we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain ( sedang di revisi )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 lampu malam di tengah kota valen
We Lin terpaku. Seluruh kota memancarkan cahaya yang begitu indah, seolah setiap sudutnya dihiasi lautan bintang.
"Wah... ternyata kota ini jauh lebih indah saat malam hari."
Tetua hanya menghela napas pelan melihat tingkah We Lin yang selalu penuh semangat. Bagi pemuda itu, hampir semua hal terasa menakjubkan.
Saat malam baru tiba, jalanan kota masih dipenuhi orang-orang yang berlalu-lalang. Suasananya bahkan jauh lebih ramai dibandingkan kota tempat We Lin berasal.
Namun, semuanya berubah ketika tengah malam tiba.
Keramaian perlahan menghilang. Toko-toko mulai menutup pintunya, langkah kaki tak lagi terdengar, dan jalanan yang sebelumnya hidup kini menjadi sunyi. Dalam waktu singkat, kota yang semula begitu ramai berubah seolah menjadi kota mati.
Di suatu tempat yang tersembunyi jauh di dalam Kota Valen, anggota Organisasi Demon God sedang mendiskusikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang luar.
Suasana ruangan begitu sunyi hingga hanya suara napas para anggota yang terdengar.
Salah seorang anggota menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.
"Jadi, bagaimana rencana penyerangan terhadap pahlawan muda itu?"
Ruangan kembali diliputi keheningan. Tak seorang pun langsung menjawab, seolah semua orang sedang memikirkan hal yang sama.
"Entahlah..."
Seorang pria berjubah hitam akhirnya angkat bicara.
"Semua monster yang kukirim... lenyap begitu saja."
Ia menggeleng pelan, masih sulit mempercayai kenyataan itu.
"Seolah-olah ada seseorang yang telah menghancurkan mereka sebelum sempat menjalankan tugasnya."
Suasana kembali hening. Para anggota saling bertukar pandang dengan raut wajah serius.
Fajar akhirnya menyingsing.
Sinar matahari perlahan mengusir gelapnya malam dan menerangi seluruh Kota Valen. Jalan-jalan yang semalam sunyi kini kembali dipenuhi lautan manusia.
Gelak tawa dan sorak-sorai bergema dari berbagai penjuru kota. Para pedagang sibuk menawarkan dagangan mereka, sementara para pengunjung berjalan hilir mudik menikmati kemeriahan suasana.
Hari itu merupakan Festival Seratus Bintang, perayaan yang paling dinantikan oleh seluruh penduduk Kota Valen.
Di dalam penginapan, We Lin perlahan membuka matanya. Baru saja ia bangun, pandangannya langsung tertuju ke luar jendela.
Matanya membelalak melihat keramaian yang memenuhi jalanan.
"Wah... ramai sekali."
Dari balik jendela, ia melihat ribuan orang memenuhi pusat kota, sementara berbagai hiasan berwarna-warni menghiasi setiap sudut jalan, membuat suasana festival terasa semakin meriah.
Tanpa membuang waktu, We Lin segera bergegas turun menemui tetua.
"Tetua!"
Tetua menoleh ke arah suara itu dan melihat We Lin berlari menghampirinya dengan wajah penuh semangat.
"Tetua!"
Melihat tingkah We Lin, tetua tersenyum tipis lalu berkata dengan nada yang menjengkelkan,
"Hm, kenapa kau terburu-buru begitu? Memangnya ada harimau yang sedang mengejarmu?"
"Kau lihat, Tetua! Festival Seratus Bintang akhirnya dimulai!"
Tetua langsung tertawa terbahak-bahak melihat antusiasme We Lin yang begitu menggebu-gebu.
"Hahaha... kau benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangmu, ya."
Bagi We Lin, tawa tetua terasa seperti tawa seorang ayah yang sedang melihat putranya begitu bersemangat dan itu lah
yang membuat We Lin semakin merindukan rumah.
Bagi We Lin, tawa tetua terasa begitu hangat, layaknya tawa seorang ayah yang melihat putranya dipenuhi semangat.
Untuk sesaat, bayangan keluarganya muncul di benaknya. Wajah mereka yang telah lama tak ditemuinya kembali terlintas dengan jelas.
Dadanya mendadak terasa sesak. Tanpa ia sadari, setetes air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.
Melihat air mata yang mengalir di pipi We Lin, tawa tetua langsung terhenti. Wajahnya berubah menjadi canggung, sementara rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya.
"Eh... jangan-jangan leluconku tadi benar-benar kelewatannya?"
We Lin mengusap air matanya dan menggeleng pelan.
"Bukan karena itu, Tetua..."
"Lalu karena apa? Kalau bukan karena leluconku tadi?"
We Lin tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Ah... bukan apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu."
Meski mendengar jawaban itu, rasa bersalah di hati tetua belum juga hilang. Ia tetap merasa leluconnya tadi telah membuat suasana hati We Lin berubah.
Berusaha mengalihkan perhatian pemuda itu, tetua pun tersenyum dan berkata,
"Bukankah kau tadi sangat ingin pergi ke Festival Seratus Bintang? Kalau begitu, ayo kita berangkat."
Mereka berdua pun segera menuju Festival Seratus Bintang.
Sesampainya di sana, We Lin langsung terpukau oleh suasana yang begitu meriah. Deretan kios berjajar rapi di sepanjang jalan, menjajakan berbagai makanan, aksesori, hingga berbagai barang unik. Ribuan orang berlalu-lalang sambil menikmati kemeriahan festival.
Namun, bukan hanya itu yang menjadi daya tarik Festival Seratus Bintang.
Setelah acara utama dimulai, para pahlawan Kota Valen akan hadir untuk menyapa seluruh pengunjung. Kabar tersebut membuat semakin banyak orang berdatangan, berharap dapat melihat para pahlawan dari dekat.
Di tengah lautan manusia, We Lin tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada seorang pemuda yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Itu... bukankah dia pemuda yang kemarin bertabrakan dengan gadis itu?"
Tanpa membuang waktu, ia segera menghampirinya.
Namun, sebelum sempat mendekat, pemuda itu tiba-tiba menghilang di tengah kerumunan.
"Hah...? Ke mana dia pergi?"
We Lin mencoba mencari sosoknya, tetapi tidak menemukannya.
Tiba-tiba suara terompet bergema.
"Para pahlawan telah tiba!"
Seluruh warga bersorak dan mengalihkan perhatian ke panggung utama.
We Lin pun ikut menoleh.
Satu per satu para pahlawan berjalan memasuki arena. Saat itulah mata We Lin membelalak.
"Dia...!"
Di barisan para pahlawan, ia melihat pemuda yang baru saja menghilang tadi. Kini pemuda itu mengenakan jubah pahlawan berwarna putih keemasan, membuat auranya tampak jauh berbeda dibanding saat mereka pertama kali bertemu.
"Jadi... dia seorang pahlawan?"
Sebelum We Lin sempat mencerna kenyataan itu, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok lain.
Di samping pemuda tersebut berdiri seorang gadis muda berambut panjang yang memancarkan aura tenang namun anggun. Kemunculannya langsung menarik perhatian seluruh pengunjung.
Bahkan We Lin pun tak mampu mengalihkan pandangannya.
bilang aja aku akan ngejawab satu persatu