Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Setelan Jas dan Langkah Pertama ke Altar Kekuasaan
Kehidupan di dalam mansion mewah ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang bisa diadaptasi oleh otak Kinar. Baru saja kemarin dia menginjakkan kaki di lantai marmer ini, pagi ini dia sudah harus terbangun oleh ketukan sopan dari pelayan kamar yang membawakan teh hangat, lengkap dengan sarapan pagi kelas hotel bintang lima yang ditata rapi di atas meja balkon kamar utama.
Kinar duduk di tepi ranjang berukuran King Size itu dengan canggung, melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, menyembunyikan suara gemercik air pancuran. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Arga melangkah keluar hanya dengan lilitan handuk putih di pinggangnya, memperlihatkan tetesan air yang mengalir di atas dada bidang dan perut kotak-kotaknya yang kokoh.
Kinar langsung membuang muka dengan cepat, menyembunyikan semburat merah yang instan menghiasi pipinya. "Arga! Kebiasaan deh, buruan pakai baju sana!"
Arga hanya terkekeh rendah, suara khas bangun tidurnya terdengar sangat seksi. Dia tidak menuju lemari biasa, melainkan melangkah ke arah meja rias besar tempat sebuah amplop dokumen berlapis emas berlogo Mahendra Group tergeletak bersama sebuah ponsel baru.
"Kakek beneran gak ngasih gue waktu buat napas, Nar," ucap Arga tiba-tiba, nadanya berubah menjadi serius.
Kinar menoleh sedikit, memastikan Arga sudah memakai celana kain hitamnya sebelum mendekat. "Ada apa, Ga?"
"Pak Gunawan baru aja telepon. Kakek memerintahkan gue buat mulai masuk ke kantor pusat hari ini. Jam sembilan pagi ini, gue resmi didudukkan di kursi Wakil Direktur Utama," jawab Arga sembari menatap dokumen penunjukan resmi di tangannya. "Ini langkah pertama gue buat ngambil alih kendali sebelum paman gue bergerak lebih jauh."
Mendengar hal itu, Kinar mendadak merasakan desakan kecemasan di dadanya. Dia tahu, masuknya Arga ke perusahaan bukan sekadar bekerja kantoran biasa, melainkan masuk ke dalam medan perang keluarga konglomerat yang penuh dengan intrik lintah darat.
"Lo... lo udah siap, Ga? Ini dunia yang beda banget sama dunia teknik kita di kampus," tanya Kinar pelan, sorot matanya pancarkan rasa khawatir yang tulus.
Arga menatap Kinar, lalu seulas senyuman hangat terbit di wajah tampannya. Dia melangkah mendekati walk-in closet, menarik sebuah gantungan baju yang menampung setelan jas three-piece premium berwarna biru tua gelap rancangan desainer Italia, lengkap dengan kemeja putih bersih dan dasi sutra senada.
"Gue gak punya pilihan buat gak siap, Nar. Demi Nyokap, dan demi masa depan kita," balas Arga tegas.
Sepuluh menit kemudian, transformasi Arga beneran membuat Kinar tidak bisa berkedip sekejap pun. Cowok berkepala beton yang biasanya hanya memakai kaos oblong hitam lusuh dan celana jin robek saat kuliah, kini menjelma menjadi sosok pria dewasa yang luar biasa berwibawa. Setelan jas mahal itu melekat sangat pas di tubuh tegap dan bahu lebar Arga, memancarkan aura ketampanan dan kekuasaan yang sangat pekat.
Namun, Arga tampak mendengus frustrasi di depan cermin besar, tangannya berkali-kali gagal membentuk simpul dasi sutra di leher kemejanya.
"Sial, gue biasa masang kabel sirkuit, kenapa masang ginian susah banget," umpat Arga kesal.
Kinar yang melihat hal itu akhirnya tidak tahan untuk tidak mendekat. Dia berjalan pelan, berhenti tepat di depan dada bidang Arga. "Sini, biar gue aja. Lo kalau urusan ginian emang payah."
Arga menurunkan tangannya, membiarkan Kinar mengambil alih kain dasi tersebut. Jarak mereka instan mengikis habis. Kinar mendongak sedikit karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup kontras, jemarinya yang lentik mulai bergerak lincah melingkarkan dasi di kerah kemeja Arga.
Debar jantung Kinar kembali berpacu brutal saat dia bisa merasakan tatapan mata elang Arga yang tidak beralih sedikit pun dari wajahnya sejak tadi. Pandangan Arga begitu intens, begitu mengunci, seolah-olah seluruh dunia luar tidak lagi penting bagi cowok itu.
"Nar," panggil Arga dengan suara baritonnya yang merendah, sangat dekat hingga embusan napasnya menerpa kening Kinar.
"Apa? Diem dulu, jangan banyak gerak, nanti simpulnya mencong," sahut Kinar gugup, berusaha mati-matian mempertahankan fokus jemarinya agar tidak gemetar.
"Makasih ya," bisik Arga tulus. "Makasih karena lo gak milih buat kabur setelah tahu semua rahasia gila keluarga gue. Makasih karena lo tetep milih berdiri di sini, di depan gue."
Gereget manis menjalar di dada Kinar. Dia menyelesaikan simpul dasi tersebut dengan rapi, lalu meratakannya di dada Arga. Alih-alih mundur setelah selesai, kedua tangan Kinar justru tertahan di atas kerah jas mahal Arga, mencengkeram kain premium itu sedikit erat.
Kinar mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Arga dengan binar mata yang penuh tekad. "Gue udah bilang kan di mobil kemarin? Gue gak bakal biarin paman lo yang licik itu menang. Pergi ke kantor itu, ambil hak lo, dan hancurin paman lo, Arga Mahendra. Gue bakal tetep nunggu lo di rumah ini."
Mendengar kata 'rumah' keluar dari mulut Kinar, pertahanan diri Arga runtuh total. Matanya menggelap penuh emosi yang meluap-luap. Tanpa aba-aba, kedua lengan kokoh Arga langsung melingkar protektif di pinggang ramping Kinar, menarik tubuh mungil istrinya itu hingga menempel tanpa celah pada tubuh tegapnya yang dibalut jas mewah.
Grep.
Kinar memekik pelan, namun tidak menolak saat Arga menundukkan wajahnya dengan cepat. Detik berikutnya, bibir hangat Arga mendarat dengan penuh penekanan di atas bibir ranum Kinar. Bukan lagi sekadar kecupan lembut di kening seperti malam semalam, melainkan sebuah ciuman nyata yang sarat akan janji, gairah, dan rasa kepemilikan yang menggebu-gebu.
Ciuman itu berlangsung intens dan menuntut di dalam keheningan kamar utama mansion mereka. Kinar memejamkan matanya rapat-rapat, meremas bahu kokoh Arga seiring dengan lututnya yang kembali terasa lemas karena sensasi memabukkan yang diberikan oleh suaminya itu.
Arga perlahan melepaskan pagutan bibir mereka, menyandarkan dahinya di dahi Kinar dengan napas yang memburu pendek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman seksi yang sangat mematikan.
"Gue pergi bertempur dulu, Istriku," bisik Arga tepat di depan bibir Kinar yang kini tampak sedikit bengkak dan memerah manis. "Tunggu suami lo ini pulang membawa kemenangan buat kita."
Di bawah pendar lampu kamar yang mewah, Kinar hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah yang sudah matang memerah. Langkah pertama Arga menuju takhta tertinggi korporat resmi dimulai hari itu, dilepas oleh ciuman membara yang menandakan bahwa misi pernikahan kontrak mereka kini beneran sudah berubah menjadi ikatan nyata yang mengikat jiwa dan raga mereka seutuhnya.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/