Velica seorang artis terkenal yang iseng membaca novel bertema " Gadis seindah musim semi " yang sedang booming dengan banyak sanjungan banyak orang. Bukannya menyanjung, Velica justru mengkritik tokoh utama novel tersebut yang menurutnya terlalu menganiaya sang antagonis.
"Kasihan sekali Clarissa ini, Padahal Robert itu tunangannya, Tetapi mengapa ia harus di benci karna marah ketika tunangannya berselingkuh." Ujarnya kesal.
"Padahal Clarissa punya segalanya, Ia juga melakukan semuanya untuk Robert, Robert itu lah yang tidak tahu diri. Sudah di bantu dia malah menyukai anak dari seorang pelayan, Sih Nadia itu!"
"Jika aku menjadi Clarissa, Sudah ku buat kedua orang itu kehilangan wajahnya di muka umum, Beraninya dia yang seorang pemuda miskin memperlakukan Clarissa begini!" Velica melempar novel itu dengan kesal.
Tak lama, Novel itu terbuka sendiri...membuat Velica masuk ke dalam nya. Jika penasaran cuss langsung baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Aku menang ( Clarissa)
...Chapter 34...
...----------------...
Nola mengusap wajahnya kasar, Ia berada di toilet perempuan seorang diri. Setelah membasuh wajahnya gadis itu kembali memakai riasan wajahnya.
"Ada apa, Kau itu cuma anak tiri keluarga Rolan. Jika ibumu tidak merayu, Bagaimana bisa kau berada di posisi ini. Kau itu sama denganku."
"Tidak, tidak…tidak, aku bukanlah anak pelayan lagi, Aku seorang putri keluarga kaya. Bukan pelayan lagi."Ucapnya meyakinkan diri. Ia menatap cermin dengan yakin.
Drrttt....drrttt...
Kantung roknya bergetar, Seseorang menelponnya, Nola mengambil handphonenya dengan tangan yang masih gemetar.
"Hallo."Ucapnya, Seseorang di seberang pun menjawabnya.
"Nola, Pulang nanti kau ingin makan apa?" Tanya Tora di telpon, Nola tersenyum dan menghapus air matanya yang kini mengalir tanpa di duga.
"Aku suka apapun masakan-mu kak, Aku...senang makan bersama-mu."Ucap Nola.
"Baiklah, Selamat bertemu nanti."Ucap pemuda itu menutup telponnya.
Nola bernafas lega, Ia dengan tidak tahu dirinya merasa senang dengan perhatian kakak tirinya itu, Padahal ia tahu betul, Siapa pembunuh nyonya Donita Rolan. Ibu dari Tora.
"Baiklah, Selagi kak Tora tidak tahu. Dia tidak akan membenciku...iyakan?" Ucap gadis itu menatap pantulan wajahnya dengan cemas.
Setelah beberapa menit menguatkan diri, Akhirnya Nola kembali ke dalam kelas. Gadis itu berusaha bersikap biasa saja. Padahal ia baru saja menekan rasa cemasnya sendiri.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Claudia dengan khawatir saat Nola masuk ke dalam kelas.
"Aku baik-baik saja."Ucapnya tersenyum seperti biasanya.
Claudia menatap Nola yang bersikap biasa saja, Apa benar. Temannya itu tidak mempercayainya seperti ucapan Nadia.
Nadia yang tepat berada di belakang kedua gadis itu menyeringai, Di dalam ingatannya. keluarga Rolan salah satu keluarga yang bisa membantunya sampai Ia bisa menguasai kota ini, Itu sebabnya ia masih butuh Nola. Tetapi ia ingin Nola tunduk padanya. Sedangkan Claudia, Gadis itu tidak berguna untuknya.
...--------------------------------...
Tepat pukul 8 malam, Clarissa bersiap menemui seseorang yang memberikannya undangan untuk melihat galeri seni jovanka. Gadis itu tersenyum senang di depan cermin.
"Sera, Barang yang aku minta untuk di bawa bagaimana?" Tanya Clarissa, Sera mengangguk pasti.
"Sudah semua nona." Ucap Sera, Clarissa tersenyum. Ia pergi menuju galeri seni jovanka, Salah satu galeri seni terkemuka di ibu kota.
Perjalanan menempuh waktu 1 jam lebih, Hingga kini ia sampai. Mobilnya di sambut dengan sopan oleh beberapa penjaga di luar. Clarissa turun dengan anggun, Ia masuk dengan wajah takjub.
Pintu terbuka dengan pelan, Suara hening menyambutnya, Hanya ada suara biola yang nyaris seperti bisikan. Clarissa menatap beberapa lukisan yang terpampang di dinding dengan lampu pencahayaan yang khusus. Setiap karya berjarak 2-3 meter.
Tak banyak orang di sana, Semua orang berpakaian formal. Di setiap sisi ruangan terdapat seorang penjaga dengan pakaian formal. Ada beberapa patung juga yang di perlihatkan.
Clarissa menatap lukisan beserta patung itu dengan kagum, Di ujung karya itu terdapat nama dan makna lukisan dan patung itu. Di ujung lorong terdapat bangku besi khusus untuk duduk. Untuk menatap lukisan di depannya.
Clarissa berjalan dan duduk di bangku besi itu, Matanya terpaku menatap lukisan di hadapannya. Lukisan seorang putri yang jatuh cinta dengan prajuritnya.
"Sangat menyedihkan."Gumam Clarissa tersenyum sinis.
"Kau datang ke sini?" Tanya seseorang, Clarissa menoleh.
"Nadia?"
Clarissa tersenyum tipis, Sangat tipis. Ia tahu bahwa Nadia memang merencanakan sesuatu, Tetapi ia tak tahu bahwa gadis itu begitu tidak sabaran menunjukkan dirinya.
"Ada apa, Apa kau berharap Axion yang mendatangimu?!" Ucap Nadia terkekeh, Ia menatap Clarissa dengan wajah meremehkan.
"Apa kau yang mengundangku ke sini atas nama Axion?" Tanya Clarissa, Nadia tertawa kencang, Tak memperdulikan beberapa pengunjung yang menatapnya aneh.
"Tentu saja, Kau pikir aku mau membuatmu berbaikan dengan Axion, Dia itu milik-ku Selamanya hanya akan menjadi milik-ku, Meskipun suatu saat aku membuangnya, Dia harus tetap setia padaku."Ucap Nadia tertawa puas, Apalagi wajah Clarissa yang di buat cemas.
"Tapi...bukankah kau bilang kau mencintai Robert?" Tanya Clarissa dengan wajah polos, sesekali melirik ujung lorong.
"Cinta? Memangnya aku hidup untuk cinta. Robert itu hanya alat bagiku, Dia sama sekali tidak penting!" Ucap Nadia, Clarissa memasang wajah cemas sambil melirik ujung tembok, Seseorang mengintip di sana.
"Tapi Robert pasti tulus padamu, Kau tidak boleh begitu pada Robert." Ucap Clarissa, Nadia mendorong Clarissa dengan keras, Hingga gadis itu terjatuh duduk di lantai.
"Clarissa...Clarissa... Sampai akhir kau memang bodoh, Robert dan aku berkerja sama untuk membunuhmu. Dan kau...kau masih saja menganggapnya mencintaimu?!" Ucap Nadia dengan sarkas.
"Aku memang mencintainya. Aku rela memberikan apapun untuknya. Asalkan dia bahagia."Ucap Clarissa, Nadia menarik rambut Clarissa dengan kasar.
"Hari ini, Aku akan membunuhmu. Kau tidak akan bisa melihat dunia ini lagi."Ucap Nadia tersenyum menyeringai. Gadis itu mengeluarkan gunting dan siap menusuk Clarissa.
"Robert jangan mengecewakan ku."Batin Clarissa.
"Hentikan!" Teriak seseorang, Clarissa membuka kedua matanya. Robert mencengkram tangan nadia, Ia menepis gunting itu hingga hilang entah kemana.
"Ro...Robert?!" Kaget Nadia.
"Kau benar-benar wanita jahat!" Teriak Robert yang kehilangan kesabaran, Pemuda itu mencekik Nadia dengan cukup keras, Hingga gadis itu tak bisa berbicara.
Clarissa menatap hal itu dengan terkejut, Perlahan sebuah cahaya keluar dari dalam tubuh Nadia, Cahaya itu menyebar dan masuk ke dalam tubuhnya. Clarissa bingung, Cahaya apa itu?
Nadia mencoba melepaskan cekikan tangan Robert, Gadis itu meronta-ronta sambil mencoba menggapai wajah Robert. Perlahan, Tubuh gadis itu mulai melemas. Robert yang sadar langsung melepaskan cekikannya.
Uhuk! khukk! Uhukk!
"Robert." Clarissa menatap Robert lemas, Pemuda itu segera mendatangi Clarissa dengan khawatir. Ia mendengar semuanya, Ternyata hanya Clarissa yang begitu mencintainya.
"Clarissa, Maafkan aku."Ucapnya, Ia merasa bersalah karna selalu berpikir buruk tentang Clarissa, Padahal gadis itu mampu memberikan semua yang ia inginkan.
"Mengapa kau minta maaf, Aku tidak pernah marah Robert"Clarissa tersenyum lemah, Itu semakin membuat Robert merasa bersalah.
"Robert, Kita harus membunuh dia."Ucap Nadia, Robert segera menampar Nadia dengan kasar.
Plak!
"Kau tidak pantas mendapatkan apapun, Wanita tidak berperasaan."Ucap Robert menatap Nadia murka.
"Aku sudah salah menilai-mu."Lanjut Robert, Nadia menatap Robert bingung, Mengapa Robert begitu bodoh, Apa karna dia tidak ingat kejadian masa lalu?
"Robert, Ini kesempatan kita...bunuh dia, Maka kita akan dapat apa yang kita mau. Tidak menjadi bahan ejekan orang lagi, Semua orang akan menghormati kita."Ucap Nadia dengan suara sedikit serak, Tetapi penuh rasa percaya diri.
Robert benar-benar tak tahu harus melakukan apa pada Nadia, Gadis itu benar-benar sudah gila. Walaupun ia ingin menguasai harta keluarga bellen, Ia tak harus membunuh Clarissa.
"Aku tidak akan pernah membunuh Clarissa, Jalankan saja rencana kita."Ucap Robert setengah berbisik.
Nadia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku jarinya memutih, Ia tersenyum sinis saat tahu Robert, Pria yang ia sukai itu ternyata sudah jatuh hati pada Clarissa. Rencana yang mereka buat bertahun-tahun, Berubah hanya karna perasaan tidak tega milik Robert.
"Kau berubah."Ucap gadis itu berbalik badan, Di bandingkan dengan kegagalannya membunuh Clarissa, Nadia justru merasa lebih hancur saat Robert memutuskan sendiri untuk mengampuni Clarissa.
"Salahkan dirimu yang sangat bodoh, Kau gegabah." Ucap Robert dengan tajam, Setelah itu pemuda itu menggendong Clarissa dan melewati Nadia.
Di dalam rengkuhan Robert, Clarissa tersenyum puas. Nadia melihatnya dengan jelas, gadis itu tersenyum mengejeknya seolah berhasil mengambil sesuatu yang berharga miliknya.
Di dalam ingatan terdalamnya, Robert tak pernah sekalipun bersikap lembut pada Clarissa, Semua yang ia lakukan hanya untuk memanipulasi perasaan gadis itu, Tetapi mengapa sekarang seolah Robert yang mengejar-ngejar Clarissa.
"Aku menang." Ucap Clarissa menggerakkan mulutnya tanpa suara. Itu membuat perasaan Nadia semakin mendidih.
TBC
like dan komen.