NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: RUMAH DUKA & PENJELASAN

Suasana duka masih kental menyelimuti rumah peninggalan Tante Yuni malam itu. Aroma minyak wangi cendana dan sisa-sisa air mawar yang dibawa warga dari pemakaman siang tadi masih tercium samar di ruang tamu. Karpet-karpet panjang digelar penuh hingga teras luar, menampung puluhan warga komplek RT 04 yang datang untuk mengikuti acara tahlilan dan yasinan malam pertama.

Kenan duduk di sudut ruangan, bersandar pada pilar kayu dengan wajah yang masih sangat pucat dan mata sembab. Di sampingnya, Sendy setia menemani, sesekali menyodorkan gelas berisi air putih hangat agar sahabatnya itu tidak kekurangan cairan setelah sempat pingsan di pemakaman tadi siang. Sementara Aldi, sebagai Ketua Karang Taruna, duduk di barisan paling depan memimpin pembacaan doa bersama bapak-bapak warga komplek. Suaranya yang berat dan serak melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan khusyuk, mencoba mengalirkan ketenangan ke dalam rumah yang baru saja kehilangan separuh nyawanya itu.

Di barisan belakang, dekat pintu penghubung menuju dapur, Jasmine duduk bersama ibu-ibu yang bertugas menyiapkan kotak kue konsumsi warga. Sejak acara dimulai, pandangan Jasmine sama sekali tidak bisa lepas dari punggung tegap Aldi. Pikiran Jasmine benar-benar tersiksa. Penolakan dingin Aldi di kantor polisi subuh tadi, ditambah dengan tatapan kosong pemuda itu selama prosesi pemakaman siang hari, membuat dada Jasmine dilingkupi rasa bersalah yang teramat sangat.

Jasmine tahu, suasana saat ini sedang berduka. Namun, ia juga sadar jika kesalahpahaman di antara mereka tidak segera diluruskan, jarak yang diciptakan oleh Aldi akan menjadi sebuah benteng permanen yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan lagi.

Saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, para jamaah tahlilan mulai berpamitan pulang satu per satu. Aula ruang tamu yang tadinya sesak perlahan-lahan mulai lengang. Jasmine sengaja memperlambat gerakannya saat merapikan sisa Gelas air mineral. Ketika melihat Pak Dadang dan Bunda Baren pamit keluar untuk mengurus beberapa hal, Jasmine memberanikan diri melangkah mendekati Aldi yang sedang membantu Sendy melipat karpet di sudut teras depan.

"Mas Aldi..." panggil Jasmine lirih, suaranya terdengar sangat berhati-hati agar tidak memancing perhatian warga yang masih tersisa di halaman.

Aldi menghentikan gerakannya melipat karpet. Ia menegakkan tubuh bongsornya, menatap Jasmine dengan sorot mata yang masih sama seperti subuh tadi: tenang, formal, dan dingin. "Iya, ada apa, Bu?"

Jasmine menelan ludah, hatinya mencos mendengar panggilan formal itu lagi. Ia menatap lekat-lekat sepasang mata elang Aldi. "Mas... tolong, kita perlu bicara sebentar saja. Tolong jangan menghindar lagi. Mas, kalau kita gak omongin hal ini sekarang, kita gak bakalan pernah tahu masalah sebenarnya apa... dan salahnya di mana."

Aldi terdiam selama beberapa detik. Ia melirik ke dalam rumah, memastikan Kenan sudah ditemani oleh Sendy dan beberapa kerabat dekatnya. Aldi mengembuskan napas pendek melalui hidung. Egonya yang terluka sempat berontak, namun di sisi lain, ia juga lelah memendam rasa sesak di dadanya sendirian sejak kemarin malam.

"Ya sudah. Selepas sisa yasinan ini beres, kita ngobrol di bangku taman depan rumah Kenan," ujar Aldi akhirnya, nadanya terdengar pasrah.

Sepuluh menit berselang, malam yang makin larut membawa kesunyian di bawah lampu jalan komplek. Aldi dan Jasmine kini duduk berdampingan di sebuah bangku besi panjang yang terletak di bawah pohon mangga depan rumah Kenan. Jarak di antara mereka sengaja diberi ruang sekitar satu jengkal oleh Aldi.

"Silakan, Bu Jasmine. Mau ngomong soal apa?" membuka Aldi langsung tanpa basa-basi, kedua tangannya bertumpu di atas lutut dengan jemari yang saling bertautan.

Jasmine menoleh, menatap lekat profil samping wajah Aldi yang tampak mengeras di bawah temaram cahaya kuning merkuri. "Saya mau tanya langsung sama Mas Aldi. Kenapa sikap Mas berubah drastis? Sore kemarin saya cuma minta waktu buat berpikir, Mas. Bukan berarti saya menolak niat baik Mas Aldi. Kenapa subuh tadi di kantor polisi Mas malah narik ucapan Mas dan bilang kalau saya jangan bercanda? Kenapa Mas tiba-tiba sejauh ini?"

Mendengar rentetan pertanyaan itu, Aldi mendadak tertawa kecil—sebuah tawa getir yang sarat akan rasa frustrasi yang ia pendam sendiri. Ia akhirnya memalingkan wajah, menatap langsung ke dalam manik mata Jasmine dengan tatapan mata yang membara oleh emosi terpendam.

"Ibu mau tahu sebabnya kenapa saya tiba-tiba jadi kayak gini?" suara Aldi mendadak meninggi satu oktav, namun ia buru-buru menekannya kembali agar tidak terdengar ke dalam rumah duka. "Sebabnya sederhana, Bu. Karena saya sadar diri. Saya gak mau jadi cowok gak tahu diri yang hobi ganggu kebahagiaan orang lain."

Dahi Jasmine berkerut dalam, wajah cantiknya memancarkan kebingungan yang nyata. "Maksud Mas Aldi apa? Ganggu kebahagiaan siapa?"

"Udahlah, Bu Jasmine, gak usah pura-pura gak tahu lagi," jawab Aldi, suaranya kini terdengar sangat serak dan bergetar hebat karena menahan cemburu anak muda yang telanjur meledak di dalam dadanya. "Sore kemarin, setelah saya datang ke rumah Ibu buat ngomongin niat baik saya buat nikah... sore itu juga Kenan sama Sendy liat Ibu di pasar kuliner dekat taman kota. Ibu lagi jajan di sarung bareng seorang cowok. Jalannya mepet, deketan banget, kelihatan mesra banget kayak orang lagi pacaran!"

Aldi menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan tidak teratur. "Cowok itu namanya Afrizal, kan? Anak PNS dari Gang Melati itu? Nah, sekarang saya tanya balik sama Ibu... kalau posisinya Ibu udah punya hubungan dekat sama cowok mapan kayak si Afrizal itu, buat apa Ibu mainin perasaan saya? Buat apa Ibu bilang mau nerima lamaran saya di kantor polisi tadi kalau sorenya Ibu jalan berduaan sama cowok lain? Saya emang masih muda, Bu, masih kuliah, belum punya kerjaan tetap yang hebat kayak PNS. Tapi harga diri saya sebagai cowok gak bisa Ibu buat mainan kayak gini!"

Penjelasan panjang kali lebar yang mengalir deras dari mulut Aldi malam itu benar-benar mendarat dengan efek kejut yang luar biasa di kepala Jasmine. Wanita matang itu langsung terpaku di tempatnya duduk, matanya melotot sempurna dengan mulut yang setengah terbuka. Seluruh potongan teka-teki tentang perubahan sikap ekstrem Aldi sejak rapat di balai desa hingga bentakannya di rumah Kenan akhirnya terjawab bersih malam ini.

Namun, alih-alih marah karena dituduh yang tidak-tidak, gurat kepanikan di wajah Jasmine perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh sebuah senyuman tipis yang sangat tulus, dan sedetik kemudian, sebuah tawa renyah yang tertahan lolos dari bibirnya. Jasmine menutup mulutnya dengan satu tangan, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat gemas menatap pemuda bongsor di depannya.

Aldi yang melihat Jasmine malah tertawa langsung mendengus kesal, wajah tegapnya seketika merona merah padam karena merasa dilecehkan. "Tuh, kan! Ibu malah ketawa! Berarti bener kan apa yang dibilang anak-anak?"

"Aduh... Mas Aldi, Mas Aldi... dengerin saya dulu, Mas polos," ujar Jasmine setelah berhasil meredakan tawanya, meskipun sisa-sisa senyuman manis masih tercetak jelas di bibirnya. Jasmine memajukan posisi duduknya, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi melatinya kembali menyelimuti indra penciuman Aldi. "Jadi... karena masalah ini kamu sampai mendiamkan saya seharian di balai desa dan bentak-bentak saya di rumah Kenan tadi?"

"Ya iyalah! Cowok mana yang gak emosi!" ketus Aldi, membuang muka ke arah jalanan.

Jasmine mengulurkan tangan lentiknya, dengan berani menyentuh punggung tangan Aldi yang memar, mengusapnya dengan sangat lembut untuk menenangkan emosi pemuda itu. "Mas Aldi... kamu salah paham besar. Mas Afrizal yang kamu maksud itu... dia itu kakak sepupu kandung saya sendiri, Mas."

Deg.

Gerakan tubuh Aldi seketika membeku total. Kepala jangkungnya langsung berputar cepat, menatap Jasmine dengan tatapan mata yang melotot tidak percaya. "S-sepupu... kandung?"

"Iya, Mas Aldi sayang..." bisik Jasmine dengan nada manja kedewasaannya yang khas, membuat bulu kuduk Aldi seketika meremang hebat. "Ibunya Mas Afrizal itu adik kandung dari almarhumah ibu saya. Kemarin sore dia sengaja datang ke rumah karena mau mengantarkan surat undangan dan berkas keluarga. Kenapa kita jalan berduaan di pasar kuliner? Karena saya minta tolong ditemani buat beli camilan kesukaannya Nadeo yang kebetulan cuma dijual di sana. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu, Mas..." Jasmine sengaja menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata Aldi yang mulai tampak kebingungan. "Mas Afrizal itu... bulan depan sudah mau melangsungkan pernikahan. Dia sudah punya tunangan sendiri yang tinggal di desa sebelah."

Mendengar penjelasan yang sangat klir dan gamblang dari Jasmine malam itu, seluruh logika di dalam otak Aldi rasanya seperti runtuh dan mengalami korsleting massal gelombang keempat. Kepalanya mendadak kosong, dan wajah sangar Ketua Karang Taruna yang tadinya menyala penuh amarah, dalam sekejap langsung berubah menjadi sangat polos, melongo dengan ekspresi kebodohan yang teramat sangat menggemaskan.

Anjir... Sepupu kandung?! Udah punya tunangan?! Teriakan batin Aldi bergaung keras di dalam kepalanya. Rasa malu yang luar biasa dahsyat mendadak menyerang seluruh permukaan wajahnya hingga telinganya ikut memerah padam. Kalimat-kalimat tinggi soal "harga diri cowok" yang ia lontarkan penuh emosi beberapa menit lalu kini berbalik menjadi lelucon paling konyol yang pernah ia buat seumur hidup.

"J-jadi... beneran sepupu, Bu?" tanya Aldi lagi dengan suara yang mendadak mencicit kecil, sangat kontras dengan postur tubuh bongsornya.

"Beneran, Mas Aldi... Masa saya harus bawa kartu keluarga ke sini buat buktiin ke kamu?" goda Jasmine manis, jemarinya beralih mencubit pelan hidung bangir Aldi yang sedang salah tingkah luar biasa. "Makanya, lain kali kalau ada apa-apa itu ditanya langsung, diomongin baik-baik. Jangan langsung pasang muka tripleks di balai desa terus mogok gak mau lihat saya lagi. Saya sempat takut tahu, saya kira kamu beneran berubah pikiran karena saya kelamaan mikir kemarin."

Aldi hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan tawa kaku yang sangat canggung, merutuki kebodohan kuadrat dirinya beserta Kenan dan Sendy yang sudah menyebarkan gosip intelijen gagal di pos ronda malam itu. Di bawah temaram lampu jalanan komplek rumah Kenan, kesalahpahaman yang sempat membekukan hati mereka akhirnya mencair sepenuhnya, menyisakan sebuah harapan baru yang kembali membentang hangat di antara sepasang hati yang mulai bertaut erat tersebut.

1
Liananovinatasya Karangrejo
saya tunggu kelanjutannya ya 🤗 semangattt ya kak 🤗🤗
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!