NovelToon NovelToon
BERSINAR DI DUNIA BEASTMAN

BERSINAR DI DUNIA BEASTMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: julieta

Selina, seorang gadis muda yang baru saja lulus tiba-tiba bertransmigrasi ke dunia beastman ketika sedang tertidur. Hidup didunia asing yang mengandalkan kekuatan untuk bertahan hidup, Selina yang tak memiliki chat curang atau mengetahui jalan cerita takdirnya seperti yang selama ini dialami oleh para transmigator lainnya memilih untuk menggunakan ingatan dan kemampuannya di dunia modern demi bertahan hidup yang tanpa sadar upaya dan terobosan yang dibuatnya mempengaruhi kehidupan suku rubah dimana ia tinggal,membuat peradaban di suku rubah mengalami kemajuan dan seiring dengan perkembangan sukunya nama Selina pun semakin terkenal dan dianggap sebagai pelopor dan iapun yang semula hanyalah seorang betina lemah dan sakit-sakitan tanpa kemampuan berubah menjadi wanita kuat dan penuh inovasi yang membawa sukunya menjadi besar dan diperhitungkan di dunia Beastman

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYERGAPAN

Langit yang semula cerah tiba-tiba mendung dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Meski hujan namun hal itu tak mempengaruhi semangat para anggota suku rubah untuk pergi menaklukkan suku beruang hitam malam ini.

Jalan setapak yang berlumpur di dalam hutan sama sekali tak menjadi halangan bagi tiga ratus anggota Suku Rubah melangkah maju dengan langkah serempak, menembus hujan deras.

Air hujan mengalir di tubuh mereka, langkah terasa berat, tetapi tak seorang pun mengeluh. Saat tiba di sebuah tikungan, Abraham memberi isyarat tangan untuk menghentikan barisan di belakang agar tetap di tempat. Ia sendiri berjalan mendekati Selina yang masih duduk tegak di atas kepala Arvello.

Tubuh mungilnya yang dibungkus jas hujan yang ia ambil dari ruang penyimpanan ajaibnya tampak kokoh tak tergoyahkan meski hujan membasahi tubuhnya.

"Selina, lihat ke sana. Itu wilayah Suku Beruang hitam," lapor Abraham dengan suara rendah, matanya waspada mengamati sekeliling.

"Jika kita mendekat sedikit lagi, pasti akan ketahuan", ucapnya menambahkan.

Selina menatap kearah yang ditunjuk oleh Abraham dengan  tajam. Dua penjaga Suku Beruang Hitam tampak berdiri di samping dua pohon yang berdekatan, sosok mereka yang sangat tinggi dan besar dengan kulit gelap tersamarkan di balik tirai hujan.

Untungnya Abraham telah lama memahami situasi Suku Beruang Hitam dan bersiap sejak awal. Jika tidak, bila mereka berjalan begitu saja tanpa kewaspadaan, begitu

melewati tikungan mereka akan langsung berada di bawah pengawasan musuh.

Selina mengangguk pelan tanpa suara. la memberi isyarat agar barisan di belakang tetap tenang dan tidak menimbulkan keributan, lalu ia berdiri sambil memegang sebuah bambu mirip seruling yang akan ia tiup untuk meluncurkan jarum bius kearah musuh.

Terdengar bunyi "swus", dan jarum yang telah dilumuri obat bius dosis tinggi itu melesat, tanpa jeda sedikit pun.

Penjaga pertama terkena jarum bius tepat sasaran dan jatuh ketanah dengan bunyi gedebuk. Penjaga kedua terkejut dan menoleh, namun seketika pandangannya menggelap dan ia pun terjatuh.

"Pindahkan mereka ke tempat yang tidak terkena hujan," ujar Selina sambil menyimpan senjata tiupnya itu kembali keruang penyimpanannya.

Selina memutar tubuhnya,  memandang ke arah belakang dan melanjutkan. "Ingat tujuan kita hari ini adalah menaklukkan, bukan membunuh. Aku ingin Suku Beruang Hitam tunduk dengan sukarela. Jika mereka menolak, barulah kita bunuh untuk menghindari ancaman dimasa depan".

Semua orang mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sebagian dari mereka mulai menyadari, aksi di tengah hujan badai hari ini hanyalah satu langkah dalam papan catur besar yang disusun oleh perempuan muda itu.Targetnya jelas tidak terbatas pada Suku Beruang Hitam semata.

Abraham dan Reygan saling tatap dan keduanya mengangguk tanda jika mereka sepahaman dan tak lagi ragu untuk menuruti semua perintah Selina setelah melihat jika rencana perempuan itu sangat matang dan siap untuk dieksekusi.

Hujan turun stabil tanpa tanda-tanda mereda, kabut tipis menyelimuti hutan. Wilayah Suku Beruang Hitam pun semakin jelas terlihat, sebuah perkampungan yang dibangun mengikuti tebing gunung, berupa gua batu di tebing gunung yang curam dan jika tidak hati-hati dan mengetahui medan dengan benar maka akan sangat berbahaya.

Selina yang tak ingin  banyak korban jiwa dalam pertempuran malam ini pun mulai melaksanakan strateginya. 

"Jenderal Abraham, bagi pasukan sesuai rencana. Usahakan melukai tanpa membunuh,", ucap Selina.

Kemudian ia menoleh dan menatap pria yang berdiri tegak disamping Jenderal Abraham. "Jenderal Reygan, arahkan regu pertama untuk menguasai gua di sisi timur dan tugaskan regu kedua di barat, sementara regu ketiga bersiap di tengah", ucapnya tajam.

Kemudian Selina berdiri dan kembali menatap barisan dibelakangnya dengan tajam, "Semua perhatikan, setelah selesai dengan tugas masing-masing, berkumpul di titik tengah dengan sinyal peluit".

Para anggota suku rubah yang sudah kembali wujud ke bentuk manusia agar lebih gesit bergerak menyebar tanpa suara, mengalir seperti air.

Selina sendiri bersama Arvello yang juga sudah berubah wujud menjadi pria tampan, membawa sepuluh orang langsung menuju ke gua batu terbesar di pusat perkampungan, yang Abraham sinyalir sebagai tempat tinggal kepala suku dan dukun Suku Beruang Hitam berada.

"Siapa di sana?!", teriak salah satu penjaga sambil berjalan keluar dari dalam gua batu.

Meski mereka telah berusaha bergerak senyap dan hujan lebat membantu menutupi suara, di dalam perkampungan dengan begitu banyak orang, tetap saja ada yang kebetulan keluar atau memiliki pendengaran tajam. Tak lama kemudian, keberadaan mereka pun terdeteksi.

Orang itu tampak sangat ketakutan dan terperangah melihat mereka. Begitu sadar, ia hendak berteriak keras.

Namun sebelum Selina sempat berbicara, Arvello sudah melesat maju. Orang itu panik, segera mencabut tongkat yang terselip di pinggangnya dan berniat menyerang. Akan tetapi, Arvello sudah mengangkat satu tangannya dan mengayunkannya ringan, tongkat itu langsung terbelah menjadi dua.

Manusia Beruang Hitam itu menatap tongkat patah di tangannya dengan wajah bodoh dan terpaku.

Setelah orang itu dilumpuhkan, manusia binatang Suku Rubah yang mengikuti Selina dibelakang segera mengikat tangan dan kaki anggota suku Beruang Hitam yang tertangkap itu dengan sulur yang telah disiapkan, lalu menyumpal mulutnya dengan segenggam daun kering agar tak bisa bersuara. Begitulah seterusnya, bergerak sambil melumpuhkan.

Tak lama kemudian, lebih dari dua puluh anggota Suku Beruang Hitam yang ada di gua batu utama telah terikat tangan dan kaki. Mereka dirangkai menjadi satu, ditarik dengan wajah penuh ketakutan sambil mengeluarkan suara erangan tertahan.

Sementara itu, di dalam perkampungan mulai

terdengar kegaduhan, seiring aksi regu-regu kecil yang bergerak serentak, dengan membuat asap disekitar tebing agar semua orang didalam gua batu keluar karena mengira terjadi kebakaran tanpa tahu begitu mereka keluar dari gua batu, mereka langsung disergap dan dilumpuhkan.

Semakin banyak orang tersadar. Ada yang melawan, ada pula yang memohon ampun. Mustahil mempertahankan kesunyian sepanjang waktu.

Penyergapan semacam ini hanya membutuhkan keheningan di awal. Begitu suara besar terdengar dan pihak lawan bereaksi, keadaan sudah tak mungkin diubah lagi. Pertumpahan darah yang sejak awal berusaha untuk dihindari kini terjadi.

Anggota Suku Beruang Hitam yang tak mau tunduk langsung berontak dan Selina yang melihat beberapa anggota suku rubah terluka segera mengeluarkan senjata tiupnya dan jarum bius pun mulai berterbangan kearah musuh.

Bunyi gedebuk yang terus terdengar bersamaan dengan satu persatu anggota suku Beruang Hitam yang pingsan terjatuh ditanah, membuat beberapa anggota suku Beruang Hitam yang masih memegang senjata dan ingin melawan, melepaskan senjata mereka dan berlutut minta pengampunan karena mengira puluhan rekan mereka yang terjatuh di tanah tersebut meninggal dunia tanpa suara setelah senjata aneh menyerang mereka dari arah yang tak diketahui.

Begitu semua orang sudah menyerah, anggota suku rubah segera maju dan mengikat kedua tangan dan kaki mereka kemudian mengumpulkan mereka bersama rekan-rekannya yang lain di tengah pemukiman dan anggota suku rubah yang terluka segera diobati agar tak terjadi infeksi.

Untung saja luka mereka hanya luka gores diluar sehingga dengan obat yang Selina berikan dan kemampuan alami yang dimiliki para beastman miliki, luka dengan cepat menutup dan langsung mengering sehingga air hujan tak bisa membasahinya dan menimbulkan infeksi yang bisa membahayakan nyawan.

1
Wapik
mencoba baca dulu ya
Aie Saragih
kk double up ya kk
Aie Saragih
aku selalu Sukak cerita kk ini
gak bertele tele
semangat y kk buat karya bgus bagus nya
Aie Saragih
kk knpa skit sekali kk bab nya 😍
Yuni Anto
🙄😍waah😍up LG donk Thor 💪💪💪💪💖💖 terus ya Thor
Herli Yani
lanjut thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!