Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Titik Leleh
Bunyi alarm elektronik merobek keheningan basemen beton itu. Lampu merah berputar cepat di sudut-sudut ruangan, melemparkan kilatan cahaya tajam yang menyilaukan mata.
[Sistem Keamanan Diaktifkan. Akses Pintu Keluar Dikunci.]
Teks merah itu berkedip-kedip di layar monitor utama milik Viktor.
Viktor berdiri tegak di balik meja kayunya. Tangannya bersilang di depan dada. Pria itu menatap Hira dengan lengkungan senyum yang sangat merendahkan. Koin perak di tangannya ia mainkan dengan buku-buku jarinya.
"Waktumu tidak banyak, Nyonya Lione."
Langkah kaki Viktor terdengar mendekat. Pria itu berjalan memutari meja, mempersempit jarak di antara mereka.
"Kau punya dua pilihan. Tanda tangani pakta kerja sama di layarku, atau aku akan memastikan alarm ini memicu protokol bunuh diri di ID Eksekutifmu. Seluruh aksesmu akan terkunci. Petugas keamanan akan menemukanmu dengan status sebagai penyusup yang mencoba mencuri data pusat."
Hira tidak mundur satu sentimeter pun. Jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan logam di belakang tablet digital yang ia pegang.
{Dia pikir dia sedang menjebak seekor kelinci.}
Tawa pelan menggema di dalam kepala Hira. Sang alter ego sepenuhnya mengambil alih. Postur Hira berubah menjadi sangat rileks, nyaris seperti seseorang yang sedang berdiri di taman hiburan, bukan di dalam ruang isolasi yang terkunci rapat.
{Mari kita tunjukkan padanya bagaimana cara predator sejati bermain-main dengan mangsanya.}
"Pilihan yang sangat dramatis, Viktor."
Jari Hira menyentuh layar tabletnya yang masih menyala.
"Tapi kau melupakan satu detail kecil tentang kartu hitam yang kumasukkan ke panel liftmu tadi."
Viktor menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Hira. Pria itu menyipitkan matanya.
"Kartu itu hanya memberimu akses masuk. Sekarang sistemku yang memegang kendali atas pintu keluarnya."
"Benar."
Hira mengetikkan serangkaian kode panjang di layar tabletnya dengan kecepatan luar biasa. Gerakan jari-jarinya nyaris terlihat seperti bayangan kabur.
"Kartu hitam ini memang tidak bisa membuka pintu yang sudah kau kunci dari server lokalmu. Tapi kartu ini adalah ID Eksekutif Independen. Teran memberikannya padaku untuk mengumpulkan seluruh jejak digital korupsi agar aku bisa menjadi kambing hitam yang sempurna, bukan?"
Hira mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Viktor.
"Itu artinya, tablet ini memiliki akses absolut ke seluruh infrastruktur dasar gedung ini. Termasuk sistem kelistrikan sekunder yang terhubung ke basemen tujuh."
Senyum meremehkan di wajah Viktor sedikit goyah. Pria itu melirik sekilas ke arah tablet di tangan Hira, lalu kembali menatap wajah wanita itu.
"Apa yang sedang kau coba lakukan? Mematikan lampu? Ruangan ini punya generator cadangannya sendiri."
Hira menekan tombol konfirmasi di layar tabletnya.
"Aku tidak tertarik mematikan lampu, Viktor. Aku lebih tertarik pada mainan-mainan besarmu di sana."
Hira mengangkat dagunya, menunjuk ke arah deretan panjang rak besi hitam yang berdiri menjulang di belakang meja kayu. Ribuan lampu indikator kecil berkedip konstan dari perangkat keras yang tersimpan di rak-rak tersebut.
Sebuah bunyi klik yang sangat keras bergema dari langit-langit beton.
Desingan mesin yang sejak tadi mengiringi percakapan mereka mendadak berhenti. Putaran baling-baling raksasa di dalam pipa sirkulasi melambat dengan cepat dan akhirnya diam tak bergerak.
Layar monitor ganda di atas meja kayu Viktor seketika memunculkan kotak peringatan berwarna kuning terang.
[Peringatan Sistem: Protokol Pendingin Server Dinonaktifkan Secara Paksa.]
Viktor membelalakkan matanya maksimal. Koin perak di tangannya terlepas dan jatuh menggelinding di atas lantai beton. Pria itu langsung memutar tubuhnya dan berlari kencang kembali ke mejanya.
"Kau gila?!"
Tangan Viktor menghantam keyboard. Jari-jarinya menekan kombinasi pintasan dengan brutal.
Hira berjalan santai menyusul pria itu. Ia berhenti di samping meja kayu, memperhatikan Viktor yang sedang dilanda kepanikan absolut.
"Data yang kau kumpulkan untuk memeras Teran ada di dalam server lokal ini, bukan?"
Hira menyilangkan kakinya, bersandar pada pinggiran meja kayu.
"Data itu adalah satu-satunya pelindungmu. Tanpa data itu, kau hanyalah kepala auditor biasa yang bisa dihancurkan Teran dalam hitungan detik."
[Akses Ditolak. Protokol Pendingin Terkunci oleh ID Eksekutif Pusat.]
Kotak peringatan baru muncul di layar Viktor. Warna kuningnya kini berubah menjadi merah darah.
[Suhu Perangkat Keras: 55°C dan terus meningkat.]
"Buka kuncinya sekarang, Hira!"
Viktor menatap layar monitornya dengan napas memburu. Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipis pria itu.
"Server ini menyimpan bukti pencucian uang triliunan rupiah! Kalau perangkat kerasnya meleleh, kita berdua tidak akan punya senjata untuk melawan Teran!"
"Itu senjatamu, Viktor. Bukan senjataku."
Hira mengetuk layar tabletnya satu kali lagi.
[Perintah Dieksekusi: Overclock Server Lokal ke Kapasitas 100%.]
Deretan rak besi di belakang mereka seketika mengeluarkan bunyi dengungan yang sangat kasar. Suaranya menyerupai mesin jet yang dipaksa berputar melebihi batas aman. Lampu indikator hijau pada server berubah serentak menjadi merah.
"Tidak! Tidak! Tidak!"
Viktor memukul meja kayunya dengan kepalan tangan. Layar monitornya mulai menampilkan deretan angka suhu yang melesat naik dengan sangat tidak masuk akal.
[Suhu Perangkat Keras: 65°C.]
[Suhu Perangkat Keras: 72°C.]
[Peringatan: Kerusakan Fisik pada Sektor Penyimpanan B akan terjadi dalam 120 detik.]
"Tiga tahun."
Viktor menatap Hira dengan wajah pucat pasi. Urat lehernya menonjol keluar.
"Aku mengumpulkan data itu selama tiga tahun penuh! Berapa angka yang kau inginkan?! Aku akan membagi persentase lepas pantai Teran menjadi enam puluh untukmu dan empat puluh untukku! Buka kunci pendinginnya!"
Hira tertawa. Suara tawanya sangat merdu, sangat kontras dengan situasi kehancuran yang sedang berlangsung di depannya.
Ia memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya hingga hanya berjarak satu jengkal dari wajah Viktor yang dibanjiri keringat.
"Kau masih tidak mengerti, ya?"
Tatapan mata Hira menajam, memotong langsung ke dalam sisa-sisa harga diri pria itu.
"Aku tidak peduli dengan uang lepas pantai Teran. Aku tidak peduli dengan datamu. Aku datang ke gedung ini untuk melihat orang-orang yang merasa berkuasa berlutut dan menangis di kakiku."
Hira menggeser pandangannya ke layar monitor.
[Suhu Perangkat Keras: 81°C. Peringatan Fase Kritis.]
"Delapan puluh derajat. Menurut spesifikasi pabrik yang baru saja kubaca dari server pusat, motherboard milikmu akan mulai melengkung di angka sembilan puluh derajat. Itu sekitar... empat puluh detik dari sekarang."
Viktor mundur satu langkah. Kakinya tersandung kursi kerjanya sendiri. Pria itu jatuh terduduk dengan keras. Tangannya gemetar hebat menunjuk ke arah Hira.
"Kau bukan manusia. Kau monster yang sebenarnya."
"Terima kasih atas pujiannya."
Hira menekan layar tabletnya ke dada Viktor.
"Buka pintu liftnya, Viktor. Atau kita bisa duduk manis di sini sambil melihat seluruh hasil kerja keras tiga tahunmu berubah menjadi cairan logam dan plastik gosong."
Bibir Viktor bergetar. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik bergantian antara wajah Hira yang tersenyum dingin dan layar monitor yang berkedip merah mematikan.
[Suhu Perangkat Keras: 85°C. Potensi Kehilangan Data Permanen: 80%.]
Viktor menyerah.
Pria itu merangkak naik. Tangannya yang gemetar meraih keyboard. Ia mengetikkan kata sandi override dengan sangat terburu-buru hingga ia harus menghapusnya dua kali karena salah ketik.
Bunyi alarm yang memekakkan telinga seketika berhenti. Lampu merah yang berputar di sudut ruangan mati, digantikan oleh cahaya neon putih pucat yang menyala terang sepenuhnya.
Ting.
Pintu perak lift di ujung ruangan bergeser terbuka.
Hira langsung menekan tombol hijau di tabletnya.
[Protokol Pendingin Diaktifkan. Overclock Dibatalkan.]
Putaran baling-baling raksasa di langit-langit kembali terdengar. Suara dengungan kasar dari rak server berangsur-angsur mereda seiring dengan masuknya aliran suhu beku dari pipa sirkulasi.
Viktor menjatuhkan kepalanya ke atas meja kayu. Pria itu mengambil napas panjang berkali-kali. Tubuhnya lemas tanpa tenaga. Sisa-sisa arogansi masterclass yang ia tunjukkan saat Hira baru datang sudah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh ketakutan yang menjalar di setiap sarafnya.
Hira membalikkan badan. Ia melangkah menjauhi meja tersebut. Sepatu hak tinggi merah marunnya kembali mengetuk lantai beton dengan irama kemenangan absolut.
Tepat sebelum Hira melangkah melewati pintu lift, ia menghentikan langkahnya. Ia tidak menoleh ke belakang.
"Viktor."
Pria yang masih bersandar di atas mejanya itu tersentak pelan.
"Kunci ruangan ini rapat-rapat. Jangan pernah mencoba menghubungiku lagi, atau aku akan memastikan sistem pendinginmu tidak akan pernah menyala untuk selamanya."
Hira melangkah masuk ke dalam kotak perak tersebut. Ia menekan tombol panel untuk kembali ke lantai lima puluh lima.
Pintu baja itu bergeser menutup, mengunci sosok Viktor yang masih terduduk dengan keputusasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Lift bergerak naik dengan kecepatan tinggi.
Hira menatap layar tablet digitalnya. Dokumen yang sempat ditunjukkan Viktor tentang rencana Teran Honigan masih tersimpan dengan rapi di dalam memori visual sang alter ego.
{Teran Honigan. CEO yang sangat terhormat.}
Sebuah seringai yang jauh lebih lebar dan mematikan merekah di wajah Hira. Darahnya mendidih, dipenuhi oleh dorongan untuk menghancurkan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
{Kau ingin menjadikanku kambing hitam untuk dosa-dosamu? Mari kita lihat, apakah lehermu cukup kuat untuk menahan rantai yang sedang kubuat sekarang.}
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪