Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Kak Maya dari Besi Kelabu
Maya Kirana punya kemampuan membuat ruangan merasa kurang mahal.
Dia tidak perlu berteriak. Tidak perlu mengancam. Dia hanya masuk, duduk, menyilangkan kaki, lalu tersenyum seperti seluruh gedung Mahardika Pictures baru saja berubah menjadi aset kecil dalam portofolionya.
Damar yang biasanya percaya diri mendadak rapi. Reno berdiri lebih tegak. Alina menunduk. Bahkan Arga, yang tidak mudah terkesan, mengamati Maya dengan waspada.
Ayla duduk di sofa, wajahnya tidak senang.
“Kamu mengikuti aku?”
Maya mengambil cangkir kopi yang belum disentuh Damar. “Aku menyebutnya menjaga adik.”
“Aku bukan adikmu.”
“Benar. Adik biasanya lebih manis.”
Ayla menatapnya datar.
Maya tertawa, lalu melihat Arga. “Pak Arga Wiratama. Kita akhirnya bertemu resmi.”
Arga menjawab, “Maya Kirana.”
“Wah, sudah tahu namaku. Aku tersanjung.”
“Pemilik Kirana Capital, investor sektor media, kesehatan, dan keamanan maritim. Juga memiliki hubungan tidak langsung dengan Besi Kelabu.”
Senyum Maya semakin lebar. “Hubungan tidak langsung. Halus sekali.”
Reno berbisik pada Ayla, “Besi Kelabu itu apa?”
Ayla menjawab, “Tempat kerja yang penuh orang cerewet.”
Maya menunjuk Ayla. “Dia salah satu yang paling cerewet.”
Arga menatap Ayla.
Ayla pura-pura melihat poster film.
Damar akhirnya berkata, “Maaf, Bu Maya. Maksud Anda uang palsu atas nama investor?”
Maya meletakkan map merah di meja. “Nusantara Citra Investama mengaku mendapat mandat dari grup investasiku untuk masuk ke proyek ini. Mereka memakai surat palsu, logo palsu, dan tanda tangan digital yang sangat menghina.”
Dia membuka map.
Dokumen asli dan palsu tersusun rapi. Perbedaannya kecil, tetapi fatal.
“Aku tidak suka tanda tanganku dipalsukan,” lanjut Maya. “Apalagi untuk proyek yang ternyata terhubung dengan obat ilegal.”
Alina mengangkat wajah. “Aku tidak tahu soal pemalsuan itu.”
Maya menatapnya.
Senyumnya masih ada, tetapi suhu ruangan seperti turun.
“Sayang, aku belum bertanya padamu.”
Alina langsung menunduk lagi.
Ayla hampir tertawa.
Maya memang menyebalkan, tetapi berguna.
Arga mengambil dokumen. “Kapan Anda tahu?”
“Tadi pagi. Ayla mengirim nama Nusantara Citra ke seseorang di jaringan kami.”
Ayla menoleh. “Aku tidak mengirim ke kamu.”
“Kamu mengirim ke Bara. Bara mengirim ke grup. Grup itu ada aku.”
“Pengkhianat.”
“Kami menyebutnya koordinasi.”
Arga melirik Ayla.
Ayla mengangkat bahu. “Definisi koordinasi ternyata berbeda-beda.”
Maya melanjutkan, “Aku datang karena ingin tahu siapa yang memakai namaku. Ternyata di sini ramai sekali. Ada satuan khusus, bintang film, putri palsu, dan Mamba yang sedang cosplay mahasiswi.”
Ruangan membeku.
Ayla menutup mata sebentar.
Arga berkata pelan, “Mamba.”
Maya berkedip, lalu tersenyum. “Ups.”
Ayla menatapnya. “Kamu sengaja.”
“Sedikit.”
Reno melihat Ayla. “Mamba itu apa?”
Alina juga menatapnya, wajahnya sangat pucat.
Ayla berdiri. “Julukan lama.”
Maya menopang dagu. “Julukan yang membuat setengah orang di kawasan tertentu memilih pindah negara kalau mendengarnya.”
“Maya.”
“Baik, baik. Aku diam.”
Dia sama sekali tidak terlihat akan diam.
Arga menyimpan reaksi di balik wajah dinginnya, tetapi Ayla tahu pertanyaan di kepalanya bertambah. Banyak.
Damar, yang tampaknya lebih peduli film daripada keselamatan diri, tiba-tiba berkata, “Ini luar biasa.”
Semua menatapnya.
Dia menunjuk Ayla dan Maya bergantian. “Energinya. Konfliknya. Rahasianya. Ini materi film.”
Reno menarik napas. “Mas Damar, ini bukan waktu yang tepat.”
“Seniman tidak memilih waktu.”
Ayla berkata, “Orang hidup biasanya memilih.”
Damar langsung diam.
Arga kembali ke dokumen. “Bu Maya, kami butuh akses ke tim legal dan digital forensik Anda untuk melacak pemalsuan.”
“Tentu. Dengan satu syarat.”
Arga menatapnya. “Apa?”
Maya menunjuk Ayla. “Dia ikut saat kalian membuka data ponsel Surya.”
“Itu bukan keputusan Anda.”
“Benar. Itu keputusan cerdas.”
Bima yang baru masuk membawa berkas hampir tersedak mendengar kalimat itu.
Arga berkata, “Ayla bukan bagian resmi tim.”
Maya tersenyum. “Tapi file itu bernama 531-MB. Kalau MB berarti yang kupikir, tanpa dia kalian akan membuka pintu yang salah.”
Ayla menatap Maya.
Maya membalas tatapan itu, kali ini tanpa main-main.
Ada peringatan di sana.
Jangan biarkan mereka membuka sendirian.
Ayla akhirnya berkata, “Aku ikut.”
Arga menatapnya. “Kamu perlu mulai menjawab beberapa hal.”
“Setelah file dibuka.”
“Sebelum.”
“Pak Arga, kalau kamu memaksa sekarang, aku keluar dari gedung ini dan kamu akan menghabiskan tiga hari mengejarku.”
Bima bergumam, “Saya percaya.”
Arga menatap Bima.
Bima pura-pura membaca berkas.
Maya tertawa kecil. “Aku suka timmu.”
Arga tampak tidak sependapat.
Alina tiba-tiba bersuara pelan. “Kak Ayla... kamu sebenarnya siapa?”
Pertanyaan itu terdengar tulus.
Atau mungkin Alina terlalu lelah untuk menghiasnya.
Ayla menatapnya.
“Orang yang kursinya kamu duduki terlalu lama.”
Alina menelan ludah. “Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu punya semua ini... teman seperti Bu Maya, Pak Arga, kemampuan seperti tadi... kenapa kamu pulang? Kenapa mengganggu hidupku?”
Reno mengerutkan dahi. “Alina.”
Alina berdiri, air mata jatuh lagi, tetapi kali ini suaranya lebih marah daripada sedih. “Apa? Aku salah bertanya? Dia datang dan semuanya hancur. Mama menangis, Papa mencurigaiku, Kak Reno menjauh. Padahal sebelum dia datang, semuanya baik-baik saja.”
Ayla menatapnya tanpa berkedip.
“Semuanya baik-baik saja karena aku tidak ada?”
Alina terdiam.
Kalimat itu menampar lebih keras daripada kemarahan.
Reno menatap lantai.
Maya tidak lagi tersenyum.
Ayla melangkah mendekati Alina. “Kamu boleh takut kehilangan. Tapi jangan sebut hidupku sebagai gangguan hanya karena kebohonganmu lebih nyaman sebelum aku pulang.”
Alina menangis, tetapi tidak menjawab.
Ayla mengambil tasnya. “Pak Arga, kabari kalau file dibuka.”
Arga berkata, “Kamu mau ke mana?”
“Kampus.”
Semua orang menatapnya.
Damar bahkan menurunkan kertas.
Ayla melihat jam. “Aku ada kelas pengenalan studio animasi.”
Bima berbisik, “Setelah semua ini, dia masih kuliah?”
Maya menjawab santai, “Dia pernah menyelesaikan operasi bersenjata lalu minta dibelikan es kopi. Ini belum seberapa.”
Arga memijat pelipis. “Saya antar.”
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Aku naik ojol.”
“Ayla.”
Maya melihat mereka bergantian dengan senyum penuh gosip. “Wah.”
Ayla menunjuk Maya. “Jangan.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Wajahmu bilang banyak.”
Reno, di tengah kekacauan batinnya, akhirnya benar-benar tertawa pendek.
Alina menatap tawa itu seperti melihat sesuatu yang pergi darinya.
Arga akhirnya berkata, “Saya antar sampai kampus. Setelah itu kamu ikut Lestari membuka file.”
“Deal.”
“Dan tidak menghilang.”
“Aku mahasiswi baru. Jadwalku padat.”
“Ayla.”
“Baik. Tidak menghilang.”
Maya berdiri dan menyerahkan satu kartu hitam pada Damar. “Pak Damar, proyek film ini tetap berjalan. Tapi semua pendanaan palsu diputus. Kalau ceritanya tentang yayasan busuk, pastikan risetnya benar.”
Damar menerima kartu itu seperti menerima wahyu. “Bu Maya mau investasi?”
“Mungkin. Kalau pemeran perempuannya menarik.”
Dia melirik Ayla.
Ayla langsung berkata, “Tidak.”
Damar menatapnya penuh harap. “Pikir dulu.”
“Tidak.”
“Satu adegan saja?”
“Tidak.”
Maya tertawa. “Semakin dia menolak, semakin cocok.”
Ayla keluar dari ruang rapat sebelum ada yang punya ide lebih buruk.
Di lift, Arga berdiri di sampingnya.
“Mamba,” katanya pelan.
Ayla menatap angka lantai yang turun.
“Jangan mulai.”
“Saya justru baru mulai.”
Pintu lift terbuka.
Ayla melangkah keluar.
“Kalau begitu, Pak Arga, semoga stamina Anda bagus.”
Arga berjalan di sampingnya.
“Untuk mengejarmu?”
Ayla tersenyum tanpa menoleh.
“Untuk bertahan setelah tahu jawabannya.”
Di luar gedung, matahari siang Jakarta menyilaukan. Kampus menunggu. File 531-MB menunggu. Surya Atmadja masih bebas. Dan nama Mamba sudah terlanjur jatuh di antara mereka.
Permainan baru saja naik tingkat.
Di dalam mobil menuju kampus, Arga tidak menyalakan radio. Ayla membuka ponsel, pura-pura membaca jadwal ospek, padahal dia tahu pria di sebelahnya sedang menyusun pertanyaan.
“Kamu tahu,” kata Arga akhirnya, “semakin kamu menghindar, semakin besar alasan saya mengejar.”
Ayla tidak menoleh. “Kalimat itu terdengar seperti dialog drama romantis murahan.”
“Ini penyelidikan.”
“Lebih buruk. Drama romantis setidaknya punya musik.”
Arga menahan napas, seperti sedang memilih antara marah atau tertawa. “Maya Kirana bagian dari Besi Kelabu?”
“Dia bagian dari banyak hal.”
“Dan kamu?”
Ayla melihat gerbang Universitas Naratama mulai tampak di depan.
“Hari ini? Mahasiswi animasi yang terlambat kelas.”
Mobil berhenti.
Sebelum turun, Ayla menatap Arga. “Pak Arga, kalau kamu ingin jawabanku, buka file itu dulu. Setelah itu, putuskan apakah kamu masih ingin bertanya.”
Arga membalas tatapannya. “Saya akan tetap bertanya.”
Ayla tersenyum.
“Kalau begitu sampai nanti.”
Dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke kampus seolah tidak baru saja meninggalkan ruang penuh rahasia internasional.
Arga melihatnya sampai menghilang di balik gerbang.
Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, dia merasa Berkas 531 bukan hanya tentang masa lalu.
Ia sedang berjalan dengan sepatu kets, membawa ransel kecil, dan membuat seluruh Jakarta terasa kurang siap.