Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keenan cemas
“Apa kamu tahu, Zivanna?”
“Apa itu, Tan?” tanya Zivanna.
Belinda kemudian bercerita bahwa setelah kematian maminya, Keenan terus didorong oleh papinya untuk belajar. Ia harus mendapatkan nilai terbaik dan selalu meraih peringkat satu di kelas. Bahkan saat mengikuti lomba, Keenan dituntut untuk menjadi juara.
Pernah suatu hari ketika Keenan duduk di kelas empat SD, ia hanya mendapat peringkat dua. Richard langsung marah besar dan mengurung Keenan di perpustakaan yang ada di rumah selama tiga hari.
“Ya Tuhan... Kasihan sekali Keenan,” lirih Zivanna setelah menyimak cerita Belinda.
“Bahkan Keenan tidak diberi makan dan minum selama itu. Tante dan kepala pelayan di rumah ini diam-diam memberinya makanan tanpa sepengetahuan Kak Richard,” jelas Belinda lagi.
Zivanna terperangah. “Kenapa Papi sampai segitunya, Tan?”
Belinda menghela napas. “Kak Richard mendidik Keenan dengan keras karena dia akan menjadi pewaris Dewantara Group. Jadi, Keenan harus kuat dan berani menghadapi apa pun di masa depan,” jawabnya sambil menatap foto masa kecil Keenan yang masih tergantung di dinding kamar.
“Memang cara Kak Richard cukup kejam, tapi itu sebenarnya demi kebaikan Keenan sendiri,” lanjut Belinda.
Zivanna mengangguk mengerti. Tidak mungkin ayah mertuanya bersikap seperti itu tanpa alasan. Terbukti, sekarang Keenan telah menjadi Direktur Utama yang hebat di salah satu anak perusahaan Dewantara Group dan berhasil membawanya berkembang dengan sangat pesat.
Tapi sebenarnya Zivanna tidak layak mendengar cerita tersebut karena ia bukanlah Zivarra yang asli. Ia hanyalah seorang penipu yang menipu keluarga Keenan.
Dan bagi Keenan, aku hanyalah mainan dan tempat melampiaskan nafsunya, batin Zivanna.
Belinda pun mengajak Zivanna keluar dari kamar tersebut.
“Lho, kalian ternyata di sini toh. Ayo kita pergi minum teh di belakang,” ajak Angelina dan segera diangguki oleh Belinda serta Zivanna.
Ketiga wanita itu duduk di kursi yang ada di tengah-tengah halaman belakang yang lebih luas dari halaman depan.
“Nak, apa kamu tidak lelah melakukan pekerjaan rumah sendiri? Mama carikan ART saja ya? Atau mau pakai ART di sini saja?” tawar Angelina.
“Tidak apa-apa, Ma. Aku masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Dan juga Keenan sangat menyukai masakanku,” tolak Zivanna dengan halus.
“Oh ya? Keenan itu pemilih banget lho soal makanan. Berarti masakan kamu itu enak banget, Zivarra,” sahut Belinda membuat Zivanna tersenyum malu dipuji seperti itu.
“Tidak juga, Tante. Mungkin Keenan memakannya karena ingin menghargai aku,” ujar Zivanna rendah hati saat ia mengangkat cangkir tehnya, entah mengapa tangannya gemetaran.
Astaga, kenapa aku tambah lemas begini? Apa obat tadi tidak bekerja dengan baik? batin Zivanna. Sejak keluar dari kamar Keenan tadi, tubuhnya justru terasa semakin tidak nyaman dan aneh.
“Mama jadi penasaran merasakan masakan kamu,” ujar Angelina.
“Kalau Mama mau dibuatkan sesuatu, bilang aku aja ya, Ma. Biar aku masakkan,” ucap Zivanna sambil tersenyum, padahal saat ini ia benar-benar ingin pulang dan beristirahat.
Suara derap langkah terdengar dari belakang. Itu adalah Keenan dan Arkana, asisten pria itu.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Angelina.
Keenan hanya mengangguk sebagai balasan.
“Apa kamu tidak berbarengan dengan Papi dan adikmu?” tanya Angelina lagi.
“Tidak. Mereka sepertinya masih ada urusan di kantor pusat,” jawab Keenan dengan nada malas.
Keenan mendekati Zivanna dan berdiri di belakang wanita itu. “Kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau mau pergi, hm?” tanyanya sambil memegang sandaran belakang kursi Zivanna.
“M-maaf... aku lupa,” jawab Zivanna gugup karena wajah Keenan berada sangat dekat dengannya.
“Kamu tidak memberitahu suamimu kalau kamu ke sini, Nak?” timpal Angelina.
Zivanna mengangguk. “Iya, Ma. Aku tadi buru-buru jadi lupa kasih tahu Keenan kalau mau ke sini,” jelasnya sambil tersenyum kikuk.
“Terus kamu ingat handphone-mu ada di mana?” sahut Keenan.
Zivanna terdiam. Sedari tadi saat memasuki rumah ini, ia tidak pernah memegang ponselnya. Ia mencari di dalam tasnya, tetapi tidak ada.
“Handphone-ku di mana?” gumamnya pelan.
Melihat Zivanna yang kebingungan, Keenan mengambil sebuah ponsel dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Zivanna.
“Itu handphone kamu ketinggalan di mobil. Jangan ceroboh lagi, Zivarra,” ucap Keenan.
“Astaga, aku lupa. Makasih udah ambilin handphone aku,” balas Zivanna.
Keenan menatap Zivanna dalam-dalam. Wajah istrinya itu terlihat pucat. Tangannya terangkat menyentuh dahi Zivanna yang terasa hangat, membuat Keenan menghela napas panjang.
“Ayo kita pulang!” ajaknya tiba-tiba, membuat ketiga wanita di sana terkejut.
“Lho kok cepat banget sih?” ujar Belinda.
“Iya, nanti saja, Nak. Biarkan kami mengobrol. Lebih baik kamu ke kamar saja, jangan ganggu para wanita!” timpal Angelina.
“Kenapa kalian memaksa orang yang sedang sakit untuk diajak mengobrol?” jawab Keenan dingin.
Angelina dan Belinda tersentak, kemudian menatap istri Keenan itu.
“Beneran, Nak? Kalau kamu kurang sehat kenapa tadi tidak jujur saja ke Mama?” ucap Angelina.
“Maaf, Ma... sebenarnya siang ini aku mau ke dokter sama Keenan. Tapi Keenan bilang kalau dia lagi sibuk di kantor, jadi aku kira dia tidak bisa antar,” jawab Zivanna mencari alasan agar menghindari perdebatan.
Keenan menaikkan alisnya. Kenapa Zivanna harus berbohong seperti itu? pikirnya.
“Ya sudah, Nak. Tidak apa-apa, kamu pergi saja,” ucap Angelina khawatir.
“Iya, Zivarra. Cepat periksa ke dokter, takutnya nanti kamu semakin sakit,” sahut Belinda yang juga ikut khawatir.
“Iya, Mama. Iya, Tante.”
Belinda menatap tajam ke arah Keenan. “Jaga istrimu baik-baik dan kamu masih punya hutang ke Tante.”
“Hutang apa sih, Tan?” tanya Keenan heran.
“Kamu belum kasih Tante hadiah. Ingat lho, hari ini Tante ulang tahun!” peringat Belinda.
Keenan memutar malas matanya. “Iya, Tante.”
“Ayo sayang. Kita pulang,” ucap Keenan sambil menarik tangan Zivanna.
Deg!
Jantung Zivanna berdegup kencang tatkala Keenan memanggilnya dengan sebutan sayang. Namun mengingat itu hanyalah sandiwara, ia tidak boleh terbawa perasaan.
Di perjalanan pulang, Zivanna merasa sangat mengantuk. Mungkin ini efek obat yang ia minum pagi tadi. Tanpa sadar, ia tertidur di bahu Keenan.
Keenan yang sedari tadi fokus pada iPad-nya langsung tersentak dan menoleh ke samping. Ia tersenyum tipis melihat Zivanna yang tertidur. Tangannya terulur untuk merapikan rambut yang menutupi wajah wanita itu.
Namun, ia terperangah begitu tangannya bersentuhan dengan pipi Zivanna yang terasa panas.
“Astaga, panas banget!” ucap Keenan cemas.
“Arkana, telepon Dokter Dion. Suruh dia datang ke rumah, istriku sakit!” perintah Keenan pada Arkana.
“Baik, Pak!” jawab Arkana sambil menoleh sekilas ke belakang.
“Sudah tahu sakit, kenapa masih kekeuh pergi ke rumah Papi? Dasar keras kepala,” gumam Keenan Pelan sambil merangkul bahu Zivanna agar wanita itu lebih nyaman saat tidur.
btw Keenan udah bucin akut ama lu. Noh lu di kamar mandi aja di samperin. Pasti mau jap jip jup di bwh shower😭😭🤣
lelepin ke laut aja kali, ngeselin. 😩