NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Bertemu Kembali

Pagi itu udara di rumah sederhana itu masih terasa sejuk, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela, menerangi meja dapur yang sudah dipenuhi uap hangat. Nadia berdiri di depan meja, dengan hati‑hati menuangkan sop ayam yang masih mengepul panas ke dalam wadah bekal kedap udara. Kuah bening berisi potongan daging lembut, wortel, kentang, dan daun bawang itu adalah masakan istimewa yang sengaja ia buat pagi‑pagi, karena tahu itu adalah makanan kesukaan Kakek Santoso.

“Untuk siapa bekal itu, Nak? Buat Raka ya?”

Suara lembut terdengar dari ambang pintu. Bu Siti berdiri menatap putri tunggalnya, tangannya sedang mengelap sisa busa di dasternya.

Nadia tersenyum tipis sambil menutup rapat tutup wadah itu. “Bukan, Bu. Ini untuk Kakek Santoso. Beliau sedang dirawat di rumah sakit kemarin, jadi aku bawakan makanan hangat ini biar beliau ada selera makannya.”

Tangan Bu Siti seketika berhenti bergerak. Wajahnya yang tadi teduh perlahan berubah masam. Ia diam sejenak, menatap punggung anaknya dengan tatapan yang bercampur rasa sayang dan kekhawatiran yang mendalam, sebelum akhirnya melangkah mendekat.

“Nak… Ibu mau bicara sebentar sama kamu,” ucapnya pelan namun tegas. “Sebenarnya Ibu tidak suka kalau kamu terlalu baik dan berlebihan pada orang tua itu. Walaupun beliau memberi kamu pekerjaan dan tempat bernaung, bukan berarti kamu harus menjadi terlalu naif dan terus mengabdi seolah berhutang nyawa.”

Nadia menoleh perlahan, menatap ibunya. “Tapi Bu, Kakek sudah sangat banyak membantuku.…”

“Dengarkan Ibu dulu!” potong Bu Siti sedikit meninggikan suara, matanya mulai berkaca‑kaca mengingat semua luka yang pernah menimpa anaknya. “Pekerjaan yang kamu dapatkan itu adalah hakmu! Kamu mendapatkannya karena kerjamu yang rajin, jujur, dan pintar, bukan karena belas kasihan dia! Kamu sudah membuktikannya selama beberapa tahun ini, bekerja keras siang malam sambil membesarkan cucu mereka sendirian tanpa bantuan sepeser pun dari keluarga itu!”

Bu Siti menghela napas panjang, menahan amarah yang masih tersisa hingga kini.

“Lagipula, percayalah pada firasat Ibu. Ibu yakin Kakek Santoso itu tidak ada bedanya dengan anaknya—Pak Haris dan istrinya Nyonya Ardila, juga cucu kesayangannya si Aga itu. Semua orang di keluarga itu sama saja. Mereka tampak baik di luar, tapi hati mereka keras dan angkuh. Ibu belum lupa betapa hancurnya hati kamu saat pulang ke sini delapan tahun lalu. Ibu belum lupa bagaimana kamu ditinggalkan sendirian dalam keadaan hamil tanpa ada yang mau bertanggung jawab. Semua itu berawal dari anak lelaki mereka, dan Ibu yakin… kakeknya pun pasti tahu, tapi dia cuma diam.”

Rasa benci itu begitu nyata dalam nada bicara Bu Siti. Sejak pertama kali Nadia pulang dan menceritakan semuanya, hati wanita tua itu telah tertutup rapat bagi seluruh keluarga besar Santoso. Ia tak ingin anaknya kembali terluka, dimanfaatkan, atau dipermainkan lagi oleh mereka.

Nadia tersenyum tipis, lalu mendekat dan menggenggam tangan ibunya erat. Ia mengerti sepenuhnya kekhawatiran dan kemarahan yang ada di hati ibunya. Bu Siti hanya ingin melindunginya.

“Ibu… Nadia tahu Ibu hanya ingin melindungi Nadia dan Raka. Terima kasih ya,” ucap Nadia lembut namun mantap. “Tapi percayalah, Kakek Santoso itu berbeda. Nadia yakin sepenuhnya akan hal itu. Selama delapan tahun ini beliau tidak pernah menanyakan asal‑usul Raka, tidak pernah menghakimi masa lalu Nadia, beliau justru memberikan kepercayaan dan perlindungan yang luar biasa besar bagi kami. Beliau orang yang bijaksana, tulus, dan baik hati. Nadia bisa merasakannya lewat cara beliau memperlakukan kami.”

“Ibu tidak tahu seberapa besar jasa beliau bagi kami selama ini. Kalau tidak ada beliau, mungkin kami tidak bisa bertahan sekuat sekarang. Biarlah Nadia berbuat baik, Bu. Membalas kebaikan orang lain itu kewajiban Nadia, apa pun yang terjadi. Biarlah Nadia yang memutuskan siapa yang pantas dipercaya, Ibu tidak perlu khawatir, Nadia sudah dewasa dan tahu cara menjaga diri serta menjaga Raka.”

Bu Siti menatap wajah anaknya lekat‑lekat, melihat keteguhan dan keyakinan yang tak tergoyahkan di sana. Ia menghela napas panjang, akhirnya perlahan mengangguk pasrah, meskipun keraguan dan rasa curiganya belum sepenuhnya hilang.

“Ya sudah… kalau kamu sudah yakin begitu. Tapi janji sama Ibu, kamu harus selalu hati‑hati. Jangan sampai kamu kembali memberi kepercayaan berlebih pada keluarga itu, lalu kamu terluka lagi,” ucapnya pelan sambil mengusap kepala Nadia.

“Nadia janji, Bu.”

Nadia memastikan kembali ikat tas bahunya sudah kuat, lalu memeluk erat wadah berisi sop ayam hangat itu di pangkuannya. Ia mencium tangan ibunya sekali lagi sebelum melangkah keluar rumah, meninggalkan Bu Siti yang masih berdiri di ambang pintu menatapnya dengan campuran rasa takut dan harap. Hati Nadia sedikit berat mendengar keraguan ibunya, namun keyakinannya pada Kakek Santoso tak pernah goyah sedikit pun. Beliau adalah satu‑satunya orang yang tak pernah menuntut penjelasan, tak pernah menghakimi, dan selalu memberikan perlindungan tanpa syarat selama delapan tahun masa sulitnya.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa sepi namun penuh harap. Saat tiba di halaman rumah sakit, matahari sudah berdiri cukup tinggi, menyinari jalan setapak yang ia lalui dengan langkah mantap namun hati yang berdebar tak menentu. Ia naik ke lantai tempat Kakek Santoso dirawat, berjalan menyusuri lorong yang sudah mulai ramai, hingga akhirnya kakinya berhenti tepat di depan pintu ruang rawat VIP.

Nadia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu perlahan mengulurkan tangan hendak mengetuk pintu. Namun sebelum ujung jarinya menyentuh permukaan kayu itu, pintu justru terbuka dari dalam.

Sosok pria tinggi tegap berdiri di sana.

DEG!

Waktu seolah berhenti berputar seketika. Darah Nadia terasa mendidih lalu membeku bersamaan. Napasnya tercekat di kerongkongan, tangan yang memegang wadah makanan hampir terlepas jatuh jika ia tak segera mengeratkan genggamannya.

Di hadapannya berdiri... Aga.

Pria itu tampak lebih dewasa kini, garis rahangnya lebih tegas, ada guratan lelah dan kesedihan yang mendalam tertinggal di wajahnya, namun sorot mata tajam yang tak pernah ia lupakan itu masih sama persis—kini menatapnya lebar‑lebar, penuh rasa tak percaya, rindu yang meledak, dan kesakitan yang tak terlukiskan.

Mereka hanya diam terpaku, saling memandang di ambang pintu itu. Tak ada satu kata pun yang terucap, hanya detak jantung yang berdentum begitu keras hingga terdengar seperti guntur di telinga masing‑masing. Delapan tahun. Delapan tahun yang penuh air mata, perjuangan, pertanyaan tanpa jawaban, dan rindu yang terpendam rapat kini tertumpah hanya dalam satu tatapan mata.

Aga yang pertama kali bergerak, bibirnya bergetar mencoba memanggil nama yang selama ini menghuni setiap sudut hatinya.

“Nadia….” Suaranya parau, bergetar hebat seolah kata itu terasa begitu berat namun begitu berharga untuk diucapkan kembali. “Kamu… Ini benar‑benar kamu? Selama ini ternyata kamu ada di sini?”

Nadia menelan ludah dengan susah payah, matanya perlahan berkaca‑kaca namun ia berusaha menahannya. Ia ingin berpaling, ingin lari menjauh seperti dulu, namun kakinya terasa tertanam kuat di lantai. Rasa sakit yang dulu ditinggalkan pria itu masih ada, namun rindu yang tak pernah mati ternyata jauh lebih besar.

Di belakang Aga, terdengar suara Kakek Santoso yang memecah keheningan itu. “Masuklah, kalian berdua.”

Dengan tangan yang gemetar, Aga perlahan menggeser tubuhnya, memberi jalan bagi Nadia untuk masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu sempit namun penuh dengan rahasia besar yang selama ini tertutup rapat.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!