Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah
Pagi itu, Yura sedang duduk dikereta sambil memandangi rumput dan pohon-pohon yang tertinggal karena laju nya kereta.
Rosa, sang ibu yang berada disamping nya merapikan jaket tebal Yura.
"Nanti, di rumah nenek kamu harus nurut ya, "
Ia bicara sambil tangan nya masih terus mengusap dan merapikan pakaian Yura. Tak lupa rambut juga ikut menjadi sasaran tangannya yang tak biasa itu.
Yura yang sejak tadi hanya memandang keluar jendela kaca kereta tak menggubris perkataan ibunya.
Tangannya hanya fokus menggenggam ponsel nya. Sesekali ia akan melihat layarnya lalu membuka ruang obrolan.
Disana tertera nama "kak Steven" tak lupa pakai emoji love disamping namanya.
Namun sepanjang perjalanan, ia hanya membuka tapi tak menuliskan sesuatu. Bolak-balik membuka foto profil, bahkan sesekali jari mungilnya bergerak menyentuh keyboard. Namun secepat mungkin ia hapus kembali.
"ra, kamu dengar mama? "
Kembali sang ibu bersuara, mungkin karena ocehannya tidak direspon.
"aku mau tidur"
Bukan jawaban iya ma, melainkan kalimat pemutus tali silaturahmi. Membuat sang ibu hanya mampu menghembuskan nafasnya berat.
Yura masih menyimpan kekesalan dihatinya, namun diungkapkan pun percuma. Sehingga ia hanya memutuskan untuk diam dan menjalani semuanya dengan datar.
Namun dibalik semua itu, ada satu hal yang lebih darurat. Kepindahannya saat ini masih belum bisa ia cerita kan pada pria yang namanya sejak tadi ia lihat diponselnya.
Yura masih ingat dengan jelas, pria yang bernama Steven itu harus pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan nya. Tapi siapapun tahu jika kepergian nya semata hanya untuk menjauhkan nya dari Yura.
Ia juga masih ingat dengan jelas bagaimana pria itu menangis saat berpamitan dengannya. Mereka adalah sepasang kekasih yang harus berpisah karena keputusan orang tua Steven yang tidak bisa dibantah.
Adapun perbedaan status mereka yang menjadi alasan utama orang tua Steven tidak mengingikan dirinya dekat-dekat dengan pria itu.
Namun sejak kecil, ia sudah menjalani kehidupan yang kesepian. Sejak itu pula lah Steven muncul bagaikan pelangi setelah hujan.
Pria itu dengan tulus bergerak menjadi orang terdekat Yura. Ia mengajarkan banyak hal pada Yura kecil hingga sampai sebesar saat ini.
Siapa yang tak jatuh cinta dengan pria sebaik itu? Yura tahu konsekuensi dari mencintai pria itu, namun ia tetap melakukannya.
Begitu juga dengan Steven, berkali-kali orang tuanya menegaskan bahwa boleh berteman, asalkan jangan jatuh cinta.
Kedua sejoli itu tidak menyerah, mereka tetap saling mencintai hingga kedua nya harus menerima kenyataan bahwa Steven harus belajar keluar negeri.
Tanpa sadar, air mata Yura menetes. Ia segera memalingkan wajahnya sebelum sang ibu menyadarinya.
Demi menghalau pikiran nya yang tidak baik-baik saja, ia segera memasukkan ponsel itu kedalam tas nya kemudian menutup mata, berharap ingatan-ingatan itu segera hilang.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan selama delapan jam_termasuk di beberapa pemberhentian stasiun yang dilewati, Yura dan ibunya tiba di stasiun terakhir.
Sejauh mata memandang, tidak ada sosok yang meyambut mereka diantara puluhan orang yang berlalu lalang itu.
Dengan malas Yura mengikuti langkah kaki sang ibu. Pandangannya hanya fokus menatap ke bawah. Hingga sebuah taksi berhenti didepan mereka.
Hari yang sudah mulai gelap, ditambah penat karena perjalanan yang lama membuat suasana hati siapa saja bisa sangat tidak nyaman.
Yura hanya bersandar pasrah pada sandaran kursi, matanya terlalu lelah untuk terbuka.
"lihat sekolah itu, kamu akan bersekolah disitu nanti"
Kembali sang ibu hanya bicara sepihak, walaupun secara spontan kepala Yura menoleh pada sekolah yang ditunjuk oleh ibunya.
Perjalanan menggunakan taksi tersebut lagi-lagi harus menghabiskan waktu selama satu jam. Membuat perasaan Yura semakin berkecamuk.
Berbagai pemikiran buruk mulai singgah diotaknya_menyalahkan sang ibu yang berusaha mengirimnya sejauh mungkin supaya tidak adalagi yang mengganggu kehidupan baru nya nanti.
Yura memandangi rumah sederhana yang berdinding kayu didepannya. Didepan rumah itu terbentang jalan kecil yang tidak mengenal aspal.
Pantas saja saat ditaksi mobilnya terguncang hebat membuat kepala Yura semakin pusing saja.
Dari dalam rumah keluar seorang nenek yang rambutnya telah memutih seluruhnya namun tubuhnya masih terlihat sangat bugar.
Dengan girang ia berseru sambil memeluk Yura.
"ya ampun cucuku, ternyata sudah sebesar ini, cantik lagi"
Dengan susah payah Yura mencoba tersenyum menanggapi sang nenek. Nenek yang baru pertama kali ia temui sejak ia lahir.
Yura dapat melihat air mata neneknya merembes keluar, menyusuri kerutan-kerutan halus diwajahnya.
Sang nenek kemudian berganti memeluk Rosa sang ibu. Ia memasang senyum bahagia.
"kau sudah bekerja keras selama ini, "
Membuat Yura memutar bola matanya malas. "ia bekerja untuk kebaikan dirinya sendiri" batinnya.
"ayo masuk-masuk"
Nenek mengarahkan Rosa masuk, sedangkan Yura masih berdiri sambil memandang sekitar. Rumah nenek nya sudah sangat kuno, namun masih dihias dengan cantik.
Sejauh mata memandang, Yura menemukan rumah-rumah lainnya juga masih sama seperti rumah sang nenek.
Pemukiman yang mereka tinggali ini berada sangat dekat dengan pantai, sehingga sangat sulit menemukan rumah yang berdiri berdekatan.
Jalanan yang naik turun juga membut rumah di desa ini terlihat tinggi-tinggi, padahal hanya memiliki satu lantai saja.
Yura juga dapat mendengar deru ombak yang menabrak batu karang buatan yang tersusun rapi dibibir pantai.
Ia menyisir seluruh area yang terjangkau oleh matanya, hingga sebuah rumah mewah bertingkat dekat dengan gapura desa membuat senyum aneh muncul disudut dibibirnya.
"Rumah yang aneh"
Ia segera masuk dan mencari sang nenek. Tubuhnya yang sudah sangat kelelahan ingin segera ia rebahkan saja.
"oh sayangku, kemari nak. "
Nenek dengan begitu bahagia nya menunjukkan sebuah kamar yang telah dihias dengan begitu indah_ala anak manis.
"istirahat lah sayang, nenek tahu kamu pasti sangat lelah"
"atau, kau ingin makan sesuatu? "
Yang disambut gelengan kepala oleh Yura. ia hanya ingin merebahkan tubuhnya, meluruskan pinggang yang terasa sangat kaku itu.
Sepeninggal sang nenek, Yura segera membanting tubuhnya kedalam kasur lembut itu. Kakinya ia biarkan tergantung dipinggiran tempat tidur.
Lengannya terangkat menutupi wajahnya, namun air mata perlahan merembes. Sesungguhnya ia tidak hanya lelas secara fisik, hati nya juga ikut-ikutan merasa lelah.
...****************...
Pagi-pagi sekali, Yura terbangun dari tidurnya yang berantakan. Ia menggelengkan kepala nya setelah menyadari betapa hancurnya dirinya saat ini.
Tidak mandi, tidak makan, namun ia dapat tertidur dengan lelapnya bahkan tanpa mengganti baju nya.
Menyadari cacing nya yang telah berontak sejak tadi, membuat segera keluar menuju dapur. Disana ia sudah melihat sang ibu yang sedang sibuk memasak.
"jangan sperti itu lagi, nanti nenekmu tidak suka, "
Nadanya lembut, tapi penuh kritik tajam. Jika tidak diam, maka mengoceh. Begitu setiap hari hingga Yura sudah sangat terbiasa.
dengan diam, Yura memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia menyesali dirinya yang diam dan mendengar sang ibu bicara.
"bukankah seharusnya aku abaikan saja? "
Bersambung...