NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang mengabur

Matahari mulai tergelincir ke barat, meninggalkan semburat warna jingga keunguan yang tertutup oleh bayang-bayang pohon perkebunan. Sedan hitam yang mengantarku kembali dari kampus membelah jalanan aspal menuju mansion dengan kecepatan konstan. Di dalam kabin, aroma salep memar yang diberikan Pak Bara tadi pagi masih tercium samar, berbaur dengan wangi jok kulit yang dingin.

Aku menatap punggung tangan kananku. Tanda kemerahan dan bengkak di buku jariku sudah jauh mendingan, rasa linu yang menyiksa semalam kini mereda menjadi denyutan halus yang sesekali muncul. Salep dari Axel ternyata sangat manjur atau mungkin, dia memang tahu betul takaran dari setiap efek tindakan yang dia berikan.

Begitu mobil berhenti di depan, aku segera turun. Langkahku kini tidak sebingung kemarin. Aku mulai memahami ritme tempat ini bergerak cepat, patuhi waktu, dan jangan pernah memicu perhatian.

Namun, begitu aku melangkah masuk ke aula utama, suasana terasa berbeda. Beberapa pengawal yang biasanya berdiri kaku di dekat pilar tidak ada di tempatnya. Hanya ada Pak Bara yang berdiri di dekat pintu menuju ruang kerja timur. Wajah paruh bayanya tampak lebih tegang dari biasanya.

"Nona Aira, Anda sudah kembali," sapa Pak Bara dengan anggukan formal.

"Iya, Pak Bara. Apakah... Tuan Axel ada di dalam?" tanyaku lirih, melirik ke arah pintu kayu ruang kerja yang tertutup rapat.

"Tuan Muda sedang tidak ingin diganggu saat ini, Nona. Ada sedikit...urusan di wilayah dermaga yang harus beliau selesaikan secara internal," jawab Pak Bara dengan intonasi yang dijaga ketat. "Saya sarankan Anda segera naik ke kamar dan beristirahat."

Aku mengangguk patuh. Namun, baru saja aku memutar tubuh untuk menuju tangga, sebuah suara benturan keras terdengar dari dalam ruang kerja Axel, diikuti oleh suara benda pecah yang menghantam dinding.

Prankkk!

Aku tersentak di tempat. Pak Bara bahkan refleks memegang gagang pintu, namun dia menahan diri untuk tidak membukanya. Dari celah bawah pintu yang tebal, aku bisa mendengar suara bariton Axel yang berat, tidak lagi datar seperti biasanya, melainkan sarat akan tekanan amarah yang tertahan.

"Aku tidak peduli siapa yang bermain di belakangku, Bara. Jika ada satu persen saja kebocoran pada sistem logistik minggu ini, pastikan orang itu kehilangan haknya untuk melihat distrik ini lagi," desis Axel dari dalam, suaranya begitu tajam hingga mampu menembus kayu yang tebal.

Langkah kaki Axel terdengar mendekati pintu. Sebelum pintu itu terbuka dan dia mendapati aku sedang berdiri mematung di aula, aku segera berlari kecil menaiki tangga berlari, mengabaikan rasa lelah di kakiku.

Aku masuk ke dalam kamarku di koridor Barat dan menutup pintunya dengan rapat.

Malam merambat terlalu cepat di mansion batu hitam ini. Pukul delapan malam, tidak ada panggilan untuk makan malam bersama seperti biasa.

Pelayan wanita hanya mengetuk pintuku dan mengantarkan nampan berisi makanan ke dalam kamar.

Aku mencoba membaca beberapa lembar diktat kuliah di atas tempat tidur, namun fokusku benar-benar pecah. Pikiran tentang amarah Axel di ruang kerja tadi terus berputar di kepalaku. Pria itu selalu tampak seperti naga yang tenang dan penuh perhitungan, namun mendengar suaranya yang dipenuhi amarah siang tadi membuatku tersadar bahwa aku sedang tinggal satu atap dengan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Karena merasa gerah dan gelisah, aku memutuskan untuk melangkah keluar ke balkon kamar. Angin malam yang dingin langsung menerpa wajahku, menerbangkan rambut hitam panjangku yang tergerai. Dari ketinggian lantai dua ini, aku bisa melihat hamparan perkebunan yang gelap, diselimuti kabut putih yang perlahan turun.

Klek.

Suara pintu balkon di sebelah kamarku balkon ruang kerja pribadi milik Axel terdengar dibuka aku menoleh perlahan, menahan napas.

Di sana, hanya terpisah oleh jarak sekitar tiga meter, Axel Reynard sedang berdiri bersandar pada pagar pembatas besi. Dia telah menanggalkan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka lebar dan lengannya digulung kasar hingga ke siku. Di jemarinya, sebuah siluet silinder tipis memancarkan bara merah kecil di kegelapan malam, mengembuskan asap tipis yang langsung pudar terbawa angin.

Wajah tegasnya yang terpapar cahaya bulan tampak begitu lelah, dengan rahang yang mengeras penuh beban pikiran. Tato ular di lehernya terlihat samar, bergerak mengikuti helaan napasnya yang berat.

Aku hendak melangkah mundur, masuk kembali ke dalam kamar sebelum dia menyadari keberadaanku. Namun, gesekan kain piyama satin hitamku di lantai balkon rupanya tertangkap oleh indra pendengarannya yang tajam.

Axel menoleh mata hitamnya yang pekat langsung mengunci posisiku di kegelapan.

"Kau belum tidur?," tanyanya suaranya rendah, tidak ada nada intimidasi yang frontal seperti biasanya, melainkan sebuah nada serak yang terdengar... asing di telingaku.

"Belum, Tuan Axel. Saya... saya baru saja mau masuk," jawabku gugup, meremas jemariku sendiri di depan dada.

Axel tidak menyuruhku masuk. Dia justru membuang sisa baranya ke bawah, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Dia menumpukan kedua sikunya di pagar pembatas, menatapku dari kejauhan jarak balkon kami.

"Tanganmu... bagaimana?" tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuatku tertegun sejenak. Aku mengangkat tangan kananku sedikit, memperlihatkannya di bawah cahaya bulan.

"Sudah jauh lebih baik, Tuan. Salep dari Pak Bara sangat membantu."

"Itu salepku, bukan salep Bara," potongnya datar. "Aku yang menyuruhnya memberikan itu padamu."

Aku menelan ludah, merasakan sensasi hangat yang aneh mendadak menyusup di dadaku. "Kalau begitu... terima kasih, Tuan Axel."

Axel diam tidak menyahut. Dia kembali menatap lurus ke arah kegelapan hutan di depan kami. Keheningan di antara balkon kami terasa begitu panjang, namun anehnya, kali ini tidak terasa mencekam seperti biasanya. Kabut malam yang dingin perlahan turun di antara kami, seolah menyamarkan batas tegas antara seorang tawanan dan pemiliknya.

Melihatnya berdiri sendirian di sana, di bawah tekanan dunianya yang keras, aku menyadari satu hal di balik keangkuhan dan kekejamannya, ada beban raksasa yang sedang dipikul oleh pundak pria itu. Dan untuk pertama kalinya sejak aku menginjakkan kaki di mansion ini, rasa takutku padanya sedikit bergeser, menyisakan rasa ingin tahu yang mendalam tentang apa yang sebenarnya tersembunyi di balik mata hitamnya yang kosong.

Axel membuang napas perlahan, asap tipis terakhir menguar dari sela bibirnya sebelum hilang ditelan angin malam. "Masuklah. Udara malam ini tidak ramah untuk kulitmu,"

ucapnya dingin, memecah keheningan singkat di antara kami.

Aku mengangguk pelan, berbalik melangkah masuk ke dalam kamar. Di balik pintu yang tertutup, aku menyentuh dadaku yang berdegup aneh. Batas di antara kami perlahan mulai mengabur.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!