"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
"Paksu... lepasin dulu tanganya, ih! Ini Ismut lagi bilas piring, nanti kalau piring gamping pangkalan ini pecah semua gimana?"
Suara Calla melengking pelan di dalam keheningan dapur rumah dinas yang remang-remang. Jarum jam baru saja melewati angka sembilan malam setelah mereka menyelesaikan makan malam yang teramat terlambat. Namun, Alaric yang sejak sore tadi seolah kehilangan seluruh urat kaku militernya, kini sudah berdiri tegap di belakang tubuh mungil Calla, menempelkan dada bidangnya tanpa jarak.
Kedua lengan kekar Alaric yang masih basah sisa mandi bersama mereka di kamar mandi tadi sore—yang tentu saja berakhir dengan penyatuan tanpa henti di bawah guyuran air hangat—kini kembali merayap nakal. Tangan besarnya mematikan keran air, lalu melingkari pinggang ramping Calla dari belakang.
"Piringnya bisa dicuci besok, Calla. Saya lebih butuh mencuci pikiran saya sekarang," bisik Alaric dengan suara baritonnya yang teramat lambat, parau, dan berat di ceruk leher istrinya.
"Pikiran Paksu emang udah kotor dari kemarin tahu!" cicit Calla, sengaja memundurkan bokongnya hingga menempel sempurna pada kejantanan Alaric yang ternyata sudah kembali mengeras maksimal di balik celana pendeknya. "Mulut Ismut bilangnya capek, tapi kok... bagian bawah Ismut malah ikutan cenat-cenut ya kalau ditempel begini?"
Alaric mendengus rendah, sebuah erangan seksi lolos dari tenggorokannya. Ia membalikkan tubuh mungil Calla dengan tempo yang teramat lambat, membuat Calla kini bersandar pada pinggiran meja wastafel dapur yang dingin. "Kamu itu... kecil-kecil tapi ternyata hyper juga, hm? Selalu siap melayani suami di mana pun."
"Ih, bunderan pangkalan! Siapa dulu dong suaminya? Komandan perkasa yang ketampanannya no debat!" tantang Calla dengan mata kucingnya yang berbinar liar dan nakal. Gadis itu menyingkap sendiri daster satin tipisnya ke atas, melingkarkan kedua kaki mulusnya di pinggang kekar Alaric tanpa ragu. "Ismut selalu siap lahir batin, Paksu. Mau di kasur, di sofa, di kamar mandi, atau sekarang di atas meja dapur penuh sabun ini, ayo aja!"
"Calla... kamu benar-benar mematikan," bisik Alaric serak, menatap lekat mata istrinya sebelum menunduk dan langsung memagut bibir ranum Calla dengan intensitas yang teramat panas dan dalam.
Alaric menarik celana pendeknya ke bawah, lalu dengan satu hentakan lambat namun penuh tekanan mutlak, ia langsung menyatukan tubuh mereka di atas meja dapur.
"Ahh! Paksuh... emhh... nikmat banget... dalam banget, Paksu!" desah Calla kencang, kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam rapat.
Meskipun mulutnya baru saja mengeluh pegal dan remuk akibat ronde-ronde sebelumnya, tubuh mungil Calla justru memberikan respons yang luar biasa sebaliknya. Setiap kali Alaric bergerak dengan tempo lambat namun menghujam dalam, rahim Calla langsung menjepitnya dengan teramat ketat, seolah tidak mau membiarkan kepunyaan suaminya terlepas satu milimeter pun.
"Haaah... Calla... jepitanmu... sial, ini membuat saya gila," erang Alaric parau, cengkeraman tangannya di pinggul Calla kian mengeras, menahan tubuh mungil itu agar tidak bergeser dari meja wastafel yang licin.
"Ahh... ahh... Paksu kaku... hancurin Ismut... nikmat banget, hiks..." Isak tangis manja Calla kembali pecah di antara desahan erangan yang memenuhi seluruh sudut dapur. Gadis itu meremas kaos yang dikenakan Alaric, menikmati setiap sensasi panas yang menghunjam ulu hatinya.
Alaric benar-benar begitu memuja tubuh mungil istrinya. Setiap lekuk, setiap jepitan hangat yang diberikan Calla terasa seperti candu yang tidak akan pernah ada habisnya. Di dalam benak pria berusia 38 tahun itu, ia mendadak menyadari satu hal yang teramat sakral.
"Pantas saja... pernikahan militer itu dibuat begitu mahal, rumit, dan sakral, Calla..." bisik Alaric terbata-bata di sela lumatannya di leher Calla. "Karena kenikmatan dari istri sah seperti ini... tidak akan pernah bisa digantikan atau dinilai dengan apa pun di dunia ini."
"I-iya... Paksu... ahh! Ismut cuma milik Paksu seorang... ahh... cepet, Paksuh!" jerit Calla pasrah, mempercepat gerakan pinggulnya sendiri demi menyambut gelombang puncak yang kembali datang melanda tubuhnya.
Suara gesekan kulit, deru napas yang memburu anarki, dan desahan erangan pengantin baru itu terus bersahutan di dapur hingga tengah malam. Alaric terus menumpahkan benih kehidupan yang hangat ke dalam rahim Calla tanpa lelah, membiarkan istri kecilnya kembali terkulai lemas dengan senyuman penuh kepuasan yang teramat manis di dalam dekapannya.
selamat Michelle dan minchul dapat restu dari pak letkol 👏👏
semoga menjadi anak anak yg Soleh gagah berani , setia dan tanggung jawab. kayak pa Al,🥰🥰
selamat menjadi orang tua baru..