NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Cintapertama / Naik Kelas / Tamat
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Diminta mengundurkan diri

Nadia tak mengerti kenapa dia selalu saja berada di pojokan.

Sejak kecil hingga usianya sekarang, tujuh belas tahun.

Dia bersekolah di SMK jurusan mesin. Kebanyakan teman-temannya lelaki. Dalam satu kelas, hanya ada dua orang perempuan: dia dan Lusi.

Di sekolah yang sering dipandang sebelah mata , Nadia berhasil mendaftar Olimpiade Matematika dengan hadiah utama beasiswa ke Harvard.

Harusnya, sebagai orang tua, mereka bangga dan mendukung. Namun, tidak dengan keluarga Nadia.

"Nadia, cepat tanda tangan."

Rani, ibu Nadia, seorang wanita berusia empat puluh tahun yang masih terlihat cantik berkat perawatan mahal, menyodorkan selembar kertas.

Nadia menatap surat pengunduran dirinya sebagai peserta olimpiade dengan wajah sinis.

"Kenapa?" tanyanya.

"Jangan buat malu keluarga Wijaya. Kamu akan kalah di babak awal. Daripada memalukan keluarga Wijaya, lebih baik kamu mengundurkan diri."

Tatapan Rani begitu tajam, mengintimidasi.

"Memalukan nama keluarga? Keluarga mana? Aku maju atas nama sekolahku, kok. Tenang saja, aku nggak akan membawa nama Wijaya."

Jawaban Nadia terdengar tegas.

Menjadi juara olimpiade bukan untuk mencari validasi. Dia hanya ingin mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Miris memang. Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga kaya raya, tetapi untuk kuliah saja Nadia harus mengandalkan beasiswa.

"Jangan keras kepala. Cepat tanda tangan."

"Nggak mau."

Jawaban itu meluncur tanpa ragu.

Tiba-tiba terdengar suara lembut, mendayu-dayu, penuh empati yang berlebihan.

"Kak, niat Ibu baik. Kakak daftar lalu kalah itu memalukan, Kak. Daripada malu, mending nggak usah, Kak. Tolong hargai Mama, Kak."

Dia adalah Yulia, adik Nadia.

Katanya mereka kembar, tetapi tidak identik. Baik dari wajah maupun sifat.

Nadia berperangai dingin, keras kepala, tegas, dan sering disebut arogan.

Sedangkan Yulia adalah gadis lemah lembut, cantik, berprestasi, dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.

Nadia menoleh ke arah Yulia.

"Sudahlah. Aku nggak suka kepura-puraan, Yulia. Aku tahu kamu takut kalah dariku. Makanya kamu merengek ke orang tuamu agar membujukku mengundurkan diri."

Rahang Rini langsung mengeras.

Kakak Nadia itu terpaut sepuluh tahun darinya. Sebagai direktur operasional perusahaan keluarga, Rini selalu membenci Nadia. Dan Nadia juga tidak tahu alasan pasti kenapa kakaknya begitu membencinya.

"Jangan mimpi kamu bisa mengalahkan Yulia. Anak nakal seperti kamu nggak pantas bersaing dengan adikku."

Ya, adikku.

Rini selalu menyebut Yulia dengan kata itu. Sedangkan untuk Nadia, dia hanya memanggil namanya.

"Maaf. Aku ikut olimpiade untuk jadi juara, bukan untuk bersaing dengan ratu drama."

"Nadia!"

Rini membentak. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.

"Dasar anak keras kepala! Nggak tahu diuntung! Cepat tanda tangan surat pengunduran diri itu sekarang juga!"

"Tidak mau."

Nadia menjawab dengan tegas.

"Kak Nadia, tolong hargai pendapat Mama dan Kak Rini. Mereka khawatir kamu kalah, Kak. Karena akulah yang akan jadi lawan Kakak. Lebih baik Kakak fokus saja cari sekolah tinggi atau universitas, Kak."

Nadia melirik Yulia dengan tatapan sinis.

"Aku masuk SMK mesin karena usahaku sendiri. Karena kalian cuma menyekolahkanku sampai SMP. Terus sekarang kalian menyuruhku fokus mencari universitas? Memangnya Mama dan Papa mau membiayai sekolahku?"

"Aku nggak rela Papa mengeluarkan uang untuk Nadia. Dia itu cuma bikin malu saja."

Rini yang menjawab.

"Kak Rini, tolong jangan begitu. Kak Nadia juga anak Mama dan Papa...."

Rini langsung mendekat dan merangkul pundak Yulia.

"Kamu memang anak baik, Sayang. Sejak SMP entah berapa kali kamu disakiti Nadia. Makanya aku nggak rida dia sekolah tinggi."

Tatapan Rini mengarah kepada ayahnya, Rangga. Namun tujuan sebenarnya jelas, Nadia.

Ekspresi Nadia tetap datar.

Dan itulah yang paling menyebalkan. Membuat siapa pun geregetan.

"Rida nggak rida, kenyataannya aku masih bisa sekolah, kan? Dengan biaya sendiri. Hebat, kan, aku? Banyak orang memujiku."

Nadia mengembuskan napas panjang.

"Hanya kalian saja yang selalu memandangku salah."

"Dasar anak nggak punya sopan santun! Sekolah di SMK malah makin kurang ajar. Sama orang tua memanggil 'kalian'. Benar-benar tidak sopan!"

"Orang tua?" Nadia tertawa hambar. "Kalian saja tidak pernah menganggapku anak."

"Nadia!"

Suara Rani melengking.

Entah kenapa, Nadia selalu berhasil membuatnya marah. Membuatnya benci. Membuatnya jengkel.

"Nggak usah teriak-teriak. Aku tetap pada keputusanku. Aku akan maju di olimpiade."

Tatapan Nadia beralih kepada Yulia.

"Siap-siap saja kalah, Yulia."

"Dasar sombong! Tidak menghargai orang tua! Cuma tanda tangan surat pengunduran diri saja susah. Mulai besok kamu nggak usah makan di sini!"

Kali ini Rangga yang bicara.

"Makan?"

Nadia memandang pria itu tanpa emosi.

"Selama tiga tahun terakhir, apa pernah Anda melihat saya makan di sini?"

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Nadia hingga kepalanya terlempar ke samping.

"Yang sopan bicara sama Papa kamu! Memanggil orang tua pakai 'Anda'. Kamu boleh menghinaku, tapi aku nggak rela suamiku kamu hina!"

Napas Rani naik turun menahan amarah.

Nadia menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Apa Anda pikir Anda punya sopan santun? Menampar orang tanpa penjelasan. Tindakan Anda itu hina sekali, Nyonya Rani."

Tatapan Nadia menajam.

Lalu, tanpa menunggu jawaban, dia melangkah meninggalkan mereka semua.

"Nadia, mau ke mana kamu?" tanya Rangga.

"Neraka."

Jawaban itu meluncur begitu saja.

"Kembali ke sini! Tanda tangan surat pengunduran dirimu!"

"Malas."

Suara Nadia terdengar semakin jauh.

Lalu...

Bruk!

Pintu ditutup keras oleh Nadia.

Suara benturannya menggema di seluruh rumah, meninggalkan keheningan yang terasa lebih nyaring daripada teriakan siapa pun.

..

Setelah Nadia pergi, rumah mendadak terasa sepi. Bukan sepi yang menenangkan, tapi sepi yang bikin dada sesak. Yulia berdiri mematung beberapa detik, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang dari tadi dipaksa tetap utuh. Sampai akhirnya pertahanannya runtuh begitu saja.

Air matanya jatuh deras. Bahunya naik turun menahan tangis, tapi semakin ditahan justru makin pecah. Isaknya memenuhi ruangan.

Rini yang melihat itu langsung berjalan cepat menghampiri. Wajahnya berubah panik. Di belakangnya, Rani dan Rangga ikut mendekat. Mereka mengelilingi Yulia yang sekarang bahkan sudah susah mengatur napasnya sendiri.

“ini semua salahku” yulia terisak-isak menyeka air matanya “seharusnya aku enggak bilang sama mamah kalau nadia ikut olimpiade,,,” ucap yulia melihat rangga dengan kecewa

“kamu sudah benar sayang” rini mengelus rambut yulia dengan lembut “nadia memang keras kepala, dan sayangnya papah masih saja mempertahankan nadia”

Kalimat itu terdengar seperti sindiran yang sengaja dilempar. Rangga yang berdiri di sana langsung membuang pandangan ke arah lain. Rahangnya mengeras, tapi dia memilih diam.

“Sudah kamu jangan menangis” kata rangga dengan nada datar “walau nadia ikut olimpiade dia tidak akan mengalahkan kamu,,kamu pasti juaranya”

“papah jangan berkata seprti itu,,itu menghina yulia,, yulia hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga,,bersaing dengan nadia itu sangat memalukan” rini berkata dengan ketus, sejak nadia ada hubungan rini dan bapaknya itu tidak lagi harmonis

Ruangan kembali sunyi.

Rangga tidak menjawab apa pun. Lelaki itu hanya menarik napas panjang lalu berjalan pelan menuju sofa. Tubuhnya jatuh di sana dengan lemas, seolah semua tenaganya habis begitu saja.

Rini merangkul Yulia, membawanya naik ke kamar. Sepanjang jalan, tangis Yulia masih belum berhenti. Gadis itu terus menyeka air matanya, tapi air matanya seperti tidak ada habisnya.

Begitu Rini turun lagi, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak.

“lihat sama kamu kan mas,,,anakku yulia terus menerus di tindas nadia,,,hidup kita berantakan gara-gara keputusan kamu”

Rangga menunduk. Tatapannya kosong mengarah ke lantai.

“dia darah dagingku rina,,aku tidak bisa mengabaikan dia begitu saja” suara rangga terdengar pelan bagaikan seorang lelaki putus asa

Rina mengepalkan tangan kanannya erat. Wajahnya memerah menahan marah. Fakta yang menyakitkan adalah Nadia darah dagung Rangga

Tanpa menoleh lagi, dia berbalik lalu pergi meninggalkan Rangga sendirian.

Dan untuk beberapa saat, lelaki itu cuma duduk diam di sofa, menatap ruang kosong dengan perasaan yang entah harus dibawa ke mana.

1
Sayekti 0519
bagus
Adi Sudiro
Bapak julia si malik apa johan
Dyta Kusnani
good
Dyta Kusnani
kok tamatnya blm bahagia blm nikah ma Aldo si
siswati etty
makasih kk othor udah berkarya memberi penghiburan tp klo boleh kasih saran buatlah nama yg tidak mirip2 agar tidak sering keliru sebut...ingat jg dgn lokasi kejadian...fokus dg plot cerita yg dibuat agar bisa dikembangkan lagi..
maaf sekali lagi bisanya kritik tp bbrp kali sudah ngikuti karyamu .....tetap semangat dan sehat selalu Thor 💪💪
Dyta Kusnani
jgn2 Nadia ma Yulia bayinya dtuker ma johan
Dyta Kusnani
tu kn Johan trnta cuma mau memperalat Nadia diang
Rita Rita
buat si Rini menderita juga Thor,, biar dia ngerasain gimana hidup orang menderita, seperti menderita nya Nadia yg selalu disakiti,,, keknya seru tuh
Rita Rita
ada kesempatan dalam kejepit ya Al,, jadi di gas aja ya 🤭🤣🤣🤣
Rita Rita
biasalah ga di novel ga di short drama,, wajah malaikat tapi hati iblis,,
Suanti
rasain kau rini yg di maki malahan adik kandung sendri . yulia yg kau sayang malahan dalang penculikan dan menbunuh mu 🤣🤣🤣
Suanti
mampus lah kau rini tdk mau dengar ngomong ayah mu sendri 🤭🤣🤣
Suanti
jeblos kan johan dan yulia ke penjara pasal rencana pembunahan dan penipuan 🤭🤣🤣
Anonim
Jangan pernah maafin ibu kamu sama ayah kamu nadia biarin mereka menyesal seumur hidup nya
Suanti
semoga langsung terungkap sekalian lihat kan hasil DNA nya biar yulia langsung mati kutu bila perlu sekalian hadir kan mama kandung yulia 🤭
Suanti
yulia tau semuanya kamu saja nadia yg oon mau tipu sama johan 🤭🤣
Suanti
pasti mirip yulia 🤭
Suanti
semoga aja nadia cepat tau bahwa johan bukan paman nya tapi ayah yulia 🤭🤣🤣
Adinda
yulia anak johan dan mungkin rani berselingkuh sama johan
Adinda
johan simpanan rani mungkin yulia anak kandung johan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!