Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Rokok Gajah Baru Kertek dan Rencana Pindah ke Gedangan
Suara deru mesin GL Herk warna pink itu baru saja hilang ditelan kegelapan malam, diganti suara langkah kaki mereka bertiga masuk kembali ke rumah. Udara malam terasa sejuk, tapi hati mereka terasa hangat dan lega. Masalah surat peringatan penutupan bengkel yang kemarin bikin deg-degan, sekarang rasanya sudah bukan halangan besar lagi. Berkat kejelian Faris berinvestasi di saham, mereka punya uang tunai yang cukup buat bernapas lega dan mengatur ulang langkah ke depan.
Malam itu, di ruang tengah yang sederhana tapi kini kelihatan lebih hidup karena dapur sudah penuh bahan makanan, mereka berkumpul berempat: Faris, Guntur, Ali, dan Bapak Wijaya yang sudah duduk bersandar nyaman di kursi kayu. Ibu Arum Sari baru saja masuk membawa teh hangat buat mereka semua.
Faris merogoh saku celananya, mengeluarkan sisa uang tunai yang masih tebal. Dia ambil sebagian, lalu menyodorkan ke arah Guntur dan Ali yang duduk bersimpuh di depannya.
"Nah, ini ada sedikit uang sisa, nih. Gun, Li... besok pagi pas ke pasar atau lewat warung, beliin saya rokok Gajah Baru Kertek satu slop ya. Nanti buat kita berempat sama Bapak. Biar kalau lagi istirahat atau lagi ngobrol serius, ada yang dikepyung, ada yang dinikmati bareng-bareng. Udah lama banget rasanya kita nggak merokok enak, yang biasa kita hisap cuma sisa-sisa atau yang murahan banget," kata Faris sambil senyum tipis, matanya berbinar lega.
Guntur langsung ambil uang itu dengan semangat, tangannya mengenggam erat. "Siap, Bang! Pasti saya beliin yang asli, yang bungkusnya masih kaku. Nanti pas dibuka wanginya semerbak satu bengkel, hehe." Ali cuma mengangguk sambil nyengir, dia juga sudah kangen rasa rokok itu, dulu pas Bapak masih sehat, itu rokok langganan mereka kalau lagi ada rezeki lebih.
Suasana jadi hening sebentar, cuma terdengar suara seruputan teh hangat. Faris menatap satu per satu wajah orang-orang terdekatnya, lalu dia mulai bicara dengan nada lebih serius, matanya menatap lurus ke depan seolah sudah melihat masa depan.
"Ngomong-ngomong soal tempat kerja sama tempat tinggal... Abang udah mikir matang-matang dari kemarin, apalagi setelah ada masalah surat-surat dan peringatan dari dinas itu. Jujur saja, di sini kita udah nggak enak hati lagi. Lagian, kontrak sewa tempat bengkel ini juga sebentar lagi habis, kan? Iya, kan? Ingat nggak? Akhir bulan ini jatuh temponya, dan saya rasa nggak perlu diperpanjang lagi. Buat apa bayar mahal kalau kita bisa cari tempat yang lebih baik, lebih luas, dan lebih strategis?"
Dia berhenti sebentar, lalu menoleh ke arah Ibu Arum Sari yang duduk di samping Bapak. "Terus tadi Ibu sempat ngomong sama saya kan? Kalau rumah kontrakan Ibu juga sebentar lagi habis masa sewanya kemarin. Ibu sempat tanya ke saya, kita mau ke mana kalau nggak lanjut di sini. Nah, Abang punya rencana bagus nih, dengerin ya..."
Guntur sama Ali makin mendekat, penasaran banget mau denger rencana selanjutnya. Bapak Wijaya pun menatap anak sulungnya penuh harap.
"Kita pindah aja ke daerah Gedangan, Sidoarjo. Gimana? Nggak apa-apa kan kalau kita pindah ke sana dik?" kata Faris tegas tapi lembut, suaranya penuh keyakinan. "Di sana tanah lebih murah, tempat lebih luas, jalannya lebih enak buat kendaraan besar, dan yang paling penting... rencananya nanti bengkel kita pindah dekat sama rumah baru kita. Jadi nanti tempat tinggal sama tempat kerja deketan, nggak perlu jauh-jauh pergi pagi pulang sore. Ibu sama Bapak juga enak, bisa ngawasin, bisa istirahat tenang tanpa harus berdesakan di tempat sempit begini."
"Gedangan... Sidoarjo..." gumam Guntur pelan, mencoba membayangkan. "Katanya di sana ramai banget ya Bang? Banyak industri, banyak kendaraan angkutan, banyak truk dan motor operasional warga."
"Betul sekali," jawab Faris cepat. "Itu alasan utamanya. Di sini kita udah mulai dikenal, tapi posisinya susah, sempit, banyak aturan, banyak musuh kayak si Bima itu. Di Gedangan, lingkungannya beda. Banyak kendaraan operasional yang tiap hari kerja keras, pasti sering rusak, butuh servis, butuh perbaikan. Orang-orang di sana butuh jasa mekanik jago, jujur, dan murah. Insyaallah di sana usaha kita bakal makin laris manis, makin rame, makin berkembang. Kita mulai lembaran baru, bawa nama Hidayat Bersaudara ke tempat yang lebih luas, lebih terbuka peluangnya."
Ali langsung bersorak pelan, mukanya cerah banget. "Asik banget kalau gitu! Berarti kita mulai dari nol lagi tapi dengan ilmu yang udah jauh lebih banyak sekarang ya Bang? Di sana nggak ada si Bima, nggak ada musuh, nggak ada orang yang mau ngalangin jalan kita. Kita bebas berkarya!"
Bapak Wijaya mengangguk pelan, senyum lebar mengembang di wajah tuanya. Dia menepuk paha Faris pelan. "Bapak setuju. Keputusan bagus. Memang kadang kita harus berani pindah tempat kalau di situ udah nggak cocok, udah banyak duri. Gedangan itu tempat yang bagus, tanahnya subur, orangnya ramah, jalannya ramai. Kalian anak-anak pintar, rajin, dan jujur, ke mana pun kalian pergi, rezeki pasti ngikut. Bapak yakin, di sana nasib kita bakal berubah jadi jauh lebih baik dari sekarang."
Ibu Arum Sari pun tersenyum lega, air mata bahagia lagi-lagi menetes tapi kali ini bukan sedih, tapi senang. "Ibu juga sudah lelah bolak-balik pindah kontrakan sempit begini. Kalau nanti rumah sama bengkel deketan, Ibu bisa masakin kalian, bisa jagain alat-alat, bisa lihat kalian kerja tiap hari. Ibu ikhlas dan ikut saja apa keputusan kalian. Ibu percaya sama Faris, percaya sama ketiga anak-anak Ibu."
Faris menarik napas panjang, rasa lega menyelimuti sekujur tubuhnya. Masalah tempat yang kemarin bikin pusing, sekarang sudah ada jawaban pasti. Pindah ke Gedangan Sidoarjo bukan lari dari masalah, tapi langkah strategis buat tumbuh lebih besar, menjauh dari gangguan Bima, dan mencari lahan yang lebih subur buat menanam usaha mereka.
"Oke, kalau begitu keputusan mutlak ya," kata Faris menegaskan. "Minggu depan kita mulai beres-beres. Kita cari tempat yang pas, yang ada tanah kosong atau bangunan bekas yang bisa kita sewa atau cicil beli pelan-pelan. Nanti kita bangun bengkel yang lebih besar, lebih rapi, sesuai standar cita-cita Abang. Nanti di sana juga kita wujudkan rencana Abang: rumah baca dan bengkel kecil buat anak-anak putus sekolah, biar mereka juga punya harapan kayak kita."
Dia menatap GL Herk warna pink yang terparkir gagah di teras depan, lalu menatap adik-adiknya.
"Satu hal lagi... sebelum kita pindah total, kita harus pamitan sama 'teman lama' kita dulu. Si Bima itu belum tahu apa rencana kita. Dia kira kita bakal sibuk urus surat-surat sampai bangkrut. Kita kasih kejutan terakhir sebelum pergi. Besok malam, kita bawa motor pink itu ke tempat biasa dia nongkrong. Kita tantang dia balap, kita kalahin dia habis-habisan di depan teman-temannya, kita ambil harga dirinya, lalu kita pergi pindah ke Gedangan dengan kepala tegak. Biar dia tahu, dia pikir dia menang ganggu-ganggu di sini? Padahal dia cuma ngeusir kita menuju tempat yang lebih bagus dan lebih besar. Dia jadi alat Tuhan buat kita maju lebih cepat."
Malam itu, rencana sudah matang. Rokok Gajah Baru Kertek bakal jadi peneman istirahat mereka, pindah ke Gedangan jadi harapan baru, dan motor pink jadi senjata terakhir penutup babak di tempat ini.
Hati mereka bertiga penuh semangat. Pindah tempat bukan berarti menyerah, tapi justru langkah awal menuju kesuksesan yang jauh lebih besar. Dan Bima? Dia nggak tahu, bahwa orang yang dia coba robohkan, malah sedang bersiap meninggalkannya jauh di belakang, menuju masa depan cemerlang yang sama sekali nggak pernah dia bayangkan. Di Gedangan Sidoarjo, nama Hidayat Bersaudara bakal ditulis lebih besar, lebih gagah, dan lebih tak terkalahkan.