NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Perjamuan Terakhir

"Tidak," kata Dewi pelan. "Aku akan masak sesuatu yang jauh lebih baik."

Tirta menatap perempuan itu seperti tidak mengerti.

Selama tiga puluh hari, yang ia pahami hanya pintu gudang, suara napas ibunya, dan zombie yang mencoba masuk. Makanan berarti apa pun yang bisa dikunyah. Air berarti apa pun yang tidak langsung membuat sakit perut. Ia meminta soto ayam bukan karena ingin mewah, tetapi karena itu satu-satunya makanan hangat yang masih diingat ibunya.

Dewi tidak menjelaskan.

Ia hanya berbalik ke dapur.

"Cahaya, saya butuh daftar bahan dari truk pasar. Beras bagus, santan, ayam, daging sapi, cabai hijau, daun singkong kalau ada, telur, bumbu rendang, semua bawa ke dapur. Yang tidak tahu cara cuci beras, jangan masuk."

Cahaya langsung bergerak. "Siap, Mbak Dewi."

Dewi menunjuk dua pembantu dapur. "Air panas. Panci besar. Api kecil stabil. Jangan biarkan orang keluar masuk. Ini bukan makan biasa."

Berita menyebar cepat, tetapi tidak ada yang berani membuat keributan. Bahkan anggota baru yang biasanya mengintip dapur hanya berdiri jauh. Ada sesuatu pada wajah Dewi yang membuat semua orang paham: hari ini dapur bukan tempat pembagian porsi.

Hari ini dapur menjadi tempat menjaga martabat orang sekarat.

Mawar memeriksa Ibu Tirta di ruang makan komunal yang sudah dibersihkan. Cahaya emas tipis masuk ke tubuh perempuan tua itu, hanya cukup untuk mengurangi sakit dan membuat napasnya lebih rata.

Tirta berdiri di samping, tangan masih penuh luka kering.

"Bisa sembuh?" tanyanya, suaranya hampir tidak keluar.

Mawar menatapnya dengan mata basah. Ia tidak berbohong.

"Aku bisa membuat rasa sakitnya lebih ringan. Aku bisa memberi waktu sedikit. Tapi tubuh ibumu sudah terlalu lemah, Tirta."

Tirta menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak ditemukan, bahunya benar-benar turun.

Hendry berdiri di dekat pintu. Ia tidak memberi kata penghiburan kosong. Orang seperti Tirta tidak butuh kebohongan. Ia butuh kepastian bahwa ibunya tidak akan mati di lantai gudang gelap.

Aroma pertama datang dari dapur satu jam kemudian.

Bawang, serai, daun salam, santan, cabai hijau, daging yang dimasak pelan, ayam yang direbus dengan bumbu, dan nasi panas. Dewi memakai hasil pasar dan stok base tanpa ragu. Rendang dimasak lebih cepat dari ideal, tetapi api kecilnya menjaga bumbu meresap. Gulai ayam menguning di panci. Sambal hijau ditumbuk kasar. Daun singkong direbus sampai lunak. Telur balado disusun di piring besar.

Nasi Padang lengkap.

Di akhir dunia, itu lebih dari makanan.

Itu bukti bahwa manusia belum sepenuhnya kalah.

Ketika hidangan dibawa ke ruang makan, seluruh ruangan hening. Raja yang biasanya paling cepat mendekat ke makanan duduk di dekat pintu, kepala menunduk. Nasi berada di bawah kursi, tidak bermain.

Dewi sendiri membawa piring kecil untuk Ibu Tirta.

"Bu," katanya lembut, "saya masak sebisanya. Kalau terlalu pedas, marahi saya nanti."

Perempuan tua itu membuka mata. Bau makanan membuat bibirnya bergerak. Tirta membantu menyangga tubuhnya, tangannya gemetar lebih parah daripada saat melawan zombie.

Dewi mengambil sedikit nasi, sepotong kecil rendang yang sudah dihancurkan lembut, dan kuah gulai.

Mawar menahan sakitnya dengan cahaya tipis.

Ibu Tirta mengunyah sangat pelan.

Lalu ia tersenyum.

Air mata Tirta langsung jatuh.

"Bu?"

Perempuan itu menatap Dewi. Suaranya kecil, hampir hilang. "Ini... lebih enak dari masakan ibu."

Dewi menunduk cepat, pura-pura mengatur piring. Tapi bahunya bergetar.

Beberapa orang di ruangan memalingkan wajah.

Ibu Tirta makan satu suap lagi. Tidak banyak. Tubuhnya tidak sanggup. Tetapi wajahnya berubah. Bukan sembuh. Bukan kuat. Hanya damai.

Ia memegang tangan Tirta.

"Kamu sudah melindungi ibu."

Tirta menggenggam tangannya dengan kedua tangan. "Belum cukup, Bu."

"Cukup." Napas perempuan itu pelan. "Sekarang... lindungi orang lain."

Tirta menggeleng seperti anak kecil. "Jangan ngomong begitu."

"Hidupmu jangan berhenti di pintu gudang."

Kalimat itu membuat Tirta membeku.

Ibu Tirta menatap Hendry. Mungkin ia tidak tahu siapa pria itu. Mungkin ia hanya tahu bahwa anaknya akhirnya tidak sendirian.

"Jaga dia," bisiknya.

Hendry menunduk sedikit. "Saya akan beri dia tempat untuk bertarung dengan benar."

Perempuan itu tersenyum.

Lalu matanya menutup.

Tidak ada jeritan.

Tidak ada darah.

Tidak ada tangan zombie yang mencakar pintu.

Hanya napas terakhir yang sangat pelan, di tengah aroma rendang dan nasi panas.

Seluruh ruang makan hening.

Raja menundukkan kepala lebih rendah.

Tirta tidak bergerak lama. Ia memegang tangan ibunya sampai Mawar perlahan menyentuh bahunya.

"Dia pergi dengan tenang," kata Mawar.

Tirta menunduk sampai dahinya menyentuh tangan ibunya.

Tangisnya tidak keras. Justru karena tertahan, suara itu membuat dada orang-orang di ruangan terasa berat.

Hendry memberi isyarat agar semua orang keluar kecuali Mawar, Dewi, dan beberapa orang terdekat. Tidak ada yang membantah.

Malam itu, Ibu Tirta dimandikan, dibungkus kain bersih, dan dimakamkan di sudut taman yang sudah dipilih untuk pemakaman base. Fajar mencatat namanya di papan kecil. Cahaya menambahkan tanggal. Dewi menaruh semangkuk kecil nasi dan rendang di dekat makam sebelum ditarik pelan oleh Mawar.

Setelah pemakaman, Tirta datang ke halaman utama.

Tubuhnya masih penuh luka. Matanya merah. Tetapi langkahnya tidak lagi seperti orang yang cuma bertahan.

Ia berhenti di depan Hendry, lalu berlutut satu lutut.

"Bos."

Hendry menatapnya. "Di sini orang memanggilku Komandan."

Tirta menunduk lebih dalam. "Komandan. Ibu saya bilang lindungi orang lain. Mulai hari ini, saya ikut Anda."

Halaman sunyi.

"Aku tidak butuh orang yang cuma ingin mati setelah ibunya pergi," kata Hendry.

Tirta mengangkat wajah.

"Aku butuh orang yang bisa hidup cukup lama untuk membuat kematian ibunya berarti."

Tirta menggenggam tangan. "Saya akan hidup. Saya akan bertarung."

Hendry mengangguk. "Mulai besok, kau masuk Elite. Kapten Tempur untuk unit Pencak Silat dan pertarungan jarak dekat. Kau di bawah struktur Komandan, koordinasi dengan Bagus dan Awan."

Bagus menepuk bahu Tirta dengan hati-hati, untuk pertama kalinya tidak terlalu keras. "Selamat datang, Kapten."

Awan mengangguk singkat. "Kita latihan setelah lukamu ditutup."

Dewi berdiri di belakang, mata masih merah. "Dan makan dulu sebelum latihan."

Untuk pertama kalinya, Tirta hampir tersenyum.

Hendry melihat halaman di sekelilingnya. Orang-orang yang menyaksikan bukan hanya melihat rekrutmen. Mereka melihat sesuatu yang lebih penting: di base ini, orang bisa mati sebagai manusia, bukan sebagai sampah kiamat.

Itu membuat loyalitas tumbuh dengan cara yang tidak bisa dibeli poin.

Saat malam hampir selesai, Herman muncul di pintu ruang kerja sambil membawa laptop tua, beberapa buku catatan, dan peta yang penuh tanda.

"Komandan," katanya, kali ini tanpa bercanda. "Saya punya sesuatu yang harus Anda lihat."

Hendry menerima peta itu.

Herman menunjuk lingkaran-lingkaran merah di Jakarta.

"Tentang kelompok-kelompok lain. Dan beberapa dari mereka sudah mulai bergerak ke arah kita."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!