"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan yang berbahaya.
Suasana tegang terjadi di ruang tamu rumah Bintang, tapi seisi rumah seakan enggan untuk ikut campur, Melisa dan Doni tampak tak ada niatan melerai pertikaian Bintang dan Luna di bawah.
“Bintang, gue ini masih pacar lo.”
“Kita sudah putus, jauh sebelum Rain meninggal, harusnya lo sadar kalau gue ini hanya memanfaatkan lo, gue gak pernah cinta sama lo.”
Luna menatap tajam mata Bintang yang kini berada di depannya. “Oh jadi gini sekarang lo memperlakukan gue, setelah gue gak ada manfaatnya buat lo. Gue tau kok kalau Rain sekarang masih hidup hanya dia amnesia, gue juga tahu namanya sekarang.”
“Kalau lo tahu bagus, harusnya sekarang lo bisa melepaskan gue karena lo tahu gue ini pria beristri.”
“Melepaskan lo? Mimpi. Gue gak akan melepaskan lo, gue akan buat Black ingat seberapa mesranya kita, seberapa gak pedulinya lo sama Black saat dulu lo sama gue.”
“Silahkan, gue gak takut sama ancaman lo. Silahkan lakukan semua hal yang ingin lo lakukan, satu yang harus lo ingat siapa saja orang yang ada disekeliling Black.”
Bintang sangat pede jika Luna tak akan mampu menyakiti Black dengan banyaknya penjagaan yang ada di sekeliling Black.
“Ok kalau itu mau lo, gue akan tunjukkan kalau gue bisa berbuat lebih dari yang Helena lakukan,” Ucap Luna lalu pergi keluar.
Saat Luna keluar, dia ditarik sama Hexa ke tembok dan dia menekan leher Luna dengan lengannya. “Sampai lo lakukan semua yang lo katakan tadi, akan gue buat keluarga lo mendekam di penjara, ingat! Gue menyimpan semua rahasia lo dan keluarga lo.”
Semakin lama tekanan lengan Hexa semakin kencang membuat Luna susah bernafas. “Le-pa-sin,” Gagap Luna.
“Gue akan lepasin lo tapi gue akan tetap mengawasi lo, sampai lo macem-macem sama Black gue akan menepati ucapan gue tadi, PAHAM?”
“Pa-ham.” Hexa melepaskan tangannya dan mendorong Luna keluar.
“Hexa, tunggu pembalasan gue, lo pikir gue takut sama ancaman lo, tidak sama sekali,” Bisik Luna lalu pergi.
Hexa masuk dan menemui Bintang yang sekarang sedang tiduran dengan nyaman di kasurnya, tanpa permisi Hexa masuk ke kamar Bintang dan dengan tiba-tiba memukul Bintang.
“Lo apa-apaan sih, pulang-pulang main pukul saja?” Bintang berdiri dan ikut menatap tajam Hexa yang sekarang sudah kembali mengepalkan tangannya.
“Harusnya gue yang nanya lo kenapa nantang Luna kaya gitu? Lo gak lupa siapa Luna kan?”
“Gue gak lupa gimana Luna tapi gue yakin mereka yang ada disekeliling Black pasti bakal melindungi Black juga kok, mereka semua orang yang berbahaya, Luna juga akan mikir dua kali kalau mau nyerang Black kali.”
“Seyakin itu lo? Lo gak lupa kalau Luna dulu pernah ngerusakin rem mobil lo yang lagi dinaiki Black dan mama? Lo juga gak mungkin lupa kalau Luna pernah menggagalkan proyek yang lagi Black kerjakan padahal dia tahu kalau itu proyek lo, proyek yang sudah lo dan Black usahakan? Lo gak lupa kan?”
Bintang diam sesaat, bayangannya terbang membayangkan kejadian yang sudah Black alami karena Luna.
“Dulu Black gak punya penjaga kaya sekarang, dia sekarang sudah berada di tengah orang-orang yang berbahaya.”
“Alvin dulu juga sudah ada dihidup Black, tapi saat itu dia juga gagal melindungi Black, tidak selamanya yang lo yakini akan terjadi, mereka semua juga manusia, cukup lo tidak memancing sesuatu yang bisa membahayakan Black, tapi apa sekarang? selain Helena lo malah menambah Luna, orang yang jauh lebih berbahaya dari Helena.”
Bintang masih ngeyel, pikirannya tetap gak bisa menerima jika tantangannya pada Luna malah mengancam keselamatan Black, dia tidak bisa menerima jika dia sedang mengundang bahaya untuk Black.
“Lo gak lupa juga kalau Black itu lagi hamil besar kan? Dia lagi hamil anak lo, lo gak berfikir kalau sampai Luna mendorong Black dari belakang apa yang akan terjadi pada Black, kehamilan Black masih di masa rentang, dia hamil kembar masih lima bulan, kalau sampai terjadi apapun sama bayinya, gak akan ada kata dilahirkan prematur saja, gak akan Bintang.”
Hexa sudah sangat geram, dia sudah frustasi menghadapi Bintang yang belum bisa dia sadarkan juga.
“Harus dengan cara apa lagi gue menyadarkan lo kalau apa yang lo lakukan tadi itu akan mengancam keselamatan Black, kok bisa gue punya kakak sebe*o lo, apa sampai sekarang dipikiran lo hanya ada cara menyakiti Black doang tanpa ada cara buat jagain dia kah?”
Bintang masih saja diam, dia masih mencerna semua ucapan Hexa tapi fokusnya hanya ada pada kalimat “Dia hamil kembar masih lima bulan.” Kalimat itu sudah mengkonfirmasi kalau anak yang Black kandung itu anaknya dan dengan kata lain dia sudah membahayakan istri dan anak-anaknya, tanpa dia sadar dengan ucapan Hexa yang jelas-jelas sudah bilang kalau anak yang Black kandung itu anaknya.
“Lo bisa lacak lokasi Black sekarang dimana gak?” Ucap Bintang sambil memberikan laptop ke tangan Hexa.
“Akhirnya lo sadar juga, setelah gue hampir nangis baru sadar juga lo, kalau sampai lo gak sadar gue nangis beneran,” Hexa ngomel sambil tangan dan matanya fokus ke laptop.
“Ketemu, alamatnya udah gue kirim ke nomor lo, dia sekarang lagi gak sama penjaganya. Dia hanya bersama karyawannya. Satu lagi, Luna sekarang lagi menuju ke tempat Black berada.”
Bintang menyambar jaket dan kunci mobilnya lalu berlari turun dan pergi menggunakan mobil merah kesayangannya.
Bintang mengendarai mobil dengan sangat kencang, pikirannya sudah sangat kacau, dia tau apa yang sekarang mungkin akan Luna lakukan.
“Luna bang*at, jangan lo lukain Black atau gue yang akan membunuh lo dengan tangan gue sendiri.” Bintang memukul stir berkali-kali, merutuki kebodohannya yang sangat bodoh.
Bintang sampai di butik tempat Black sekarang berada, Black sedang mengawasi gaun yang akan dikirimkan ke pelanggannya di depan butik.
Tampak dari jauh dibelakang Black terlihat sebuah mobil melaju kencang menuju ke arahnya yang tanpa Black sadari mobil itu semakin mendekat.
“BLACK AWAS.”
BRUKK.
“BINTANG.”
Untuk kedua kalinya Bintang menolong Black saat dia akan ditabrak mobil tapi sekarang dia tidak selamat, Bintang terpental jauh ke tengah jalan dan sempat diseret mobil lain sekitar sepuluh meter sebelum akhirnya terlepas dan badannya tergeletak ditengah jalan.
Black menangis histeris sambil berjalan menuju Bintang yang sudah tak sadarkan diri, beberapa karyawan ikut lari dan memanggil ambulans.
“Kenapa lo tolong gue, Bintang bangun jangan tinggalin gue.” Darah terus mengalir dan membasahi badan Black yang sekarang sedang memangku kepala Bintang.
“MANA AMBULANCENYA?”
“Ambulance sebentar lagi bakal sampai, lo tenang dulu Black,” Sandra berusaha menenangkan Black yang sudah menangis tak karuan
Tak lama ambulance datang dan Bintang langsung dibawa menggunakan ambulans, Black menemani Bintang di dalam ambulance sambil ditemani Sandra.
“Bintang bangun, gue kan belum balas semua sakit hati gue, masa gue harus kehilangan lo, dulu gue yang ninggalin lo, sekarang lo mau balas dendam sama gue?”
‘Black, gue tahu kok lo masih ada cinta untuk Bintang meski kebencian lo lebih dalam dari pada cinta lo,’ batin Sandra.
BERSAMBUNG.