NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 - Gagal Fokus

Suara bising dari kamar sebelah yang kini sedang dibongkar untuk dijadikan kamar bayi, terdengar seperti dentuman jam pasir yang menghitung mundur sisa kebebasan Nami.

Sejak Max pergi, Nami mencoba menyibukkan diri bermain ponsel di dalam kamarnya, namun fokusnya hancur berantakan. Ironis sekali.

Sebagai seorang residen kardiologi—ah mantan residen kardiologi. Hari-harinya biasa dihabiskan untuk memeriksa detak jantung orang lain.

Namun siang ini, ritme detak jantungnya sendirilah yang mendadak berantakan dan berdetak cepat yang tak beraturan.

Pemicunya konyol. Setiap kali mendengar ketukan palu dari sebelah, memori sensorik Nami malah melayang pada kejadian panas semalam di ranjang kamar ini.

Sentuhan panas Max seolah masih tertinggal, membakar kulitnya setiap kali ia teringat bagaimana pria itu menatapnya dengan intensitas yang tak pernah ia duga sebelumnya.

"Cukup, Namira," bisiknya ketus pada diri sendiri.

Nami menggeleng keras, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya dengan telapak tangan untuk mengusir debaran asing yang mendadak menggelitik dadanya.

Ia harus sadar diri. Apa yang terjadi semalam bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah transaksi yang tertera dalam selembar kertas kontrak.

Max melakukannya demi sang ibu, dan dirinya melakukannya demi bertahan hidup. Hanya satu tahun. Setelah semua kewajibannya selesai, ia harus pergi dan kembali menjadi orang asing bagi keluarga Tanuwijaya.

Tok, tok, tok.

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan joroknya. Seorang pelayan rumah berdiri di sana.

"Nona Namira, maaf mengganggu. Nyonya Sofia meminta Anda menemuinya di ruang tengah. Kebetulan dokter pribadi keluarga sedang memeriksa beliau."

Nami terkejut kecil, lalu bergegas merapikan pakaiannya sebelum melangkah keluar.

Di ruang tengah yang luas, tampak dokter pribadi sedang bersiap memeriksa Sofia yang duduk bersandar di sofa.

Begitu melihat Nami datang, wajah pucat Sofia langsung dihiasi binar sayang yang tulus. Wanita setengah baya itu melambaikan tangan, lalu menatap dokter pribadinya dengan senyum manja.

"Dok, sepertinya periksanya cukup sampai di sini saja, ya. Tolong tinggalkan kami berdua sebentar. Saya mau diperiksa dan dipandu minum obat oleh menantu saya saja. Namira ini yang paling tahu ritme jantung saya sejak saya jadi pasien VIP-nya dulu."

Dokter pribadi itu tersenyum maklum, lalu berpamitan setelah memberikan laporan singkat pada Nami tentang kondisi terbaru Sofia.

Setelah memastikan mereka hanya berdua, Nami menghela napas, jemarinya bergerak telaten melingkarkan manset alat tensi digital pada lengan Sofia.

"Tensi Ibu sudah normal, 120/80," ucap Nami lembut, mencoba mengulas senyum profesionalnya seperti biasa.

"Tapi Ibu tetap harus mengurangi aktivitas berat dulu sampai beberapa hari ke depan."

Sofia mengangguk patuh. "Terima kasih, Nami. Sejak ada kamu di sini, rumah ini rasanya jauh lebih hangat.

"Dulu... rumah ini sepi sekali. Hanya ada Ibu dan Max." Wanita itu menjeda kalimatnya, tatapannya menerawang menatap foto keluarga di meja sudut.

"Ibu tahu Max itu pria yang sangat kaku dan dingin," lanjut Sofia dengan senyum getir. "Kamu tahu alasannya?"

Nami menggeleng pelan, tentu saja ia tidak tahu.

"Dia terpaksa tumbuh terlalu cepat, Nami. Sejak ayahnya meninggal saat Max masih remaja, dan perusahaan peninggalan keluarga hampir bangkrut karena dikhianati rekan bisnis, Max mengunci semua emosinya. Dia mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk bekerja dan melindungi Ibu. Di kepalanya, tidak ada ruang untuk kegagalan atau kelemahan. Ibu sering merasa bersalah melihatnya hidup seperti mesin hukum berjalan."

Mendengar itu, dada Nami mendadak berdesir aneh. Ada rasa hangat sekaligus iba yang menyusup ke hatinya. Mesin hukum berjalan... julukan dari Nyonya Sofia terasa begitu akurat untuk mendeskripsikan seorang Max.

Namun ingatan Nami lagi-lagi mengkhianatinya, membayangkan bagaimana selembar 'mesin hukum' yang kaku itu bisa menjelma menjadi sosok yang begitu menuntut dan penuh gairah saat menyentuhnya semalam.

***

Di saat yang bersamaan, suasana di ruang rapat utama Tanuwijaya Group terasa begitu mencekam. Beberapa jajaran direksi menahan napas saat sekretaris pribadi Max memaparkan laporan grafik keuntungan kuartal pertama.

Semua orang tahu, CEO mereka—Maxwell Ezra Tanuwijaya adalah pria yang tidak pernah menoleransi kelalaian sekecil apa pun, apalagi ia dikenal sebagai sosok yang selalu fokus 100% pada pekerjaan.

Namun, siang ini, sang CEO yang duduk di kursi kebesaran itu justru tampak terdistraksi.

Sepasang mata elang Max menatap lurus ke arah layar proyektor, namun fokusnya sama sekali tidak ada di sana.

Benaknya mendadak mengkhianati logika bisnis yang biasanya berjalan taktis. Bayangan kejadian semalam di ranjang kamarnya mendadak berputar tanpa izin di kepalanya.

Aroma tubuh Namira, bagaimana wanita itu mencengkeram bahunya dengan pasrah, hingga suara napas mereka yang beradu di keheningan malam terus membayanginya.

Max berdeham kaku, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme konstan untuk mengusir bayangan tersebut.

Sial. Mengapa wanita sederhana yang keras kepala itu bisa mengacaukan konsentrasinya sampai sejauh ini?

"Bagaimana menurut Anda, Pak Max? Apakah kita akan mengambil opsi investasi ini?" suara sang sekretaris memecah lamunan Max.

Max membetulkan posisi duduknya, wajahnya kembali menjelma menjadi sedingin es, menyembunyikan riak emosi asing yang bergejolak di dadanya.

"Batalkan semua jadwalku setelah jam empat sore ini," perintah Max datar, membuat seisi ruangan saling pandang terheran-heran.

Sekretarisnya tampak ragu. "Tapi Pak, ada jadwal makan malam dengan investor jam tujuh nanti..."

"Jadwalkan ulang minggu depan," potong Max cepat, suaranya tak terbantahkan.

"Ada proyek krusial di rumah yang harus kupantau secara langsung."

***

Sore harinya, baru saja jam menunjukkan pukul lima, deru mesin mobil mewah Max sudah terdengar memasuki gerbang kediaman Tanuwijaya.

Nami yang sedang duduk di ruang tengah menemani Sofia sontak menegang. Ia melirik jam dinding dengan heran. Tidak biasanya Max pulang saat matahari bahkan belum sepenuhnya terbenam.

Begitu pintu utama terbuka, sosok tegap Max muncul dengan jas yang tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan.

Tatapannya langsung terkunci pada Nami, sebuah tatapan intens yang membuat Nami merasa seolah-olah seluruh rahasia batinnya baru saja dibongkar paksa.

"Max? Tumben sekali sudah pulang, Sayang?" tanya Sofia dengan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan.

Max melangkah mendekat, mengecup kening ibunya lembut. Namun, bukannya langsung pergi ke kamar, pria itu justru melangkah mantap mendekati sofa tempat Nami duduk.

Sebelum Nami sempat berdiri untuk menyambutnya, Max sudah membungkuk sedikit, mengikis jarak di antara mereka. Jemari pria itu yang besar dan hangat tiba-tiba terangkat, menyelipkan seuntai anak rambut Nami ke belakang telinga.

Sentuhan kasual, namun terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan kesadaran Nami seketika.

"Pekerjaan kantor bisa diselesaikan besok, Bu," ucap Max datar, suaranya berat dan rendah tepat di samping wajah Nami. Matanya yang sewarna malam mengunci manik mata Nami tanpa ampun.

"Ada hal lain yang lebih mendesak untuk kupastikan keberhasilannya di sini."

Nami menelan ludah dengan susah payah, tangannya diam-diam mencengkeram remas rok rumahannya sendiri.

Di depan Sofia, kalimat itu terdengar seperti perhatian seorang suami yang manis. Namun bagi Nami, tatapan lapar dan suara rendah Max adalah sebuah titah yang tak bisa dibantah.

Itu bukan sekadar basa-basi pulang cepat, di balik wajah kaku Max, Nami bisa melihat ambisi yang sama seperti saat pria itu mengejar target perusahaan. Dan kali ini, targetnya adalah dirinya.

Sebuah tuntutan terselubung untuk ronde kedua malam ini.

1
Linzyasila Linzyasila
ceritanya bagus kenapa gak up tiap hari?
Aksara Naura: karena sepi kak wkwk
total 1 replies
Aksara Naura
Akhirnya up lagi! sampai jumpa di next bab yahh💪
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!