NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman untuk kayla

Tak berselang lama, mobil tersebut perlahan melambat dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Kayla. Jam dinding digital di dasbor menunjukkan bahwa saat ini adalah waktu istirahat kedua.

"Ngapain lo bawa gue ke sini lagi?" tanya Kayla heran.

"Udah, cepet turun," titah Hesti singkat, ikut membuka pintu mobil.

Mau tidak mau, Kayla turun dari mobil dengan langkah gontai. Hesti menuntunnya masuk melewati koridor sekolah menuju ke arah ruang guru, dikawal ketat oleh dua bodyguard di belakang mereka. Kehadiran rombongan itu seketika mencuri perhatian ratusan pasang mata siswa-siswi yang sedang berkumpul di koridor.

Sementara itu, Arka yang sedang berada di perpustakaan untuk menenangkan diri, mendadak dihampiri oleh seorang siswa kelas lain dengan napas terengah-engah. "Arka! Itu... si Kayla dateng ke sekolah! Tapi dia dibawa sama seorang wanita dan dikawal bodyguard ke arah ruang guru!"

Mendengar nama Kayla disebut, Arka langsung bangkit berdiri dari kursinya. Tanpa membuang waktu, ia berlari cepat keluar dari perpustakaan, membelah kerumunan siswa di koridor hingga akhirnya berpapasan dengan rombongan Hesti di dekat belokan aula.

Begitu melihat Arka, Hesti langsung menyapa dengan ramah. "Eh, Arka. Kamu tahu ruang guru di mana?"

Arka sempat tertegun menatap Kayla yang berjalan menunduk di belakang Hesti dengan wajah cemberut. Namun, ia segera menguasai diri. "Ah, iya, Tante. Lewat kesini, mari saya antar," ucap Arka sopan, memandu jalan.

Begitu sampai di depan pintu ruang bimbingan konseling, Hesti melangkah masuk dan langsung mengetuk meja salah satu guru di sana. "Permisi, saya Hesti, ibunya Kayla. Guru BK di sini siapa ya, Pak?" ucap Hesti dengan tutur kata yang sangat sopan.

Seorang pria berkacamata bangkit dari kursinya. "Saya Pak Purnomo, guru BK di sini, Bu. Ada yang bisa dibantu?"

Hesti mengangguk tegas. "Saya mau melaporkan anak saya, Kayla. Hari ini dia terbukti bolos sekolah dari pagi. Saya harap Bapak bisa memproses dan memberikan hukuman yang tegas buat anak saya di sini. Saya sengaja bawa dia kesini karena saya tidak mau dia dihukum oleh Papihnya di rumah," tegas Hesti.

Mendengar kalimat itu, Kayla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa tidak sukanya pada Hesti semakin berlipat ganda karena merasa dipermalukan di sekolah sendiri.

"Baik, terima kasih banyak atas laporannya yang luar biasa ini, Bu Hesti. Jarang ada orang tua yang sekooperatif ini. Kayla biar saya yang urus setelah ini karena sekarang masih jam pelajaran," ucap Pak Purnomo mengangguk salut.

Sebelum berbalik pergi, Hesti menahan langkahnya sejenak. "Satu lagi, Pak. Siswa yang membawa anak saya bolos hari ini bernama Gavin. Dan tadi saya lihat di wajahnya banyak luka lebam, entah mungkin karena habis tawuran di luar. Yang jelas, saya juga ingin dia dicari dan dihukum sesuai aturan sekolah."

Setelah mengucapkan terima kasih, Hesti melangkah anggun keluar dari ruang guru dan meninggalkan area sekolah bersama para pengawalnya. Akibat laporan jujur itu, Kayla langsung dijatuhi sanksi tegas oleh Pak Purnomo: berlari memutari lapangan upacara sebanyak 5 putaran di bawah terik matahari siang, lalu dilanjutkan dengan membersihkan seluruh area WC putri.

Arka yang menyaksikan kejadian itu dari luar ruangan hanya bisa menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ibu tiri Kayla bisa bersikap setegas dan seberani itu demi kebaikan Kayla sendiri. Arka pun tidak bisa menolong atau memprotes, karena ia tahu betul bahwa dalam hal ini, posisi Kayla memang bersalah.

Waktu terus bergulir hingga bel pulang sekolah berbunyi dan seluruh siswa telah berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Di dalam area WC putri yang sudah tampak bersih, Kayla terduduk lemas di lantai dengan pelipis yang basah oleh keringat. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan kepalanya pening luar biasa.

Arka berdiri di ambang pintu WC, menatap sendu ke arah sahabatnya itu. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya. "Gue udah bilang berulang kali sama lo, jangan deket-deket sama Gavin. Dia cuma bawa pengaruh buruk buat lo, Mi-kay-la."

Kayla mendongak, menatap Arka dengan pandangan mata yang sayu namun tetap tersirat ketajaman. "Lo kalau masih mau berdiri di situ cuma buat nyeramahin gue, mending pulang aja sana. Gue capek! Gue dari tadi dipecundangi sama tuh nenek sihir, sekarang kepala gue puyeng banget, Arka!" keluh Kayla meluapkan kekesalannya.

Arka menghela napas, kemarahannya seketika mereda digantikan oleh rasa iba. Ia berlutut di depan Kayla, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis. "Ya Tante Hesti lakuin itu juga karena lo salah... Nih, buku catatan pelajaran yang lo tinggalin tadi dari pagi. Udah gue rangkum semuanya biar lo gak ketinggalan materi."

Arka menyodorkan buku itu. Kayla menyambarnya dengan gerakan kasar, memeluknya erat tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun, bahkan sekadar ucapan terima kasih. Arka tidak ambil pusing dengan sikap ketus itu. Dengan sabar, ia membantu Kayla berdiri dan menuntunnya keluar untuk diantar pulang menggunakan motornya.

Sore harinya, begitu melangkah masuk melewati pintu depan rumah, Kayla mendapati pemandangan yang membuat langkah kakinya sempat tertahan. Di ruang tengah, Pak Hendra dan Hesti tampak duduk berdampingan di atas sofa, menikmati suasana sore yang tenang sembari menyesap secangkir teh hangat bersama.

Mendengar suara langkah kaki, Pak Hendra menoleh dan langsung tersenyum hangat. "Anak Papih udah pulang? Gimana sekolahnya hari ini, lancar, Nak?" tanya Pak Hendra dengan nada suara yang sangat ramah tanpa menyimpan curiga sedikit pun.

Kayla melirik ke arah mereka berdua sekilas. Pandangan matanya sempat beradu dengan mata teduh Hesti yang sedang meletakkan cangkir tehnya. Merasa heran karena tidak ada tanda-tanda kemarahan dari ayahnya, Kayla memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Ia langsung melenggang pergi, menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan terburu-buru.

Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Kayla menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan napas lega. Dia... beneran gak ngaduin kenakalan gue ke Papih? batin Kayla merasa aneh sekaligus bingung dengan motif di balik sikap ibu tirinya itu.

Matanya kemudian beralih, melirik ke arah terarium bulat yang berada di sudut meja belajarnya. Tanaman di dalam kaca itu tampak sangat segar. Kayla berjalan mendekat, meraih sebuah botol semprotan berisi air, lalu mulai menyemprotkan butiran air halus ke dalam terarium tersebut.

"Lo tuh cantik banget, tahu gak..." gumam Kayla pelan pada tanaman itu, tatapannya melembut. "... tapi sayang, yang ngasih lo ke gue itu orang yang paling gue benci sekarang."

DRRTTT... DRRTTT...

Ponsel di dalam saku seragam Kayla bergetar dengan keras. Layarnya menampilkan nama Gavin. Kayla segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Kay? Maafin gue ya... Gara-gara gue, lo jadi kena marah sama nyokap lo tadi siang," ucap suara Gavin di seberang telepon, terdengar penuh rasa bersalah dan cemas akan kondisi Kayla.

"Gak apa-apa, bukan salah lo. Gue sendiri yang mau ikut," jawab Kayla datar, mencoba mengatur nada suaranya agar tidak terdengar terlalu lemas.

Mendengar jawaban Kayla, helaan napas lega terdengar dari seberang telepon. "Kay, makasih banyak ya buat yang tadi. Luka lebam di wajah gue udah gak terasa sakit lagi loh sekarang, gara-gara lo yang ngobatin dengan telaten," ucap Gavin dengan nada yang kembali jenaka.

"Lain kali jangan berantem kayak gitu lagi. Gue gak suka," cetus Kayla ketus.

"Oke deh, kalau Princess gue yang ngelarang, gue bakal patuh dan nurut," balas Gavin renyah.

Seketika itu juga, seulas senyuman tipis yang sangat manis terukir di bibir Kayla. Rasa lelah akibat hukuman di sekolah mendadak sirna begitu saja. Di dalam dadanya, sebuah debaran aneh kembali berdegup dengan jauh lebih keras dari biasanya. Perlahan namun pasti, Kayla mulai merasakan kenyamanan yang nyata setiap kali berada di dekat Gavin.

Sementara itu, di lantai bawah, suasana ruang tengah masih terasa hangat. Pak Hendra melirik ke luar jendela kaca besar, lalu beralih menatap istrinya.

"Kamu tadi habis dari mana, Dek? Kok mobil di luar garasi?" tanya Pak Hendra santai, sembari membetulkan posisi duduknya.

Hesti tersenyum manis, mengusap lengan suaminya dengan lembut demi menutupi aksi bolos dan kenakalan putri tirinya tadi siang di sekolah. "Habis dari supermarket, Mas. Ada beberapa keperluan bahan dapur dan bumbu masak yang habis, jadi sekalian aku beli buat persiapan makan malam kita nanti."

Pak Hendra mengangguk-angguk percaya, lalu mengecup kening istri barunya dengan penuh rasa sayang, tanpa menyadari rahasia besar yang sedang disimpan rapat-rapat oleh Hesti demi melindungi keutuhan keluarga baru mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!