HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Violet?"
Suara itu memecah keheningan malam, membuat seluruh tubuhku seketika membeku di tempat. Garpu yang sedetik sebelumnya masih berada di tanganku terhenti melayang di udara, seolah waktu ikut berhenti bergerak. Jantungku mulai berdegup jauh lebih cepat dari biasanya, namun bukan karena rasa panik atau takut yang biasa kurasakan menghadapi bahaya. Melainkan karena rasa tidak percaya yang meluap-luap memenuhi seluruh rongga dadaku.
Aku mengenal suara itu. Sangat mengenalnya. Terlalu mengenalnya, hingga nadanya saja sudah cukup untuk membangkitkan ribuan kenangan baik dan buruk yang tersimpan rapat di dalam ingatanku. Tanpa sadar, aku dan Sherkan menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara tersebut. Dan untuk sesaat itu juga, rasanya duniaku seolah berhenti berputar, seolah seluruh napas di paru-paruku tertahan tak mampu keluar.
"Amira..."
Nama itu keluar begitu saja dari bibirku, nyaris hanya berupa bisikan lirih yang hampir tertelan oleh suara musik lembut di restoran.
Perempuan yang berdiri beberapa meter di depan meja kami terlihat persis seperti yang selalu kuingat dalam ingatanku yang terdalam. Masih terlihat cantik, anggun, dan memancarkan kesan elegan yang alami. Usianya kini menginjak awal tiga puluhan, namun justru semakin memancarkan pesona yang matang dan menenangkan. Rambut panjangnya tergerai rapi jatuh menutupi bahu, dan gaun sederhana yang dikenakannya sama sekali tidak mampu menyembunyikan kecantikan alami yang ia miliki. Dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali hidup di masa lalu ini, aku merasakan mataku terasa panas, seolah air mata siap meluncur kapan saja.
Amira. Sepupu ibuku. Orang yang selama ini kuanggap dan kusayangi layaknya ibu kandungku sendiri. Orang yang selalu ada untukku, yang begitu tulus menyayangiku, melindungiku, dan menjadi tempatku bersandar di saat-saat terberat. Orang yang di kehidupan sebelumnya, harus menemui ajalnya dengan cara yang sangat kejam dan mengenaskan.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berdiri dari kursi dengan gerakan yang terlalu cepat hingga menyebabkan kaki kursi bergeser keras ke lantai. Amira tampak terkejut melihat reaksiku yang tiba-tiba itu, namun aku tidak lagi memedulikan pandangan orang lain atau rasa kagetnya. Aku melangkah cepat menghampirinya, dan dalam sekejap sudah berada tepat di hadapannya.
Di kehidupan yang lalu, aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Tidak sempat menyelamatkannya dari takdir mengerikan yang menantinya. Tidak sempat melakukan apa pun selain hanya mendengar kabar duka yang menyakitkan itu. Saat kematiannya diumumkan secara resmi, semua orang menyebutnya sebagai kecelakaan lalu lintas biasa. Namun seiring berjalannya waktu, bermunculan berbagai versi cerita yang saling bertentangan, hingga akhirnya kasus itu ditutup begitu saja tanpa kejelasan apa pun.
Namun setelah aku mulai menyelidiki sendiri secara diam-diam di masa lalu itu, aku mengetahui fakta yang jauh lebih mengerikan dan menyakitkan. Amira tidak meninggal karena kecelakaan. Ia diperkosa, disiksa dengan kejam, lalu dibunuh dengan cara yang sangat biadab. Dan yang paling menyakitkan, pelakunya tidak pernah ditemukan atau diadili. Bahkan saat Ayah mulai merasa curiga dan berusaha mengusut kasus itu lebih dalam, tak lama kemudian ia justru mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama bertahun-tahun. Semua peristiwa itu terasa terlalu kebetulan, terlalu teratur, dan terlalu rapi seolah ada tangan besar yang sengaja berusaha menghapus semua jejak kebenaran.
Dan kini, di hadapanku, perempuan itu berdiri tegak, hidup, bernapas, tersenyum lembut, dan terlihat sehat serta baik-baik saja. Tanpa sadar, aku langsung memeluk tubuhnya dengan sangat erat, seolah takut jika aku melepaskannya sebentar saja, ia akan menghilang kembali seperti kabut di pagi hari.
"Violet?" Suaranya terdengar penuh kebingungan, tangan yang tadinya tergantung di samping tubuh perlahan terangkat menyentuh punggungku.
Namun aku tidak peduli dengan rasa bingungnya. Aku justru mempererat lagi pelukan itu, membiarkan rasa rindu, rasa syukur, dan rasa takut kehilangan bercampur menjadi satu. Aku masih mengingat dengan jelas semuanya—saat ibuku meninggal dunia, saat Ayah berusaha membesarkanku sendirian, dan saat Amira selalu ada di sampingku tanpa pernah lelah.
Amira sendiri sudah menjadi yatim piatu sejak usia sangat muda. Saat ibuku menikah dengan Ayah, usianya baru dua belas tahun, sedangkan ibuku sendiri baru menginjak tujuh belas tahun dan Ayah baru berusia dua puluh tahun. Mereka masih sangat muda, bahkan aku sendiri belum lahir saat itu. Namun Ayah dan Ibu menerima Amira sepenuh hati, memperlakukannya seperti adik kandung sendiri, membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi, dan mendampinginya tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri. Sebagai balasannya, Amira mencintai keluarga kami sama besarnya, bahkan lebih. Setelah ibuku tiada, akulah yang paling banyak diasuh, dijaga, dan didampingi olehnya. Ia bukan sekadar kerabat jauh, melainkan bagian tak terpisahkan dari keluargaku, tamengku, dan tempatku berlindung.
Namun semua itu mulai berubah saat Elianor datang masuk ke dalam kehidupan Ayah, membawa serta putrinya, Eliana. Mereka membawa kebohongan, persaingan, dan kekacauan yang perlahan tapi pasti menghancurkan keutuhan serta kebahagiaan keluarga kami.
"Violet?" Amira kembali memanggil namaku, kali ini sambil tertawa kecil dan mencoba melepaskan sedikit pelukanku. "Sayang, aku hampir tidak bisa bernapas jika kau memelukku seerat ini."
Aku tersadar sejenak, lalu perlahan sedikit melonggarkan genggamanku, namun tetap tidak ingin melepaskannya sepenuhnya.
"Aku benar-benar merindukanmu," ucapku dengan suara yang sangat pelan namun penuh ketulusan yang mendalam.
Amira tertawa geli, lalu membalas pelukanku dengan lembut. Tangannya mengusap lembut bagian atas kepalaku persis seperti yang sering ia lakukan saat aku masih kecil.
"Oh, sayangku. Kita hanya tidak bertemu selama satu minggu saja, bukan bertahun-tahun."
Mendengar kalimat itu, aku hampir saja menangis. Baginya, satu minggu adalah waktu yang singkat dan biasa saja. Namun bagiku, rasanya seperti melewati satu kehidupan yang penuh penderitaan, kehilangan, dan penyesalan yang panjang.
"Kamu bisa-bisanya merindukan aku sedemikian rupa," lanjutnya sambil menatap wajahku dengan tatapan sayang.
Aku hanya tersenyum tipis sambil menahan rasa sesak di dadaku. Kalau saja ia tahu, betapa bersyukurnya aku bisa melihatnya berdiri di sini dengan keadaan sehat dan selamat.
"Aku baru saja tiba kembali dari perjalanan dinas ke luar negeri," jelas Amira. "Selama di sana, jadwalku sangat padat hingga aku bahkan tidak sempat menghubungimu lewat telepon atau pesan singkat."
Ia mundur sedikit, lalu menatap wajahku dengan pandangan yang penuh perhatian. "Kamu baik-baik saja, kan? Semua berjalan lancar di rumah dan di kantor?"
Aku hanya mengangguk pelan, namun sepertinya Amira masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Tak lama kemudian, ekspresinya berubah menjadi lebih serius dan waspada.
"Jangan-jangan nenek lampir itu kembali menyusahkan hidupmu lagi?" tanyanya tajam.
Aku terdiam sejenak, lalu hampir saja tertawa mendengar panggilan itu. "Nenek lampir" adalah sebutan yang selalu digunakan Amira untuk menyebut Elianor sejak pertama kali ia melihat sifat asli wanita itu. Dulu, aku selalu membela Elianor, mengatakan bahwa bagaimanapun juga ia adalah istri Ayah, sehingga kami harus menghormatinya. Aku bahkan menganggap Amira terlalu keras dan berprasangka buruk padanya. Betapa bodohnya aku saat itu, karena buta oleh kebohongan dan kepura-puraan. Kini aku tidak lagi memiliki alasan sedikit pun untuk membela wanita itu, karena aku sudah tahu siapa dirinya sebenarnya dan apa rencana jahat yang sedang ia siapkan.
"Kalau dia saja mungkin masih bisa kutahan," jawabku perlahan. "Justru putrinya yang membuatku lebih banyak kesulitan dan masalah akhir-akhir ini."
Mendengarnya, Amira langsung melepaskan pelukannya sepenuhnya. Wajahnya berubah menjadi sangat serius dan tegang. Tanpa peringatan, ia mulai memeriksa seluruh tubuhku—dari tanganku, leher, wajah, hingga bahuku—seolah sedang mencari tanda-tanda luka atau kekerasan.
Aku langsung mengerti apa yang sedang ia lakukan. Dulu saat aku masih kanak-kanak, Amira selalu bersikap demikian, terlalu protektif, terlalu khawatir, dan terlalu menyayangi hingga tidak mau ada sedikit pun goresan yang menimpaku.
"Apakah gadis manja itu berani menyentuh atau melukaimu?" tanyanya dengan nada tegas dan penuh amarah yang tertahan.
"Amira, aku baik-baik saja," kataku sambil menahan senyum melihat kekhawatirannya.
"Katakan saja bagian mana yang terluka, Violet," desaknya lagi.
"Sungguh, aku tidak apa-apa dan tidak ada luka sedikit pun," tegasku sambil mengangkat kedua tanganku sebagai bukti.
Setelah memastikan bahwa aku benar-benar tidak mengalami apa-apa, Amira baru mengembuskan napas panjang seolah melepaskan beban berat yang tergantung di dadanya. "Syukurlah kalau begitu."
Sementara itu, di dalam hatiku aku diam-diam menguatkan tekad yang sudah bulat. Tidak, kali ini aku tidak akan membiarkan sejarah kelam terulang kembali. Aku tidak akan membiarkan bahaya apa pun mendekatinya. Aku akan mengubah takdir yang telah tertulis di masa lalu, termasuk menyelamatkannya dari kematian tragis yang menantinya.
Namun beberapa detik kemudian, Amira kembali mengernyitkan dahi. Tatapannya perlahan beralih melewati bahuku, mengarah ke meja tempatku duduk tadi, dan akhirnya tertuju pada sosok Sherkan yang sejak tadi tetap duduk tenang sambil mengamati kami dengan tatapan yang datar namun waspada.
Tiba-tiba saja ekspresi Amira berubah menjadi penuh kebingungan dan kecurigaan.
"Kamu belum menjelaskan satu hal penting kepadaku," ucapnya pelan namun tegas.
Aku mengedipkan mata, sedikit bingung. "Apa yang harus kujelaskan, Mira?"
Amira menunjuk lurus ke arah Sherkan dengan pandangan menyelidik. "Kenapa kamu makan malam bersama... Paman Arga?"
Seketika itu juga aku merasa tubuhku kembali membeku. Amira perlahan mundur selangkah, matanya bergantian menatapku dan kemudian kembali ke arah Sherkan, seolah sedang mencoba mencerna sesuatu yang tidak masuk akal.
"Selama ini aku pikir hubungan kalian tidak pernah sedekat ini, bahkan cenderung tidak pernah bertemu antara satu dengan yang lainnya?." lanjutnya dengan nada curiga.
Aku segera membuka mulut, bersiap menjelaskan kesalahpahaman itu sekaligus memperkenalkan suamiku yang sebenarnya. Namun sebelum sempat satu kata pun keluar dari bibirku, sebuah suara lain yang berat, dalam, dan sangat tegas tiba-tiba terdengar memecah suasana.
"Amira? Violet?"
Kami semua secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara itu. Suara bariton laki-laki itu terdengar begitu jelas, penuh wibawa, dan sangat familiar—terlalu familiar hingga membuat jantungku kembali berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Aku mengenali suara itu dengan sangat baik, bahkan lebih baik daripada suara siapa pun.
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣