NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 28 Tameng Pondasi Pelindung

Dari kejauhan, di balik bayangan pepohonan bukit malam itu, Cenayang Wu berdiri diam memandangi Ravin dan Arum yang saling berciuman di bawah langit penuh bintang.

Angin malam membuat jubah tuanya bergerak perlahan.

Tatapan wanita tua itu dipenuhi kesedihan yang sulit dijelaskan.

Ia hanya menghela napas panjang.

“Takdir benar-benar mulai bergerak…”

gumamnya lirih.

Bahkan setelah mengetahui bahaya yang menunggu…

kedua anak itu justru semakin dekat satu sama lain.

Dan itu membuat semuanya menjadi jauh lebih sulit.

Tak lama kemudian, Ravin mengantar Arum pulang sampai depan rumah seperti biasa.

Arum masih malu sendiri sepanjang jalan karena kejadian di bukit tadi, sementara Ravin terus tersenyum puas menggoda dirinya.

“Aku masuk dulu.”

Arum buru-buru menghindari tatapan Ravin yang jahil.

Ravin terkekeh kecil.

“Tidur yang nyenyak, calon istriku.”

“Jangan bicara keras-keras!” Arum langsung panik sambil melirik sekitar.

Ravin tertawa puas lalu akhirnya pergi meninggalkan rumah Arum.

Namun baru beberapa langkah Arum hendak masuk—

suara tongkat kayu terdengar dari belakang.

Tok.

Tok.

Tok.

Arum langsung menegang.

Dan begitu menoleh…

ia melihat Cenayang Wu berdiri di bawah bayangan pohon depan rumahnya.

“C-Cenayang…”

Jantung Arum langsung berdegup tidak tenang.

Wanita tua itu datang lagi.

Namun kali ini…

tatapannya jauh lebih serius.

“Aku harus bicara lebih jelas padamu.”

Suasana malam mendadak terasa dingin.

Arum perlahan menggenggam ujung bajunya gugup.

“Ada apa sebenarnya…?”

Cenayang Wu memandang Arum beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan—

“Pernikahan Putra Mahkota dan Ajeng…”

Nada suaranya berat.

“…akan menjadi tumbal bagi Pangeran Aruna.”

Mata Arum langsung membesar.

“Apa?!”

Wajahnya langsung pucat tidak percaya.

Cenayang Wu menutup matanya sesaat seolah merasa bersalah mengatakan semua ini.

“Ratu sangat menginginkan pernikahan itu berjalan sempurna.”

“Tidak… itu tidak mungkin…”

“Raja masih menolak.”

Kalimat itu sedikit membuat Arum bernapas lega.

Namun Cenayang Wu melanjutkan lagi—

“Tapi jika akhirnya raja menyerah…”

Tatapannya perlahan menjadi gelap.

“…maka ritual itu akan tetap dilakukan.”

Arum langsung mundur pelan ketakutan.

“Apa maksud ritual itu…?”

Cenayang Wu menggenggam tongkatnya erat.

“Tameng pondasi pelindung.”

Suara angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin di telinga Arum.

“Pangeran Aruna akan dijadikan penyangga nasib Putra Mahkota.”

Tubuh Arum langsung gemetar.

“Tidak…”

“Itulah alasan aku memintamu membawa Aruna pergi jauh dari istana.”

Cenayang Wu menatap Arum penuh tekanan.

“Selama dia masih di sini… hidupnya tidak akan aman.”

Namun Arum langsung menggeleng pelan dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Itu sulit…”

Tatapannya penuh kebingungan.

“Ravin ingin mengembalikan posisi Selir Ratih.”

Arum menunduk sedih.

“Dia tidak mungkin pergi begitu saja.”

Cenayang Wu memejamkan mata lelah.

“Aku tahu.”

Nada suaranya terdengar pasrah.

“Namun menjatuhkan Ratu Shima sekarang hampir mustahil.”

Tatapan wanita tua itu perlahan berubah suram.

“Dan jika raja akhirnya menyetujui ritual…”

Suara Cenayang Wu semakin lirih.

“…maka ratu pasti akan memintaku memimpin doa dan upacaranya sendiri.”

Arum langsung merasa tubuhnya dingin.

Bayangan Ravin terluka atau menghilang membuat dadanya sesak.

“Tidak boleh…”

bisiknya gemetar.

“Itu tidak boleh terjadi.”

Mata Arum mulai memerah menahan panik.

“Karena Ravin bukan Pangeran Aruna yang sebenarnya…”

Cenayang Wu sedikit terdiam mendengar nama itu.

Arum mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Dia datang ke sini untuk membantuku.”

Air matanya mulai jatuh perlahan.

“Untuk mencari tahu kenapa aku dihukum dan dikurung dalam lukisan selama ratusan tahun…”

Suasana malam mendadak terasa jauh lebih berat.

Cenayang Wu memandang Arum dengan sorot penuh rasa bersalah.

Karena semakin lama…

ia merasa semua tragedi ini memang berawal dari dosa masa lalunya sendiri.

Wanita tua itu akhirnya mengambil sebuah kertas kecil lalu memberikannya pada Arum.

“Itu alamat tempat tinggalku.”

Arum menerimanya perlahan.

“Kalau kau membutuhkan bantuanku…”

Tatapan Cenayang Wu melembut sedikit.

“…datanglah.”

Setelah mengatakan itu, wanita tua itu perlahan berbalik pergi meninggalkan Arum sendirian di depan rumahnya.

Sementara Arum hanya berdiri diam memegang kertas kecil itu dengan tangan gemetar.

Untuk pertama kalinya…

ia benar-benar merasa takut kehilangan Ravin.

Di balik pintu rumah yang sedikit terbuka, seseorang berdiri diam sejak tadi.

Ajeng.

Tangannya gemetar kecil saat mendengar seluruh pembicaraan antara Arum dan Cenayang Wu.

Tentang ritual.

Tentang tumbal.

Dan tentang Pangeran Aruna yang mungkin akan dijadikan pondasi pelindung untuk pernikahannya dengan Putra Mahkota.

Wajah Ajeng perlahan memucat.

“Tidak mungkin…”

bisiknya pelan.

Dadanya terasa sesak mendengar semua itu.

Namun saat nama Yudra kembali terlintas di pikirannya…

tatapan Ajeng perlahan berubah bimbang.

Ia mencintai Putra Mahkota terlalu dalam.

Terlalu tulus.

Dan selama ini ia hidup hanya untuk satu harapan—

menjadi pendamping Yudra.

Ajeng perlahan menutup mulutnya sendiri menahan emosi yang campur aduk.

“Aku…”

Air matanya mulai jatuh pelan.

Namun setelah beberapa detik…

ia justru menggenggam bajunya kuat-kuat.

Maaf.

Tatapannya perlahan berubah penuh rasa bersalah.

Tapi ia tidak bisa melepaskan Yudra.

Tidak bisa.

Diam-diam Ajeng melangkah mundur lalu pergi melalui pintu belakang rumah tanpa suara.

Di dapur, ibunya yang sedang menyiapkan makanan langsung heran saat melihat bayangan Ajeng berjalan cepat keluar.

“Ajeng?”

Wanita itu buru-buru keluar dapur.

“Mau kemana malam-malam?!”

Namun Ajeng sudah pergi begitu saja lewat pintu belakang rumah.

Bukan pintu depan.

Dan itu membuat ibunya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Sementara itu di depan rumah…

Arum masih berdiri membeku sambil memegang kertas alamat dari Cenayang Wu.

Tubuhnya terasa lemas.

Pikirannya kacau.

Semua terasa terlalu berat sekaligus.

Ravin ingin mengembalikan posisi Selir Ratih.

Ajeng sangat mencintai Putra Mahkota dan menginginkan pernikahan itu.

Dan sekarang…

Ravin bisa menjadi tumbal dari semua itu.

Air mata Arum akhirnya jatuh semakin deras.

“Kenapa…”

Suaranya bergetar kecil.

“Kenapa jadi seperti ini…”

Ia perlahan terduduk lemas di depan rumah sambil menangis.

Arum mulai menyesal.

Kalau saja ia tidak membawa Ravin ke masa ini…

mungkin semua tidak akan terjadi.

“Mungkin… ini semua salahku…”

Tangannya gemetar menutupi wajahnya.

“Kalau Ravin kenapa-kenapa…”

Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas.

Di saat seperti itu, langkah seseorang perlahan mendekat.

Ayahnya.

Raden Wijaya berdiri diam beberapa detik memandangi putrinya yang menangis hancur di depan rumah.

Tatapannya penuh rasa bersalah.

Seolah ia memang sudah tahu semuanya.

Arum langsung mengangkat wajahnya dengan mata merah penuh air mata.

“AYAH TAHU KAN?!”

Suaranya pecah penuh emosi.

“Kenapa ini terjadi padaku?!”

Raden Wijaya langsung membeku mendengar tangisan putrinya.

“Aku tidak punya dosa apa-apa…”

Arum menangis semakin keras.

“Kenapa takdir seperti ini terus mengejarku?!”

“Arum…”

“Kenapa aku harus kehilangan semuanya?!”

Untuk pertama kalinya selama ini…

Arum benar-benar meluapkan semua rasa takut dan sakit dalam hatinya.

“Aku cuma ingin hidup biasa…”

Tangisnya semakin pecah.

“Kenapa semua orang yang kusayangi selalu dalam bahaya…”

Raden Wijaya akhirnya tidak kuat lagi melihat putrinya seperti itu.

Pria itu langsung memeluk Arum erat.

Dan diam-diam…

air matanya ikut jatuh.

“Maafkan ayah…”

Suara pria itu bergetar penuh penyesalan.

“Maaf karena tidak bisa melindungimu…”

Arum menangis di pelukan ayahnya sambil menggenggam pakaian pria itu erat.

Malam terasa begitu dingin.

Dan untuk pertama kalinya…

Arum mulai memikirkan satu hal yang paling ia takuti.

Menjadi cenayang.

Jika itu satu-satunya cara menyelamatkan Ravin…

maka ia akan melakukannya.

Bahkan jika harus mengorbankan dirinya sendiri.

Sejak malam hingga pagi menjelang, Arum masih duduk diam di depan rumah sambil memandang lampion kecil yang bergoyang pelan tertiup angin.

Matanya sembab.

Wajahnya pucat karena tidak tidur semalaman.

Ibunya berdiri di ambang pintu dengan hati hancur melihat keadaan putrinya.

“Arum… masuklah dulu.”

Namun Arum tidak bergerak sedikit pun.

Ia hanya terus menatap kosong ke arah jalan.

Ibunya akhirnya mendekat dan memegang pundaknya pelan.

“Kamu bisa sakit.”

“Aku tidak apa-apa…” suara Arum begitu lirih.

Ibunya semakin sedih mendengarnya.

Namun saat itu, Raden Wijaya perlahan datang mendekat.

Tatapan pria itu terlihat berat namun tenang.

“Percuma hanya diam di sini.”

Arum perlahan mengangkat wajahnya.

Ayahnya lalu berkata pelan—

“Hanya ada dua pilihan sekarang.”

Suasana pagi terasa begitu dingin.

“Pertama… pernikahan itu gagal.”

Tatapan Arum langsung sedikit berubah.

“Tapi itu hampir mustahil.”

Nada suara ayahnya terdengar realistis sekaligus pahit.

“Itu akan memicu kemarahan istana.”

“Hubungan keluargamu dengan Ajeng juga akan hancur.”

“Dan raja serta ratu tidak akan tinggal diam.”

Air mata Arum perlahan jatuh lagi.

Lalu Raden Wijaya melanjutkan dengan suara berat—

“Atau…”

Pria itu memejamkan mata sesaat sebelum berkata—

“…kamu melupakan Ravin dan menjadi cenayang.”

Jantung Arum langsung terasa berhenti sesaat.

“Dengan begitu…”

Tatapan ayahnya dipenuhi rasa sakit sebagai seorang ayah.

“…kamu bisa melindunginya.”

Untuk beberapa detik Arum hanya diam membeku.

Lalu perlahan…

sesuatu dalam dirinya seperti tersadar.

Arum langsung berdiri cepat.

“Ayah…”

Tatapannya mulai dipenuhi tekad.

“Aku harus pergi.”

Ibunya langsung panik.

“Pergi ke mana?!”

Namun Arum sudah berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa.

Ibunya hampir mengejar namun Raden Wijaya menahan istrinya pelan.

“Biarkan dia memilih jalannya sendiri.”

“Kalau Arum salah memilih bagaimana?!”

Suara ibunya mulai gemetar ketakutan.

“Dia harus memilih antara adiknya… atau pria yang dicintainya…”

Raden Wijaya hanya menunduk diam dengan hati yang sama hancurnya.

Gerbang istana pagi itu mendadak ricuh.

“Aku harus bertemu Putra Mahkota!”

Arum mencoba masuk namun para pengawal langsung menghalangi.

“Tidak ada izin masuk!”

“Aku hanya ingin bicara sebentar!”

“Tidak bisa!”

Suara keributan itu terdengar sampai lorong dalam istana.

Yudra yang sedang membaca laporan langsung mengangkat kepala.

“Ada apa di luar?”

Seorang pelayan buru-buru masuk.

“Putri Arum datang dan memaksa ingin bertemu Yang Mulia.”

Yudra langsung membeku sesaat.

Entah kenapa…

hatinya justru senang mendengarnya.

Meski wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi.

“Biarkan dia masuk.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!