“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Byur!
Suara keras itu memecah fokus Cassian ketika berbicara dengan Lucien.
Cassian spontan menoleh ke arah danau di belakang mereka. Napasnya tertahan ketika melihat kuda Elowen kosong. Itu artinya…
“Elowen!” teriak Cassian dengan napas tertahan.
Secepat kilat Cassian membalikan arah kudanya ke danau dan melompat ke dalamnya.
Lucien ikut melihat ke arah Cassian yang panik. Namun, matanya menangkap Putri Lidya yang berdiri tak jauh dari sana. Ada rona ketakutan yang aneh dari mata wanita itu.
Apa mungkin? Lucien mengernyitkan matanya curiga.
Untung saja Cassian berhasil mengangkat Elowen dari dalam danau. Namun, keadaan wanita itu sudah tak sadarkan diri.
“Bawa dia ke kamar tamu, biar aku memanggil dokter,” katanya pada Cassian.
Kemudian, dia menyuruh pelayan untuk memberi tahu dokter keluarga untuk segera datang.
Sementara di dalam kamar.
Cassian merebahkan tubuh Elowen di atas ranjang. Dia mencoba melepaskan baju basah istrinya. Namun, gerakannya terhenti ketika melihat goresan panjang di tangan Elowen.
Rahang Cassian mengeras, istrinya pasti sangat panik dan ketakutan ketika tenggelam. Luka gores itu… pasti karena batu di dalam danau. Elowen berusaha ke permukaan tapi tidak bisa.
Cassian ingat beberapa obrolan bersama Elowen, kalau dia tidak bisa berenang. Meski wanita itu selalu saja berada di pinggir danau dan terlihat menyukainya.
“Apa dia baik-baik saja?” Lucien muncul dari balik pintu.
Cassian spontan menoleh, mengontrol ekspresinya. “Kuharap begitu,” jawabnya.
“Dokter sudah datang,” Lucien memberitahu Cassian. “Apa dia bisa masuk sekarang?”
Tidak ada jawaban dari Cassian, sang duke terdiam sesaat masih memperhatikan Elowen.
“Bisa tunggu sebentar lagi, aku harus mengganti baju basahnya.”
Entah kenapa saat Cassian mengatakan itu, ada denyut aneh yang muncul di dada Lucien. Wajahnya menggelap, seolah dia tak rela. Tak rela melihat Cassian menggantikan baju istrinya sendiri. Lucien mengerang dalam hati karena pikiran konyolnya.
Namun, sedetik kemudian Lucien menghela napas dan mengangguk. “Baiklah, aku akan mengatakan kalau dia harus menunggu sesaat.”
Cassian tak merespon, fokusnya hanya untuk Elowen sekarang.
Setelah memastikan tidak ada orang yang ada di dalam ruangan itu selain dirinya dan Elowen. Cassian mulai membuka baju Elowen satu persatu.
Setiap kali dia melepaskan helai demi helai baju Elowen. Cassian menyalahkan dirinya sendiri.
“Cuma satu wanita, Cassian. Kenapa kau tidak bisa menjaga satu wanita?!” umpat Cassian pada dirinya sendiri.
Butuh waktu beberapa menit, sampai Elowen sudah mengenakan pakaian hangatnya. Tapi, wanita itu masih tak sadarkan diri.
***
Seorang dokter masuk ke dalam kamar dimana Elowen berada. Cassian langsung menggeser posisinya untuk memberikan tempat dokter itu memeriksa istrinya.
“Kenapa dia tidak bangun-bangun?” tanya Cassian tak lama setelah Dokter itu memeriksa.
“Saya tidak bisa memastikan. Tapi kemungkinan besar karena syok istri anda belum sadarkan diri.”
Cassian mengetatkan rahangnya.
“Dia memiliki trauma dengan air,” ucap Cassian.
Dokter mengangguk setengah berpikir. “Itu mungkin pemicunya. Tetap jaga istri anda selalu hangat. Selain tak sadarkan diri, istri anda bisa saja terserang demam. Saya akan meresepkan obat untuknya.”
Cassian menoleh ke arah Elowen yang masih terpejam. Matanya sendu, merasa menyesal karena dia gagal menjaga istrinya.
“Harusnya aku tidak meninggalkannya,” lirih Cassian hampir tak terdengar.
Dokter sudah keluar dari kamar Elowen.
Lucien langsung menghampirinya, ekspresi cemasnya tak bisa ditutupi dengan senyumannya yang mempesona.
“Bagaimana keadaannya?”
Dokter tertegun sejenak, menimbang sesuatu. Kemudian tersenyum tipis hampir tak terlihat.
“Tidak ada masalah serius,” sahut dokter itu. “Hanya…”
“Hanya apa? Katakan!”
“Duchess Elowen masih tidak sadarkan diri. Saya dengar dari Duke Cassian, istrinya memiliki trauma dengan itu. Jadi, akan sangat berbahaya kalau dia tidak sadar dalam dua hari.”
Bibir Lucien terbuka sesaat namun tidak ada kalimat yang keluar dari sana selain erangan tertahan dari bibirnya.
“Kau harus menolongnya, Hardin!” cetus Lucien.
Mendengar namanya disebut oleh sahabatnya sendiri. Dokter Hardin, tidak bisa lagi bersikap profesional.
“Kenapa kau sangat panik? Apa hubunganmu dengan istri Duke Clyvedon itu?”
Lucien terdiam. Dia tidak tahu kenapa Hardin bisa sangat peka soal hal seperti ini. Apa dia terlalu mencolok?
“Tidak ada.”
“Baguslah, karena Duke terlihat sangat mencintai istrinya. Jangan macam-macam dengannya, Lucien.”
Hardin memperingatkan Lucien.
Lucien tidak merespon, kalau saja dia bisa mengatakan sejujurnya. Kalau dia sangat mencintai Elowen.
Mereka bertemu lebih dulu, tapi kenapa wanita itu menikah dengan Cassian.
Lucien mengumpat dalam hati. “Andai saja waktu itu aku berusaha keras mencarinya,” bisiknya dalam hati.
Hardin menepuk bahunya sebelum akhirnya pergi.
Lucien tidak mengantarkan sahabatnya keluar dari kediaman Ravenhearst. Dia memilih berdiri di ambang pintu, mendorongnya pelan sampai tercipta celah segaris untuknya bisa melihat ke dalam.
Cassian sedang duduk di sisi Elowen yang terbaring. Menggenggam tangan wanita itu, itu benar-benar gambaran romantis untuk pasangan suami istri.
Entah kenapa Lucien tidak menyukainya, tapi dia juga khawatir dengan keadaan Elowen.
“Trauma? Apa yang terjadi sampai dia memiliki trauma? Apa itu juga yang membuatnya tidak bisa bicara?”
Banyak pertanyaan muncul di benak Lucien ketika berhubungan dengan Elowen.
Pria itu berbalik, dan melihat Putri Lidya yang berjalan mendekat.
Sebenarnya, ada hal yang Lucien ketahui.
“Bagaimana dengan keadaan Duchess, Marquess Lucien? Apa dia baik-baik saja?” tanya Putri Lidya dengan nada anggunnya.
Namun, tidak ada yang bisa disembunyikan oleh mata. Karena tatapan bergetar Putri Lidya sangat menggambarkan sesuatu yang salah.
“Dia baik-baik saja kalau tidak ada yang mengganggunya sampai terjatuh ke danau.” Lucien menjawab dengan nada tajam penuh sindiran.
Dan, telak.
Putri Lidya terlihat pucat dan itu membuktikan sesuatu.
“A-apa yang anda maksud?” suara Putri Lidya terdengar gemetar.
Marquess Lucien menyeringai tajam. “Putri pasti lebih tahu maksud saya.”
***
you're amazing writer