NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27. Ancaman pak tua

Sejak mendengar penjelasan dari ketiga temannya itu, pikiran Leon tidak pernah tenang. Setiap kali menutup mata, kilasan samar cahaya lampu mobil dan suara teriakan seolah kembali terngiang di telinganya. Ia mulai mengerti mengapa selama ini orang tuanya selalu menghindari pertanyaan soal masa lalunya, mereka takut kebenaran itu akan membangkitkan rasa sakit dan amarah yang bisa merusak proses pemulihannya.

Namun kini, setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi, Leon merasa tidak bisa hanya diam saja. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Lima tahun di mana ia terbaring tak berdaya, sementara orang tuanya harus menahan kesedihan sekaligus berjuang melunasi biaya pengobatan yang menghabiskan seluruh tabungan mereka. Dan yang paling menyakitkan pelakunya masih bebas, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.

Keesokan harinya, saat duduk berdua dengan Pak Indra di ruang tengah, Leon memberanikan diri membuka topik itu. Wajah ayahnya langsung berubah pucat begitu mendengar pertanyaan putranya.

“Jadi kamu sudah tahu, ya?” tanya Pak Indra lirih, lalu menghela napas panjang. “Kami merahasiakannya bukan karena tidak percaya sama kamu, Nak. Kami hanya ingin kamu pulih dengan tenang, tanpa dibebani rasa benci atau dendam. Dendam itu hanya akan memakan diri sendiri, bukan menyelesaikan masalah.”

Leon mengangguk mengerti, tapi suaranya tetap tegas. “leon paham maksud Ayah. Tapi ini bukan soal dendam semata. Ini soal keadilan. Kalau dia dibiarkan begitu saja, besok bisa saja dia mengulangi hal yang sama pada orang lain yang tidak seberuntung leon.”

Setelah mendengar penjelasan Leon, Pak Indra akhirnya menceritakan semuanya secara lengkap. orang yang menabraknya adalah Reza, anak dari pengusaha properti bernama Hartono yang memiliki pengaruh besar di kota itu. Segala upaya yang dilakukan keluarga mereka untuk menuntut pertanggungjawaban selalu menemui jalan buntu. Bukti berubah, saksi menarik keterangan, bahkan pihak kepolisian seolah tidak berdaya menghadapi tekanan dan uang yang disodorkan.

“Mereka sempat menawarkan ganti rugi dalam jumlah besar, dengan syarat kami menandatangani surat pernyataan bahwa kecelakaan itu murni kesalahan lo sendiri,” lanjut Pak Indra dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Ibu dan Ayah menolak. Uang tidak bisa mengembalikan lima tahun hidup kamu yang hilang, dan tidak bisa menghapus rasa sakit yang kami rasakan.”

Mendengar itu, hati Leon terasa semakin panas. Ia berjanji dalam hati akan mencari cara untuk membongkar kebenaran itu, meski tahu jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah.

Beberapa hari kemudian, Dimas, Raka, dan Bimo datang lagi membawa kabar baru. Mereka berhasil melacak beberapa informasi dari kenalan yang bekerja di kantor polisi.

“Kita dapat tahu kalau Reza sudah kembali ke kota sejak tiga bulan lalu,” ujar Dimas dengan nada berbisik seolah takut didengar orang lain. “Dia berjalan bebas seperti tidak ada apa-apa, bahkan baru saja membuka usaha baru dengan modal dari ayahnya.”

“Yang lebih parah lagi,” sambung Raka, “Mereka mulai mendengar kabar kalau lo sudah sadar. Beberapa hari ini ada orang yang mencurigakan sering lewat di depan rumah, mengawasi gerak-gerik kita. Sepertinya mereka khawatir lo akan membuka kembali kasus ini.”

Leon menegakkan punggungnya, matanya memancarkan ketegasan. “Kalau mereka mulai waspada, berarti mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Selama masih ada jejak, pasti ada celah untuk membuktikan kebenaran.”

Mereka sepakat untuk bekerja secara diam-diam. Leon tidak ingin terburu-buru dan memberikan kesempatan pada pihak lawan untuk menghancurkan sisa bukti yang mungkin masih ada. Ia juga mulai menyadari bahwa kemampuan yang ia miliki selama di dunia cerita kemampuan mengingat dengan sangat rinci, menganalisis kejadian, dan menyusun alur ternyata berguna juga di dunia nyata ini.

Suatu malam, saat ia sedang memeriksa kembali catatan yang ditulis temannya soal kejadian itu, tiba-tiba halaman buku catatan cokelatnya memancarkan cahaya samar. Di tengah halaman yang kosong, muncul tulisan yang tidak ia tulis sendiri.

“Kebenaran selalu memiliki jejak, meski tersembunyi di balik kegelapan. Ikuti apa yang hatimu rasakan, dan kekuatan yang kamu bawa dari tempat lain akan menuntunmu menemukan jalan keluar.”

Leon tertegun, lalu tersenyum tipis. Ia tidak sendirian. Dukungan tidak hanya datang dari orang tuanya dan teman-temannya, tapi juga dari ikatan yang terjalin di dunia lain yang membuatnya merasa lebih kuat.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Keesokan paginya, saat Leon berjalan keluar rumah untuk membeli kebutuhan, sebuah mobil hitam mewah tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Jendela kaca turun, dan seorang pria paruh baya dengan wajah dingin menatapnya tajam.

“Kamu Leon, kan?” tanya pria itu dengan nada merendahkan. “Saya Hartono. Sebaiknya kamu dan keluarganya tahu batasnya. Jangan sampai membuka hal yang sudah selesai, kalau tidak ingin menyesal.”

Leon menatap balik tanpa rasa takut. “Hal yang belum selesai tidak akan pernah bisa dianggap selesai, Pak. Dan kebenaran itu tidak bisa dibeli dengan uang apa pun.”

Hartono tersenyum sinis, lalu menyalakan mesin mobilnya lagi. “Kita lihat saja nanti apakah kamu masih sekeras ini setelah merasakan bagaimana rasanya melawan orang yang punya kuasa.”

Mobil itu melaju pergi dengan cepat, meninggalkan Leon yang berdiri tegak di tengah jalan, dengan tekad yang makin membulat. Ia tahu, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!