NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 34

Hanan tanpa ragu mengobrak-abrik ruangan itu setelah beberapa kilas ingatan tentang sosok kecil El di masa lalu mulai beterbangan di kepalanya.

Pria itu kemudian menemukan sebuah foto di dalam laci, tampak lebih besar dari foto yang tertempel di dinding. Kali ini foto itu memuat seluruh tubuh yang penuh luka-luka dan wajah gadis kecil yang begitu jelas. Tubuh itu tergeletak tak berdaya di atas tanah dengan luka baru yang tampak memerah dan meninggalkan lebam.

Hanan mengeratkan genggaman tangannya.

“El  ....” Hanan tercekat hingga tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia terburu-buru meninggalkan rumah Jetro, bahkan melupakan hadiah yang dimaksudkan Jetro agar diambil oleh Hanan.

Pria itu mengemudi bak orang gila, tak peduli pengendara lain mengumpat padanya. Dia hanya ingin meminta penjelasan pada Jetro sekarang juga. Foto-foto di ruangan itu jelas adalah sosok El kecil yang selalu mengikutinya ke mana pun. Bagaimana bisa Jetro menjadikannya penuh luka-luka tak manusiawi. Dia layaknya psikopat.

Begitu sampai di rumah sakit. Langkahnya terburu-buru. Napasnya memburu begitu sampai di depan ruangan Rosa. Tangannya memutar kenop pintu hingga terbuka sedikit, tapi terhenti oleh percakapan dua orang di dalam sana yang tampak tak menyadari kedatangannya.

“Je, apa kamu yakin Mas Hanan tidak akan tahu apa yang terjadi? Entah kenapa aku selalu merasa was-was belakangan ini.” Rosa menangis di pelukan Jetro, tampak sangat menyedihkan.

“Tenang saja, hanya kita yang tahu tentang rahasia masa lalu itu. Aku sudah mengancam Amelia, dia tidak mungkin buka mulut.” Jetro mengelus pelan rambut gadis di pelukannya.

“Je, bagaimana jika Mas Hanan tahu El yang dia kenal di masa lalu sebenarnya Amelia, bukan aku. Aku tidak berniat mengambil apa yang dimiliki adikku sendiri. Tapi aku benar-benar mencintai Mas Hanan sejak pertemuan pertama. Ibu tidak ingin melihatku bersedih dan berbohong pada Mas Hanan bahwa akulah El di masa kecil Mas Hanan, padahal kami bahkan tidak pernah bertemu saat itu.” Rosa tergugu.

“Ssstt ... jangan menangis lagi. Semua akan baik-baik saja.”

Tepat setelah Jetro menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan Rosa dibuka kasar hingga menimbulkan suara berdebam yang kuat.

“Mas?” Rosa terbelalak dengan kedatangan Hanan yang tiba-tiba.

“Jadi, itu yang kau lakukan selama ini? Menipuku selama bertahun-tahun?” Hanan mendekat dengan aura intimidasi yang begitu kuat.

“Mas, bukan begitu maksudku. Aku—“

“Kau, dasar perempuan munafik. Kau membohongiku selama ini demi kepuasanmu sendiri!” Emosi Hanan mencapai puncaknya. Dia benar-benar telah ditipu selama ini.

“Hentikan, Hanan. Kau membuatnya takut.” Jetro memeluk tubuh Rosa yang gemetar, tapi berusaha berontak.

Hanan menatap keduanya secara bergantian dan tersenyum sinis.

“Oh, benar. Kalian memang pasangan yang cocok. Yang satu penipu, yang satu psikopat gila yang memuaskan fantasinya dengan melukai orang lain.” Hanan mengepalkan erat tangannya, berusaha menahan diri untuk tidak meninju wajah Jetro yang justru tersenyum remeh.

“Oh, jadi kau sudah tahu. Lagi pula gadis itu memang paling cocok menjadi objek percobaanku. Dia sangat manis setiap menjerit.”

Hanan tak bisa menahan diri lagi dan meninju wajah Jetro hingga tersungkur di lantai.

“Bajingan!” Hanan kehilangan kendalinya sendiri dan memukul Jetro bertubi-tubi tanpa membiarkan pria itu memberikan perlawanan.

“Mas Hanan, dia bisa mati, Mas!” Rosa benar-benar histeris melihat betapa brutalnya suaminya itu menghajar sosok di bawahnya.

“Lepaskan tanganmu!” Hanan menyentak kasar tangan Rosa yang berusaha menahannya.

Rosa terhuyung hingga terduduk ke lantai. Wajahnya syok mengingat Hanan tak pernah sekali pun berbuat kasar padanya.

“Mas, bagaimana pun aku masih istrimu. Kita sudah bersama beberapa tahun ini. Tidak mungkin semuanya kamu lupakan hanya karena satu kesalahanku ini, ‘kan. Aku melakukannya karena aku benar-benar mencintaimu, Mas.” Rosa mulai terisak.

Jetro berusaha bangkit, meski tubuhnya remuk di segala sisi. Dia beringsut mendekat pada Rosa dan berusaha melindunginya.

Hanan tersenyum penuh ironi. Dulu, pemandangan Jetro yang terlalu perhatian pada Rosa tak akan dia permasalahkan. Dia bahagia jika ada lebih banyak orang yang bisa menyayangi wanita itu. Namun, sekarang dia hanya bisa menatap keduanya jijik seolah mereka telah melakukan hal paling hina.

“Hubungan kita berakhir. Aku akan menceraikanmu secepatnya.”

Hanan beranjak dari ruangan Rosa meninggalkan wanita itu yang terus histeris.

“Hanan, ada apa dengan Rosa? Kenapa dia histeris begitu?” Orang tua Rosa datang dan menghadang pria itu.

“Minggir. Tanyakan pada diri kalian yang telah menipuku bertahun-tahun hanya demi keegoisan putri kalian. Jangan pikir kalian bisa menyembunyikan rahasia itu dariku selamanya. Aku akan membalas setiap rasa sakit yang El rasakan.”

Jantung kedua orang tua Rosa mencelos. Mereka seolah sudah tahu ke arah mana pembicaraan Hanan. Bahkan sebelum mereka membuat pembelaan, pria itu sudah pergi lebih dulu.

Langkah Hanan tergesa dan kembali menghubungi nomor Asta. Beberapa kali panggilan tak tersambung hingga akhirnya berhasil.

“Sudah kubilang terlambat, ‘kan. Kenapa masih menghubungiku?”

Suara Asta bukan hanya berasal dari telepon, tapi juga dari arah belakang Hanan. Pria yang lebih muda beberapa tahun dari Hanan itu bersandar malas di pilar rumah sakit.

“Asta, kumohon kali ini saja beri tahu aku di mana keberadaan Amelia. Ada sesuatu yang terjadi, aku harus—“

“Minta maaf, itu harusnya yang kau lakukan sedari dulu, Nan. Sekarang sudah terlambat. Amelia sudah pergi.” Asta berjalan pelan menuju Hanan. “Aku tidak bisa membantumu. Jika kau benar-benar menyesal. Berusahalah dengan kaki dan tanganmu sendiri. Luka yang kau berikan pada Amelia tidak main-main. Bahkan meski kau mendapatkan informasi keberadaannya, belum tentu dia mau memaafkanmu.”

Asta benar-benar tak memberitahukan apa pun sesuai permintaan Kanaya dan bahkan meski gadis itu tak mengatakannya, dia juga tak akan buka mulut kecuali Hanan mengetahuinya sendiri.

Hanan meremas kasar rambutnya. Rasa frustasi kian menyelimutinya. Bukan hanya karena dia telah kehilangan Amelia yang seharusnya dia cintai sejak dulu, tapi juga mengingat seberapa sering dia menyakiti perasaan gadis itu.

Hanan benar-benar ingin membenturkan kepalanya sendiri. Saat ini pikirannya hanya dipenuhi penyesalan.

“Dasar Hanan bodoh.”

Semua kilas balik peristiwa antara dia, Amelia, dan Rosa kini terasa masuk akal. Satu-satunya tempat yang bisa Hanan tuju sekarang adalah rumahnya. Dia masih tidak percaya bahwa Amelia pergi begitu saja.

Setelah sampai di rumahnya, Hanan langsung menuju kamar Amelia. Ruangan itu tidak terkunci membuatnya begitu mudah masuk ke dalam sana. Barang-barangnya masih tertata dan Amelia benar tak membawa apa pun bersamanya. Semuanya dia biarkan begitu saja.

“El?” Suara Hanan terdengar sangat pelan, nyaris tak terdengar. Bahkan untuk sekedar memanggil nama kecil yang dulu selalu dia sebut dengan senyum tipis rasanya terlalu berat.

Hanan layaknya tanaman yang kehilangan sinar mataharinya.

“El, aku benar-benar bersalah padamu. Kumohon ... aku butuh satu kesempatan lagi.”

1
falea sezi
lu emank g cocok ma cwek baik lun cocok ma Rosa apalagi lu bekas si rosokan🤣🤣 najis amat
falea sezi
lanjut donkk😓 baguss q ksih hadiah deh
Yourfaa: Sabar, yah Kakak. Akan kulanjut, tapi setelah menghadapi dunia yang gonjang-ganjing ini. Ngetiknya cuma bisa pas malem doang, soalnya siang kita harus kembali ke realita dunia kerja😭
total 1 replies
falea sezi
rosa ini bner bner playing victim deh
falea sezi
menikahi kaka adek kandung mana boleh kecuali uda mati tuh kakak nya😒
Yourfaa: Terima kasih buat koreksinya yah, Kakak. Karena ini cerita pertama aku, jadi masih banyak salah dan kurangnya informasi. Next bakal aku perbaiki pelan-pelan supaya alurnya lebih masuk akal dan gak bertentangan sama fakta yang terjadi 🙏🏻☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!