Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri
Sesampainya dirumah Catra, bi Tati hendak langsung mengajak ibunda Denisa pulang ke kampung halaman. Denisa menatap heran ke bi Tati, buatnya ini terlalu terburu-buru.
" Besok saja ya bi pulangnya."
" Nanti sore bibi akan pulang. Bibi sudah pesan mobil travel."
" Kok terburu-buru sekali bi, "
" Niat ke Jakarta kan memang hanya mau antar Tara. Bukan mau antar ibu kamu ketemu kamu. Sebenarnya bibi mau jalan berdua Tara cuma ibu kamu maksa mau ikut."
" Iya bi, maksudnya biar istirahat dulu sehari disini"
" Bibi mau pulang, urusan bibi Sudah selesai disini. Harus mengurus masalah lain dirumah. Lagi pula siapa yang mau lagi menginap dirumah ini, auranya sungguh tidak enak." ujar Bi Tati ketus.
Denisa tercekat diam tak mampu berkata apapun menanggapi kata-kata bibinya. Untung saat ini Catra masih di kamarnya. Jadi tidak perlu mendengar kata-kata tidak enak yang pasti akan membuatnya sangat tersinggung.
" Biar Ibu ikut pulang sama bibi mu saja ya neng, Ibu tidak mau merepotkan disini. Sebaiknya kamu juga segera meninggalkan tempat ini. Cari tempat kost lain dulu. Setelah kamu resmi menjadi suami istri dengan nak Catra baru kamu bisa bebas tinggal dirumah ini lagi " ujar Bu Sati merasakan ada sedikit kebenaran dalam kalimat ketus bi Tati.
" Iya Bu, Denisa akan secepatnya cari tempat kost baru"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore hari pukul lima, Catra dan Denisa mengantar ibu dan bibinya ke agen travel untuk kembali pulang ke kota Tasikmalaya. Denisa sudah berpamitan dengan bi Tati lebih dulu dan Bi Tati sudah langsung naik ke dalam mobil. Dan saat ini Denisa sedang berpamitan dengan ibunya.
Denisa memeluk ibunya dan mencium pipinya berkali-kali. Tanpa disadari sepasang mata bi Tati memandang adegan itu dari dalam mobil travel dengan mata berkaca-kaca. Bu Tati ingin sekali dipeluk oleh anaknya atau memeluk anaknya seperti yang Denisa lakukan saat ini. Tapi entah hubungan nya dengan anak-anaknya tidak pernah sedekat itu.
" Kamu baik baik ya neng." ujar Bu Sati kepada Denisa.
" Iya, ibu juga ya. "
" Jangan lupa segera pindah dari rumah itu ya, tidak baik berlama tanpa ikatan apa-apa"
" Iya ibu "
Lalu Bu Sati beralih ke Catra dan berkata " Ibu titip Denisa ya nak catra, usahakan secepatnya dia harus cari tempat kost baru."
" Baik Bu" ujar Catra lalu mencium tangan Bu Sati. Lalu Bu Sati naik ke mobil travel yang akan membawa mereka pulang ke kampung halaman.
Setelah mobil travel itu pergi, Denisa menatap Catra dengan menyipitkan mata. " Mari sekarang kita cari tempat kost untukku"
Catra memandang Denisa sambil tersenyum. " Baiklah, calon istri ku." lalu merengkuh bahu Denisa dan melangkah bersama menuju mobil. Mereka masuk ke mobil. Saat Denisa hendak menarik sabuk pengaman untuk di pasang, Catra mencegah dan ternyata dia yang mau memasang kan untuk Denisa. Tangannya menarik sabuk pengaman membuat Denisa merasa tidak nyaman.
" Aku bisa sendiri " tolak Denisa.
" Aku tau, tapi aku ingin memasangkan nya untukmu,"
" Tapi aku merasa canggung"
" Dibiasakan ya. Ke depan nya ini akan kulakukan tiap kamu naik mobil sama aku."
" Uhh mendadak kamu sweet banget sih" ledek Denisa.
" Katanya semua wanita suka di perlakukan secara sweet"
" Tidak semua dong"
" Kamu termasuk yang tidak suka?"
" Aku termasuk yang suka sih" ujar Denisa seraya tersenyum manis.
" Lalu, mantan di Semarang itu, tipe sweet apa engga?" tanya Catra tanpa memandang wajah Denisa.
Seketika senyum manis Denisa menghilang dari wajahnya. " Kenapa tanya-tanya hal itu sih?"
" Aku kan harus belajar, bagaimanapun dia bisa mempertahankan hubungan dengan mu sampai 4 tahun. Itu hebat lho, kalau bukan karena dia sudah beristri kemungkinan besar dia yang akan menjadi jodohmu."
" Kenyataan nya dia jodohnya orang lain"
" Tapi tetap saja aku perlu belajar, untuk tau apa yang kamu suka dan tidak suka. Kamu tau kan aku tidak berpengalaman menghadapi wanita. Bagaimana nanti kalau kamu tidak bahagia bersamaku dan meninggalkan aku" kali ini nada bicara Catra terdengar tak biasa.
Denisa memiringkan duduknya memandang ke arah wajah Catra yang murung lalu Denisa meraih tangan kiri Catra dan menggenggamnya "Jadilah diri kamu sendiri, buat aku mencintai dirimu seutuhnya karena itu dirimu. Bukan mencontoh orang lain." ujar Denisa tulus.
Catra memandang wajah Denisa yang tulus. Lalu memiringkan posisi tubuhnya kearah Denisa. Sekarang mereka berhadapan. Tangan kanan Catra terangkat dan membelai pipi Denisa lembut.
" Apakah kata-katamu ini menandakan bahwa kamu sudah mulai bersedia menjadi istriku ya?. Yang aku tau kamu kemarin-kemarin masih nolak aku terus."
Denisa menghela nafas panjang " Tadi pagi aku sempat ngobrol banyak dengan ibuku. Beliau pun menyukai kamu. Aku jujur cerita tentang kita. Beliau menasihati aku, bahwa cinta bisa tumbuh ataupun hilang semua tergantung pada perawatan nya. Asal disiram dan dipupuk dengan baik maka cinta itu akan tetap tumbuh subur dalam hati. Modal awal ku adalah kebaikan kamu yang tanpa pamrih padaku."
" Aku pun berhasrat untuk memperistri kamu. Karena di hidupku kamu wanita pertama yang membuatku tidak takut. Aku tertarik padamu. Saat ini aku menyukaimu dan berharap cinta itu tumbuh. Walau aku belum tau rasa cinta itu seperti apa. Aku harap kamu wanita pertama dan terakhir yang menjadi istriku. Aku berjanji akan berusaha mencintai dan bahagiakan mu seumur hidupku." Catra mengucapkan janjinya.
Denisa memandang Catra dengan pandangan lembut yang menyejukkan tak lupa senyuman tersungging di bibirnya membuat suasana terasa sangat romantis. Entah siapa yang memulai ketika wajah mereka semakin mendekat dan bibir mereka bersatu.
Tak ada ciuman liar yang bergairah hanya kecupan yang lama dalam diam. Mereka memejamkan mata. Mencoba saling membuka hati masing untuk melangkah bersama. Tampaknya saat ini Denisa sudah berniat mencoba membuka hatinya untuk Catra. Karena ibunya sudah merestui nya dengan Catra.
Ditengah suasana romantis yang terbangun indah di sore yang indah itu. Tiba-tiba saja suara klakson dan kilatan lampu mobil dari mobil yang berada tepat di depan mobil mereka mengagetkan Denisa dan Catra. Mereka segera menjauh satu sama lain. Didepan mereka tampak pengendara mobil yang hendak keluar parkir merasa terganggu melihat adegan mesra itu.
Denisa menunduk malu serasa ingin meringkuk saja menyembunyikan wajah. Sementara Catra segera menjalankan mobil yang seharusnya memang mau keluar parkiran sebelum terjadinya pembicaraan serius mereka.
Untunglah pengendara mobil didepannya tak melaporkan perbuatan mereka ke penjaga keamanan. Setelah keluar parkiran Denisa melihat ke arah Catra dan Catra juga sedang melihat ke arah Denisa. Tanpa di komando mereka berdua tersenyum dan tertawa bersama.
" Apa sih, tiap mau mesra kok endingnya kepergok orang terus ya," keluh Catra disela tawanya.
" Mungkin kita memang tidak boleh mesum sebelum menikah"
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤