Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Dendam
Tiga hari berlalu sejak malam kelam itu. Di dalam rumah sakit pribadi yang dijaga ketat oleh sisa-sisa pasukan setianya, suasana terasa lebih dingin daripada ruang jenazah. Dewa Angkasa Buwana duduk diam di kursi di samping tempat tidur besar itu. Selama tujuh puluh dua jam terakhir, ia tidak tidur, tidak makan, dan hampir tidak berbicara dengan siapa pun. Tubuhnya masih berlumuran kelelahan, luka-luka kecil di tubuhnya ia biarkan begitu saja, tak peduli. Seluruh perhatian, seluruh jiwa dan raganya hanya tertuju pada satu sosok yang terbaring diam di hadapannya.
Naura masih belum sadarkan diri. Wajah cantiknya yang biasanya bersinar kini pucat pasi, terlihat rapuh di balik selimut tebal. Selang infus dan alat bantu pernapasan menjadi pemandangan yang menyayat hati di sisi ranjang itu. Dokter bilang, nyawanya sempat melayang sangat jauh saat dibawa masuk kehilangan banyak darah, salah satu peluru nyasar sangat dekat dengan organ vitalnya. Ia selamat, namun perjalanannya untuk pulih masih sangat panjang dan berisiko.
Dewa menggenggam tangan istrinya yang dingin dan lemah di dalam genggamannya yang besar dan kasar. Di luar, nama Buwana sedang jatuh terpuruk. Berita tentang kekalahan besar itu sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri, bahkan ke luar negeri. Nama Kelompok Arkan kini menjadi pembicaraan utama, dianggap sebagai kekuatan baru yang tak terkalahkan. Banyak mitra bisnis yang mundur perlahan, takut terseret ke dalam kehancuran keluarga Buwana. Aset-aset mereka dibekukan sementara waktu karena tekanan dari pihak berwenang yang kini berpihak pada pemenang. Musuh-musuh lama yang dulu sudah ia singkirkan, mulai berani muncul kembali dari lubang persembunyian mereka, tertawa di balik layar melihat kejatuhan sang penguasa.
Namun, tidak ada satu pun bahkan musuh terbesarnya sekalipun yang menyadari satu hal fatal: mereka baru saja mengubah Dewa Angkasa Buwana menjadi sosok yang jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya.
Pintu ruangan terbuka pelan. Rian dan Sera masuk dengan langkah hati-hati. Keduanya terlihat lelah, berbalut perban di sana-sini, dan wajah mereka tampak berat. Mereka tahu betul aura apa yang kini memancar dari tuannya itu. Dulu, Dewa adalah pemimpin yang kejam namun masih punya sisi kemanusiaan karena ada Naura. Sekarang, saat wanita itu terbaring sekarat karena ulah musuh, sosok di depan mereka bukan lagi manusia, melainkan badai pembalasan yang sedang diam menunggu waktu.
"Tu..." Rian hampir menyapa seperti biasa, namun suara Dewa yang rendah dan dingin memotongnya sebelum ia sempat menyelesaikan kata.
"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Dewa, matanya tak beralih sedetik pun dari wajah Naura. Suaranya datar, tanpa nada, namun berat hingga membuat udara di ruangan itu terasa sesak.
Sera menghela napas pelan, lalu maju selangkah sambil membawa berkas-berkas yang sedikit kusut. "Buruk, Tuan. Sangat buruk. Arkan dan pasukannya kini menguasai penuh kawasan pelabuhan. Mereka mengubah aturan, menaikkan pajak, dan mengusir semua orang yang pernah bekerja di bawah naungan Grup Buwana. Media massa juga dihasut untuk menyudutkan nama kita. Mereka menyebut kita sebagai organisasi kriminal yang akhirnya mendapat balasan setimpal. Banyak rekan bisnis yang menarik diri, bahkan ada yang berani bekerja sama secara terbuka dengan Arkan sekarang."
Sera berhenti sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan, "Dan... ada lagi. Karim, orang yang memimpin serangan itu... dia berani membuat pernyataan terbuka. Dia bilang... Nyonya Naura sudah mati, dan bahwa Tuan Dewa Buwana hanyalah seekor anjing yang berlarian ketakutan membawa mayat istrinya. Dia menantang Tuan untuk datang kembali, jika Tuan punya nyali."
Rian mengepal tangannya kuat-kuat, wajahnya memerah menahan marah. "Itu penghinaan terbesar, Tuan. Mereka menginjak-injak harga diri kita. Kalau Anda izinkan, saya akan bawa pasukan sekarang juga, serbu pelabuhan itu kembali dan bawa kepala Karim ke sini!"
Dewa diam sejenak. Perlahan, ia melepaskan genggamannya pada tangan Naura, lalu berdiri tegak. Ia berbalik menghadap anak buahnya. Tatapan matanya yang dulu masih memiliki kilatan hidup kini hitam pekat, kosong, namun menyimpan amarah yang siap meledak menghancurkan apa saja yang ada di jalannya. Aura mafia kejam yang dulu ia miliki, kini kembali berlipat ganda, seribu kali lebih gelap dan berbahaya.
"Serbu?" gumam Dewa pelan, lalu ia tertawa. Tawa yang kering, dingin, dan mengerikan. "Kau pikir aku akan membiarkan mereka mati dengan cara semudah itu? Kau pikir aku akan memberi mereka kematian cepat yang mereka inginkan?"
Dewa melangkah mendekat, suaranya merendah namun bergetar menahan kemarahan yang meluap-luap. "Mereka menyakiti dia. Mereka membuat darahnya tumpah. Mereka membuatnya berbaring diam seperti ini, tak berdaya merasakan sakit setiap detiknya. Dan kau mau aku sekadar membunuh mereka? Tidak, Rian. Itu terlalu murah untuk mereka."
Dewa menunjuk ke arah luar jendela, ke arah kota yang kini seolah menjadi milik musuh sepenuhnya.
"Mereka ingin perang? Baiklah. Aku akan beri mereka perang yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka pikir dengan merebut pelabuhan, merebut aset, dan menjelekkan nama kita, mereka sudah menang? Mereka salah. Kekuatan Buwana tidak pernah ada di tanah atau gedung-gedung itu. Kekuatan kita ada di jaringan, di uang, di pengaruh, dan di ketakutan yang sudah kita tanam bertahun-tahun lamanya. Semua itu belum hilang, hanya bersembunyi sementara waktu."
Dewa berbalik menatap Sera dengan pandangan tajam yang memerintah. "Sera, kau yang paling paham cara kerja bisnis dan jalur keuangan. Dengarkan aku baik-baik. Mulai hari ini, keluarkan seluruh dana rahasia kita semua yang tersembunyi di luar negeri, semua yang tak tercatat di buku mana pun. Aku ingin kau mulai mengacaukan semua jalur perdagangan yang lewat pelabuhan itu. Hancurkan harga pasar, blokir akses ekspor-impor mereka, belokkan semua mitra dagang mereka ke jalur lain. Buat mereka merasakan bahwa menguasai pelabuhan itu justru menjadi kutukan bagi mereka. Buat bisnis mereka rugi besar setiap harinya, sampai mereka menjerit sendiri."
Wajah Sera berubah serius, matanya berbinar paham. Ini bukan lagi sekadar perang kekuasaan biasa. Ini adalah perang total, menghancurkan musuh sampai ke akar ekonomi dan keberadaannya. "Siap, Tuan. Aku akan pastikan setiap sen yang mereka hasilkan akan lenyap sebelum sempat masuk ke kantong mereka. Aku akan buat nama Arkan menjadi bencana bagi siapa saja yang berani bekerja sama dengan mereka."
Dewa lalu menatap Rian, sorot matanya semakin tajam dan berdarah-darah.
"Dan kau, Rian. Kumpulkan semua anak buah kita. Bukan hanya yang bertempur kemarin, tapi semua yang tersebar di kota-kota lain, di perbatasan, bahkan di negara tetangga. Aku tidak butuh pasukan besar yang terlihat gagah. Aku butuh orang-orang yang paling terlatih, paling kejam, dan paling setia. Kita tidak akan bertempur di lapangan terbuka seperti ksatria bodoh. Kita akan bertempur di dalam bayang-bayang. Mulai malam ini, aku ingin satu per satu orang kepercayaan Arkan hilang. Entah itu ditemukan tewas dengan cara yang mengerikan, atau menghilang tanpa jejak. Biarkan ketakutan merayapi hati mereka setiap kali matahari terbenam. Biarkan mereka sadar... bahwa di wilayah ini, bahkan di tempat tidur mereka sendiri, mereka tidak pernah aman dariku."
"Dan untuk Karim..." Dewa mengepal tangannya kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan sendiri, wajahnya berubah menjadi seram tak terlukiskan. "Khusus untuk dia, simpan dia untukku. Aku ingin dia hidup sehat, sadar sepenuhnya, dan merasakan setiap detik kehancuran kelompoknya, kehancuran kekuasaannya, sebelum akhirnya aku datang sendiri untuk mengambil nyawanya dengan tanganku sendiri. Aku ingin dia meratap, memohon, dan menyesal seumur hidupnya pernah mengarahkan senjata itu ke arah istriku."
Dewa kembali melangkah ke sisi tempat tidur Naura, menatap wajah istrinya dengan pandangan yang berubah sepenuhnya campuran antara cinta yang mendalam dan tekad balas dendam yang tak tergoyahkan. Ia menyentuh pipi Naura dengan jemarinya yang bergetar, penuh kasih sayang namun matanya memancarkan api pembalasan yang membara.
"Tidurlah, Sayang," bisik Dewa lirih, suaranya melembut hanya saat berbicara padanya. "Maafkan aku karena membiarkan hal ini terjadi padamu. Maafkan aku yang terlalu percaya diri hingga lengah. Tapi percayalah... rasa sakit yang kau rasakan sekarang akan aku ganti berkali-kali lipat ke leher mereka. Aku akan ambil kembali semua yang mereka rampas. Aku akan bangkit lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih ditakuti dari sebelumnya.
Dewa mencium kening istrinya lama dan dalam, seolah menanamkan sumpah setia dan janji abadi di sana.
"Bangunlah... dan lihatlah. Saat kau membuka mata nanti, dunia ini akan berubah kembali menjadi milik kita. Dan darah musuh-musuh kita akan menjadi cat merah yang menandai kembalinya kejayaan Buwana. Aku bersumpah demi nyawaku."
Rian dan Sera mundur perlahan, meninggalkan tuannya yang kembali duduk di samping ranjang itu.