NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Diminta mengundurkan diri

Nadia tak mengerti kenapa dia selalu saja berada di pojokan.

Sejak kecil hingga usianya sekarang, tujuh belas tahun.

Dia bersekolah di SMK jurusan mesin. Kebanyakan teman-temannya lelaki. Dalam satu kelas, hanya ada dua orang perempuan: dia dan Lusi.

Di sekolah yang sering dipandang sebelah mata , Nadia berhasil mendaftar Olimpiade Matematika dengan hadiah utama beasiswa ke Harvard.

Harusnya, sebagai orang tua, mereka bangga dan mendukung. Namun, tidak dengan keluarga Nadia.

"Nadia, cepat tanda tangan."

Rani, ibu Nadia, seorang wanita berusia empat puluh tahun yang masih terlihat cantik berkat perawatan mahal, menyodorkan selembar kertas.

Nadia menatap surat pengunduran dirinya sebagai peserta olimpiade dengan wajah sinis.

"Kenapa?" tanyanya.

"Jangan buat malu keluarga Wijaya. Kamu akan kalah di babak awal. Daripada memalukan keluarga Wijaya, lebih baik kamu mengundurkan diri."

Tatapan Rani begitu tajam, mengintimidasi.

"Memalukan nama keluarga? Keluarga mana? Aku maju atas nama sekolahku, kok. Tenang saja, aku nggak akan membawa nama Wijaya."

Jawaban Nadia terdengar tegas.

Menjadi juara olimpiade bukan untuk mencari validasi. Dia hanya ingin mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Miris memang. Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga kaya raya, tetapi untuk kuliah saja Nadia harus mengandalkan beasiswa.

"Jangan keras kepala. Cepat tanda tangan."

"Nggak mau."

Jawaban itu meluncur tanpa ragu.

Tiba-tiba terdengar suara lembut, mendayu-dayu, penuh empati yang berlebihan.

"Kak, niat Ibu baik. Kakak daftar lalu kalah itu memalukan, Kak. Daripada malu, mending nggak usah, Kak. Tolong hargai Mama, Kak."

Dia adalah Yulia, adik Nadia.

Katanya mereka kembar, tetapi tidak identik. Baik dari wajah maupun sifat.

Nadia berperangai dingin, keras kepala, tegas, dan sering disebut arogan.

Sedangkan Yulia adalah gadis lemah lembut, cantik, berprestasi, dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.

Nadia menoleh ke arah Yulia.

"Sudahlah. Aku nggak suka kepura-puraan, Yulia. Aku tahu kamu takut kalah dariku. Makanya kamu merengek ke orang tuamu agar membujukku mengundurkan diri."

Rahang Rini langsung mengeras.

Kakak Nadia itu terpaut sepuluh tahun darinya. Sebagai direktur operasional perusahaan keluarga, Rini selalu membenci Nadia. Dan Nadia juga tidak tahu alasan pasti kenapa kakaknya begitu membencinya.

"Jangan mimpi kamu bisa mengalahkan Yulia. Anak nakal seperti kamu nggak pantas bersaing dengan adikku."

Ya, adikku.

Rini selalu menyebut Yulia dengan kata itu. Sedangkan untuk Nadia, dia hanya memanggil namanya.

"Maaf. Aku ikut olimpiade untuk jadi juara, bukan untuk bersaing dengan ratu drama."

"Nadia!"

Rini membentak. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.

"Dasar anak keras kepala! Nggak tahu diuntung! Cepat tanda tangan surat pengunduran diri itu sekarang juga!"

"Tidak mau."

Nadia menjawab dengan tegas.

"Kak Nadia, tolong hargai pendapat Mama dan Kak Rini. Mereka khawatir kamu kalah, Kak. Karena akulah yang akan jadi lawan Kakak. Lebih baik Kakak fokus saja cari sekolah tinggi atau universitas, Kak."

Nadia melirik Yulia dengan tatapan sinis.

"Aku masuk SMK mesin karena usahaku sendiri. Karena kalian cuma menyekolahkanku sampai SMP. Terus sekarang kalian menyuruhku fokus mencari universitas? Memangnya Mama dan Papa mau membiayai sekolahku?"

"Aku nggak rela Papa mengeluarkan uang untuk Nadia. Dia itu cuma bikin malu saja."

Rini yang menjawab.

"Kak Rini, tolong jangan begitu. Kak Nadia juga anak Mama dan Papa...."

Rini langsung mendekat dan merangkul pundak Yulia.

"Kamu memang anak baik, Sayang. Sejak SMP entah berapa kali kamu disakiti Nadia. Makanya aku nggak rida dia sekolah tinggi."

Tatapan Rini mengarah kepada ayahnya, Rangga. Namun tujuan sebenarnya jelas, Nadia.

Ekspresi Nadia tetap datar.

Dan itulah yang paling menyebalkan. Membuat siapa pun geregetan.

"Rida nggak rida, kenyataannya aku masih bisa sekolah, kan? Dengan biaya sendiri. Hebat, kan, aku? Banyak orang memujiku."

Nadia mengembuskan napas panjang.

"Hanya kalian saja yang selalu memandangku salah."

"Dasar anak nggak punya sopan santun! Sekolah di SMK malah makin kurang ajar. Sama orang tua memanggil 'kalian'. Benar-benar tidak sopan!"

"Orang tua?" Nadia tertawa hambar. "Kalian saja tidak pernah menganggapku anak."

"Nadia!"

Suara Rani melengking.

Entah kenapa, Nadia selalu berhasil membuatnya marah. Membuatnya benci. Membuatnya jengkel.

"Nggak usah teriak-teriak. Aku tetap pada keputusanku. Aku akan maju di olimpiade."

Tatapan Nadia beralih kepada Yulia.

"Siap-siap saja kalah, Yulia."

"Dasar sombong! Tidak menghargai orang tua! Cuma tanda tangan surat pengunduran diri saja susah. Mulai besok kamu nggak usah makan di sini!"

Kali ini Rangga yang bicara.

"Makan?"

Nadia memandang pria itu tanpa emosi.

"Selama tiga tahun terakhir, apa pernah Anda melihat saya makan di sini?"

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Nadia hingga kepalanya terlempar ke samping.

"Yang sopan bicara sama Papa kamu! Memanggil orang tua pakai 'Anda'. Kamu boleh menghinaku, tapi aku nggak rela suamiku kamu hina!"

Napas Rani naik turun menahan amarah.

Nadia menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Apa Anda pikir Anda punya sopan santun? Menampar orang tanpa penjelasan. Tindakan Anda itu hina sekali, Nyonya Rani."

Tatapan Nadia menajam.

Lalu, tanpa menunggu jawaban, dia melangkah meninggalkan mereka semua.

"Nadia, mau ke mana kamu?" tanya Rangga.

"Neraka."

Jawaban itu meluncur begitu saja.

"Kembali ke sini! Tanda tangan surat pengunduran dirimu!"

"Malas."

Suara Nadia terdengar semakin jauh.

Lalu...

Bruk!

Pintu ditutup keras oleh Nadia.

Suara benturannya menggema di seluruh rumah, meninggalkan keheningan yang terasa lebih nyaring daripada teriakan siapa pun.

..

Setelah Nadia pergi, rumah mendadak terasa sepi. Bukan sepi yang menenangkan, tapi sepi yang bikin dada sesak. Yulia berdiri mematung beberapa detik, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang dari tadi dipaksa tetap utuh. Sampai akhirnya pertahanannya runtuh begitu saja.

Air matanya jatuh deras. Bahunya naik turun menahan tangis, tapi semakin ditahan justru makin pecah. Isaknya memenuhi ruangan.

Rini yang melihat itu langsung berjalan cepat menghampiri. Wajahnya berubah panik. Di belakangnya, Rani dan Rangga ikut mendekat. Mereka mengelilingi Yulia yang sekarang bahkan sudah susah mengatur napasnya sendiri.

“ini semua salahku” yulia terisak-isak menyeka air matanya “seharusnya aku enggak bilang sama mamah kalau nadia ikut olimpiade,,,” ucap yulia melihat rangga dengan kecewa

“kamu sudah benar sayang” rini mengelus rambut yulia dengan lembut “nadia memang keras kepala, dan sayangnya papah masih saja mempertahankan nadia”

Kalimat itu terdengar seperti sindiran yang sengaja dilempar. Rangga yang berdiri di sana langsung membuang pandangan ke arah lain. Rahangnya mengeras, tapi dia memilih diam.

“Sudah kamu jangan menangis” kata rangga dengan nada datar “walau nadia ikut olimpiade dia tidak akan mengalahkan kamu,,kamu pasti juaranya”

“papah jangan berkata seprti itu,,itu menghina yulia,, yulia hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga,,bersaing dengan nadia itu sangat memalukan” rini berkata dengan ketus, sejak nadia ada hubungan rini dan bapaknya itu tidak lagi harmonis

Ruangan kembali sunyi.

Rangga tidak menjawab apa pun. Lelaki itu hanya menarik napas panjang lalu berjalan pelan menuju sofa. Tubuhnya jatuh di sana dengan lemas, seolah semua tenaganya habis begitu saja.

Rini merangkul Yulia, membawanya naik ke kamar. Sepanjang jalan, tangis Yulia masih belum berhenti. Gadis itu terus menyeka air matanya, tapi air matanya seperti tidak ada habisnya.

Begitu Rini turun lagi, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak.

“lihat sama kamu kan mas,,,anakku yulia terus menerus di tindas nadia,,,hidup kita berantakan gara-gara keputusan kamu”

Rangga menunduk. Tatapannya kosong mengarah ke lantai.

“dia darah dagingku rina,,aku tidak bisa mengabaikan dia begitu saja” suara rangga terdengar pelan bagaikan seorang lelaki putus asa

Rina mengepalkan tangan kanannya erat. Wajahnya memerah menahan marah. Fakta yang menyakitkan adalah Nadia darah dagung Rangga

Tanpa menoleh lagi, dia berbalik lalu pergi meninggalkan Rangga sendirian.

Dan untuk beberapa saat, lelaki itu cuma duduk diam di sofa, menatap ruang kosong dengan perasaan yang entah harus dibawa ke mana.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!