Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2.
Di teras Salindra duduk sendirian menatap lurus ke jalanan becek setelah hujan semalam. Berharap seseorang datang sambil tersenyum dan memeluknya dengan hangat.
Pagi yang sunyi dan jalanan sepi membuat suasana seolah senyap, tak ada seorangpun lewat seperti biasanya. Membuat badan malas beraktifitas, meskipun begitu tetap melanjutkan berbagai aktifitas karena orang membutuhkan segala kebutuhan hidup.
Hati salindra berdesir mengingat perkataan kakaknya dan menampik seolah semua tidaklah benar. Ia merasa yakin ayah dan ibunya masih bersatu dan mereka akan pulang dan berkumpul lagi.
Mengingat foto pemberian kakaknya membuatnya ragu akan keaslian foto tersebut. Ingin menyangkal tidak punya bukti yang kuat dan tidak melihat sendiri perselingkuhan kedua orangtuanya. Salindra merasa tidak punya semangat hidup.
"Jadi selama ini mereka pulang hanya untuk menutupi kebohongan yang mereka buat sendiri?" batin Salindra.
"Kakak berangkat kerja dulu, kalau kamu mau cari lowongan pekerjaan lebih baik cari sesuai dengan pendidikan mu," kata Jayanti berpamitan lalu meninggalkan rumah dengan mengendarai motor miliknya.
Jayanti, bekerja di sebuah pabrik, setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan, sekarang menjabat sebagai mandor. Dia sangat profesional dalam menjalankan tugasnya.
Banyak karyawan lain merasa senang karena sifatnya yang baik meskipun agak keras, ada juga yang tidak suka padanya dan pernah bersitegang dengan karyawan lain yang beda jabatan karena kedekatannya dengan orang paling berpengaruh di pabrik tempatnya bekerja.
Salindra hanya mengangguk menanggapi perkataan kakaknya. Ia melihat kakaknya menjauh, lalu menghilang di balik pagar rumah tetangga. Salindra menarik napas berat sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
Salindra sudah siap dengan pakaian rapih ala orang yang mau melamar pekerjaan. Ia sudah memantapkan diri melamar di berbagai tempat.
Salindra tidak asal memilih tempat bekerja dan berusaha agar bisa di terima di sebuah perusahaan, atau dimanapun, karena yang ia pikirkan saat ini adalah di terima. Baginya di terima kerja saja sudah merasa senang yang penting pekerjaan itu halal.
Selama perjalanan Salindra melihat dan memasuki beberapa tempat siapa tahu ada lowongan. Namun, selama berjam-jam tidak ada perusahaan yang menerimanya. Salindra tidak patah semangat, Ia tidak mau bekerja di satu perusahaan dengan kakaknya karena dilarang oleh pemilik perusahaan dan di sana peraturan sangatlah ketat.
Hari menjelang sore Salindra pulang ke rumah. Baru saja akan masuk seseorang memanggilnya membuat Salindra terdiam, ia merasa mengenali suara itu. Seperti suara ibunya yang sudah lama tidak terdengar di telinganya.
"Salindra," panggilnya lagi.
Baru lah Salindra menoleh ke belakang, ia melihat perempuan yang lama tidak bertemu. Ada rasa rindu di relung hatinya, airmata Salindra tertahan di kelopak mata.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Salindra, antara percaya dan tidak ingatannya kembali pada ucapan kakaknya beberapa waktu lalu. Sekarang dihadapannya ada seorang perempuan mendekatinya dan menangkup wajahnya. Salindra terdiam sesaat tanpa berkedip melihat perempuan tersebut.
Perempuan itu memeluk Salindra begitu erat sambil berderai airmata. Salindra merasakan pelukan itu terasa dingin dan hampa, tidak ada nyaman atau ketenangan. Tidak ada balasan dari Salindra dan tidak ada suara sedikitpun dari mulutnya.
Baginya perasaan itu seperti angin yang menyapu debu kotor, membawanya pergi entah kemana. Perempuan itu melepaskan pelukannya karena tidak merasakan balasan dari Salindra kemudian menatap Salindra lekat.
“Katakan padaku, apa yang terjadi antara ibu dan ayah?" tanya Salindra dengan suara bergetar.
Perempuan bernama Kamila menatap Salindra lekat sambil menggenggam tangan Salindra yang terasa hangat. Rasa rindu dalam hatinya terasa berat dan menyiksa.
"Jawab pertanyaan ku se ka rang," kata Salindra penuh penekanan menatap tajam ibunya.
“Bolehkah ibu masuk?," tanya ibunya.
“Bolehkah aku menyebut namamu, Kamila?" tanya Salindra dengan berani.
Perempuan itu terkejut sekaligus sedih, ada rasa sakit di ulu hatinya mendengar anaknya menyebut namanya bukan panggilan sehari-hari yaitu “IBU".
“Apa kamu tidak mengajak ibu masuk dan bicara baik-baik?“ Kamila mencoba berdamai dengan keadaan.
Salindra berjalan masuk ke rumah dan duduk tanpa menyuruh ibunya duduk. Kamila menyapu seluruh sudut rumah ketika melihat foto dalam figura di dinding dadanya berdenyut nyeri.
Salindra mengikuti arah pandang ibunya. “Kami masih berharap ayah dan ibu kembali pulang, tapi_"
Salindra tidak meneruskan kalimatnya memilih diam, sementara ibunya menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan Salindra. "Apa?"
Pertanyaan itu bukan mengarah pada apa yang dirasakan Salindra tapi sebatas keingintahuannya, Salindra menatap wajah ibunya dan tersenyum tipis, sorot matanya berubah dingin seolah ingin mengusir ibunya.
Kamila bergeming dadanya merasakan sesak melihat perubahan sikap dan pandangan Salindra. “Ayah dan ibu sudah berpisah dan mempunyai keluarga baru, jadi untuk apa berharap,"
"Kamu sudah tahu, pasti kakak kamu yang memberitahu iya kan!“ kata Kamila tersenyum tipis, ia sudah menebak kalau Jayanti memberitahu Salindra tentang perpisahan kedua orang tuanya.
Jayanti sedari kecil punya sifat dendam yang tersembunyi tapi selalu pintar berkelit dan berbohong demi keinginannya terpenuhi. Kamila ingin membawa Salindra pergi dari rumah itu. Tapi Jayanti tidak mengijinkannya dengan alasan Salindra masih terlalu kecil ikut campur urusan orang dewasa.
Hari ini Kamila sengaja datang sebelum Jayanti pulang, karena ia tahu kalau Jayanti tidak akan mengijinkan dirinya bertemu dengan Salindra.
"Kamu tidak tahu kakakmu seperti apa di balik sikap baiknya, ibu yang sudah melahirkannya saja diusir dari rumah. Dia sudah berani melawan ibu, Salindra. Harusnya kamu bisa berpikir realistis," Kamila terisak sampai sesenggukan melihat perlakuan kedua anaknya kepadanya.
“Jangan memutar balik fakta, ibu dan ayah hanya mementingkan diri kalian sendiri, cukup lebih baik urus saja keluarga baru kalian, biarkan kami jalani kehidupan kami sendiri, kami juga ingin bahagia dengan cara kami," Salindra merasa tidak sanggup melihat ibunya.
Dulu keluarga mereka terlihat harmonis tetapi nasib keluarga tidak ada yang tahu, ayahnya bekerja di luar kota sering menjanjikan sesuatu tapi, tidak pernah ada bukti. Selalu saja membuat kedua anaknya kecewa.
Di saat Salindra ingin keluarganya berkumpul baik ayah atau ibu membuat alasan yang tidak masuk akal sampai Jayanti menggadaikan barang yang ada di dalam rumah di jual untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama Salindra. Mau dibawa kemana arah rumah tangga seperti itu, orang tua yang terlalu egois dan tidak memikirkan perasaan kedua anaknya.
"Ibu mohon sama kamu, tinggallah bersama ibu, agar ibu bisa tenang melihat keadaan kamu setiap hari," pinta Kamila sambil menangkupkan kedua tangannya di depan Salindra.
“Apa ibu bisa menjamin hidupku akan lebih baik dari ini?“ tanya Salindra merasa bimbang.
"Ibu akan penuhi semua keinginanmu,“ sahut Kamila dengan cepat wajahnya sangat senang mendengar perkataan Salindra seolah ada harapan di sana.
Salindra mengerutkan dahi menatap wajah ibunya yang sangat antusias mengharapkan dirinya agar bersamanya. Ia tidak bisa percaya begitu saja setelah mendengar perkataan kakaknya bahwa ibu dan ayah sudah bercerai.
“Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang pria berbadan tegap berparas tegas menatap Kamila tidak suka.
Kamila langsung berdiri dan tubuhnya bergetar, bibirnya terkatup tanpa suara seperti ada yang menyuruhnya diam. Ia melihat nyalang suaminya merasa ketakutan. Tapi ia bersikap biasa agar tidak diketahui pria tersebut.