NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror Malam Pertama dan Benteng Cahaya

Malam perlahan-lahan melarut di batas Desa Beringin Sakti. Udara pedesaan yang sejuk kini berubah menjadi dingin yang menusuk tulang, membawa kabut tipis dari kedalaman Hutan Sangker untuk menyelimuti halaman pondok bambu milik Anisa. Di dalam ruang tengah yang diterangi cahaya temaram dari lampu minyak petromak, suasana hangat justru terasa begitu kental.

Silvia Wang duduk berdekatan dengan Anisa di atas tikar pandan yang bersih. Sejak selesai makan malam dengan menu sederhana berupa sayur lodeh dan sambal ulek khas pedesaan, Silvi tidak pernah beranjak dari sisi gadis berhijab itu. Remaja yang biasanya manja dan rewel ini tampaknya benar-benar ingin mengenal lebih dalam sosok gadis yang telah berhasil mengunci hati abangnya.

Silvi mengamati setiap gerak-gerik Anisa dengan cermat. Mulai dari cara Anisa berbicara yang begitu lembut tanpa pernah meninggikan nada suara, caranya tersenyum yang meneduhkan, hingga bagaimana telatennya gadis itu melayani para tamu kota dengan kesopanan yang luar biasa. Karakteristik Anisa yang begitu kalem, tulus, dan memiliki akhlakul karimah yang murni seketika meruntuhkan seluruh standar tinggi yang ada di kepala Silvi.

Meskipun Anisa bukanlah anak dari keluarga konglomerat atau model kota yang modis, Silvi langsung memberikan restu seratus persen di dalam hatinya. Bagi Silvi, Anisa adalah sosok kakak ipar impian yang jauh lebih berharga daripada ratusan gadis kota yang angkut seperti Jennie.

Sekitar pukul sembilan malam, suasana di dalam pondok mulai sunyi. Jovanka dan Zenix sedang berada di ruang belakang, sementara Sasti tampak mulai mengantuk dan beristirahat di sudut ruangan. Merasa sedikit gerah di dalam ruangan, Silvi akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar. Ia berjalan menuju teras depan dan memilih untuk duduk sendirian di atas bale-bale bambu, menikmati kesunyian malam pedesaan.

Silvi menengadahkan kepalanya ke atas. Di langit malam yang bersih tanpa polusi udara seperti Jakarta, hamparan bintang-bintang bertaburan dengan sangat indahnya, mengelilingi rembulan yang bersinar terang benderang. Silvi tersenyum, menghirup udara malam yang terasa sangat bersih. Ia merasa kedamaian di tempat ini benar-benar luar biasa.

Namun, kesenangan murni itu ternyata tidak berlangsung lama.

Wuuuuss...

Sebuah hembusan angin yang sangat dingin mendadak bertiup dari arah barat, membuat bulu kuduk Silvi seketika berdiri tegak. Bersamaan dengan tiupan angin tersebut, sebuah aroma yang sangat busuk menyengat indra penciumannya. Bau itu begitu pekat, seperti perpaduan antara bangkai binatang yang sudah membusuk berhari-hari dan tanah kuburan yang basah. Silvi spontan menutup hidungnya dengan tangan, mendengus jijik. "Bau apa sih ini? Kok busuk banget?" gumamnya tidak nyaman.

Karena penasaran, pandangan mata Silvi bergerak menyapu halaman hingga berhenti pada barisan pepohonan pisang yang tumbuh lebat, yang menjadi pembatas alami antara halaman pondok Anisa dengan kegelapan Hutan Sangker. Di balik remang-remang bayangan daun pisang yang bergoyang, Silvi menangkap sebuah siluet putih tegak yang berdiri kaku.

Awalnya, gadis remaja itu mencoba berpikir positif. Ia mengira itu hanyalah kain jemuran yang lupa diangkat atau pantulan cahaya bulan pada batang pohon. Namun, rasa penasarannya memaksa Silvi untuk mempertajam pandangannya, menatap lekat-lekat ke arah siluet putih setinggi dua meter tersebut.

Detik itu juga, darah di dalam tubuh Silvi seolah berhenti mengalir.

Siluet putih itu terbungkus oleh kain kafan yang tampak kotor, penuh bercak tanah merah dan robek di beberapa bagian. Bagian ujung atasnya terikat simpul tali pocong yang kaku. Dan yang paling mengerikan adalah ketika makhluk itu perlahan bergeser keluar dari balik daun pisang, menampakkan bagian wajahnya yang terbuka. Wajah makhluk itu sama sekali tidak berbentuk manusia lagi kulitnya hitam legam dan gosong seperti habis dibakar, dengan mata yang melotot putih tanpa kornea, serta cairan kental berbau busuk yang terus menetes dari sela-sela giginya yang hancur.

Itu adalah sesosok pocong dengan wajah gosong yang sangat mengerikan.

"AAAAAAAHHHHHHH!!! ABANG!!! TOLONG!!!"

Jeritan melengking yang penuh dengan rasa histeris dan ketakutan luar biasa dari Silvi seketika memecah kesunyian malam Desa Beringin Sakti, bergema menembus dinding-dinding bambu pondok.

BRAAAKKK!

Pintu pondok bambu langsung terbuka kasar. Zenix melompat keluar paling depan dengan wajah penuh kepanikan, disusul oleh Jovanka, Sasti, dan Anisa yang berlari di belakangnya.

"Silvi! Ada apa?!" bentak Zenix panik, langsung menghampiri adiknya yang kini sudah terduduk lemas di atas bale-bale dengan tubuh yang gemetar hebat laksana orang tersengat listrik.

Silvi tidak berani membuka matanya lagi. Gadis remaja itu memejamkan mata rapat-rapat, menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi di balik kedua telapak tangannya. Namun, jari telunjuk tangan kanannya yang gemetar terus menunjuk dengan lurus ke arah rimbunan pohon pisang di ujung halaman. "I-Itu... Abang... di sana... ada hantu kain kafan... wajahnya gosong... takut, Bang! Takut!!!" Tangis Silvi pecah seketika.

Zenix, Jovanka, Sasti, dan Anisa serentak membalikkan badan mereka, mengikuti arah telunjuk Silvi. Dan benar saja, di bawah temaram cahaya bulan, sesosok pocong berwajah gosong itu masih berdiri kaku di sana, menatap lurus ke arah mereka dengan pandangan kebencian yang murni.

"Astaghfirullahaladzim!!!" teriak Sasti histeris. Gadis kota itu langsung melompat mundur, wajahnya ikut memucat dan dengan cepat ia bersembunyi di balik punggung tegap Jovanka sembari memegangi jaket cowok itu dengan erat. Bahkan Jovanka sendiri langsung meneguk ludahnya dengan berat, melangkah mundur satu langkah sembari mengepalkan tangannya, mencoba mengusir rasa takut yang mendadak menyerang otaknya.

Melihat teror nyata yang mulai mengancam ketenangan para tamunya, Anisa langsung mengambil tindakan tegas. Wajah cantiknya tampak tenang namun memancarkan ketegasan yang mutlak. "Mas Zenix, Mas Jovan, bawa Dek Silvi dan Mbak Sasti masuk ke dalam pondok sekarang! Cepat!" perintah Anisa dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.

Zenix tanpa membuang waktu langsung menyambar tubuh mungil adiknya, menggendong Silvi yang masih menangis ketakutan, sementara Jovanka menarik lengan Sasti. Mereka berempat bergegas masuk ke dalam ruang tengah pondok, diikuti oleh Anisa yang langsung menutup pintu jati tebal dan menguncinya dari dalam.

Namun, teror rupanya belum berakhir hanya dengan menutup pintu. Begitu mereka semua berkumpul di ruang tengah yang sempit, suasana di luar pondok mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Udara di dalam ruangan terasa semakin dingin hingga embun napas mereka mulai terlihat.

BLUUMMM... BLUUMMM... BLUUMMM...

Sebuah suara langkah kaki yang sangat besar, berat, dan menggema di dalam tanah mendadak terdengar dari arah luar. Suara itu terdengar seperti ada sesuatu yang berukuran raksasa atau sekelompok mahluk yang melompat secara bersamaan, membuat lantai bambu pondok yang mereka pijaki bergetar pelan. Suara langkah gaib itu terus berputar-putar di sekeliling dinding luar pondok, seolah-olah sedang mengepung mereka dari segala arah.

Mendengar ancaman mistis yang kian nyata tersebut, Anisa tidak tinggal diam. Gadis suci itu berjalan cepat menuju meja kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah kitab suci Al-Qur'an berukuran besar yang mushafnya sudah sering ia baca. Anisa kembali duduk di tengah tikar pandan, membuka lembaran kitab suci tersebut di bawah temaram lampu petromak.

"Mas Zenix, Mas Jovan, Mbak Sasti... mari kita semua duduk melingkar. Tolong jangan putus membaca selawat dan surah-surah pendek Al-Qur'an yang kalian hafal, meskipun itu hanya surah Al-Fatihah atau Ayat Kursi. Kuatkan hati kalian, jangan biarkan rasa takut menguasai pikiran, karena mahluk di luar hanya mengincar kelemahan batin kita," ujar Anisa dengan suara yang begitu tenang, meneduhkan, dan berwibawa, bertindak sebagai jangkar ketenangan di tengah badai teror.

Zenix yang duduk di samping adiknya langsung mengambil posisi tegap. Pemuda itu memejamkan mata, dan dari bibirnya yang biasa mengucapkan kalimat dingin, kini mulai mengalir bacaan surah Al-Fatihah dan selawat nabi dengan nada yang berat namun khusyuk. Jovanka dan Sasti yang ketakutan pun langsung mengikuti, membaca ayat-ayat pendek sebisanya dengan suara yang bergetar namun terus berulang, menciptakan perisai spiritual kolektif di dalam ruangan tersebut.

Anisa kemudian mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari surah Al-Baqarah dan surah Yasin dengan suara yang sangat merdu, bergema memenuhi setiap sudut pondok bambu, menjadi penolak bala yang sangat kuat.

Sementara di dalam pondok dipenuhi oleh lantunan ayat suci, pertempuran nyata di dimensi gaib justru sedang meletus hebat di luar halaman.

Kabut hitam dari Hutan Sangker mendadak menjalar cepat, mencoba menembus pagar bunga kuning milik Anisa. Dari balik kabut hitam tersebut, muncul bukan hanya satu, melainkan belasan bahkan puluhan sosok pocong berwajah gosong dengan mata putih melotot. Mereka adalah mahluk-mahluk kiriman atau manifestasi sisa dari energi negatif yang mencoba mendobrak benteng kesucian pondok Anisa. Mahluk-mahluk mengerikan itu melompat maju secara bersamaan, memancarkan aura kematian yang pekat.

Namun, tepat saat barisan pocong gosong itu hendak menyentuh garis pagar halaman, sebuah ledakan cahaya putih keemasan mendadak muncul dari dalam tanah.

SHUUUUUTTT...

Tiga sosok roh pelindung suci seketika menampakkan wujud spiritual mereka di udara halaman. Di sebelah kanan, berdiri Sang Kakek dengan janggut putihnya yang memancarkan aura kebijaksanaan penyembuh. Di sebelah kiri, berdiri Sang Ayah dengan jandanya yang gagah memegang sebilah keris pusaka gaib yang berkilat keemasan. Dan tepat di bagian tengah, muncul sesosok wanita gaib berwajah sangat cantik jelita dengan pakaian kemben hijau kerajaan kuno dialah Nyi Seruni, sosok khodam leluhur penjaga kesucian Hutan Sangker yang telah berjanji melindungi garis keturunan Anisa.

"Mahluk-mahluk hina... berani-beraninya kalian mencoba mengotori kesucian tempat ini!" gema suara Nyi Seruni terdengar sangat melengking dan penuh amarah di dimensi gaib.

Sang Ayah melangkah maju, menghunuskan keris pusakanya ke udara. Dengan satu kali tebasan spiritual yang cepat, sebuah gelombang energi pemotong berbentuk sabit emas melesat ke depan, langsung menghantam barisan depan para pocong gosong tersebut.

BLAAAARRR!!!

Mahluk-mahluk terkutuk itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara jeritan. Begitu tubuh gaib mereka bersentuhan dengan gelombang cahaya suci dari Sang Ayah dan Sang Kakek, tubuh-tubuh kafan yang kotor itu seketika meledak dan terbakar oleh api putih yang sangat panas, hancur lebur menjadi tumpukan abu hitam yang langsung ditiup angin malam hingga lenyap tak berbekas.

Nyi Seruni kemudian mengentakkan kaki kanannya ke atas tanah halaman. Sebuah dinding benteng cahaya setinggi lima meter seketika memancar mengelilingi seluruh area pondok Anisa, menciptakan benteng pemisah yang mutlak. Sisa-sisa pocong gosong yang mencoba menerobos langsung terhempas hebat ke belakang, tubuh mereka hancur berkeping-keping menjadi abu sebelum sempat menyentuh sehelai pun daun tanaman obat milik Anisa.

Keadilan alam dan kekuatan pelindung gaib telah bekerja dengan sempurna. Hanya dalam hitungan menit, puluhan mahluk teror malam itu telah musnah sepenuhnya dari halaman pondok tanpa sisa, tunduk di bawah kedahsyatan restu dua alam yang menjaga kesucian gadis berhijab itu.

Di dalam ruang tengah, seiring dengan selesainya ayat terakhir yang dibacakan oleh Anisa, getaran pada lantai bambu dan suara langkah kaki besar di luar pondok mendadak berhenti total. Suara jangkrik dan kodok sawah perlahan-lahan kembali terdengar, menandakan bahwa atmosfer malam telah kembali normal dan bersih.

Silvia yang tadinya menangis histeris perlahan membuka matanya. Rasa takut yang mencekam di dadanya mendadak hilang, digantikan oleh rasa hangat dan kantuk yang luar biasa yang menjalar di tubuhnya setelah mendengar kemerduan lantunan ayat suci Anisa.

"Abang... suaranya udah hilang ya?" tanya Silvi dengan suara yang lemas karena kelelahan emosional.

Zenix membuka matanya, mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Iya, sudah aman. Semuanya sudah selesai," jawab Zenix dengan pandangan mata yang langsung beralih menatap Anisa dengan rasa kagum dan cinta yang kian sedalam samudra.

Malam ini, di bawah teror nyata yang pertama kali disaksikan oleh mata kepala adiknya sendiri, Zenix dan seluruh sahabatnya kembali disadarkan bahwa di dalam gubuk bambu sederhana ini, mereka tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga sebuah perlindungan suci yang tak akan pernah bisa ditembus oleh kegelapan dunia mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!