"
Beberapa detik hening lalu terdengar suara yang familiar.
"Roy..."
Roy langsung mengenalinya.
"Alvania?"
Di seberang sana terdengar tawa kecil.
"Syukurlah. Nomor lo belum gue simpan soalnya..."
Entah kenapa senyuman kecil muncul di wajah Roy. Mungkin karena setelah sekian lama, seseorang menghubunginya bukan karena urusan bisnis.
...****************...
Kembali ke Briliant Wijaya Group, Orientasi akhirnya selesai menjelang siang. Viona menerima beberapa dokumen kerja kemudian staf HR mengantarnya menuju area kerja sementara.
Namun tepat saat mereka berjalan melewati koridor utama, pintu lift eksekutif terbuka. Beberapa orang langsung menepi suasana mendadak lebih tenang.
Bryan keluar dari dalam lift bersama Arlian dan beberapa petinggi perusahaan. Aura pria itu tetap sama tenang, dingin dan berwibawa.
Bryan awalnya berjalan lurus namun langkahnya berhenti sesaat ketika melihat sosok yang berdiri tidak jauh darinya. Untuk sepersekian detik tatapan mereka saling bertemu.
"Selamat pagi, Pak Bryan..." ucap Viona sedikit gugup.
Bryan menatapnya beberapa saat lalu mengangguk tipis.
"Selamat datang..."
Hanya dua kata sederhana namun cukup membuat beberapa karyawan di sekitar mereka saling berpandangan diam-diam.
Karena sangat jarang CEO mereka menyapa karyawan baru secara langsung. Arlian yang berdiri di belakang Bryan hampir saja tersenyum lagi.
Hari pertama Viona baru dimulai namun tanpa ia sadari, banyak mata mulai memperhatikan keberadaannya dan di antara semua perhatian itu, tidak semuanya membawa niat baik.
BERSAMBUNG.