Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan Ezra
Aditama menginjak dalam gasnya, dia pun dengan kesal bermaksud mengejar rombongan Alen yang sudah lebih dulu meninggalkan halaman sekolah yang lengang, karena memang hanya tinggal mereka saja.yang belum pulang akibat hukuman Bu Elia.
Teman teman Aditama juga ikut mengejar sementara Pak Supri merasa cemas karena di dalam mobil masih ada Wanda. Dia takut cucu Nenek Suniarti kenapa kenapa.
Dia yang kini sudah ditinggalkan sendirian, segera menelpon tuan besarnya.
"Tu.... Tuan," serunya tergagap karena takut majikannya akan marah besar setelah tau yang terjadi barusan. Jantungnya saja berdebar ngga karuan.
"Ya, kamu sudah di rumah?" Panji malah balik bertanya. Dia tau anaknya akan telat pulang karema menjalani hukuman di sekolah.
"Belum, tuan. Sa.... saya masih di .... di sekolah."
Panji terdiam karena suara supirnya bergetar. Ada nada cemas dan panik dalam getaran suaranya.
"Ada apa?"
Pak Supri mengambil nafas sebanyak banyaknya sebelum meneruskan laporannya.
"Tu tuan muda bawa mobilnya tu .... tuan. Mba Wanda ju .... juga ada di dalam mobil." Akhirnya laporannya pun selesai juga.
"Memangnya Tama mau kemana?"
"Tu .... tuan mu ....muda mau be .....rantem lagi tu tuan. Tapi sa .... saya ngga tau mau .... mereka mau berantem di mana."
Panji sampai bangun dari duduknya. Wajahnya seketika pucat. Dia pun menelpon Dewa yang belum lama meninggalkan ruangannya setelah mengakhiri komunikasi dengan supirnya.
"Sudah kamu putuskan?" tembak Dewa langsung.
"Bukan itu," sergahnya kesal.
"Anak anak kita mau berantem di luar sekolah. Aku sudah pasang gps di mobil." Panji berkata sambil melangkah tergesa meninggalkan ruangannya.
Terakhir anak anak mereka berantem di club. Mereka mendapatkan perawatan karena mengalami luka sobek dan memar. Bahkan kening Aditama dijahit karenanya.
"Oke."
Panji mendengus karena telponnya langsung diputus begitu saja.
Dia kemudian menelpon orang tua Mahesa dan Bayu. Teman teman terdekat putranya agar segera menyusul ke tempat kejadian.
Anak anak itu masih diliputi amarah yang berkobar kobar. Sepertinya mereka akan lebih babak belur dari pada sebelumnya, pikirnya kalut.
Kalian ngapain lagi, sih, rutuknya dalam hati. Cemas, marah dan khawatir bercampur jadi satu di dalam rongga dadanya.
*
*
*
Ezra yang sedang makan siang bersama guru BP keponakannya, awalnya mengacuhkan panggilan Dewa. Tapi karena panggilan itu terus berulang, dia pun menerimanya.
"Ada apa, Bang?" tanya Ezra akhirnya dengan malas.
Di saat dia ada waktu berkencan, kenapa gangguan datang? Batinnya mengomel.
"Keponakanmu Dylan dan anaknya Panji sekarang sedang kebut kebut di jalan. Kamu minta gpsnya sama Ziza atau Khalid, ya."
Ezra terkejut. Masalah baru lagi ini, batinnya. Dia menatap layar ponselnya yang sudah gelap, suara Dewa tidak terdengar lagi. Rupanya Dewa sudah memutuskan komunikasinya setelah mengatakan hal tadi.
"Ada apa?" Elia merasa heran melihat wajah Ezra yang sesaat tadi berubah tegang.
Ezra menggeleng, berusaha tetap tenang. Dia ragu, apakah perlu member tau guru BP keponakan keponakannya terkait masalah ini.
Kasih tau atau tidak, ya, ke guru BP yang sedang dia dekati, batinnya was was. Keponakan keponakannya bisa ketambahan hukuman lagi kalo Elia sampai tau tentang hal ini.
Dia menatap lekat dengan jantung yang berdebar keras. Tatapan mereka beradu karena Elia juga sedang menatapnya penuh tanya.
Ezra melihat makanan Elia yang masih bersisa banyak. Dia juga begitu karena mereka baru saja memesan makanan.
Oke, lebih baik serahkan pada Dewa dan Khalid saja, putusnya dalam hati.
"Saya telpon klien sebentar," putusnya pamit sambil berdiri.
"Anda sibuk, ya. Lebih baik kita pulang saja." Elia memaklumi kesibukan seorang bos. Elia sudah menyelidiki siapa om siswanya. Ternyata dia cukup terkenal juga di sosmed dan sering diliput media asing sebagai enterpreneur yang sukses. Pacar pacarnya juga silih berganti. Makanya tadi awalnya Elia merasa enggan menerima ajakan makan siang dari Ezra. Dia terpaksa mau karena laki laki ini akan menyampaikan pesan orang tua anak didiknya.
"Ada sedikit masalah tapi tidak terlalu mengganggu makan siang kita. Sebentar aja, kok." Senyum Ezra sambil berjalan agak menjauh dengan menelpon kakak iparnya.
Dering pertama langsung tersambung. Ezra menduga Khalid sedang bertemu dengan banyak orang, karena terdengar suara beberapa orang yang bersahutan.
"Ada apa, Ez?"
"Anakmu, bang, mau berantem. Bisa pantau gpsnya? Sekarang mereka berada dimana?" berondong Ezra ngga sabar karena dia ingin secepatnya kembali kehadapan Elia yang matanya sulit berkedip saat mengamati. Guru itu meneruskan makannya dengan santai membuat Ezra mengembangkan senyumnya.
Hening, Khalid sepertinya kehilangan kata untuk merespon beberapa detik.
"Kamu tau dari mana?"
"Bang Dewa baru saja memberitau."
"Oke. Tolong jangan kasih tau kakakmu. Dia pasti ngga akan tenang mendengarnya."
"Beres."
"Nanti aku kabari. By the way, thank's, ya."
"You're welcome."
Khalid memutuskan telponnya dan Ezra segera kembali ke mejanya.
"Sudah selesai? Kita ngga perlu pulang?" tanya Elia beruntun begitu Ezra sudah berada di hadapannya.
Ezra menggeleng.
"Kita masih punya waktu." Ezra berusaha keras agar tetap tenang walau perasaannya gonjang ganjing ngga karuan. Baru saja dia memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya, ponselnya mengirimkan notifikasi dari Khalid. Dia berusaha meyakinkan dirinya kalo Dewa dan Khalid bisa mengatasi permasalahan ini.