Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pukul 05.00 WIB.
Alarm dari ponsel Cia berbunyi nyaring memecah keheningan kamar utama. Biasanya, dengan satu kali usapan, gadis itu akan mematikan alarm tersebut dan melompat turun dari ranjang untuk bersiap. Namun pagi ini, rutinitas itu terasa mustahil dilakukan.
Kepala Cia berdenyut hebat seakan baru saja dihantam palu godam. Sendi-sendinya ngilu, dan hawa dingin yang tak wajar menusuk hingga ke tulang, padahal ia sudah bergelung di bawah selimut tebal.
Dengan tangan gemetar, Cia mematikan alarm itu. Ia memaksakan diri untuk duduk. Kepalanya seketika berputar.
"Almeera?"
Suara bariton serak itu terdengar dari arah pintu kamar mandi. Ren baru saja selesai mandi pagi setelah rutinitas olahraganya. Pria itu keluar dengan handuk kecil mengalung di leher, mengenakan kaus oblong putih polos dan celana training.
Melihat istrinya duduk mematung di tepi ranjang dengan wajah sepucat kertas dan napas yang sedikit tersengal, insting tempur Ren langsung mengambil alih. Pria itu membuang handuknya ke sembarang arah, melangkah lebar menghampiri ranjang, dan langsung berlutut di depan Cia.
"Ada apa? Bagian mana yang sakit?" tanya Ren cepat. Tangan kanannya yang besar dan hangat langsung menempel di kening dan leher Cia.
Mata elang sang Mayor sedikit melebar. "Suhumu sangat tinggi. Kamu demam."
"Cuma kecapekan, Mas," gumam Cia dengan suara parau. Ia berusaha menyingkirkan tangan Ren pelan. "Kemarin di IGD pasien membeludak, AC-nya dingin banget. Aku mandi air hangat sebentar pasti mendingan. Jam tujuh ada jadwal visite bangsal."
Ren tidak beranjak satu sentimeter pun. Pria itu justru memegang kedua bahu Cia, menatap istrinya dengan tatapan absolut yang tak menerima bantahan.
"Target operasi dibatalkan. Kamu tidak akan pergi ke mana pun hari ini," perintah Ren mutlak.
"Mas, aku ini dokter, bukan anak TK yang bisa bolos sekolah gara-gara flu," protes Cia, memaksakan diri berdiri. Namun, baru satu langkah, lututnya lemas.
Sebelum tubuh Cia menyentuh lantai karpet, sepasang lengan kokoh sudah menangkapnya. Ren mengangkat tubuh istrinya dengan sangat mudah—lengan kirinya sudah pulih total dan kembali sekuat baja—lalu membaringkan Cia kembali ke atas kasur, menarik selimut hingga sebatas dada gadis itu.
"Dalam dunia militer maupun medis, memaksakan personel yang sedang cedera atau sakit untuk terjun ke lapangan hanya akan membahayakan seluruh tim," ucap Ren dengan nada datar, namun tangannya bergerak sangat lembut merapikan bantal di bawah kepala Cia. "Jika kamu memaksakan diri ke IGD dengan kondisi imun menurun, kamu bukan menyembuhkan pasien, tapi menularkan virus atau justru tertular penyakit yang lebih parah."
Skakmat. Cia menutup matanya, mendesah pasrah karena logika suaminya tidak bisa didebat. "Terus... jadwal visite-ku gimana? Dr. Surya pasti ngamuk kalau aku absen mendadak tanpa alasan yang jelas."
Ren mengambil ponsel Cia yang tergeletak di nakas. "Buka kunci layarnya."
"Mas mau ngapain?"
"Melakukan negosiasi diplomatik dengan atasanmu," jawab Ren tanpa dosa.
Cia membelalak, namun karena terlalu lemas, ia hanya membiarkan pemindai wajah di ponselnya terbuka. Ren mencari kontak bernama 'Dr. Surya Konsulen' dan langsung menekan tombol panggil, lalu me-Loudspeaker ponsel tersebut.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum suara berat dr. Surya terdengar.
"Ya, Dokter Almeera? Ada apa pagi-pagi? Jadwal visite kita jam tujuh tepat, jangan sampai terlambat," sapa dr. Surya tegas.
Ren berdeham, mengeluarkan suara baritonnya yang paling berwibawa, suara yang biasa ia gunakan untuk memberikan instruksi pada satu batalyon.
"Selamat pagi, Dokter Surya. Saya Mayor Ren Adhyaksa, suami dari dr. Almeera Cia," sapa Ren lugas dan formal.
Terdengar suara sesuatu yang terjatuh di seberang sana—sepertinya dr. Surya baru saja menjatuhkan bolpoin atau cangkir kopinya karena terkejut. Reputasi Mayor Ren sudah cukup melegenda di Pelita Medika semenjak insiden 'luka sabet sangkur' dan 'rantang amunisi siang'.
"M-Mayor Ren? Selamat pagi, Komandan. Ada... ada masalah apa?" nada bicara konsulen killer itu mendadak berubah menjadi sangat sopan dan berhati-hati.
Cia menyembunyikan wajahnya di balik selimut, menahan tawa sekaligus malu.
"Saya menginformasikan bahwa istri saya mengalami demam tinggi dan penurunan kondisi fisik secara drastis pagi ini," lapor Ren layaknya sedang membaca situasi medan tempur. "Oleh karena itu, saya mengaktifkan protokol karantina mandiri untuknya. Dr. Almeera tidak akan bertugas hari ini hingga kondisinya dinyatakan stabil. Saya harap Anda bisa mengatur ulang jadwal formasinya di IGD."
"O-oh, tentu saja, Mayor! Tidak masalah!" jawab dr. Surya cepat. "Kesehatan tenaga medis adalah prioritas. Sampaikan salam lekas sembuh dari saya untuk dr. Cia. Biar pasien bangsal saya yang handle."
"Terima kasih atas kerja samanya, Dokter Surya. Selamat pagi."
Klik. Ren mematikan sambungan.
Pria itu meletakkan ponsel ke nakas, lalu menatap gundukan selimut yang bergetar. Ren menarik ujung selimut itu, menampakkan wajah Cia yang sedang tersenyum geli dengan pipi memerah karena demam.
"Kamu bener-bener nyeremin kalau lagi mode laporan, Mas. Dr. Surya itu konsulen paling ditakuti se-rumah sakit lho, bisa-bisanya suaranya jadi mencicit gitu pas denger namamu," kekeh Cia pelan.
"Siapa pun yang berani mengganggu masa pemulihan istri saya adalah ancaman yang harus dinetralisir," balas Ren santai. "Sekarang, tunggu di sini. Saya akan mengambil kotak P3K dan termometer. Jangan berani-berani beranjak dari kasur."
Sepuluh menit kemudian, Ren kembali ke kamar. Kali ini, ia membawa nampan berisi segelas air hangat, sepiring roti bakar tawar, obat penurun panas, dan sebuah termometer digital.
Ren duduk di tepi ranjang. Ia memasukkan termometer itu ke telinga Cia. Bunyi bip terdengar beberapa detik kemudian.
Mata elang Ren memicing menatap layar kecil itu. "Tiga puluh delapan koma sembilan derajat Celcius. Status merah. Kita butuh hidrasi dan asupan karbohidrat sekarang juga sebelum parasetamol masuk."
Cia memutar bola matanya. "Mas, ini demam biasa, bukan status siaga tempur. Aku cuma butuh tidur."
"Makan dulu," Ren menyodorkan potongan kecil roti tawar ke depan bibir Cia. Matanya menatap tajam, menolak negosiasi. "Tiga gigitan. Setelah itu minum obat."
Karena terlalu lemas untuk berdebat, Cia membuka mulut dan mengunyah roti tawar yang terasa seperti kardus basah di lidahnya yang sedang pahit. Setelah dengan susah payah menghabiskan setengah tangkup roti, Cia meminum obatnya.
"Sudah," gumam Cia menyandarkan kepalanya kembali ke bantal. Matanya terasa sangat berat. "Kamu berangkat ke Cipatat sana, Mas. Nanti kesiangan. Aku cuma mau tidur kok."
Ren meletakkan nampan ke atas nakas. Pria itu tidak beranjak menuju lemari seragamnya, melainkan ikut naik ke atas ranjang di sebelah Cia. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, lalu menarik tubuh mungil istrinya agar bersandar di dada bidangnya.
"Mas? Kamu ngapain?" Cia mengerjap bingung, merasakan usapan lembut tangan Ren di lengannya. "Kamu nggak kerja?"
"Saya sudah mengirim pesan pada perwira pengganti untuk mengambil alih kelas teori saya hari ini," jawab Ren tenang.
"Tapi—"
"Dulu, saat saya terbaring hancur di rumah sakit, kamu menjaga saya tanpa memedulikan jam kerjamu sendiri, Almeera," potong Ren, suaranya sangat rendah dan mengalun syahdu di telinga Cia. "Biarkan saya membalas budi. Panglima kecil ini butuh pengawal pribadi hari ini, dan saya tidak akan menyerahkan tugas itu pada siapa pun."
Hati Cia menghangat. Segala rasa sakit di kepalanya seolah sedikit mereda mendengar suara detak jantung Ren yang teratur di bawah telinganya.
"Nanti kamu ketularan flunya, Mas," bisik Cia lemah, meski ia sama sekali tidak berusaha melepaskan diri dari dekapan nyaman itu.
Ren menempelkan pipinya di puncak kepala Cia. "Antibodi saya ditempa oleh lumpur, hujan badai, dan gigitan lintah hutan. Virus flu dari dokter rumah sakit tidak akan bisa menembus pertahanan saya. Tidurlah, Cia."
Cia tersenyum tipis. Aroma tubuh suaminya yang maskulin dan bersih menjadi obat penenang yang jauh lebih ampuh daripada parasetamol mana pun. Dalam hitungan menit, napas Cia menjadi teratur, menandakan ia telah jatuh tertidur pulas.
Ren tetap terjaga. Tangan kirinya memeluk istrinya protektif, sementara tangan kanannya meraih tablet kerjanya di nakas. Pria itu mengawasi laporan evaluasi para siswanya melalui layar tablet, sesekali meletakkan punggung tangannya di kening Cia untuk memantau suhu tubuh gadis itu.
Bagi Mayor Ren Adhyaksa, menjaga perbatasan negara adalah sebuah tugas suci. Namun menjaga wanita di pelukannya ini agar kembali sehat, adalah sebuah misi kehidupan yang tak ternilai harganya.
Sore harinya, hujan turun rintik-rintik di luar jendela.
Suhu tubuh Cia perlahan mulai turun berkat obat dan kompres air hangat yang rutin diganti oleh Ren setiap satu jam. Gadis itu membuka matanya, merasa jauh lebih segar. Kepalanya tak lagi berdenyut menyiksa.
Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma kaldu ayam yang sangat harum menguar dari arah pintu kamar yang sedikit terbuka.
Cia bangkit perlahan, menyibakkan selimut. Ia melangkah keluar kamar menuju dapur.
Di sana, Mayor Ren Adhyaksa sedang berdiri di depan kompor. Pria itu mengenakan celemek polkadot kesayangan Cia—sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan otot lengannya yang terbentuk jelas dan wajah datarnya yang serius mengamati panci rebusan. Di tangannya, Ren memegang sendok sayur layaknya sedang memegang pisau taktis.
Cia tidak bisa menahan tawanya. "Mas, celemeknya kurang cocok sama auramu."
Ren menoleh. Melihat Cia sudah bisa berdiri dan tersenyum, raut kelegaan langsung terpancar dari mata elangnya. Pria itu mematikan kompor, melepaskan celemek konyol itu, dan berjalan menghampiri istrinya.
"Suhumu sudah turun?" Ren kembali menempelkan punggung tangannya di kening Cia. "Bagus. Fase kritis sudah lewat. Saya baru saja merebus sup ayam kampung dengan bawang putih ekstra. Resep dari instruktur survival untuk memulihkan stamina dengan cepat."
Cia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ren, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. "Makasih, Mayor. Kamu perawat terbaik yang pernah aku punya."
Ren membalas pelukan itu, mencium puncak kepala Cia berulang kali. "Saya akan dengan senang hati mengambil alih profesi itu, jika itu berarti saya bisa terus memastikamu aman."
Cia mendongak, menatap mata suaminya. "Mas, kamu sadar nggak sih, sejak kita nikah, kita kayak gantian jadi dokter sama perawat buat satu sama lain? Mulai dari ICU, pedalaman Papua, insiden sabetan sangkur, sampai demam hari ini."
Sudut bibir Ren melengkung membentuk senyum menawan. "Itu yang namanya simbiosis taktis dalam rumah tangga, Almeera. Saya adalah tameng fisikmu, dan kamu adalah penyembuh jiwa saya."
Ren sedikit menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Cia. Tatapannya berubah menjadi lebih dalam dan serius, namun dipenuhi oleh kelembutan yang tak terhingga.
"Lagipula," bisik Ren, mengusap pipi istrinya dengan ibu jari. "Kita harus sama-sama sehat dan kuat. Karena dalam beberapa tahun ke depan... saya berencana menambah 'personel baru' di markas nomor 115 ini. Dan itu membutuhkan stamina ekstra dari kita berdua."
Mata Cia membulat. Pipinya yang tadi memucat kini kembali bersemu merah, kali ini bukan karena demam. Ia mengerti betul maksud dari ucapan suaminya. Personel baru. Anak.
"K-komandan udah berencana bikin skuadron sendiri, ya?" cicit Cia salah tingkah.
"Satu skuadron mungkin terlalu banyak," Ren terkekeh pelan, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Dua atau tiga prajurit kecil sepertinya cukup untuk membuat rumah ini sedikit lebih berisik."
Cia tersenyum lebar, mengalungkan lengannya di leher sang Mayor. Segala rasa sakit sisa demamnya menguap tak bersisa. "Kalau gitu, aku harus cepat sembuh biar bisa persiapin kedatangan personel baru itu."
Ren tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut, hangat, dan dipenuhi oleh janji-janji masa depan yang panjang. Di luar sana, gerimis sore menjadi saksi bisu bagaimana sepasang suami istri itu terus menguatkan satu sama lain, bersiap menyambut setiap babak baru dalam hidup mereka dengan barisan pertahanan yang tak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun.