NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raset Rekening dan Ancaman Baru

Matahari di atas langit Uluwatu perlahan tenggelam, menumpahkan warna merah tembaga yang pekat ke atas permukaan Samudra Hindia yang luas. Di balik dinding kaca tebal vila tebing yang kedap suara, Adrian berdiri mematung. Kemeja putih yang dikenakannya sejak pagi kini sudah digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tangan yang menegang seiring dengan ponsel satelit yang menempel erat di telinga kanannya.

Di seberang lini, suara Baskara terdengar berat, dihujani oleh distorsi suara bising dari latar belakang yang mengindikasikan bahwa sang pengacara sedang berada di tempat umum, kemungkinan besar di bandara atau di dalam kendaraan yang bergerak cepat.

"Tuan Adrian, ini jauh lebih cepat dari estimasi tim hukum kita," ujar Baskara, nadanya sarat akan kecemasan yang jarang ia tunjukkan. "Tuan Besar Baskoro tidak hanya membekukan kartu kredit hitam korporat Anda. Dua jam yang lalu, divisi kepatuhan Dewangga Group mengajukan gugatan pemblokiran sementara terhadap tiga rekening penampung aset likuid Anda yang berada di bawah yurisdiksi bank domestik.

Mereka menggunakan celah hukum klausul 'penyalahgunaan wewenang jabatan' semasa Anda menjabat sebagai direktur utama anak perusahaan investasi."

Adrian tidak terkejut. Sudut bibirnya justru terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang dingin. "Ayahku selalu menggunakan metode yang sama. Jika seekor elang tidak mau kembali ke sangkarnya, maka tebing tempatnya bertengger akan dihancurkan. Berapa total likuiditas yang berhasil mereka kunci?"

"Sekitar seratus lima puluh miliar rupiah, Tuan. Itu adalah dana operasional yang rencananya akan kita gunakan untuk membayar sisa termin ketiga vendor pascaproduksi film layar lebar agensi Anda minggu depan," jelas Baskara. "Jika dalam waktu tiga hari ke depan dana tersebut tidak dicairkan atau diganti dari sumber lain, pihak vendor memiliki hak legal untuk menghentikan seluruh proses penyuntingan dan melayangkan tuntutan wanprestasi ke media. Jika itu terjadi, reputasi agensi independen yang Anda bangun dari nol akan hancur dalam semalam."

Adrian membalikkan badannya, melirik ke arah ranjang besar di dalam kamar utama. Di sana, Alena tampak sedang tertidur pulas dengan posisi menyamping, salah satu tangannya memeluk bantal tambahan untuk menjaga kenyamanan perutnya. Wajah wanita itu tampak begitu damai, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan badai finansial yang saat ini sedang mencoba meruntuhkan fondasi kehidupan mereka.

"Bagaimana dengan rekening jaminan pribadiku di Singapura?" tanya Adrian, suaranya sengaja diturunkan hingga menyerupai bisikan yang dalam agar tidak mengusik tidur istrinya.

"Aman untuk sementara waktu, Tuan. Yurisdiksi hukum Dewangga Group tidak bisa menyentuh bank asing tanpa adanya putusan pengadilan internasional, dan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan," sahut Baskara, ada sedikit nada lega di suaranya.

"Namun, masalahnya adalah Tuan Besar Baskoro tampaknya sudah mengendus pergerakan jet pribadi kita pagi tadi. Seseorang di otoritas penerbangan sipil telah membocorkan bahwa manifes penerbangan kita mengarah ke Bali."

Mata elang Adrian seketika menyipit tajam. "Apakah mereka sudah tahu koordinat vila ini?"

"Belum secara spesifik, Tuan. Wilayah Uluwatu memiliki puluhan kompleks vila privat dengan keamanan tingkat tinggi.

Namun, tim intelijen Tuan Besar sudah mendarat di Bandara Ngurah Rai satu jam yang lalu. Mereka sedang menyisir seluruh jaringan persewaan mobil mewah dan resort eksklusif di bagian selatan Bali. Ini hanya masalah waktu sebelum mereka menemukan gerbang depan Anda."

"Perketat seluruh perimeter, Baskara. Aktifkan protokol keamanan level tertinggi dari agensi keamanan privat luar negeri yang kita sewa. Jika ada satu pun orang asing yang mendekat dalam radius lima ratus meter dari tebing ini tanpa izin tertulis dariku, amankan mereka secara legal," perintah Adrian dengan nada yang tidak menerima bantahan apa pun.

"Mengenai dana vendor, cairkan seluruh obligasi jangka pendekku di bursa Singapura esok pagi. Bayar mereka lunas. Aku tidak akan membiarkan sepeser pun uang ayahku mendikte jalannya hidupku."

"Dimengerti, Tuan Adrian. Saya akan segera melaksanakan perintah," jawab Baskara sebelum akhirnya sambungan telepon satelit itu terputus dengan bunyi klik yang sunyi.

Adrian menghela napas panjang, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kainnya. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur yang empuk dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan guncangan. Ia menatap wajah Alena yang tertidur. Jejak-jejak ketakutan akibat paket teror di Jakarta kemarin tampaknya mulai memudar, digantikan oleh rona merah alami di pipinya berkat udara bersih pantai Uluwatu.

Namun, ketenangan ini terasa begitu rapuh. Di Jakarta, Siska mungkin sudah mendekam di balik jeruji besi, namun sang raksasa yang sesungguhnya Baskoro Dewangga kini telah resmi mengambil alih papan catur pertempuran. Bagi Baskoro, kehamilan Alena adalah sebuah noda besar yang harus dihapuskan dari silsilah keluarga, dan ia tidak akan segan-segan memiskinkan putra kandungnya sendiri demi memaksanya tunduk.

Tiba-tiba, mata Alena bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan diri dengan pencahayaan kamar yang temaram. Begitu melihat sosok Adrian yang duduk di sampingnya, sebuah senyuman tipis dan tulus langsung merekah di bibirnya yang merekah alami.

"Kamu sudah di sini sejak tadi?" tanya Alena, suaranya terdengar serak khas orang yang baru bangun tidur. Ia mendudukkan dirinya perlahan, bersandar pada sandaran ranjang yang dilapisi bantal empuk.

"Baru beberapa menit," jawab Adrian lembut. Ia mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut panjang Alena yang menempel di pipinya. "Bagaimana perasaanmu? Apakah bayinya membuatmu mual sore ini?"

Alena menggelengkan kepalanya, lalu membawa telapak tangan kanannya ke atas perutnya sendiri. "Anehnya, sejak kita sampai di sini, rasa mual itu berkurang drastis. Mungkin karena udara di sini sangat segar, tidak seperti di Jakarta yang penuh dengan tekanan."

Pandangan mata Alena kemudian beralih pada wajah Adrian. Sebagai seorang aktris yang sudah bertahun-tahun membaca ekspresi lawan mainnya, Alena tahu betul ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh suaminya. Ada gumpalan ketegangan yang tertahan di balik sepasang mata hitam pekat milik Adrian.

"Ada masalah lagi, bukan?" tanya Alena, nadanya berubah menjadi serius. Ia meraih tangan Adrian yang berada di atas kasur, menggenggamnya erat.

"Adrian, ingat apa yang kita sepakati di ruang kerja semalam? Kita adalah rekan tim. Jika ada badai baru yang datang, jangan biarkan aku menjadi satu-satunya orang yang hidup dalam ilusi kedamaian di dalam vila ini."

Adrian terdiam selama beberapa saat, menatap jemari lentik Alena yang mengunci jemarinya. Ia menyadari bahwa menyembunyikan realitas dari wanita secerdas Alena hanya akan menimbulkan kecurigaan yang merusak ketenangannya.

"Ayahku sudah memulai langkah pertamanya," ujar Adrian dengan nada suara yang tenang namun sarat akan keseriusan. "Dia memblokir seluruh rekening domestikku di Jakarta. Sekitar seratus lima puluh miliar rupiah dana operasional agensiku dikunci secara sepihak."

Alena menahan napasnya, matanya membelalak lebar. "Seratus lima puluh miliar? Adrian... itu jumlah yang sangat besar! Bagaimana dengan nasib film barumu? Dan bagaimana dengan biaya operasional semua stafmu di Jakarta?"

"Semuanya sudah diatasi, Alena. Aku sudah memerintahkan Baskara untuk mencairkan aset pribadiku di Singapura esok pagi untuk menutupi seluruh biaya tersebut," jawab Adrian cepat, mencoba meredakan kepanikan yang mulai merayap di wajah istrinya. "Pencabutan dana ini tidak akan membuat kita kelaparan atau terusir dari tempat ini. Aku memiliki fondasi finansial yang cukup kuat untuk menghidupimu dan anak kita selama bertahun-tahun di luar negeri tanpa perlu sepeser pun uang dari keluarga Dewangga."

Alena menundukkan kepalanya, rasa bersalah yang sempat hilang kini kembali mengetuk dinding hatinya. "Gara-gara aku... kamu harus kehilangan hak waris dan reputasimu di mata dewan komisaris. Jika saja malam itu..."

"Alena," potong Adrian dengan nada suara yang rendah namun penuh dengan ketegasan yang mutlak. Ia memegang dagu Alena, mengangkatnya perlahan agar wanita itu mau menatap langsung ke dalam matanya.

"Hentikan pemikiran bodoh itu. Aku melepaskan semua fasilitas itu bukan karena terpaksa, melainkan karena aku menolak untuk dijadikan boneka oleh ayahku sendiri. Menikahimu dan melindungi anak ini adalah jalur yang aku pilih dengan penuh kesadaran. Kehilangan seratus lima puluh miliar rupiah tidak akan membuat seorang Adrian Dewangga jatuh miskin, tapi kehilangan harga diriku sebagai seorang pria karena membiarkan istrinya dihancurkan oleh keluarganya sendiri... itulah kehancuran yang sesungguhnya."

Mendengar penuturan Adrian yang begitu maskulin dan protektif, dada Alena bergemuruh hebat. Rasa hangat yang sangat kuat merayap naik, mengusir sisa-sisa rasa bersalahnya dan menggantinya dengan sebuah rasa kagum yang teramat dalam. Pria di hadapannya ini bukan lagi sekadar aktor dingin yang terikat kontrak kerja sama; ia adalah seorang suami sejati yang sedang mempertaruhkan seluruh kerajaannya demi menjadi perisai hidup bagi dirinya dan janin di dalam rahimnya.

"Lalu... apa ada hal lain yang perlu aku ketahui?" tanya Alena lagi, mencoba menguatkan hatinya untuk mendengar sisa laporan hukum dari Adrian.

Adrian menghela napas pendek, matanya beralih menatap ke arah jendela besar yang menampilkan kegelapan samudra.

"Orang-orang suruhan ayahku sudah mendarat di Bali. Mereka sedang menyisir wilayah selatan untuk mencari lokasi vila ini."

Alena merasakan tubuhnya sedikit menegang, namun kali ini ia tidak bergetar ketakutan seperti saat menerima paket boneka rusak di Jakarta kemarin.

Kehadiran Adrian yang duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan erat, memberikan sebuah kepastian batin yang luar biasa besar bahwa ia tidak akan pernah dibiarkan menghadapi monster-monster itu sendirian.

"Apakah mereka bisa menembus pengamanan di sini?" tanya Alena, suaranya terdengar jauh lebih stabil dari sebelumnya.

"Tidak akan pernah," jawab Adrian penuh dengan keyakinan yang mutlak. "Seluruh perimeter tebing ini dijaga oleh mantan personel militer swasta dari agensi internasional.

Akses jalan menuju ke sini hanya ada satu, dan setiap kendaraan yang mendekat akan dipantau oleh kamera pengawas termal sejauh satu kilometer sebelum mencapai gerbang depan. Di atas bukit Uluwatu ini, kita memegang kendali penuh atas wilayah kita."

Adrian berdiri dari ranjang, lalu berjalan mendekati meja kecil di sudut kamar untuk mengambilkan segelas air putih hangat untuk Alena.

"Besok pagi, Dokter Saras akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) rutin tahap pertama di ruang medis bawah tanah. Kita akan melihat perkembangan pertama dari anak kita. Jadi, aku ingin malam ini kamu mengosongkan pikiranmu dari segala urusan Dewangga Group atau intelijen ayahku. Serahkan bagian peperangan itu kepadaku dan Baskara."

Alena menerima gelas air putih dari tangan Adrian, meminumnya perlahan hingga tandas. Rasa hangat langsung menyebar di tenggorokannya, memberikan kenyamanan fisik yang ia butuhkan. Ia meletakkan gelas itu di atas meja nakas, lalu menatap Adrian dengan sebuah senyuman tulus yang paling indah yang pernah ia miliki.

"Baiklah, Suamiku," ujar Alena lembut, dengan sengaja menekankan kata suamiku untuk pertama kalinya sebagai bentuk pengakuan atas perlindungan nyata yang diberikan Adrian. "Aku akan mematuhi perintah komandanku malam ini."

Mendengar sebutan baru itu keluar dari bibir Alena, jantung Adrian berdetak sedikit lebih cepat. Ada getaran aneh yang menyenangkan merayap di balik dinding dadanya sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sepanjang dua puluh enam tahun hidupnya yang kaku. Ia mendekati Alena, membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu memberikan sebuah kecupan lembut di dahi istrinya, sebuah ciuman yang sarat akan janji perlindungan abadi di tengah badai yang kian mendekat.

Sementara itu, di sebuah hotel bintang lima di kawasan Nusa Dua, Bali, tiga orang pria berpakaian safari hitam tampak sedang duduk di dalam ruang pertemuan privat yang temaram. Di atas meja marmer, terbentang beberapa peta digital wilayah Bali Selatan serta salinan manifes kedatangan jet pribadi di Bandara Halim Perdanakusuma.

Seorang pria paruh baya dengan rambut cepak yang merupakan kepala tim intelijen bentukan Baskoro Dewangga tampak sedang mendengarkan instruksi langsung melalui panggilan video di layar laptopnya. Di layar tersebut, wajah dingin Baskoro Dewangga memancarkan aura kekuasaan yang absolut dari balik meja kerjanya di Jakarta.

"Apakah kalian sudah menemukan di mana bajingan kecil itu menyembunyikan wanita itu?" tanya Baskoro, suaranya terdengar sangat parau namun bergaung dengan nada kemarahan yang tertahan.

"Kami sudah mempersempit radius pencarian, Tuan Besar," jawab kepala tim intelijen dengan sikap hormat yang kaku. "Semua resort komersial dan persewaan vila mewah di kawasan Seminyak dan Nusa Dua bersih.

Target dipastikan menyewa sebuah properti privat independen yang tidak terdaftar di dalam sistem manifes pariwisata umum. Kemungkinan besar lokasinya berada di wilayah terisolasi di tebing Uluwatu. Kami sedang mengerahkan informan lokal untuk melacak pergerakan kendaraan SUV hitam yang menjemput mereka di hanggar privat pagi tadi."

"Jangan buang waktu lagi!" bentak Baskoro, matanya menyipit tajam. "Adrian mengira dengan memindahkan likuiditasnya ke Singapura dia bisa menantang kekuasaanku. Dia lupa siapa yang mengajarinya cara berbisnis di industri ini. Cari lokasi vila itu dalam waktu dua puluh empat jam. Begitu lokasinya teridentifikasi, bawa tim medis resmi dari rumah sakit pusat kita di Jakarta untuk melakukan pengambilan sampel darah paksa pada wanita itu. Aku ingin tahu hasil tes DNA janin itu minggu ini juga, tidak perlu menunggu sembilan bulan lagi!"

"Dimengerti, Tuan Besar. Kami akan bergerak malam ini juga dengan kekuatan penuh," sahut kepala tim intelijen sebelum akhirnya layar laptop tersebut mati, menyisakan keheningan yang menekan di dalam ruang pertemuan hotel mewah itu.

Ancaman baru kini telah resmi bergerak di bawah bayang-bayang eksotis pulau Bali. Pertempuran di atas bukit Uluwatu bukan lagi sekadar perang dingin tentang pembekuan dana di atas kertas administrasi korporasi, melainkan telah bergeser menjadi sebuah konfrontasi fisik yang agresif di mana batas-batas hukum privat akan segera diuji oleh kekuasaan absolut sang patriark Dewangga.

Namun, di balik dinding tebing yang kokoh, sang perisai sejati telah bersiap dengan seluruh kekuatannya, menolak untuk membiarkan satu pun musuh merusak kehidupan baru yang sedang bertumbuh dengan suci di dalam rahim Alena.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!