NovelToon NovelToon
Dari Terpaksa Jadi Cinta

Dari Terpaksa Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romantis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amillea24

"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."

Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

"Sehabis membersihkan diri, aku mau berbicara padamu," ucap Gavin. Suara baritonnya yang biasa terdengar tegas dan penuh perintah kini terdengar parau, sarat akan kelelahan emosional yang mendalam.

Aruna tidak menyahut. Ia bahkan tidak membalikkan badannya untuk sekadar memastikan apakah pria itu benar-benar bicara padanya atau pada angin lalu. Dengan langkah konstan dan dagu yang terangkat angkuh, Aruna terus menuntun Kenzie masuk ke dalam kamar tidur mereka.

Brak.

Pintu kamar ditutup dengan deburan yang cukup keras, meninggalkan Gavin yang masih berdiri terpaku di tengah kesunyian ruang tengah. Pria itu mengembuskan napas panjang, lalu perlahan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Kedua tangannya memijat pelipis yang terasa berdenyut-denyut kencang. Setidaknya, kecemasan gila yang menyiksanya sejak siang tadi kini telah menguap; mereka berdua pulang dengan selamat tanpa kurang satu apa pun. Namun, dinginnya sikap Aruna laksana dinding es tebal yang siap menguburnya hidup-hidup malam ini.

Di dalam kamar, Aruna bergerak dengan cekatan. Ia memandikan Kenzie dengan air hangat, mengganti pakaian bocah itu dengan piyama tidur yang nyaman, lalu menyuapinya dengan makanan yang sempat ia beli di luar tadi. Begitu perutnya kenyang dan tubuhnya bersih, Kenzie sempat bermain sebentar di kamar lalu tak lama langsung mendengkur halus di atas ranjang king size, memeluk erat boneka kesayangannya.

Setelah memastikan keponakannya tertidur pulas, Aruna melangkah ke kamar mandi dalam. Di bawah guyuran air pancuran yang dingin, Aruna memejamkan mata. Setiap tetesan air seolah membakar kembali ingatan tentang wajah Playboy Gavin.

Sebenarnya, Aruna sangat enggan untuk berbicara berdua dengan Gavin. Baginya, mogok bicara dan mengabaikan pria itu adalah hukuman yang paling pantas. Namun, Aruna sadar, menyimpan unek - unek di dalam dada hanya akan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik ia keluarkan semuanya sekarang juga, yang mengganjal hatinya selama beberapa hari ini, lalu menutup rapat-rapat pintu maaf untuk pria pembual itu.

Dengan mengenakan pakaian santai rumahannya dan rambut yang masih setengah basah, Aruna membuka pintu kamar. Langkah kakinya terdengar tegas saat membelah koridor lantai bawah menuju ruang tengah.

---

Gavin langsung menegakkan posisi duduknya begitu mendengar suara langkah kaki Aruna. Ia menatap gadis itu yang kini berdiri beberapa langkah di hadapannya. Kedua tangan Aruna bersedekap di dada, matanya menatap Gavin dengan tatapan paling dingin dan menusuk yang pernah Gavin lihat seumur hidupnya.

"Mau bicara apa?" tanya Aruna langsung tanpa basa-basi, suaranya sedatar permukaan es.

Gavin berdeham, mencoba menata suaranya agar tidak terdengar gentar. "Ru... pertama, aku mau minta maaf soal beberapa hari ini. Aku tahu aku ingkar janji untuk jemput kamu dan Kenzie. Tapi tolong, jangan pernah lagi bertindak nekat seperti pagi tadi. Pergi pagi-pagi tanpa kabar, mematikan ponsel, dan membawa Kenzie ke tempat ramai tanpa pengamanan. Kamu tahu seberapa paniknya aku? Kamu tahu situasi di luar sana sedang tidak aman untuk Kenzie."

Mendengar rentetan kalimat Gavin yang bernada menuntut, tawa sarkas seketika lolos dari bibir Aruna. "Panik? Kamu bilang kamu panik, Vin?" Aruna melangkah satu langkah lebih maju, sorot matanya berkilat penuh amarah yang siap meledak.

"Iya, aku panik setengah mati mencari kalian ke seluruh tempat! Mulai dari sekolah sampai ketempat yang kalian tuju !" sahut Gavin membela diri, frustrasinya kembali naik ke permukaan.

"Cukup, Gavin! Gak usah berlagak sok khawatir di depan aku!" bentak Aruna, suaranya meninggi, bergetar menahan luapan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. "Kamu panik karena takut kehilangan hak waris Kenzie kalau sampai terjadi apa-apa sama dia, kan?! Kamu takut skenario busukmu gagal?!"

Gavin mengerutkan kening, wajahnya pias mendengar tuduhan itu. "Apa maksud kamu, Ru? Aku mencemaskan keselamatan kalian dengan tulus! Sama sekali gak ada hubungannya dengan hak waris—"

"Tulus, katamu? Luar biasa ya sandiwara kamu," potong Aruna dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Gavin, denger ya. Kamu gak perlu repot-repot membuat alasan banyak pekerjaan lah, sedang rapat dengan klien penting lah atau urusan kantor lainnya yang menyita waktu sampai kamu gak bisa jemput kami selama empat hari berturut-turut. Karena apa? Karena semuanya bohong!"

Gavin tertegun, lidahnya mendadak kelu saat melihat Aruna merogoh saku celananya dan menatapnya dengan pandangan yang menghakimi.

"Kemarin sore, jam setengah empat. Kamu kirim pesan ke aku kalau kamu lagi rapat penting dengan klien dan menyuruh aku pulang naik taksi online sama Kenzie, kan?" Aruna menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan cepat. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupis matanya, namun ia menolak untuk terlihat lemah di depan pria ini.

"Pada jam empat sore, di sebuah mall kawasan Pondok Indah. Aku mau beli susu buat Kenzie dan kebutuhan rumah. Dan kamu tahu apa yang aku lihat?" Aruna menjeda kalimatnya, menunjuk tepat ke arah wajah Gavin dengan jari yang bergetar hebat.

"Aku lihat kamu! Kamu sedang duduk di dalam restoran mewah. Kamu gak sedang rapat dengan klien penting mu itu, Gavin! Kamu sedang makan berdua dengan sangat mesra bersama seorang wanita cantik berpakaian modis! Kamu tertawa lepas lebar-lebar di sana, pamer gigi rapi kamu, mengelus pipi wanita itu dengan sayang. Dan tatapan mata playboy mu itu rasanya ingin sekali aku c*ngkil ketika menatap wanita di hadapan mu."

Deg.

Bagai disambar petir di siang bolong, Gavin langsung terdiam seribu bahasa. Seluruh pasokan kata-kata yang sudah ia siapkan di dalam kepalanya mendadak lenyap tak bersisa. Rahangnya mengatup rapat, matanya melebar menatap Aruna yang kini menumpahkan seluruh rasa sakit hatinya.

"Aku berdiri di luar restoran itu, Vin. Melihat suami ku—pria yang katanya berkomitmen menjaga masa depan keponakannya— malah sedang asyik bercengkerama dengan wanita lain saat aku lelah bekerja dan mengurus Kenzie seharian." Suara Aruna mulai pecah, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.

"Ru, itu... itu gak seperti yang kamu lihat," ucap Gavin terbata-bata, mencoba membuka suara meski tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir.

"Jangan potong ucapan aku!" sergah Aruna kasar, menyeka air matanya dengan gerakan cepat. "Mulai hari ini, jangan pernah batasi aku untuk pergi ke mana pun atau membawa Kenzie ke mana pun. Aku bawa Kenzie karyawisata hari ini karena aku sadar, mengandalkan pria pembual kayak kamu sama saja dengan menaruh nyawa Kenzie di ujung tanduk! Lebih baik aku repot menggendong dia ke mana-mana daripada aku harus percaya lagi sama janji-janji palsu kamu!"

Aruna menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang menggila setelah mengeluarkan seluruh unek-unek yang menyiksanya selama beberapa hari ini. Rasanya plong, namun di saat yang sama, rasa muak di hatinya terhadap Gavin sudah mencapai level tertinggi.

"Kita menikah memang atas permintaan kedua kakak kita, Gavin. Aku gak peduli kamu mau main dengan ratusan wanita di luar sana. Tapi satu hal yang harus kamu ingat: jangan pernah bawa kebohongan kotor kamu ke dalam urusan Kenzie. Jangan pernah jadikan kesibukan palsumu sebagai alasan untuk menelantarkan anak dari almarhum kakakmu sendiri," ucap Aruna menohok, kalimat terakhirnya laksana belati yang menghujam telak ke ego terdalam Gavin.

Gavin hanya bisa mematung. Pria yang biasanya selalu punya argumen untuk membalikkan keadaan dalam setiap negosiasi bisnis bernilai miliaran rupiah itu, kini benar-benar lumpuh. Ia tidak bisa membantah, karena fakta bahwa ia berada di restoran itu memang benar adanya. Namun, fakta tentang siapa wanita itu dan apa yang sebenarnya mereka bicarakan di sana... adalah hal yang tidak bisa ia ceritakan begitu saja pada Aruna dalam kondisi emosi yang sedang meledak seperti ini.

Melihat Gavin yang hanya diam seribu bahasa tanpa ada niat untuk membela diri atau menjelaskan, Aruna tersenyum kecut. Baginya, diamnya Gavin adalah bentuk pengakuan dosa paling nyata.

"Gak bisa jawab, kan? Baguslah, setidaknya kamu masih punya sedikit urat malu untuk gak menambah kebohongan baru malam ini," ujar Aruna dingin.

Aruna membalikkan badannya dengan cepat, tidak sudi lagi menatap wajah pria yang kini tampak begitu kuyu di atas sofa. Ia melangkah kembali menuju kamar tidur, meninggalkan ruang tengah apartemen yang kembali diselimuti oleh keheningan yang pekat dan mencekam.

Sementara itu, Gavin perlahan menyandarkan punggungnya kembali ke sofa. Ia menatap langit-langit apartemen dengan pandangan kosong. Rasa bersalah yang mendalam kini bercampur dengan rasa frustrasi yang semakin menggunung. Aruna benar-benar salah paham, dan dinding pemisah di antara mereka kini tidak hanya tebal, tetapi juga telah berduri tajam.

"Bodoh!.. kamu memang benar - benar bodoh Gavin !" Ucap Gavin sambil menjambak rambutnya dengan kasar.

Bersambung...

1
partini
lihat yg dia beli atuh ,dia beli buat kamu juga ga semua buat dirinya sendiri
partini
semangat Thor ,semoga di kontrak novel nya
partini
siapa wanita itu yg bikin salah faham
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
partini
diem itu lebih baik dari pada cuap 👍👍
partini
dalam bahaya Tah
partini
paling bagus tuh diem sih dari pada bertengkar ga bagus buat anak" dengar kata" kasar
lagi dong Thor
partini
run semoga ga cinta duluan kamu , soal nya yg kebanyakan terjadi cewe yang suka duluan makanya nyesek
Namjachinggu: tenang aja kak, Aruna ngga akan cinta duluan ko 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!